Pelangi Di Ujung Senja

Pelangi Di Ujung Senja
35. Kecoa Terbang


__ADS_3

"Ayo dong kita bobo!" ajak Ilham mulai tidak sabar, Tia mengerjapkan matanya cepat berkali-kali mencoba mencerna kalimat yang dilontarkan suaminya.


Ini beneran ngajak bobo arti sebenarnya atau.. kok semangat banget gitu?


Tuhan.. Tia belum siap.. Batin Tia meronta frustasi


Tia mengikuti Ilham yang sudah menuntunnya untuk duduk di pinggir ranjang. Setelah mereka duduk, Ilham tampak memgedarkan pandangannya ke kanan dan ke kiri, mengamati bentuk ranjang yang sedang mereka duduki.


"Kenapa A?" tanya Tia penasaran sambil mengulum senyum karena tahu apa yang sedang dipikirkan suaminya itu.


"Hmm.. ini, tempat tidurnya nggak bisa buat berdua ya?" tanya Ilham polos sambil menggaruk tengguknya yang tidak gatal.


"Iya," jawab Tia singkat sambil tersenyum tipis.


"Terus gimana kita bobonya?" tanya Ilham lagi masih bingung dengan bagaimana mereka tidur.


ck lucu sekali


"Ya kalau tidur, meremlah A, pake nanya segala gimana tidurnya," celoteh Tia sambil terkekeh geli.


"Sebentar.. Tia punya ide." Meninggalkan Ilham yang masih menatapnya bingung.


Tia kembali masuk ke dalam kamar setelah beberapa menit sambil membawa kasur lipat.


"Nah.., salah satu dari kita bisa tidur di sini!" sahut Tia yang sudah membentangkan kasur lipat tepat disamping ranjangnya. Ilham hanya melongo dibuatnya.


Jadi malam pertama kita pisah tidur gitu, batin Ilham mencelos kecewa.


"Hmm.. ya sudah," ucap Ilham pasrah.


"Aa tidur di ranjang, biar Tia yang di bawah," ucap Tia dengan senyum mengembang, hatinya mendadak tenang karena bisa sedikit mengulur waktu untuk tidak tidur berdua dengan suaminya.


"Enggak!" ucap Ilham dengan nada yang sedikit meninggi hingga membuat Tia terjengit kaget dibuatnya.


"Maksudnya A?" cicit Tia sedikit takut.


"Kamu yang di ranjang! biar Aa yang di bawah," ucap Ilham tegas dengan nada tidak ingin dibantah. Akhirnya Tia mengalah dan menuruti kemauan suaminya itu.


Setelah beberapa saat mereka merebahkan tubuhnya, Tia dan Ilham masih belum bisa memejamkan matanya. Keduanya hanya menatap lekat langit-langit kamar.

__ADS_1


"Tia," panggil Ilham lirih.


"Iya A," jawab Tia dengan lirih pula.


"Belum tidur?" tanya Ilham lagi.


"Belum," jawab Tia singkat.


Hening.....


Keduanya bingung harus berbincang apa, merasa canggung karena untuk pertama kalinya berada dalam ruangan berdua.


"A, Tia boleh tanya?" Akhirnya Tia memberanikan diri berbicara dan bertanya pertanyaan yang menganggunya sejak tadi siang.


"Boleh," jawab Ilham singkat.


"Tadi Aa bilang, Aa sudah nikah sama gadis yang Aa suka, itu artinya Tia istri kedua Aa?" tanya Tia penasaran.


Mendengar pertanyaan Tia, sontak membuat Ilham meledakkan tawanya.


"Eh A, ssttttt...!" tegur Tia pada Ilham agar memelankan suaranya takut terdengar keluar kamar.


"Kamu lucu soalnya sayang," ucap Ilham sambil menghapus sudut matanya yang berair akibat terlalu lama tertawa.


Tia merasa malu karena ditertawakan oleh Ilham, apalagi Ilham memanggilnya dengan sebutan 'sayang' yang masih terlalu asing ditelinga Tia.


"Ya sudah atuh Aa jelasin kalau gitu," rajuk Tia menutupi rasa malunya.


"Jangan ngambek dong sayang, gini maksud dari kata-kata Aa tadi tuh, kalau gadis yang Aa suka itu kamu, gadis yang sudah Aa nikahi," tutur Ilham sambil menatap lekat mata Tia yang sedang menatapnya juga.


Mendengar penjelasan Ilham, sontak membuat Tia malu dan penasaran secara bersamaan.


Sejak kapan A Ilham suka sama Tia? batin Tia.


Ilham bangkit lalu duduk dan menatap Tia yang masih berbaring di atas ranjang. Ilham mencoba mendekatkan wajahnya ke wajah Tia yang kini sudah memerah seperti kepiting rebus. Ilham terus mengikis jarak diantara keduanya.


wajah Ilham sudah semakin dekat hingga hembusan nafasnya terasa hangat menyapu wajah Tia, Tia menahan nafasnya dan menerka-nerka apa yang akan dilakukan oleh suaminya itu.


"terttt...." Tiba-tiba suara kepakan sayap serangga terdengar oleh pendengaran Tia.

__ADS_1


"kyaaaaa...!" Tia yang melihat tiba-tiba ada yang hinggap di kepala Ilham reflek langsung memukulnya dengan keras.


"Aduh....!" Ilham meringis kesakitan karena dipukul Tia.


"Maaf A," cicit Tia merasa bersalah karena pukulannya ternyata menghantam kepala Ilham dengan keras.


"Kamu kenapa si sayang?" protes Ilham kesal.


Niat mau romantis-romantisan malah kena pukul, batin Ilham bersungut kesal.


"Ma-maaf A, tadi-tadi ada kecoa terbang hinggap di kepala Aa," cicit Tia merasa takut karena Ilham menjadi kesal karena pukulannya.


Mendengar Tia menyebut salah satu binatang yang ditakutinya membuat Ilham jadi terlonjak kaget dan langsung melompat ke atas ranjang dan memeluk Tia.


Tia yang tidak siap hanya mematung berada dipelukan Ilham.


"Mana kecoa? mana kecoanya?" ucap Ilham sambil mengedarkan pandangannya.


"Kenapa si kecoa harus hadir diantara kita sih sayang?" tanya Ilham masih dengan nada waspada dan takut tanpa mengurai pelukannya. Melihat ketakutan Ilham akibat kecoa Tia akhirnya tergelak merasa geli sendiri ternyata suaminya itu takut pada kecoa.


"Hahahahaha...A-A Ilham takut kecoa?" tanya Tia di sela-sela tawanya. Ilham mendelik sebal ke arah istrinya yang menertawakannya karena takut pada kecoa.


"Malah ngetawain," ucap Ilham ketus. Tia masih tergelak tidak terpengaruh oleh ucapan ketus suaminya itu.


Dasar kecoa tidak tahu diuntung kenapa harus datang di waktu yang tidak tepat, rutu Ilham dalam hati.


"Iisshhhh...." Ilham mengacak rambutnya frustasi.


***********


Halo kakak-kakak readers, ada yang nungguin nggak ya cerita inih? 🤔😄😄😄


maaf author amatiran ini baru bisa up cerita ini lagi, semoga bisa mengobati rasa rindu dan penasarannya akan cerita ini..


jangan lupa tinggalkan like,komen,vote dan rate bintang lima ya setelah membaca cerita recehku ini, supaya aku semangat buat up lagi.


makasih...


salam hangat

__ADS_1


_AB_


__ADS_2