Pelangi Di Ujung Senja

Pelangi Di Ujung Senja
30. Restui Pernikahan Ini!


__ADS_3

"Apa yang sebenarnya terjadi? kenapa ayah tiba-tiba membicarakan pernikahan?" gumam Tia lirih setelah menutup pintu kamarnya, dia menyandarkan tubuhnya dibalik pintu lalu tubuhnya luruh terduduk dilantai menatap nanar kesembarang arah.


Apa ini awal dari kisahku? aku bahkan tidak mengerti situasi seperti apa ini?


Tia masih saja melamun sambil duduk dibalik pintu kamarnya, sungguh dia tidak mengerti situasi seperti ini, kenapa tiba-tiba dirinya harus menikah?


Sementara di ruang tamu bu Nadia dan pak Gunawan masih melanjutkan perdebatan mereka


"Yah, pokoknya ibu nggak mau Tia nikah dalam waktu dekat!" tegas bu Nadia pada suaminya


"Tapi Bu, ada alasan kenapa ayah tiba-tiba membahas pernikahan Tia sekarang," ucap pak Gunawan dengan sabar menghadapi sikap istrinya yang sudah diliputi emosi


Bu Nadia mendelik sebal pada suaminya, sungguh dia tidak habis pikir akan suaminya, kenapa harus menikahkan Tia saat usianya belum genap 19 tahun, masa depan putri sulungnya itu masih panjang, bahkan bu Nadia juga tahu Tia ingin melanjutkan pendidikan dan menggapai cita-cita terlebih dahulu sebelum menikah


"Apa alasannya?" akhirnya pertanyaan itu lolos dari mulut bu Nadia


"Kebebasan ayah," ucap pak Gunawan lirih sambil menunduk, bu Nadia membelalakkan matanya mendengar penuturan suaminya


"Kok bisa? bukannya ayah memang tidak bersalah? kenapa juga syarat nya aneh banget meski relain Tia nikah? ibu pokoknya nggak setuju!" ucap bu Nadia tegas seakan tidak mau dibantah


Pak Gunawan menghela nafas berat sambil memijit pelipisnya, sungguh tidak mudah membuat istrinya mengerti dengan situasi yang dia hadapi sekarang


"Oke ibu tenang dulu, sini duduk samping ayah!" ucap pak Gunawan lembut sambil menepuk sisi sofa disampingnya, bu Nadia menuruti kemauan suaminya, setelah bu Nadia duduk disampingnya, pak Gunawan meraih tangan istrinya lalu ia genggam dengan lembut dan


cup

__ADS_1


Pak gunawan mencium lembut punggung tangan istrinya, bu Nadia hanya mengkerutkan dahinya dia heran kenapa suaminya melakukan hal tersebut,


"Ayah sayang sama ibu, sama anak-anak, makasih banyak sudah mau dampingin ayah sampai saat ini meski hidup kita tidak mudah," kata pak Gunawan lembut sambil sesekali menepuk pelan punggung tangan istrinya, emosi bu Nadia yang meletup-letup sejak tadi seketika menguap begitu saja yang ia rasakan hanya haru menyeruak dalam dada, ditatapnya wajah suaminya dengan lembut lalu tersenyum tipis


Hening beberapa saat diantara keduanya, tatapan mereka terkunci cukup lama mencoba menyalurkan kasih sayang yang tidak terucap oleh bibir.


"Ibu mau yang terbaik buat anak-anak?" tanya pak Gunawan lembut tanpa memutus kontak mata diantara keduanya, seketika itu bu Nadia mengangguk antusias


"Tolong restui pernikahan ini!" ucap pak Gunawan lagi


"Tapi kenapa yah?" tanya bu Nadia kini dengan nada bicara lebih lembut dibanding sebelumnya


"Ibu masih ingat pertama kali kita bertemu?" tanya pak Gunawan lagi, bu Nadia mengkerutkan dahinya dalam dia bingung dengan arah pembicaraan suaminya, meski begitu dia tetap meng-anggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Semua kerumitan ini berawal dari saat kita bertemu," ucap pak Gunawan sambil melempar tatapan kosong ke sembarang arah


Pak Gunawan menghela nafas berat lalu mulai menceritakan masa lalunya dan kejadian 20 tahun yang lalu dengan keluarga Nugraha, lalu menceritakan juga kejadian beberapa hari lalu saat pak Nugraha mendatanginya tiba-tiba serta bantuan pak Nugraha untuk membuktikan dia tidak bersalah sampai dia dibebaskan dari penjara.


Bu Nadia tampak kaget dan menutup mulutnya yang menganga dengan kedua telapak tangannya saat mendengar cerita suaminya.


"Jadi ayah lulusan S2?" tanya bu Nadia setelah pak Gunawan menyelesaikan ceritanya, pak Gunawan tampak mengangguk samar


"Ayah rela tidak mencari kerja yang layak dengan pendidikan yang Ayah miliki karena ingin bersembunyi dari sahabat Ayah?" lagi-lagi pak Gunawan mengangguk


"Ayah biarin istri dan anak-anak susah, padahal Ayah bisa saja membuat hidup keluarga kita lebih baik?" pak Gunawan menunduk merasa malu dengan pertanyaan istrinya

__ADS_1


"Ayah egois!" seru bu Nadia sambil melepaskan genggaman tangan suaminya


"Kenapa membuat semua ini menjadi serumit ini? kalau dari dulu ayah jujur dan tidak bersembunyi mungkin hidup anak-anak kita tidak akan seperti ini? mungkin... mungkin.. Tia tidak harus menikah sekarang, dan mungkin.. mungkin.. Tia bisa melanjutkan pendidikannya yah!" ucap bu Nadia bergetar menahan tangis. Hatinya kesal pada suaminya kenapa dia harus berkorban sebegitu besarnya untuk sahabatnya bahkan dia tidak memikirkan nasib anak-anaknya sendiri, sebesar itukah rasa sayang pada sahabat sampai melebihi rasa sayangpada anaknya sendiri?


"Maaf... maaf...maafkan ayah Bu," ucap pak gunawan sambil merangkul pundak istrinya yang sudah bergetar karena menangis, bu Nadia menepis tangan suaminya yang merangkul pundaknya


"Kita lihat pemuda seperti apa yang akan ayah nikahkan dengan Tia, dan kita lihat keluarga seperti apa yang akan menjadi besan kita, baru ibu putuskan akan merestui pernikahan ini atau tidak!" seru bu Nadia sambil bangkit dari duduknya dan berlalu masuk kedalam kamarnya.


Pak Gunawan menghela nafas berat dan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, tanpa suami istri itu tau ternyata ada sepasang telinga yang mendengar perdebatan mereka sejak tadi, sepasang telinga itu adalah milik Tia, Tia berjongkok bersembunyi dibalik tembok dapur, Tia hanya melamun dan menatap kosong ke sembarang arah, dia memegang dadanya yang terasa sesak lalu menghela nafas berat beberapa kali, otaknya berkata untuk menerima pernikahan ini tapi hatinya masih enggan menerimanya dengan tulus.


Setidaknya ini yang bisa aku lakukan demi masa depan Ardi dan Melati kan? kamu harus ikhlas Tia mungkin ini memang jalan takdir mu


Sementara di kediaman Nugraha....


"Ham, apa sudah bersiap-siap?" tanya pak Nugraha saat berada diambang pintu kamar anaknya yang terlihat terbuka sebagian, tampak Ilham sedang duduk diujung ranjang sambil melamun


"Masa calon pengantin melamun? cepatlah bersiap kita akan berangkat sebentar lagi, karena kita akan menjemput kakek dan nenek mu dulu dirumah mereka sebelum kita pergi ke rumah gadis yang akan kau lamar," ucap pak Nugraha panjang lebar sambil duduk disamping ayahnya dan menepuk pelan pundak anaknya. Ilham hanya melirik sebentar pada papah nya lalu meng-anggukkan kepalanya pelan.


"Sudahlah jangan sedih, papah jamin kamu tidak akan menyesal menyetujui perjodohan ini, ayolah boy jangan seperti anak gadis!" seloroh pak Nugraha terkekeh merasa lucu melihat ekspresi wajah anaknya saat ini, pak Nugraha kemudian bangkit dan berlalu keluar dari kamar anaknya.


Ilham hanya memutar bola matanya jengah melihat papah nya menertawakan dirinya.


Lihatlah siapa yang akan menikah disini? kenapa Papah terlihat antusias sekali, seperti dirinya saja yang akan menikah.. cihh!!


********

__ADS_1


terima kasih banyak buat kakak-kakak readers yang masih mengikuti cerita author yang amatiran ini.. mohon tinggalkan jejak LIKE,COMMENT,VOTE dan RATE ya.. jangan lupa juga masukkan ke daftar bacaan favorite kalian..


makasih... ❤❤❤❤❤


__ADS_2