
Tia hanya mengangguk samar dan tersenyum tipis ke arah Anna.
"Ya udah yuk, Yang berangkat!" seru Ilham sambil menarik lengan Tia untuk naik ke atas motornya. Tia mematung tidak menggeser posisinya sedikit pun hingga membuat dahi Ilham berkerut.
"Kenapa? tanya Ilham heran.
"A, kita harus bicara," ucap Tia dengan nada serius.
Ilham hanya diam setelah mendengar Tia ingin bicara. Sebenarnya apa yang ingin dibicarakan, mereka bahkan baru dua hari menikah. Haruskah ada perdebatan di usia pernikahannya yang baru dua hari.
"Kita bicara di restoran sambil makan dan sholat maghrib." Akhirnya menyetujui keinginan sang istri.
Tia mengangguk lalu naik ke atas motor Ilham, Ilham melajukan motornya dengan pelan mencoba meresapi angin yang menerpa tubuhnya. Selama perjalanan mereka hanya terdiam, tidak ada obrolan apalagi pelukan layaknya sepasang suami istri pada umumnya.
Sesampainya di restoran Ilham memarkirkan motornya dengan rapi supaya tidak menyita tempat untuk kendaraan pelanggan restoran. Restoran miliknya memang selalu ramai di malam hari. Tia hanya mengekori langkah Ilham kedalam restoran.
Tibalah mereka di sebuah ruangan di belakang dapur. Sebuah ruangan yang cukup luas dibandingkan dengan kamar kos Tia. Ada meja dan kursi layaknya sebuah kantor dan ada sofa di sudut ruangan, ada kamar mandi juga didalam ruangan itu.
"Kamu bawa mukena?" Tia hanya mengangguk.
"Aa wudhu duluan," ucap Ilham sambil berlalu masuk ke dalam kamar mandi yang ada di ruangan itu.
Ternyata di sudut ruangan ada sebuah lemari kecil yang berisi sejadah dan beberapa pakaian Ilham. Tia mengambil sejadah dan disusunnya sesuai instingnya kemana arah kiblat.
"Kamu wudhu dulu, Aa tunggu, kita sholat berjamaah," ucap Ilham dengan nada datar. Tia menurut lalu beranjak ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Setelah mereka melakukan sholat berjamaah, Ilham dan Tia belum beranjak dari sejadah mereka. Sibuk dengan dzikir dan doa masing-masing.
Setelah beberapa menit, Ilham berbalik ke arah Tia lalu mengulurkan tangannya. Tia menyambut uluran tangan Ilham lalu menciumnya dengan takjim.
__ADS_1
"Jadi mau bicara apa?" tanya Ilham masih dengan nada datar.
Tia hanya mampu menunduk, suaranya seolah tercekat di tenggorokan. Suasana sehabis sholat begini mampu meredakan emosinya karena tadi melihat suaminya tertawa lepas dengan Anna. Tia jadi bingung perasaan macam apa yang dia miliki untuk suaminya itu.
"Mau bicara apa, hum?" Kali ini dengan nada lembut dan elusan lembut di pucuk kepala Tia.
Tia memberanikan diri untuk menatap sang suami yang sedang menatapnya sendu.
"Banyak hal," jawab Tia singkat.
"Ya sudah, mulai dari hal yang paling mudah di diskusikan, Aa akan mendengarkan." Tia tersentak mendengar Ilham yang tampak dewasa. Tia menghirup nafas dalam lalu dia keluarkan pelan.
"Maaf sebelumnya A, Tia nggak nyaman kalau harus tinggal di rumah Mamah," cicit Tia memberanikan diri memulai pembicaraan. Ilham hanya mengangguk.
"Terus apa lagi?" tanya Ilham tenang.
"A..." Tia menjeda kalimatnya lalu menunduk.
"Maksud kamu Yang?" tanya Ilham heran.
"Maaf tapi, dengan kedekatan A Ilham dan teh Anna yang Tia lihat, kalian lebih dari sekedar teman," jawab Tia dengan hati-hati.
Ilham menghela nafas dalam. Ilham paham sekarang apa yang sebenarnya mau Tia bicarakan padanya.
"Maaf, tapi Tia ingin memperjelas semuanya dulu sebelum berfikir untuk melanjutkan pernikahan ini atau tidak?" ucap Tia lagi, dia sudah mulai tidak takut mengeluarkan apa yang ada dipikirannya.
"Melanjutkan pernikahan ini atau tidak?" sahut Ilham dengan nada sedikit meninggi mengulang ucapan Tia. Dengan nyali yang menciut Tia menganggukkan kepalanya pelan.
"Kamu pikir Aa tidak serius dengan pernikahan kita?" ucap Ilham lagi dengan sedikit berteriak. Tia menjadi ciut dibuatnya.
__ADS_1
"Maaf A, tapi Tia selalu melihat ada kebahagiaan di sorot mata Aa kalau ngobrol dengan teh Anna, dan lagi hmm... Aa selalu lupa dengan keberadaan Tia kalau udah sama teh Anna." Tia memberanikan diri menjelaskan apa yang dia rasa.
Ilham menghela nafas dalam dan menghembuskannya kasar, dengan sekuat tenaga dia menahan emosinya supaya tidak dia luapkan pada istrinya. Harga dirinya terluka saat istrinya berniat untuk tidak melanjutkan pernikahan mereka.
"Tia belum percaya kalau Aa mencintai Tia?" tanya Ilham kini dengan nada lembut.
"Maaf A, tapi Tia takut malah jadi orang ketiga diantara A Ilham sama teh Anna," ucap Tia sambil menunduk.
"Tia lebih baik mundur dari sekarang A." Lanjutnya lagi.
"Ya Alloh Sayang, kenapa kepikiran sampe situ?" ucap Ilham menggeram tertahan.
"Tia mohon Aa pastikan dulu saja perasaan Aa sama teh Anna, sebelum Aa mengumbar kata cinta ke Tia," ucap Tia yang kini sudah terisak sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Sudah, jangan bahas ini lagi! jangan pernah pertanyakan lagi perasaan Aa sama kamu!" seru Ilham sambil bangkit dan meninggalkan Tia yang masih terisak pilu.
Hati Tia merasa sakit karena dibentak oleh Ilham, Tia mendongakkan wajahnya yang basah dengan air mata menatap nanar kepergian suaminya itu, meninggalkannya sendiri dengan perasaan yang tak menentu.
Ayah, Ibu Tia kangen.. kalau tahu bakal kayak gini teteh nggak mau nikah, batin Tia menjerit pilu.
**********
Kakak-kakak readers mohon dukungannya ya kalau mau kritik juga boleh, tinggalkan di kolom komentar ya.
Jangan lupa tinggalkan jejak like,komen,vote dan rate bintang lima ya, biar aku semangat up lagi.
Makasih,
Salam hangat,
__ADS_1
_AB_