Pelangi Di Ujung Senja

Pelangi Di Ujung Senja
26. Tidak Mungkin


__ADS_3

Dikediaman Nugraha....


Pak Nugraha sedang berada diruang kerjanya, dia duduk dengan gusar disebuah sofa sambil memijit pelipisnya tampak guratan kecemasan dan kelelahan diwajahnya yang tidak muda lagi.


Dddrrrtt...drrrttt...drrttt


Suara dari ponselnya mampu mengalihkan perhatian pria paruh baya tersebut hingga beranjak dari duduknya menuju sebuah meja kerja dan meraih ponsel yang dia letakkan diatasnya yang sedang berbunyi, dia sentuh tanda hijau di layar ponselnya untuk mengangkat panggilan tersebut.


"Halo, apa sudah ada kabar?"


"......."


"Baik, segera selidiki semuanya jangan sampai ada yang terlewat dan ingat harus detail dan rinci, saya tunggu sampai besok."


"......"


"Baik, terima kasih."


Klik panggilanpun diakhiri Pak Nugraha menghela napas berat beberapa kali sambil melemparkan tatapan kosong kesembarang arah.


"Kamu tidak pernah belajar dari masa lalu Guna," Pak Nugraha menghela napas berat yang kesekian kalinya lalu mengepalkan tangannya dan meninju permukaan meja didepanya.


Brakk!!!


"Dasar naif! tidak pernah berfikir nasib keluarganya sendiri sebelum percaya sama orang.." Pak Nugraha masih bersungut-sungut kesal dengan sahabat lama nya itu.


Dikediaman Gunawan.....


"Yah, apa ini seperti yang ibu pikirkan?" ucap ibu Nadia gugup sambil menatap suaminya gusar.


Pak Gunawan hanya duduk termenung menatap kosong kedepan tidak menjawab pertanyaan istrinya.


"Yah, tolong jawab dong yah jangan buat ibu semakin khawatir dan membuat ibu berpikir semua yang dituduhkan ke ayah itu benar," ucap Ibu semakin tidak sabar karena suaminya sedari tadi hanya diam tidak menjawab atau menanggapi pertanyaannya.


Tokkk....tokkk...tokk...


Ketukan pintu mampu membuat perhatian keduanya teralihkan, ibu Nadia bangkit dari duduknya dan hendak membuka pintu, saat pintu sudah dibuka tampak tiga orang pria dewasa yang berpakaian seragam kepolisian.


"Maaf bu apa benar ini rumah Bapak Gunawan?" ucap salah satu pria berseragam itu

__ADS_1


"I-iya pak benar, a-ada perlu apa ya?" jawab Ibu Nadia terbata


"Kami dari pihak kepolisian ingin menjemput Bapak Gunawan agar ikut kami ke kantor!" jawab salah satu pria berseragam itu tegas


"Ke-kenapa pak? apa salah suami saya?" ucap ibuu gugup dan tanpa terasa cairan bening yang sudah menumpuk dipelupuk matanya sudah berjatuhan melewati pipinya.


"Kami datang atas laporan salah satu warga desa, Bapak Gunawan diduga telah menyalahgunakan dana operasional desa, jadi Bapak Gunawan harus ikut kami ke kantor untuk penyelidikan lebih lanjut!" tegas pria berseragam itu lagi.


"Tidak itu tidak benar, mana mungkin suami saya melakukan hal itu" ucap ibu bergetar sambil terus terisak.


Salah satu pria berseragam polisi memberikan isyarat kepada kedua rekannya untuk membawa Pak Gunawan keluar dari rumahnya, Pak Gunawan melangkah mengikuti kedua polisi itu tanpa perlawanan sedikitpun, dia melangkah dengan lemas dengan tatapan yang kosong. Saat berada diambang pintu Ibu Nadia bersimpuh dikaki suaminya untuk mencegah agar suaminya tidak pergi kemanapun tapi usahanya sia-sia.


"Yah, tolong jawab! Ayah tidak pernah melakukannya kan? yah tolong jawab, jangan diam saja yah! pak tolong pak jangan bawa suami saya, tolong pak! saya kenal betul bagaimana suami saya, pak tolong pak,, saya mohon," racau ibu Nadia sambil terisak mencegah kepergian suaminya dan ketiga pria berseragam polisi yang terus melangkah keluar rumah dan masuk kesalah satu mobil polisi yang sudah terparkir sejak tadi didepan halaman rumah Pak Gunawan.


"Pak saya mohon Pak, jangan bawa suami saya!" gumam ibu Nadia lirih dengan terus terisak dia bersimpuh dihalaman rumahnya menatap kepergian mobil yang semakin menjauh dari jangkauan pandangannya.


Tampak beberapa warga yang menyaksikan kejadian tersebut, ada yang berbisik-bisik dan menatap penuh kebencian pada Ibu Nadia tapi ada pula yang menatap iba merasa kasihan dengan nasib keluarga Gunawan yang dinilai baik selama ini tapi harus dijemput paksa oleh polisi atas tuduhan korupsi.


"Gila ya nggak nyangka Pak Gunawan korupsi, padahal orangnya baik banget selama ini."


"Ihh jeng jangan langsung percaya makanya yang terlihat baik dari luar bisa saja busuk didalamnya."


"Nggak nyangka aja ya, kasihan anak dan istrinya."


"Lagian ya jaman sekarang, demi menutupi kebutuhan hidup apapun dilakukan kali jeng, ya meski mencuri uang orang."


Berbagai bisikan yang tidak enak terdengar oleh Ibu Nadia yang semakin memperburuk suasana hatinya, dia yakin meski hidup serba kekurangan suaminya tidak akan pernah melakukan hal tersebut, tapi suaminya tidak menyangkal semua tuduhan tersebut dan perkataan-perkataan negatif dari tetangganya membuat hati Ibu Nadia sedikit goyah.


Ibu Nadia masih dalam posisinya bersimpuh dihalaman rumahnya dengan terisak sungguh hatinya hancur mendapati kenyataan suaminya ditangkap polisi dengan tuduhan korupsi. Seketika itu pandangannya mulai gelap dan tubuhnya merasa lemas dan akhirnya dia jatuh tidak sadarkan diri.


"Ibu Nadia...!" teriak salah satu tetangganya yang masih berada didepan rumahnya itu berlari dan menyongsong tubuh Ibu Nadia yang sudah terjatuh ditanah.


Digoyangkan pelan bahu Ibu Nadia dan menepuk pipinya pelan sambil memanggil-manggil nama ibu Nadia berulang kali, tapi ibu nadia bergeming tidak bergerak sedikit pun, dengan panik tetangganya itu membopong tubuh bu Nadia masuk ke rumahnya dan dipanggilkannya Ardi dan Melati.


"Ardi...! Mellati...!" panggil Ibu Saroh tetangga yang membopong tubuh bu Nadia.


"Ibu..!" teriak Ardi dan melati bersamaan lalu mereka berlari menyongsong tubuh ibunya yang sudah dibaringkan diatas sofa.


"Telepon kakak mu cepat!" titah bu Saroh pada Ardi sambil mengoleskan minyak angin dihidung bu Nadia

__ADS_1


"Ba-baik Bi" jawab Ardi sambil mencari ponsel ayahnya untuk menelpon kakaknya Tia.


Saat panggilan tersambung Ardi langsung memberitahukan keadaan Ibunya kepada kakaknya Tia tanpa memberitahukan keadaan ayahnya karena Ardi sendiri tidak mengetahui jelas dengan keadaan ayahnya yang sekarang sudah ditangkap polisi, karena dari tadi Ardi dan Melati disuruh diam dikamar oleh kedua orang tuanya.


satu jam sudah berselang, ibu Nadia sudah sadar dari 45 menit yang lalu, kini dia hanya duduk lesu disofa diruang tamu rumahnya ditemani oleh bi Saroh tetangganya dan kedua anaknya.


Tokkk...tokkk...tokk


Ketukan dipintu mengalihkan perhatian ke empat orang yang ada didalam ruangan itu.


"Biar Ardi yang buka," ucap Ardi sambil bergegas membuka pintu


"Assalamu'alaikum..."


"Wa'alaikumsalam.. Teh, udah dateng?" ucap Ardi saat dia membuka pintu sudah ada kakaknya Tia berada dihadapannya mengucapkan salam, tampak juga dua orang dibelakang kakaknya itu.


"Mana ibu?" tanya Tia dengan khawatir, tanpa menunggu jawaban Ardi, Tia langsung menghambur kedalam rumah dan menerobos tubuh Ardi yang kala itu berdiri diambang pintu.


Ardi pun masih menatap dua orang yang masih berdiri diambang pintu yang belum dia kenal, akhirnya kedua orang itu dipersilahkan masuk oleh Ardi, kedua orang itu adalah Anna dan Ilham yang juga ikut mengantar Tia setelah Tia mendapat telpon bahwa ibunya pingsan.


"Ibu kenapa? kok bisa pingsan? ibu sakit? udah ke dokter?"cerocos Tia khawatir saat melihat ibu hanya terduduk lemas diatas sofa dengan tatapan kosong.


Hanya gelengan kepala yang ibu Nadia berikan sebagai jawaban atas pertanyaan putri sulungnya itu.


Tia beralih menatap bi Saroh yang ada disamping ibunya, menatap dengan penuh selidik pada tetangganya itu mencari sebuah jawaban yang sedari tadi dia cari.


"Apa yang sebenarnya terjadi bi?terus ayah dimana?" tanya Tia sambil menatap bi Saroh dengan tatapan selidik penasaran.


"Mmm.. Tia i-tu a-yah kamu," jawab bi Saroh terbata


"Ada apa Bi? bu ada apa?" tanya Tia semakin penasaran sambil menatap ibu dan bi Saroh bergantian.


Anna dan Ilham hanya diam tidak mengeluarkan sepatah katapun begitupun kedua adik Tia. Bi Saroh menghela napas berat sebelum dia berucap kembali.


"Ayah kamu ditangkap polisi Tia," ucap bi Saroh lirih penuh kesedihan, ibu Nadia kembali terisak setelah mendengar penuturan bi Saroh.


"Apa?" ucap Tia sedikit berteriak terkejut, begitupun Anna dan Ilham sama terkejutnya dengan penuturan bi Saroh.


********

__ADS_1


mohon dukungannya tinggalkan jejak like,komen, vote dan rate ya..


makasih... 🤗


__ADS_2