Pelangi Di Ujung Senja

Pelangi Di Ujung Senja
42. harus jawab apa?


__ADS_3

Di sudut ruangan yang gelap seorang pemuda sedang termenung menatap bulan yang menampakkan dirinya dengan sempurna. Pemuda itu hanya diam terpaku tanpa melakukan apa pun.


"Ya ampun, kaget saya," sahut Parto yang kaget melihat Ilham yang sedang duduk termenung di sudut ruangan gelap di balkon belakang restoran. Ilham hanya menatapnya dengan malas.


"Nggak pulang lagi Bos?" tanya Parto datar, Ilham hanya menggeleng.


"Kayak nggak punya rumah Bos, tidur di restoran terus," ledek Parto.


Ilham hanya diam membisu tidak berniat sedikitpun meladeni ocehan karyawannya itu.


"Ck, kebiasaan nyuekin orang, suatu saat Bos bakal rasain nggak enaknya di cuekin orang," Parto mendengus kesal pada Ilham.


"Udah deh nggak usah ceramah, kalau mau lewat-lewat aja, anggep aku nggak ada!" seru Ilham dengan nada kesal.


Bukan menjauh Parto malah semakin mendekat dan duduk tepat di samping Ilham. Ilham meliriknya sekilas.


"Bos, masalah itu dihadapi bukan dihindari," ucap Parto menasehati. Ilham hanya mendengus kesal menanggapinya.


"Bos, Bos itu beruntung sudah nikah, lah saya jomblo dari lahir," ucap Parto sedih.


Ilham masih tetap diam seolah suara Parto bukan hal yang bisa mengganggu lamunannya.


"Bos, kalau nggak mau sama Tia, buat saya saja," ucap Parto sambil terkekeh.


"Plaakkkkk!" Ilham memukul punggung Parto dengan keras hingga membuat Parto meringis kesakitan.


"Aw..ssshhhh.. sakit Bos," ringis Parto kesakitan


"Ngomong dijaga! sampai kapan pun aku nggak akan pernah pisah sama Tia!" seru Ilham dengan melotot.


Parto tertawa dalam hati ternyata bosnya ini sudah mulai terpancing.


"Ya kalau gitu jangan dianggurin terus dong, cepet minta maaf, nggak baik mendiamkan masalah terlalu lama." Lagi-lagi Parto memberikan nasihat.


"Aku lagi cari waktu yang tepat," jawab Ilham datar.


"Ck, keburu dipepet orang Bos, hm... Tia kan cantik imut gitu pasti bakal banyak yang suka," sahut Parto enteng.


"Plaaakkkk!" Ilham kembali memukul punggul Parto dengan keras, lebih keras dari sebelumnya.


"Aw..sshhhhh, hobi banget nyiksa karyawan Bos," sungut Parto menahan nyeri punggungnya yang terkena pukulan kedua dari Ilham.


Ilham seketika langsung ingat pada teman Tia yang datang waktu mereka menikah, teman Tia yang menyimpan perasaan pada Tia dan terlihat tidak rela Tia menikah.

__ADS_1


Sekejap itu hati Ilham dilimputi rasa cemburu. Tidak boleh, Tia adalah istrinya tidak boleh ada yang mendekatinya.


"Tidak boleh!" seru Ilham tiba-tiba dengan suara lantang. Parto terlonjak kaget dibuatnya.


"Ck, baru sadar kan Bos, makanya punya istri jangan dianggurin," ucap Parto enteng dia tidak sadar kalau Ilham sudah meninghalkannya dari tadi.


"Ya ampun saya ngomong sama angin," dengus Parto kesal saat mengedarkan pandangannya Ilham sudah tidak ada dimana pun.


***********


Keesokan harinya...


Tia bekerja seperti biasa meski hatinya merasa gelisah memikirkan permohonan mamah mertuanya dari kemarin.


Kemarin mamah mertuanya terus saja memohon untuk Tia mengalah pada Ilham, hingga dengan terpaksa dia menyetujui permohonan mertuanya itu.


"Huhm.. harus semangat Ya," gumam Tia menyemangati diri sendiri sambil menghela nafas pelan lalu melanjutkan pekerjaannya.


"Tia," panggil Erna sambil menepuk pelan pundak Tia.


Tia terlonjak kaget mendapat tepukan dipundaknya.


"Kok ngelamun, mikirin apa sih? lagi galau gara-gara putus ya?" tanya Erna dengan nada meledek. Tia hanya tersenyum kikuk.


"Eng-nggak kok Mbak, kenapa mbak butuh sesuatu?" tanya Tia sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Pak Ilham manager produksi minta di bawakan kopi ke ruangannya tuh," jawab Erna enteng.


"Oh, ya sudah saya buatkan tapi Mbak Erna ya yang bawain," ucap Tia sambil bergegas membuatkan kopi untuk Ilham.


"Enggak ah, kamu aja Ya, aku sibuk di meja resepsionis nggak ada yang jaga takut banyak yang telpon," sahut Erna sambil melangkah pergi.


"Huft.. ya sudahlah, anggap aja tidak ada hubungan apapun, cuma sebatas manager dan officegirl, semangat Tia," gumam Tia pelan sambil memindahkan cangkir berisi kopi ke atas nampan.


Tia melangkah pelan menuju ruangan manager produksi. Setibanya di depan pintu ruangan Tia mengetuk pintu, setelah terdengar sahutan 'masuk' dari dalam ruangan, dengan perlahan Tia membuka pintu.


"Permisi, maaf Pak ini kopi anda," ucap Tia pelan, dengan perlahan Tia memindahlan cangkir berisi kopi dari atas nampan ke atas meja kerja Ilham.


Ilham hanya diam tidak menjawab atau pun bersuara sedikit pun. Tia hanya menunduk tidak berniat sama sekali menatap suaminya itu.


Saat Tia berbalik hendak meninggalkan ruangan tersebut, tiba-tiba Ilham menghadangnya lalu mengunci pintu ruangan. Tia mendongakkan kepalanya lalu menatap Ilham dengan tatapan heran.


"Aku belum minta kamu untuk keluar," ucap Ilham datar.

__ADS_1


Tia menghela nafas berat lalu menghembuskannya perlahan.


"Baik, ada yang bisa saya bantu lagi Pak?" tanya Tia tenang.


Tiba-tiba Ilham menghambur memeluk Tia, Tia yang tidak siap sampai memundurkan langkahnya satu langkah kebelakang. Tia hanya mematung mendapat pelukan mendadak dari Ilham, Tia hanya mematung tidak membalas maupun menolak.


Ilham memeluk Tia dengan erat, menghirup dalam aroma tubuh Tia, mencoba menyalurkan rasa rindu yang sudah dia tahan selama dua minggu pada istrinya ini.


"Sayang, aku kangen," ucap Ilham dengan nada manja tanpa mengurai pelukannya.


"Apa kamu tidak merindukan suamimu ini hum?" tanya Ilham setelah menguraikan pelukannya.


Tia hanya membisu sambil memalingkan wajahnya.


"Aa minta maaf Yang, Aa salah udah bentak kamu. Aa janji nggak gitu lagi, ya maafin Aa ya, please!" ucap Ilham memohon sambil menyatukan telapak tangannya di depan dadanya. Tia hanya meliriknya sekilas.


"Yang..!" panggilnya lagi dengan nada manja.


"Ya sudah," tukas Tia.


"Ya sudah apa?" tanya Ilham dengan senyum yang mengembang.


"Ya sudah aku maafin," ucap Tia pelan tapi masih terdengar jelas oleh Ilham.


Cup.


Ilham mengecup singkat pipi Tia, Tia mematung wajahnya sudah merah merona.


"Ck, Aa suami kamu ingat?" rajuk Ilham saat melihat ekspresi Tia. Tia hanya mengangguk kikuk.


"Ayo sini, ceritain sama Aa dua minggu ini kamu ngapain aja?" tanya Ilham sambil menuntun Tia duduk di kursi kebesarannya.


"A, bagaimana perasaan Aa sama teh Anna?" Pertanyaan Tia sontak membuat Ilham bungkam.


Aku harus jawab apa?


***********


Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote dan rate bintang lima setelah baca cerita recehku ini..


Makasih,


Salam hangat,

__ADS_1


_AB_


__ADS_2