Pelangi Di Ujung Senja

Pelangi Di Ujung Senja
Bab 8 Awal Yang Baik


__ADS_3

Aku hampir lupa Arlan berjanji menjemput. Aku sudah berada di halte menunggu bus. Kubuka gawaiku sudah berderet pesan masuk yang sejak tadi kuabaikan. Tidak ada yang menarik dari isi gawaiku, hanya celotehan teman-teman di beberapa grup dan beberapa pesn pribadi yang tidak penting. Ternyata Arlan sudah mengirimi pesan sejak 30 menit yang lalu, dia mengatakan sudah berada di parkiran kantorku. Aaarrggghhh kenapa setiap hari dia menggangguku apa mungkin itu hobi barunya. Dengan terpaksa aku menyeret langkahku kembali menuju parkiran kantorku. Semoga tidak ada mata yang melihatku, bersama Arlan. Bisa viral, aku tak suka.


Langkahku terhenti didepan gerobak cilok. Ya cilok, makanan rakyat murah meriah. Jajanan legendaris semenjak masih duduk di bangku SD, saat itu uang jajanku hanya mampu untuk membeli cilok. Hal itu yang membuat kenangan manis tentang cilok ini. Aku membeli dua bungkus lalu menuju parkiran mencari Arlan. Suara bariton di belakangku menghentikan langkahku, itu adalah suara Arlan, dia memanggilku berkali-kali. Ketika aku menoleh dia melambaikan tangan seraya tersenyum ke arahku.


'Nona manis mau kemana...mending ikut abang yuk'


Aku menghampiri Arlan mengulurkan sebungkus cilok. Dia tersenyum sekilas ketika melihat isi bungkusan itu.


'Kayak anak SD aja neng jajan beginian. Tapi makasih loh kamu perhatian banget sama abang. Udah terima cinta abang ya neng?'


Aku terlonjak, jantungku semakin kencang. Apa aku tidak salah dengar? Sungguh aku tidak bisa membedakan kapan dia serius dan kapan bercanda. Aku memilih menganggapnya bercanda tidak ingin memasukkan ke dalam hati. Takut terluka.


'Blushing sih neng....yaudah abisin dulu ciloknya. Kan ga lucu makan cilok sambil naik motor'


pantas saja aku tidak menemukan Arlan di parkiran tadi ternyata dia mengendarai sepeda motor.


------


Arlan menghentikan motornya di restoran siap saji yang menyediakan olahan ayam dengan balutan tepung renyah. Biar paripurna mengenang masa kecil. Ayam berselimut tepung tebal itupun makanan kesukaan anak-anak tak terkecuali Aku dan...Arlan.


'Kak, aku sudah mengajukan surat pengunduran diri. Aku mau melanjutkan kuliah dan membantu ibu membuka toko kue'


Rasanya aku menyesal mengatakan hal itu. Apa perlunya Arlan tahu toh dia bukan siapa-siapaku. Bukan urusannya juga. Tanpa sadar aku merutuki kebodohanku sendiri.


'Hal baik jangan ditunda-tunda. Aku selalu mendukungmu'


Pipiku memanas mendengar respon Arlan. Kami seperti sepasang kekasih yaa?? Hahaha lucu sekali. Sepertinya dia sudah berhasil menerobos masuk ke dalam hatiku. Tanpa mengetuk pintu tanpa permisi mengobrak abrik hatiku. Tidak sopan. Tidak bisa kupungkiri lelaki absurd di depanku ini adalah lelaki dewasa dengan pengalaman jauh di atasku. Dia sudah lebih dulu menghadapi kerasnya dunia. Di tangannya pula usaha rintisan ayahnya bergerak maju.


'Kamu mau kuliah dimana?' Arlan melanjutkan pembicaraan.

__ADS_1


'Yang dekat toko ibuku saja'


'Besok kuantar survey kesana. Tapi ingat kuliahmu bukan alasan menolak lamaranku' perkataan Arlan terdengar lebih seperti perintah.


'Kak Arlan, aku tidak bisa membedakan kapan kakak bicara serius kapan main-main'


'Neng cantik....abang tidak pernah main-main. Kalau kamu siap besok pun abang bisa menikahimu'


'Terlalu cepat rasanya kak, aku belum sepenuhnya bisa mencerna semua ini'


'Aku bisa memberimu waktu tapi jangan lama-lama nanti abang karatan nungguin kamu. Kamu mah enak masih muda, abang tambah keriput nanti'


'Kalau kak Arlan keriput saingan kakak berat loh. Nanti pasti banyak cowok-cowok muda yang memperebutkanku'


Kami tertawa bersama sambil mencocolkan ayam kedalam saus. Sereceh itu kebahagiaan kami. Aku tidak pernah menyangka pertemuan tanpa sengaja membawa kami sedekat ini.


'Eh neng sebetulnya aku bukan baru mengenalmu. Aku mengenalmu jauh sebelum pertemuan di rumah sakit itu' Arlan menghentikan tawa dan mulai berbicara.


'Kamu adalah bayi dengan bedong pink yang ingin kubawa pulang dan kusimpan bersama mainanku'


Aku semakin tidak mengerti arah pembicaraan lelaki itu. Arlan sudah mengenalku? Semenjak bayi? Sebenarnya siapa dia. Aku tidak berhasil menggali kenangan masa laluku. Tidak pernah ada nama Arlan, setidaknya wajahnya pun tidak kuingat, sama sekali.


'Dulu aku tinggal tidak jauh dari rumahmu. Kamu selalu memakai bedong pink. Saat itu wajahmu sangat menggemaskan. Aku sering merengek kepada bunda untuk membawamu pulang'


'Kamu adalah anak kecil cengeng yang suka mengikutiku setelah teman-temanmu membuatmu menangis'


Arlan bercerita smbil mengunyah ayam. Aku tidak ingat kalau dulu suka menangis. Masa iya aku secengeng itu. Yang kuingat aku terakhir menangis waktu SMP karena nilai rapotku turun. Aku takut kanjeng ratu memarahiku. Setakut itu aku kepada wanita yang telah melahirkanku. Aku tak ingin membuatnya kecewa.


'Kamu senang melihat pelangi. Kalau besar mau jadi bidadari cantik. Hahahaaaaaaa anak yang aneh. Dari kecil kamu tuh sudah aneh tau !'

__ADS_1


Ingin rasanya aku menjitak kepala Arlan kalau tidak takut dosa. Dia jauh lebih tua dariku. Memang benar aku sampai saat ini masih menyukai pelangi. Tapi bukan karena ingin menjadi bidadari.


'Ga usah manyun neng, kamu mah jadi bidadari abang aja'


'Iiissh kak ! Kok aku kesal ya....mungkin suatu saat aku harus menghisap ubun-ubun kak Arlan'


'Biar apa neng? Biar tambah cantik?


--------


'Assalamualaikum Bu, anak ganteng bunda pulang'


Aku memperhatikan sebentuk rumah di hadapanku. Rasanya ini rumahku kenapa jadi kak Arlan yang sok merasa penghuni tetap. Segala tingkah lakunya tak bisa ditebak. Dulu dia memanggilku dek, skrg neng. Dan dia menyebut dirinya abang....abang tukang bakso mungkin.


Kanjeng ratu membukakan pintu. Seketika heboh melihat tamunya, katanya anak ganteng kesayangan. Ciiih memangnya anak siapa dia. Aku yang merasa diabaikan segera melangkah masuk meninggalkan kedua orang itu.


Aku melangkah menuju dapur, membuatkan minuman untuk tamu. Tamu? Benarkah dia tamu? Demi kesopanan terpaksa aku membuatkan minum. Mereka sedang asik mengobrol, basa basi.


'Kak diminum dulu'


'Bulan, duduk dulu sini. Besok ibu mulai mempersiapkan keperluan toko. Aaah tapi kan kamu kerja yaa? Ya sudah ibu ditemani nak Arlan saja, tidak apa kan nak Arlan?' Kanjeng ratu selalu bisa membuat orang menuruti perintahnya. Bahkan anak orangpun bisa menurut.


'Ibu...kenapa harus merepotkan orang lain sih?' Selaku


'Kata bunda aku ini calon menantu idaman jadi bukan orang lain, kalau kamu lupa'


Kanjeng ratu dan Arlan, sepaket orang menyebalkan. Pantas saja mereka bisa akrab, mereka mempunyai kesamaan.


'Ya sudah terserah ibu saja aku mau mandi'

__ADS_1


Kanjeng ratu tertawa meledek, 'cepat mandinya temani nak Arlan ibu mau ke rumah bu rt bayar arisan. Nak Arlan, ibu tinggal dulu yaa. Ibu akan menagih janjimu mengajari strategi bisnis yang jitu'


Arlan tak menjawab dia hanya tersenyum dan mengacungkan jempol ke arah kanjeng ratu tanda persetujuan


__ADS_2