Pelangi Di Ujung Senja

Pelangi Di Ujung Senja
Part 5 Percakapan Rahasia


__ADS_3

Pagi itu hujan kembali mengguyur ibukota. Bulan menyusuri jalan setapak licin memegangi payung. Celana kerjanya sebagian basah terkena cipratan air hujan.


Sampai di kantor masih sepi. Suasana hujan seperti ini membuat karyawan datang terlambat. Selain macet, terkadang beberapa wilayah tergenang banjir terlebih jika hujan berlangsung lama.


Bulan meletakkan tas dan menyalakan komputer. Perlahan muncul foto pria tampan bermata sipit melirikkan sebelah matanya ke arah Bulan membuat gadis itu menyunggingkan senyum. 'Tidak apa tidak punya pacar selama bisa memandangi wajah tampan artis pujaannya'. Gumamnya.


Bulan berjalan menyusuri lorong menuju pantry. Sayup-sayup terdengar percakapan antara seorang lelaki dengan seorang perempuan yang berasal dari ruangan kepala divisinya, ruangan bu Sandra, wanita berusia sekitar 30an yang selalu berpenampilan sexy. Bulan sangat mengenali suara wanita itu, namun tidak dengan suara lawan bicaranya.


'Tenang saja sayang, si bodoh Ronald itu ada di tanganku. Sebentar lagi uang itu akan beralih ke tangan kita'. Kata wanita itu.


'Pokoknya kamu harus main cantik. Aku tidak mau namaku terseret'


Deg!


Bulan mengerjapkan mata, kaget. Dia bersembunyi di balik pantry, mencari tempat agar tetap bisa mendengar percakapan itu. 'Sepertinya mereka sedang melakukan perbuatan yang tidak baik' batinnya.


'Ronald yang bodoh itu selalu mempercayaiku sayang, kau tidak usah khawatir. Kamu hanya perlu memastikan dia menandatangani surat itu maka kita akan berhasil'


'Kau memang cerdik Sandra. Tapi ingat jangan sampai semua ini bocor'


Senyap


Tubuh Bulan terasa sangat lemas. 'Aah aku menyesal mendengar semua itu. Lebih baik tidak tahu sama sekali'


Bulan menyeduh teh panas demi meredakan suasana yang sangat lengkap untuk membuat harinya menjadi kelabu. Bulan hanyalah karyawan biasa yang selalu mendambakan ketenangan hidup. Entah apa yang akan terjadi esok hari. Hari ini sungguh melelahkan batin gadis polos itu. Dia masih tidak habis pikir dengan atasannya itu, gaji besar kedudukan tinggi masih saja kurang. 'Ckckck manusia memang tidak akan pernah puas sebelum di telan perut bumi'. Gadis itu menggeleng-gelengkan kepala.


Gadis itu melangkah kembali menuju kubikel yang saat ini sudah mulai terisi hampir separuh, mungkin sisanya masih terjebak di jalan.


'Hey nona cantik! Pagi-pagi udah melamun mikirin apa siih?'


Bulan berjengit kaget sekuat tenaga menahan gelas teh agar tidak tumpah. 'Sahabatnya yang bernama Sisil itu memang jahil. 'Ya Allah Sil kamu itu kalau nggak bikin orang kaget nggak puas apa yaa'


'Memang aku sengaja kok lagian kamu pagi-pagi muka ditekuk. Tuh liat mejamu udah penuh tumpukan kertas. Tadi bu Sandra yang menaruh sambil marah-marah'


'Hah...marah kenapa sil? Aku kan baru masuk'


'Ya sudah nanti kamu juga tahu sendiri. Dia kan nggak kenyang kalau cuma sarapan nasi uduk, harus nambah makan orang, hahahaahaaa' Sisil terbahak-bahak sambil masuk ke kubikelnya.


Bulan hanya bisa menggerutu sebal. Pelengkap hari buruknya sudah mencapai 100%. Yang dia tahu hidup ini seharusnya damai. Mengapa dunia orang dewasa serumit ini siiih.


Triiing


Gadis itu melirik benda pipih miliknya, ada notifikasi pesan masuk dari nomor tak dikenal.


+62812xxxxxxx


Pagi cantik


Ternyata masih belum cukup ujian pagi ini. Sepagi ini sudah dihadapkan pada dua manusi misterius.


+62812xxxxxxx


Padahal belum selesai hujan bahkan pelangi pun belum tampak tapi bidadariku sudah turun dari kahyangan.


+62812xxxxxxx


Rupanya bidadariku sedang sibuk mencari selendang


+62812xxxxxxx

__ADS_1


Neng, selendangnya abang curi nggak usah mencari-cari. Balas dong jangan di baca doang


+62812xxxxxxx


Derita koran cuma dibaca nggak pernah dibalas


+62812xxxxxxx


Hancur hati abang....hancuuuuurrr


Bulan menghembuskan nafas berat membiarkan pesan dari pengirim misterius itu dan kembali berkutat dengan tumpukan kertas di mejanya. Sebelum makan siang dia sudah harus menyelesaikan dan menyerahkan ke Pak Ronald, direktur yang terkenal kejam. Tidak selesai....tamatlah riwayatnya. Mungkin dia akan dilempar ke kolam lumpur. Iiissshh, gadis itu bergidik ngeri.


Tok tok tok


'Permisi, apa betul ini dengan mbak Bulan?' Lelaki paruh baya berseragam ojek online itu bertanya padaku, ku lihat dia menenteng sebuah bungkusan.


'I...iya pak betul. Tapi mohon maaf saya tidak memesan apapun'


'Saya hanya mengantar orderan dari customer mbak dan katanya untuk mbak Bulan. Mohon diterima ya mbak'


'Oooh baiklah pak tapi dari siapa'


Lelaki itu hanya tersenyum dan berbalik badan meninggalkan ruanganku.


Triiing


+62812xxxxxxx


Dimakan ya cantik


Cukup aku yang kau pandangi, makanan itu jangan


-Bulan-


Terimakasih


+62812xxxxxxx


Aku, pria tampan yang akan segera mengisi mimpi malammu


-Bulan-


Kau tidak berniat meracuniku kan?


+62812xxxxxxx


Hahahahaaaa


Hanya pelet


.


.


.


Daripada melayani orang misterius ini lebih baik aku mengantar dokumen ini ke ruangan Pak Ronald sebelum dia melemparkanku ke dalam kolam lumpur.


Setelah mengantarkan dokumen itu Bulan kembali ke kubikelnya. Membuka makanan kiriman dari orang misterius tadi. Dia tidak sempat makan di luar,pekerjaannya sangat padat. Dia baru ingat belum mengucapkan terimakasih kepada pemgirim makanan itu. Dia meraih benda pipih itu dan mengetikkan sebuah pesan.

__ADS_1


-Bulan-


Terimakasih makanannya enak


+62812xxxxxxx


Selamat makan


Pulang aku jemput


-Bulan-


Tidak usah


Terima kasih


+62812xxxxxxx


Aku jemput, TITIK


Bulan mendengus kesal. Dia tidak menyadari kehadiran bos besar yang sudah memperhatikannya berbalas pesan.


'Bagus....jadi kerjamu main hp sehingga hasil kerjamu nol besar'


Suara lelaki itu terdengar sangat mengerikan. Bulan mendongak meneliti orang yang menghardiknya itu. Betapa terkejutnya gadis itu ternyata yang datang merupakan seorang bos besar pimpinan perusahaan. 'Matilah aku ada apa lagi ini' gumamnya.


'Ke ruangan saya sekarang'


'B...baik pak'


Gadis itu setengah berlari menyusul langkah bosnya itu. Sebenarnya kalau diperhatiakan wajah bosnya itu sungguh tampan tapi sikapnya menyeramkan. Baru menatap saja tulang-tulang serasa berserak dari tubuh. Belum pernah terjadi seorang bawahan semacam Bulan dipanggil menghadap, kecuali untuk suatu hal yang sangat fatal.


'Siapa yang suruh melamun? '


'Duduk !!'


Suara bariton penuh penekanan itu kembali terdengar membuat bulu kuduk meremang. Bahkan tanpa sadar mereka sudah berada di dalam ruangan luas dengan fasilitas super mewah. Bulan mendudukan bokongnya di kursi berhadapan dengan lelaki yang menjadi bos besarnya itu. Jantungnya sudah tak bisa dikendalikan lagi. Mungkin setelah keluar dari ruangan ini dia harus segera konsultasi dengan dokter spesialis jantung.


'Coba kamu jelaskan ini!'


Bentaknya sambil menunjuk laporan yang baru beberapa jam lalu dia serahkan itu.


'Ma...maaf pak, saya mengerjakan sesuai data yang ada di berkas pak'


'Ada yang tidak beres dengan laporan keuangan beberapa bulan belakangan ini. Uang perusahaan bocor. Saya masih menyelidiki apakah murni kesalahan dari laporan kamu ataukah ada yang sengaja mencari keuntungan pribadi'


'Ti..tidak mungkin saya seberani itu pak. Lagi pula wewenang saya tidak sejauh itu pak'


'Saya tahu kamu tidak mungkin melakukannya, tapi kamu bisa bekerja untuk seseorang di belakang saya!'


'Kalau sampai itu terjadi saya tidak akan mengampuni kamu'


'Ingat, jangan ada yang tahu pembicaraan kita ini. Ya sudah kamu boleh keluar'


'Terima kasih pak'


Huuuffthhh


Bulan menerik nafas dalam-dalam dan menghembuskan dengan lega mentralisir debaran jantungnya.

__ADS_1


__ADS_2