Pelangi Di Ujung Senja

Pelangi Di Ujung Senja
14. Kamu Siapa?


__ADS_3

Hari kepindahan Tia dari rumah untuk mulai hidup mandiripun tiba. Hari ini adalah hari minggu tepat satu minggu Tia sudah bekerja dan hari ini pula Tia mulai pindah ke kosan Bude Haryo untuk memulai belajar hidup mandiri.


Tia berangkat dari rumah diantar oleh ayah, dia hanya membawa barang yang penting-penting saja, hanya membawa tikar, satu bantal, satu selimut, dan satu tas rangsel berisi pakaian.


"Tia, hati-hati tinggal disini ya nak, inget apa pesen ayah sama ibu, jangan tinggal sholat juga," ucap ayah lembut sambil sesekali mengusap kepala Tia yang ditutupi hijab instannya.


"Iya Yah, insya alloh Tia akan jaga diri baik-baik dan tidak akan pernah lupa pesan ayah sama ibu, Ayah hati-hati pulangnya," cicit Tia dengan suara pelan menahan sedikit sesak didadanya karena mulai hari ini dia akan tinggal terpisah dari orang tuanya untuk pertama kali.


Ayah mengangguk dan berlalu pergi meninggalkan Tia, Tia mengantarkan kepergian ayah dan menatap punggung ayahnya yang perlahan menghilang pergi sambil mengendarai sepedah motornya, setelah sosok ayahnya sudah tidak tampak lagi Tia kembali ke kamar kos nya yang berada di lantai dua bangunan itu.


Dan disinilah Tia sekarang berada di sebuah ruangan yang luasnya hanya empat kali enam meter, Tia mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru ruangan dan menghela napas panjang.


"Bismillah semoga betah," gumam nya pelan sambil merebahkan badannya diatas tikar dan menumpukan kepalanya diatas satu bantal.


Tanpa menunggu lama karena lelah setelah melakukan perjalanan jauh dari rumah, tidak butuh waktu lama Tia pun terlelap nyenyak menyapa mimpi-mimpinya.


***********


Dikediaman keluarga Nugraha...


Tampak seorang pria paruh baya sedang duduk bersantai di sebuah sofa diruang keluarga sambil membaca koran dan sesekali meminum kopi yang disimpan diatas meja dihadapannya.


Tak.. tak... tak..


Terdengar suara benturan alas kaki yang menyentuh lantai ruangan menandakan ada seseorang yang datang,


"Minum kopi di pagi hari bisa buat asam lambung papa naik," tutur seorang wanita paruh baya lembut sambil duduk disamping pria paruh baya itu.


"Cuma sesekali nggak akan bikin sakit parah," ucap pria paruh baya itu datar


"Papah kalau diingatkan selalu saja membantah, ini kan untuk kesehatan papah sendiri," ucap wanita paruh baya itu sambil mengambil gelas kopi dan membawanya ke dapur.

__ADS_1


Saat menuju dapur wanita paruh baya itu berpapasan dengan seorang pria berusia 20 tahunan yang tidak lain adalah Ilham anaknya.


"Kenapa sih mah pagi-pagi cemberut bae nanti cantiknya hilang lohh," ucap Ilham menggoda ibunya sambil tersenyum jenaka


"Ck, papah kamu tuh susah banget dibilangin kalau nggak boleh minum kopi pagi-pagi nanti asam lambungnya naik lagi, kalau udah sakit mamah juga yang repot," omel Karla wanita paruh baya yang merupakan istri dari pak Nugraha


"Wow.. woww.. tenang Mam, nanti keriputnya nambah banyak," sahut Ilham menanggapi omelan mamanya.


"Hah??? masa sih Ham? aishh... gara-gara papah nih perawatan mama sia-sia kalau gini..haish.." Karla mendengus kesal memegangi kedua pipinya dan berlalu meninggalkan dapur setelah meletakkan gelas kopi suaminya di tempat piring kotor.


Ilham yang melihat kekesalan sang mama hanya terkekeh sambil menggelengkan pelan kepalanya, sementara yang menjadi sumber omelan Karla masih tak bergeming masih duduk santai di sofa tanpa menoleh.


"Ngapain Pah?" tanya Ilham sambil duduk disamping Pak Nugraha


"Kamu nggak bisa lihat apa?" jawab Pak Nugraha datar tanpa mengalihkan pandangannya dari koran yang sedang dia pegang.


"Ceh, Papah ini masih saja nggak asik kalau diajak ngobrol," Ilham mendengus kesal atas jawaban Pak Nugraha


"Kapan kamu pulang?"


"Tumben pulang kamu? masih inget punya rumah?" ucap Pak Nugraha sambil melipat koran dan mengalihkan tatapannya menghadap sang putra


"Hehe.. maaf Pah, akhir-akhir ini Ilham sibuk di restoran jadi memutuskan nge-kos didekat reatoran biar nggak jauh kalau pulang larut malam dari restoran," tutur Ilham sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal


"Ilham..." panggil Pak Nugraha dengan tatapan tajam


"Ya Pah" cicit Ilham mulai gugup ditatap seperti itu oleh papahnya


"Berhentilah main-main, selesaikan kuliahmu dan lanjutkan S2 mu lalu mulailah urus perusahaan, papah sudah mulai lelah, mungkin sebentar lagi papah meninggal,"


"Pah.. ngomongnya dijaga Pah, kata-kata itu adalah doa, papah bakal sehat terus dan umur panjang sampai Ilham kasih cucu yang banyak buat Papah," tutur Ilham sambil menatap papahnya dengan tatapan sendu

__ADS_1


"Kalau begitu, belajarlah bertanggung jawab Ilham, papah sudah mulai lelah mengurus perusahaan, bantu papah Nak," tutur Pak Nugraha lembut sambil beranjak dari duduknya dan menepuk pelan pundak sang anak.


"Baik Pah" cicit Ilham meski tampak tidak rela menyetujui permintaan papahnya tadi.


Ilham menyandarkan kepalanya pada sofa yang didudukinya, sesekali menghela napas berat memikirkan bagaimana caranya mengelak dari tanggung jawab yang selalu papahnya minta.


Harus dengan cara bagaimana lagi ini, haishh... nampaknya aku sudah kehabisan akal dan mulai terjebak. batin Ilham sambil memijit pangkal hidungnya dan menghela napas berat


******


Dikosan Tia....


"Hhmmmm....." Tia meregangkan otot-ototnya setelah beberapa saat dia terbangun dari tidurnya.


"Hoammm... masih ngantuk tapi...lapar," gumam Tia sambil memegangi perutnya


"Kruyuk..." Suara perut Tia yang kelaparan menggema diruangan itu, Tia terkekeh sambil bergegas bangkit dan keluar dari kamarnya.


Saat sudah diambang pintu kamar kosnya Tia dikejutkan oleh pertanyaan dari seseorang.


"Kamu siapa?" tanya seseorang yang sedang berada tepat di depan pintu kamar kos samping kamar kos Tia.


Tia hanya diam tidak menjawab karena merasa terkesima dengan sosok yang berada didepannya. Seseorang itu tampak mempesona dengan paras cantik yang memiliki mata bulat, hidung mancung, kulit putih bersih, dagu lancip, rambut coklat gelap yang bergelombang dan tubuh ideal (langsing dan tinggi).


Cantik sekali. batin Tia


"Hey...?" sahut gadis itu sambil menggerakkan telapak tangannya didepan wajah Tia. Tia berjengit kaget dari lamunannya dan kembali menatap gadis didepannya dengan tatapan kagum


"Kamu siapa?" ulangnya lagi


"Tia" akhirnya menjawab sambil mengulurkan tangannya

__ADS_1


"Ohh.. Atin" jawab gadis itu acuh sambil berlalu masuk kedalam kamarnya tanpa menyambut uluran tangan Tia.


isshhhh... cantik sih tapi kok jutek ya. batin Tia sambil menggelengkan kepalanya pelan dan berlalu pergi untuk membeli makanan demi menenangkan cacing-cacing dalam perutnya yang sejak dari tadi tidak berhenti berdemo meminta jatahnya.


__ADS_2