Pelangi Di Ujung Senja

Pelangi Di Ujung Senja
24. Manager Baru


__ADS_3

Tia gugup dan meringsek mundur supaya wajahnya tidak terlalu dekat dengan wajah Ilham yang terus mendekat, berada sedekat itu dengan Ilham mampu membuat detak jantung Tia melaju kencang, wajahnya merona dan seketika itu Tia menahan nafasnya dan..


Klik..


Suara sabuk pengaman yang terpasang membuyarkan lamunan Tia, Ilham kembali menegakkan punggungnya dan menghadap kedepan lalu mulai melajukan mobilnya.


Tuhan... aku kira A Ilham mau ngapain.


Tia menggelengkan kepalanya pelan dan memegang dadanya berusaha menstabilkan degub jantung yang sangat kencang seperti habis berlari maraton berkilo-kilometer.


"Kamu kenapa Ya?" tanya Ilham


"Nggak papa kok A," ucap Tia sedatar mungkin


"Makasih yah udah mau jalan-jalan sama aku,"


"Hah?" ucap Tia heran


Kok makasihnya ke aku?


"Aku nggak punya teman banyak Tia, jadi kadang mainnya sama Anna terus bosen jadinya, nanti mau yah aku ajak main lagi?" seloroh Ilham terkekeh tanpa mengalihkan fokusnya untuk terus menyetir.


H**ah? mau ngajak lagi main? ishh... emang aku cewek apapun.. nggak deh takut baper akunya.


"Mau kan Ya?" tanya Ilham lagi


"Hum..i-iya" ucap Tia terhenyak kaget dan akhirnya mengiyakan


Y**ah mulut mulut mulut kenapa bilang iya sih, kan kesannya mau ditraktir mulu, ishhh suka nggak singkron gini otak sama mulut dasar!!.. rutuk Tia dalam hati


"Makasih..," ucap Ilham lembut


Semangat Ham!


Hening beberapa saat diantara keduanya, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing yang satu merasa sungkan dan canggung sedangkan yang satu merasa bahagia dan berbunga.


Beberapa menit berlalu...


"Nah udah sampe," ucap Ilham setelah menghentikkan mobilnya didepan gerbang kosan Tia.

__ADS_1


"Ya udah Tia masuk ya A, makasih udah traktir Tia makan, nonton dan ngajak jalan-jalan hehe," ucap Tia tulus sambil cengengesan.


"Sama-sama Tia," jawab Ilham tulus sambil tersenyum. Tia terpaku dan sedikit terpesona dengan senyuman Ilham.


ya ampun Tia kenapa selalu baper kalau dibaikin orang. batin Tia merutuki diri sendiri.


Saat Tia akan keluar dari mobil, Ilham mencegahnya dengan memegang tangan Tia, seketika itu Tia menoleh dan pandangan mereka beradu, degub jantung Ilham sudah tidak karuan menatap lekat netra hitam milik Tia, begitu pun degub jantung Tia yang sama tidak beraturannya, degub jantung mereka saling bersahutan membentuk sebuah irama yang beriringan.


Tia memalingkan pandangannya untuk memutus kontak mata dengan Ilham yang membuat jantungnya merasa tidak sehat.


Duh mau apalagi sih pake dicegat segala tangan aku, jadinya nggak sehat kan buat jantung aku


"Maaf..mm.. Tia boleh minta nomor ponsel kamu?biar gampang untuk komunikasi?" tanya Ilham gugup lalu melepaskan tangan Tia yang tadi dia cekal.


C**uma minta nomor ponsel toh,, duh berenti dong jantung jangan loncat dulu dan kamu juga hati jaga diri buat nggak baper!!. batin Tia mengerang frustasi.


"Boleh kok A.. ini no Tia" ucap Tia dan langsung melafalkan nomor ponselnya.


Tia bergegas keluar dari mobil Ilham dan segera masuk kedalam kosannya, berada dekat dengan Ilham sungguh tidak baik untuk kesehatan jantungnya.


Ilham melajukan mobilnya meninggalkan kosan Tia dengan hati yang bahagia dan berbunga.


Hari senin selalu Tia sambut dengan penuh semangat dan senyuman berharap sang hari baru terlalui dengan baik. Seperti senin pagi ini Tia berangkat kerja dengan hati yang bahagia penuh syukur dan semoga pekerjaannya lancar jaya sampai jam pulang nanti.


"Pagi Mbak Erna," sapa Tia saat melihat Erna masuk ke lobi pabrik ketika Tia sedang mengepel lantai.


"apagi juga Tia, duh seneng deh selalu dapat senyuman manis setiap pagi dari kamu," jawab Erna sambil tersenyum ternyata senyuman tulus Tia selalu menular kesetiap orang.


"Bahagia banget kayaknya mbak hari ini?" tanya Tia lagi sambil terus fokus dengan pekerjaannya.


"Iya, katanya bakal ada manager produksi baru yang masih muda dan katanya cakep," tutur Erna antusias bercerita dengan mata berbinar.


"Wahh... masa Mbak? bakal jadi rebutan dong sama yang masih single.. hehe," ucap Tia terkekeh membayangkan banyak pekerja perempuan yang masih sendiri di pabrik ini yang bakal cari perhatian sama manager baru yang katanya masih baru dan tampan.


"Iya Tia bener banget, makanya hari ini aku tampil semaksimal mungkin, siapa tau aja dia terkesan saat pandangan pertama," tutur Bunga yang tiba-tiba nyambung dengan obrolan Erna dan Tia.


"Diihhh... nyamber aja kayak kain pel-an!" cibir Erna saat melihat Bunga yang baru sampai tapi sudah menyahuti obrolannya dan Tia.


"Nggak nyambung banget,, sama kain pel-an!!" dengus Bunga tidak terima.

__ADS_1


Tia hanya terkekeh dan menggelengkan kepalanya pelan melihat perdebatan dua rekan kerja nya itu, beruntung memang Tia mendapat rekan kerja seperti Erna dan Bunga yang selalu bisa menghargainya dan menerimanya dengan baik tanpa melihat status Tia yang hanya sebagai cleaning service,


Saat jam masuk kantor untuk para staf pun tiba, semua staf tampak begitu antuaias menyambut sang manager produksi yang baru yang menggantikan manager sebelumnya yang sudah pensiun.


Tia hanya diam di pantry tidak ikut antusias, baginya yang penting pekerjaannya selesai dengan baik itu sudah cukup.


Tak lama berselang sang manager baru pun tiba, seorang pemuda muda berusia 20-an dengan perawakan tinggi dan tampan dengan sepasang halis tebal hitam yang menambah sempurna wajahnya untuk dipandang. Tia melihat kedatangan manager baru itu dari ambang pintu pantry.


A Ilham!


Semua staf terlihat menyambutnya dengan hangat dan senyuman yang ramah, manager baru itupun tidak kalah ramahnya menerima penyambutan yang baik dari semua staf.


"Perkenalkan nama saya Abrisyam Ilham Nugraha saya manager produksi yang baru yang menggantikkan bapak Dito yang sudah pensiun, mohon kerja sama dari semuanya," ucap Ilham memperkenalkan diri di briefing pagi didepan semua staf pabrik.


*J*adi manager barunya A Ilham, batin Tia


saat jam kerjanya habis, Tia sudah bersiap-siap untuk pulang tapi tiba-tiba mbak Erna datang menghampirinya.


"Tia, jangan pulang dulu!" ucap Erna mencegah Tia yang sudah bersiap untuk pulang.


"Kenapa emang Mbak?" tanya Tia heran karena memang sudah waktunya dia pulang, Tia memang pulang 2 jam lebih awal dibanding staf yang lain karena dia juga masuk 2 jam lebih awal.


"Ada acara penyambutan manager baru diruang meeting, jadi kamu sekalian bantuin ya buat ngejamu para staf sekalian nanti beresin ruang meeting kalau acaranya udah selesai!" tutur Erna panjang lebar.


"Ohh gitu mbak, oke deh," ucap Tia sambil menyimpan kembali tasnya kedalam loker dengan memasang wajah yang kecewa.


"Tenang,, dianggap lembur kok, jadi semangat Tia!" ucap Erna menyemangati karena melihat perubahan ekspresi diwajah Tia.


Acara penyambutan manager baru pun berlangsung dengan meriah dan berlangsung sampai 1 jam lebih.


Saat staf yang lain sudah mulai pulang setelah acara penyambutan selesai Tia berjalan gontai ke dalam ruang meeting sambil membawa sebuah sapu ditangannya.


"Hufftt... semanga Tia, masuk lebih pagi dan pulang lebih sore.. nasib!" gumam Tia menyemangati diri sendiri sekaligus memgasihani diri sendiri, entah karena lelah atau memang sedang dalam kondisi melankolis tiba-tiba kesedihan menyesakkan dadanya, air matanya sudah menggenang dipelupuk mata, Tia berusaha mendongakkan kepalanya keatas agar air matanya tidak jatuh takut ada orang yang melihat titik lemahnya kalau dia menangis disini.


"Tenang Tia sabar! ikhlas!" gumamnya lirih menyemangati diri sendiri sambil sesekali mengelus dadanya yang terasa sesak, setelah menyelesaikan tugasnya untuk membereskan ruang meeting Tia bergegas pulang mengingat hari sudah mulai senja dan langit sudah mulai gelap. Saat melintasi lobby pabrik bulu kuduk Tia tiba-tiba berdiri dan..


Kyaaaaa!!!!


Tia berteriak terlonjak kaget karena ada yang menepuk pundaknya dari arah belakang.

__ADS_1


__ADS_2