
"Umur kamu berapa Tia?" tanya Dimas di sela-sela obrolannya tentang kampus dan fakultas jurusan yang mau Tia ambil saat berkeliling di salah satu gedung universitas.
"Tahun ini 20 tahun," jawab Tia dengan senyum yang mengembang.
"Wahh.. masih muda ya, kalau Mas udah tua," ujap Dimas sambil terkekeh.
"Masa sih? Mas Dimas masih kelihatan muda kok atau emang mukanya yang awet muda?" tanya Tia polos.
Dimas meledakkan tawanya gemas dengan kepolosan Tia, sungguh dia menyukai kebersamaannya bersama gadis belia ini.
"Ih, malah ketawa," Tia mencebik sebal.
"Hehe maaf, umur Mas 25 tahun ini," jawab Dimas masih dengan sisa tawa nya.
"Oh.. ah masih muda atuh kalau gitu," ucap Tia enteng.
Sama kayak a Ilham, batin Tia.
Tia menggeleng pelan, dia harus berhenti memikirkan suaminya-ah ralat mantan suami.
"Gimana Tia?" tanya Dimas menyadari Tia malah melamun.
"Hm?" hanya gumaman yang Tia berikan sebagai jawaban.
"Jadi kamu mau ambil jurusan apa?"
"Ah, itu nanti dipikirin dulu ya Mas, ayo kita pulang saja takut terlalu sore."
Dimas mengangguk pelan sebagai persetujuan lalu mengekori langkah Tia yang sudah memimpin langkah.
************
Sementara itu di provinsi yang berbeda..
"Brak..!!! apa kamu tidak bisa kerja? bikin analisa gitu aja salah!" bentak Ilham pada salah satu karyawan di pabrik NGFood.
"Ma-maaf Pak Ilham, ta-tapi saya sudah cek berulang kali kalau analisanya memang seperti itu," jawab karyawan itu terbata sambil menunduk takut.
"Jadi kamu bilang saya yang salah?" bentak Ilham lagi.
Tubuh karyawan wanita muda itu sudah bergetar karena menangis.
__ADS_1
"Hitung ulang!" hardik Ilham dengan mata membulat sempurna.
Karyawan itu hanya mengangguk patuh lalu keluar dari ruangan Ilham.
"Aarrrghh...!" teriak Ilham frustasi.
Semenjak dipisahkan dengan Tia karena kebodohannya, Ilham menjadi lebih mudah marah. Ilham yang baik hati dan ramah kini sudah tidak ada lagi.
Ilham merasa hidupnya hampa dan penuh dengan tekanan. Masalah rumah tangganya belum selesai ditambah dengan beban pekerjaan yang bertambah, karena sang papah minta untuk pensiun dini yang otomatis semua pekerjaan dan kepemimpinan pabrik terlimpah padanya.
Restoran yang dulu dia rintis pun terbengkalai tidak terurus, beruntung ada Parto yang dipercaya untuk menjadi manajer di restoran, sehingga restoran masih bisa berjalan meski tidak seramai dulu.
Ilham memijit pangkal hidungnya, beberapa hari ini dia merasa sangat tertekan. Terlebih sang papah masih tidak mau memberikan alamat Tia yang di jawa tengah.
Sore hari setelah menyelesaikan jam kerjanya, Ilham pulang ke rumah yang dia beli untuk dia tinggali bersama Tia.
Setelah memastikan mobilnya terparkir sempurna di carpot rumah. Ilham melangkah masuk ke dalam rumah yang tampak sepi dan kosong.
Sudah dua minggu rumah ini tidak ditinggali, semenjak kepergian Tia, Ilham harus di rawat di rumah sakit selama seminggu dan seminggu berikutnya dia tinggal di rumah orang tuanya.
Baru hari ini dia memutuskan untuk kembali pulang ke rumahnya ini.
Ilham menghela nafas dalam saat memasuki ruang tamu dan duduk di sofa yang ada di sana. Ilham ingat Tia selalu menunggunya pulang di sofa ini, Tia selalu menyambut kepulangannya dengan senyum hangat di sofa ini.
"Aku tadi belajar masak sama chef di restoran, nih cobain! tapi kayaknya udah dingin soalnya nungguin Aa pulang lama," celoteh Tia sambil beranjak dan membuka tudung saji di meja makan memperlihatkan menu makanan yang dia masak untuk Ilham.
"Maaf tadi Anna minta dianterin dulu jadi Aa pulangnya telat," jawab Ilham sambil meletakkan tas kerjanya di atas meja makan.
"Oh," jawab Tia singkat*.
Bayangan beberapa bulan yang lalu terbayang jelas di pelupuk mata Ilham, rasa bersalah itu hadir kembali mencuat ke permukaan. Dadanya kembali merasa sesak tatkala mengingat betapa sabar Tia selalu menunggunya setiap pulang kerja tanpa keluhan, meski Ilham sering pulang larut karena mementingkan Anna.
Bulir bening yang menumpuk di pelupuk matanya kini sudah menganak sungai membasahi pipi tirusnya. Penyesalan karena telah menyia-nyiakan kehadiran istrinya sesalu saja membuat dia merasa jadi pria yang tidak berguna.
"Tuhan, saya mohon beri satu kesempatan lagi untuk menjaganya disisiku," gumam Ilham lirih sambil memandangi foto pernikahannya yang ada di salah satu dinding ruang tamu.
Ilham hanyut dalam kesedihan, air mata tidak pernah berhenti membasahi pipinya. Nafasnya terengah dan sesekali sesegukan karena tangis yang pecah.
"Tia kembali Sayang, maafin Aa Sayang," gumam Ilham di sela-sela isakannya.
Ilham meremas baju yang menyelimuti dadanya, berusaha untuk menghilangkan sesak yang semakin menghimpit dadanya. Sulit, nyatanya sesak itu masih terasa.
__ADS_1
Tubuh Ilham luruh ke lantai. Dia tekuk kakinya lalu dia tenggelamkan kepalanya diantara lututnya.
"Jangan terus menyalahkan diri Bos," sahut Parto yang sudah berada di ambang pintu. Ilham mendongakkan kepalanya melihat ke arah pintu masuk rumah yang tadi dia biarkan terbuka.
Mata Ilham merah, pipinya sudah basah karena air mata.
Parto melangkah mendekat lalu duduk persis di samping Ilham, lalu dia menepuk pelan pundak atasannya itu.
"Bos nggak boleh lemah, Bos harus kuat kalau mau memperjuangkan pernikahan Bos dengan Tia," ucap Parto menyemangati. Ilham hanya menggeleng pelan, kini air matanya sudah mengering.
"Sulit To, semua terasa begitu mendadak sampai aku ngerasa ini hanya mimpi buruk," ucap Ilham dengan suara parau.
"Lebih baik ini terjadi lebih cepat, dari pada lebih lama Bos tidak akan sadar dengan kesalahan yang Bos perbuat, dengan begitu Tia akan lebih lama menderita," jelas Parto.
"Tapi, apa harus sampai meninggalkan rumah? kenapa dia tidak bicarakan ini dulu denganku?" ucap Ilham tidak terima.
Parto menghela nafas dalam.
"Bos, saya sudah sering mengingatkan Bos masalah kedekatan Bos sama non Anna tidak wajar dan akan menyakiti Tia sebagai istri Bos, tapi apa? waktu itu Bos selalu menganggap nasehat saya sebagai angin lalu. Mungkin Tia juga sudah berusaha menjelaskan hanya Bosnya saja yang tidak mengerti," jelas Parto lagi.
"Kalau tujuanmu kemari hanya untuk memperburuk suasana hatiku lebih baik kamu pergi To!" usir Ilham ketus.
Parto mencebik sebal, atasanya ini sangat susah kalau diberi tahu, dasar keras kepala.
"Ini laporan keuangan restoran bulan lalu, sama ini makan malam untuk Bos," Parto menyerahkan map berwarna hijau dan bungkusan makanan ke hadapan Ilham.
"Ya sudah saya pamit, jangan lupa dimakan Bos, menghadapi kenyataan juga butuh tenaga," ucap Parto dengan sedikit ledekan.
Tatapan tajam Ilham layangkan pada karyawannya itu.
Parto bangkit berdiri lalu keluar rumah dan pergi meninggalkan rumah Ilham dengan sepeda motornya.
Ilham memejamkan matanya lalu menghela nafas dalam.
"Parto benar, setidaknya aku harus sehat dan kuat agar bisa memjemput Tia kembali," gumam Ilham pelan dengan mata menerawang jauh.
************
hilaw saya update😎 jangan lupa tinggalkan like dan komen setelah membaca ya..
makasih...
__ADS_1
salam,
_AB_