Pelangi Di Ujung Senja

Pelangi Di Ujung Senja
Episode 9 Bos Arogan


__ADS_3

Perayaan ulang tahun emas perusahaan milik Ronald Group diadakan di sebuah hotel mewah. Ramai sekali. Bertaburan kerlap kerlip lampu warna  warni, segala jenis makanan dan minuman melimpah ruah. Pesta dihadiri


oleh karyawan PT Ronald Group sebagai tim penyelenggara juga perwakilan  rekanan perusahaan. Pak Ronald memang royal. Dalam hal apapun bos muda itu tidak pernah main-main. Selalu fantastis.


Jingga berdecak kagum, "orang kaya mah bebas". Bola matanya memutar memperhatikan detail dekorasi ruangan. Luar biasa. Sepuluh tahun gajinya tidak akan bisa  membuat acara seperti ini. Tiba-tiba ia merasa miris mengingat isi dompetnya. Sobat missqueen siiih hanya bisa numpang selfie kemudian pasang status di media sosial biar tampak keren, kekimian katanya.


Tamu undangan mulai berdatangan. Panitia acara mulai sibuk. Terutama bagian penerima tamu. Teman-teman Jingga yang kebagian tugas menerima tamu  merasa sangat beruntung. Bisa melihat bos besar dari jarak yang cukup dekat. Di sela-sela kesibukan mereka masih menyempatkan bergosip,


berbisik-bisik.


"Dandan ah yang cakep siapa tahu ada bos besar yang melirik," ucap Sisil.


"Jangan mimpi upik abu! sobat missqueen macam kita mana ada yang sudi melirik".


Luna menimpali ucapan sahabatnya. Cerita novel dimana bos besar menikahi wanita biasa hanya imajinasi penulis. Di kehidupan nyata, nyaris sekedar hayalan saja. Mereka cukup tahu diri.


"Eh Lun, lihat tuh keren banget. Masih muda pula. Sendiri dia beib pasti kaum jomblo kayak kita ini". Sisil semakin sumringah mendapati pemandangan yang tak biasa. Seorang lelaki berpenampilan bak eksekutif muda.  Tubuhnya tinggi besar, atletis meskipun dibalut jas formal namun masih bisa terlihat. Sangat tampan. Sisil berdecak kagum.


"Sil sadar woy upik abu! Nanti malu sendiri kamu tuh". Luna memperingati sahabatnya yang sedang oleng.


"Manis Lun...manis banget tapi dingin kayak es krim".


"Mimpi aja dulu Sil". Mereka berdua tertawa bersama. Menyenangkan. Sereceh itu kaum missqueen mah. Bahkan penampilan para tamu undangan saja sudah mampu membuat jiwa missqueen mereka meronta. Baju yang dikenakan saja harganya berkali-kali lipat dari gaji seorang Sisil, Luna maupun Jingga.

__ADS_1


Jingga mengedarkan pandangan menyapu setiap titik. Membidik momen yang pas untuk diabadikan. Tangan kanannya memegang kamera. Ketika kamera membidik arah pintu masuk tiba-tiba mendapati sesosok wanita


paruh baya yang paling senang memarahinya. Bu Sandra. Diantar oleh, Arlan. Jingga mengucek mata berkali-kali seolah tak percaya. Ada hubungan apa antara Arlan dan...Bu Sandra?. Belum sempat Jingga mengkonfirmasi Arlan sudah berlalu pergi meninggalkan hotel. Nampaknya ia terburu-buru. Ya sudahlah Jingga akan menanyainya nanti kapan-kapan.


 


 


Kemeriahan pesta semakin bertambah ketika Nada Rindu, band pendatang baru yang sedang naik daun mulai memainkan musik. Perpaduan nada dan irama dari berbagai alat musik mulai mengalun indah. Perhatian beralih. Riuh tepuk tangan memenuhi ruangan.


Para tamu undangan memadati ballroom hotel. Tampak lebih seperti sebuah acara reuni. Jingga membidik momen


ketika direktur PT Ronald Group sedang tersenyum ramah seraya mengangkat gelas wine, menyatukan dengan gelas milik salah seorang rekannya. Bersulang.


"Tooss...apa kabar kamu Afnan? dulu kamu mengekori ayahmu sekarang sudah menjadi orang hebat. Luar biasa." seru Ronald. Lelaki yang disebut Afnan tersenyum kikuk. Usia mereka selisih jauh.


"Iya tante, apa kabar? di mana Arlan?" Lelaki yang di sapa Afnan balik bertanya.


"Biasa lah anak muda selalu punya acara sendiri"


Satu pertanyaan di benak Jingga terjawab. Bu Sandra dan Arlan adalah keluarga. Mungkin ibu dan anak tetapi entahlah ia belum bisa memastikan. Riuh hadirin disertai tepuk tangan menggema ketika vokalis band Nada


Rindu menyanyikan lagu 'happy birthday to you'. Pak Ronald bersiap memotong tumpeng. Tangan kanannya sudah memegang pisau pemberian tim panitia.

__ADS_1


Jingga membidik kamera. Menggeser tubuhnya ke kanan dan ke kiri mencari titik yang pas. Tanpa disadari siku tangannya menyenggol seseorang, dan..."praaaang"


"Mati lah aku," batin gadis itu. Hal buruk apa yang selanjutnya akan terjadi. Minimal dapat makian. Huuufftth


"Ma...af" ucap Jingga, menundukkan wajah.


Tepat sepertti dugaannya. Lelaki itu sudah memasang wajah garang. Mengerikan. Aura membunuh sangat kentara. Jingga melangkah menyambar tissue. Ia berniat hemdak membersihkan tumoahan wine di kemeja lelaki mengerikan itu. Menggosok-gosokkan beberapa lembar tissue ke permukaan baju mahal


pria itu. Nahas. Hawa dingin menguar. Lelaki itu menepis tangan Jingga, kasar. Hati Jingga meradang. Kebanyakan orang banyak duit memang arogan.Terlebih kepada kaum seperti dirinya. Tuhan, segera kirimkan siapapun


menyelamatkanku.


"B*******!"


Pria arogan itu memaki. Dia sedang dalam mode ingin membunuh. Singkat namun membunuh. Kata kasar bagi seorang perempuan terasa lebih menusuk dibanding duri tajam. Jingga berjanji akan selalu mengingat lelaki arogan itu. Beruntung pria itu bergegas pergi. Kesal, mungkin dendam.


Dobel beruntung kejadian nahas tersebut tidak mengganggu jalannya acara. Tumpeng sudah dipotong.  Semua berteouk tangan. Wajah sumringah Ronald terukir jelas. Hampir saja Jingga melewatkan momen penting itu. Acara potong tumoeng yang merupakan inti acara nyaris terlewatkan. Hari itu Jingga nyaris mati berkali-kali. Jika bukan buatan Tuhan jantungnya mungkin sudah terlempar keluar dari tubuh mungilnya.


Berbanding terbalik dengan keadaannya. Gelak tawa tamu undangan seolah menggarami luka hati Jingga.


Mereka tertawa bersama. Nyaris tidak terlihat mana senyum tulus dan mana senyum penuh kepalsuan. Hanya mereka sendiri yang tahu. Bagi kami, kaum rendahan mana mengerti perihal itu. Mengalir menikmati acara demi


acara sudah cukup bagi kami. Tidak perlu tahu banyak hal.

__ADS_1


Potongan tumpeng itu diberikan kepada,,,ya Tuhan kenapa harus orang itu?. Lelaki arogan itu ternyata keponakan pak Ronald. Perusahaan yang dipimpin lelaki itu bergerak di bidang ritel yang berpusat di kota pelajar, Yogyakarta. Perusahaan ritel paling sukses memasarkan produk milik PT Ronald Group. Kutaksir usiamya sekitar tiga puluhan tahun. Lelaki arogan itu nyatanya bisa tersenyum. Manis. Oh bukan, bahkan sangat menawan.  Jika belum berkesempatan menyaksikan sikap arogannya mungkin saat ini Jingga sedang terkesima, bahkan termehek-mehek. Gadis itu saksi kunci betapa wajah tampan lelaki itu menyimpan sesuatu yang mengerikan.


Lelaki sekelas direktur tentu digilai banyak wanita. Bahkan sekelas artis pun rela menempel seperti lintah. Tengok saja bos arogan itu. Belum lama turun stage setelah menerima potongan tumpeng sudah disambut perempuan-perempuan sexy. Saling berebut perhatian. Bahkan ada yang tanpa malu menempelkan tubuhnya berhimpitan dengan lelaki itu. Senyum menawan kini berganti masam. Wajahnya kembali diteluk. Dia merasa tidak nyaman digelendoti wanita itu. Aneh, seorang lelaki nampak kesal karena digelendoti wanita cantik?. Normalnya kan mereka senang, sukarela malah.Jingga terhibur melihat pemandangan itu.


__ADS_2