
+62812xxxxxxx
Hamba menunggu di parkiran kantor tuan putri
Gadis itu menoleh ke arah benda pipih yang dia letakkan di atas meja kerjanya. Pria misterius itu sungguh-sungguh rupanya.
Hari sudah mulai gelap, kantor mulai sepi. Satu persatu karyawan telah meninggalkan kamtor. Tetapi tidak untuk Bulan. Gadis itu mempunya tumpukan pekerjaan yang tidak akan selesai meskipun dia lembur. Dia menyerah dan memutuskan merapikan berkas-berkas itu untuk dilanjutkan keesokan hari. Lebih baik pulang seharian ini Bulan sudah sangat penat. Otak dan tubuhnya tidak dapat diajak bekerjasama lagi.
Gadis itu melangkah menuju parkiran sesuai petunjuk pria misterius tadi. Gadis itu bersungut-sungut merutuki kebodohannya sendiri. 'Kenapa tidak bertanya plat nomor kendaraan dan di sebelah mana dia parkir'. Cerita panjang hari ini membuat otaknya menguap.
'Hey nona cantik, aku di sini' seseorang melambaikan tangan dari balik jendela kemudi.
'Kak Arlan....bagaimana bisa kak Arlan berada di sini?'
'Kenapa cantik? Kamu bingung? Kanjeng ratumu yang memberitahuku' Arlan menjelaskan sambil menaikturunkan sebelah alisnya.
'Ayo naik'
Bulan menghampiri mobil Arlan dan bergabung bersama Arlan. Gadis itu masih belum bisa mencerna setiap kejadian yang menimpa dirinya. Dari mulai kenal dengan makhluk antik seperti Arlan, mendengar percakapan rahasia, sampai dipanggil ke ruangan direktur. Ajaib
'Kak, memangnya rumah kakak di mana?'
'Ciiieee yang pengen buru-buru kenalan sama calon mertua....kalau neng mau besok abang culik abang bawa ke KUA ya neng'
'Ngapain ke KUA ?'
'Ya halalin neng lah masa beli gulali...etapi ada tukang gulali tuh neng di pasar malem. Nanti kita mampir deh biar neng tambah manis'
Entah ini manusia terbuat dari apa anehnya tiada tara. Baru kali ini Bulan bertemu dengan manusia ajaib super gombal. Aaah pasti dia sudah terbiasa menggombali wanita. Laki-laki menyebalkan.
Tanpa terasa mobil Arlan sudah menepi dan terparkir cantik. Dia sungguh-sungguh dengan ucapan nya, mampir ke pasar malam. Bulan mengernyitkan dahi. Dia tidak bisa menebak apa yang akan dilakukan lelaki itu, selanjutnya. Selalu banyak misteri jika berhadapan dengan lelaki yang satu itu.
Bulan tersadar ketika tiba-tiba Arlan datang dan sudah duduk kembali di kursi kemudi. Dia membawa gulali.....gulali !!!!!!
Susah payah dia memarkirkan mobil dan hanya sekedar membeli gulali? Kesel ga sih readers?
Lelaki itu selalu mampu membuat Bulan kesal dan senang secara bersamaan. Sikap dan kata-katanya yang aneh. Kalau dipikir-pikir sudah tidak cocok dengan usianya yg sudah 30, mungkin lebih sedikit.
'Kak...kakak seriusan beli gulali?'
'Iya, kan tadi aku udah bilang'
'Hanya gulali'
__ADS_1
'Iya nona manis...nih dimakan jangan diliatin terus nanti aku geer'
'Iiisssh maksudku, kenapa kakak susah payah parkir mobil dibtempat sempit dan seramai ini hanya untuk membeli gulali?'
'Karena gulali ini bermotif pelangi, kesukaan kamu'
Deg
Bulan terkesiap mendengar ucapan lelaki di sampingnya itu. Rasanya baru kemarin mereka berkenalan. Seharusnya Arlan belum banyak tahu tentang dirinya. Pun baru bertemu dua kali, belum banyak terlibat pembicaraan.
Aaah sudahlah mungkin dia hanya bercanda. Dan kebetulan cocok. Sekuat tenaga Bulan mengenyahkan hal itu dari pikiran nya, membuang jauh, menolak geer. Dia berusaha sekuat tenaga agar tidak luluh pada lelaki gimbal ini. Tidak baik untuk hatinya.
Sepanjang perjalanan Bulan terdiam, tubuhnya lelah, otaknya lelah mencerna keadaan. Dia sedang tidak ingin menanggapi ocehan Arlan yang seperti knalpot racing. Berisik.
Gadis itu hanya memandang keluar melalui kaca di sebelahnya. Memikirkan setiap kepingan-kepingan hidup yang telah di laluinya. Termasuk tentang Arlan, kenapa lelaki itu bisa sangat paham dengan jalan-jalan di sekitar rumahnya. Bahkan seperti sudah terbiasa .
'Neng, udah sampai, bengong mulu dari tadi, emang abang ada salah apa neng?
'Eeeh iya kak, maaf'
'Senyum sih, apa pengen di bawa ke rumah abang? Sedih ya neng pisah sama abang?'
'Iiishhh kakak apaan siiih....lagian ngapain juga aku ikut ke rumah abang'
'Ya gak papa lah neng dibungkus buat hiburan'
'Aku suka anak kucing kayak kamu, lucu imut gemesin. Bikin pengen ngerawat'
'Udah bang aku turun aja deh, kelamaan ngobrol sama abang makananku jadi energi semua'
'Bye cantik, kalau kamgen kita bisa ketemu kok di mimpi'
Bulan turun dari mobil, setengah berlari dia memasuki rumahnya. Dia malu menunjukkan pipinya yang merona. Sejujurnya dia geer tapi gengsi mengakui. Biar bagaimanapun hati wanita mudah luluh dengan rayuan.
'Sudah pulang, nak? Diantar siapa kok ga mampir?'
Suara ayah mengagetkanku. Tidak biasanya ayah pulang sepagi ini. Meskipun hari sudah gelap namun aku masih bisa menyebutnya pagi, pagi ala ayahku. Beliau biasanya pulang larut malam. Kasihan sekali ayahku ini harus berjuang demi kami, anak-anaknya yang masih butuh banyak biaya.
'Iya ayah tadi Bulan lembur, tadi itu bukan siapa-siapa yah cuma teman'
'Teman? Yang waktu itu mengantar kamu pulang dari rumah sakit, nak?'
Pria paruh baya itu selalu penuh selidik, terkadang pertanyaannya mengintimidasi meskipun seringkali tampak lebih seperti polisi yang sedang menghadapi mangsanya. Padahal aku bukan penjahat, aku anak kesayangannya. Mungkin semua ayah di dunia seperti ayahku, terlalu khawatir kepada anak-anaknya. Takut anak-anaknya terjerumus kepada hal-hal negatif.
__ADS_1
'Kamu mandilah dulu setelah itu duduk di sini dekat ayah, ada yang ingin ayah bicarakan denganmu'
'Iya ayah'
Bulan bergegas menuju kamarnya, mandi dan bersiap menemui ayahnya. Banyak sekali pertanyaan di benaknya, berputar-putar seperti roda bianglala. Menebakpun tak mendapatkan jawaban. Semakin lama menebak semakin pusing kepalanya. Lebih baik dimarahi sekalian daripada harus menebak isi hati seseorang. Sungguh bukan keahliannya.
Tampak ayah duduk di sofa di samping kanjeng ratu yang sedang memijit punggung ayah. Adegan romantis yang setiap hari menjadi suguhan di rumah ini. Ya keluarga kami memang bukan keluarga kaya namun soal kasih sayang aku rasa tidak ada yang bisa mengalahkan. Ayah, sosok yang tegas itu sekaligus sosok yang romantis jika sedang berhadapan dengan kanjeng ratu. Pun bagi anak-anaknya beliau selalu menjadi tokoh favorit. Seperti tokoh utama di novel-novel kesayangan pembaca. Sekilas Bulan menyunggingkan senyum.
'Duduk sini nak' ayah menepuk tempat kosong di sebelahnya. Dan aku menuruti perintah pria paruh baya itu.
'Apa kamu sudah makan?'
'Sudah ayah'
'Ayah ingin kamu memikirkan masa depanmu'
'Maksud ayah?'
'Usiamu sudah cukup untuk menikah'
Pernyataan ayah membuatku terkesiap. Sungguh aku tidak siap dengan kalimat itu. Bahkan dengan satu kata 'menikah' pun rasanya aku tidak pernah siap. Aku tidak pernah pacaran, punya pacar atau gebetan pun aku tidak pernah punya.
'Bukan maksud ayah mendesakmu segera menikah, jangan salah paham. Menikah itu harus disegerakan tapi bukan terburu-buru. Menikah itu hanya sekali, jadikan sebagai ladang ibadahmu'
tanpa terasa pandanganku berkabut, setetes cairan bening menetes dari bola mataku. Aku terharu dengan kata-kata bijak ayah. Berusaha meresapi setiap kata yang kemudian menjadi kalimat. Ayah selalu punya cara membuatku berfikir.
'Bulan belum ingin menikah yah'
'Kalau kamu belum ingin menikah, apa masih ada keinginanmu yang belum tercapai ?'
'Bulan sedang mengumpulkan uang untuk biaya kuliah yah'
'Seharusnya anak ayah tidak perlu bersusah payah, maafkan ayahmu ini nak yang tidak bisa menjadi ayah yang baik. Bahkan untuk biaya pendidikan saja kamu harus bersusah payah sendiri'
Tampak gurat kesedihan dan ketidakberdayaan di sorot mata pria hebatku ini. Aku merasa bersalah telah mengatakan hal itu.
'Maafkan Bulan yah, bukan maksud Bulan menyinggung perasaan ayah'
'Tidak, nak. Baiklah sekarang ayah tanya, apakah dengan siklus pekerjaanmu masih bisa kuliah?' Ayah mulai melanjutkan pembicaraan, melupakan perihal pernikahan. Aku cukup bersyukur.
'Bulan masih mencari jadwal perkuliahan yang bisa di sesuaikan yah'
'Apa tidak sebaiknya kamu berhenti bekerja? Ayah ada rencana membuatkan toko kue untuk ibumu. Kalian bisa bekerjasama nantinya'
__ADS_1
Bulan tersenyum menatap wajah pria di sebelahnya. Sungguh beruntung dirinya mendapat limpahan kasih sayang yang luar biasa. Cukup hanya bersyukur kepada Tuhan agar hidupnya semakin indah.
'Terimakasih ayah'