Pelangi Di Ujung Senja

Pelangi Di Ujung Senja
40. Nggak tahu!


__ADS_3

"Sudah, jangan bahas ini lagi! jangan pernah pertanyakan lagi perasaan Aa sama kamu!" seru Ilham sambil bangkit dan meninggalkan Tia yang masih terisak pilu.


Hati Tia merasa sakit karena dibentak oleh Ilham, Tia mendongakkan wajahnya yang basah dengan air mata menatap nanar kepergian suaminya itu, yang meninggalkannya sendiri dengan perasaan yang tak menentu.


Ayah, Ibu Tia kangen.. kalau tahu bakal kayak gini teteh nggak mau nikah, batin Tia menjerit pilu.


Tia membuka mukenanya, melipatnya lalu memasukkannya kembali ke dalam tas travel miliknya yang tadi dia bawa. Tia merapihkan bajunya yang sedikit kusut lalu menarik nafas dalam dan menghembuskannya pelan.


Tia melangkah keluar ruangan itu tapi tak melihat Ilham dimana pun, akhirnya dia memutuskan kembali pulang ke kosan menggunakan ojek online.


Sementara itu Ilham sedang termenung di balkon belakang restorannya.


"Astagfirullah, kaget aku Bos." Parto yang tiba-tiba melintas kaget melihat Ilham yang sedang duduk di sudut ruangan yang gelap. Ilham hanya menatapnya malas.


"Kenapa Bos?" tanya Parto heran melihat atasannya itu sedikit pendiam.


"Aku kesel sama Tia," ucap Ilham malas.


"Lah kenapa? nggak dapet jatah? penganten baru kok marahan?" tanya Parto sambil terkekeh.


"Dia ragu sama perasaanku padanya, To," ucap Ilham sambil menghela nafas dalam.


"Alasannya?" tanya Parto penasaran.


"Katanya kedekatan aku sama Anna terlihat bukan sekedar teman," ucap Ilham menjelaskan.


"Wajar sih, Tia nganggep gitu," ucap Parto enteng.


"Maksudmu?" Ilham menautkan kedua halisnya.


"Siapa pun yang lihat bos sama non Anna pasti ngiranya kalian pacaran, saya sama anak-anak yang lain juga gitu. Kami kira bos itu cintanya sama non Anna, eh malah nikah sama Tia," Parto menjelaskan dengan nada serius.


Ilham terdiam mendengar ucapan Parto, dia mencoba menelaah semua kalimat yang dilontarkan karyawannya itu.

__ADS_1


"Bos, kalau boleh saya kasih saran. Bos memang harus memastikan dulu perasaan Bos gimana sama non Anna dan Tia. Bos nggak bisa milikin keduanya, kecuali kalau Bos mau poligami."


"Gila kamu! mana mampu aku poligami!"


"Maka dari itu, Bos harus pastikan hati Bos dulu, dan kalau Bos memilih istri Bos, ya itu berarti Bos harus bisa jaga sikap kalau sama non Anna," ucap Parto sambil mengedikkan bahunya.


"Maksudmu, To?" tanya Ilham penasaran.


"Bos pikir aja, emang Bos mau istri Bos bergaul dekat dengan cowok lain seperti deketnya Bos sama non Anna?"


Ilham hanya diam tidak menjawab.


"Kalau saya sih nggak mau ya Bos, gila aja bini saya rangkul-rangkulan sama rebutan makanan mesra banget sama cowok lain." Parto menjelaskan sambil memberikan tepukan pelan di pundak Ilham lalu pergi meninggalkan Ilham yang masih terdiam.


Perkataan Parto sedikit membuka pikiran Ilham, dengan sikapnya ke Anna wajar saja Tia meragukannya. Tia pasti berfikir Ilham mempunyai perasaan lebih pada Anna dengan tingkahnya yang seperti itu pada Anna.


"Astagfirullah!" Ilham menyugar rambutnya kebelakang saat menyadari dia meninggalkan Tia sudah cukup lama sendiri di ruangannya.


Ilham bergegas masuk ke dalam ruangannya dan mendapati ruangannya kosong dan Tia tidak ada dimana pun.


Sesampainya di parkiran Ilham langsung melajukan motornya ke kosan Tia. Dia yakin Tia pasti akan pulang lagi kesana, mengingat Tia tidak hafal jalan untuk pulang ke rumah orang tua Ilham.


Sesampainya di kosan Tia, Ilham segera memarkirkan motornya lalu mengambil ponsel dari saku celananya dan menelepon Tia.


Beberapa kali melakukan panggilan tapi Tia selalu menolak panggilannya, bahkan untuk panggilan terakhirnya hanya di jawab oleh operator yang berarti telepon Tia sedang tidak aktif.


"Aaarrgghhh...!" Ilham mengacak rambutnya frustasi, kini dia tahu kesalahannya pada istrinya itu jadi wajar saja kalau Tia marah padanya.


Akhirnya setelah dia merenung beberapa saat di parkiran, Ilham bertekad untuk pulang saja ke rumah orang tuanya dan membiarkan Tia untuk sendiri dan menenangkan diri di kosannya.


Sesampainya Ilham di rumah orang tuanya, Ilham mengernyitkan dahinya heran karena ada mobil asing yang terparkir di carpot rumahnya. Dengan perlahan Ilham masuk ke dalam rumah yang ternyata sedang ramai oleh beberapa teman mamahnya. Mungkin mamahnya sedang mengadakan arisan.


Ilham melewati tamu mamahnya itu tanpa menyapa mereka, tingkahnya itu membuat sang mamah heran lalu memutuskan untuk mengikuti Ilham masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya bu Karla setelah masuk kedalam kamar Ilham lalu duduk di pinggir ranjang tepat disamping Ilham.


Ilham hanya menggeleng pelan.


"Tia mana?" tanya bu Karla lagi karena merasa heran Ilham hanya pulang sendiri tanpa Tia.


"Tia nginep di kosannya," jawab Ilham singkat. Bu Karla mengernyitkan dahinya heran.


"Kenapa Tia nginep di kosan?" Bu Karla masih penasaran, lalu dia merasa tidak enak hati apa mungkin karena keterkejutannya tadi pagi saat tahu Tia seorang officegirl, menantunya itu merasa tersinggung dan tidak mau pulang lagi kesini.


"Apa karena mamah?" tanya bu Karla hati-hati.


"Bukan, tapi karena Ilham," jawab Ilham sambil tertunduk lemah.


"Maksud kamu Ham?"


"Menurut mamah apa aku terlihat mencintai Anna?" Pertanyaan itu akhirnya Ilham lontarkan pada sang mamah.


Bu Karla terperanjat kaget dengan pertanyaan Ilham, memang harus dia akui kedekatan Ilham dengan Anna akan membuat siapa saja salah paham. Apa mungkin Tia pun salah paham?


"Mmmm... yang kamu sendiri rasain gimana Ham?" Bu Karla malah bertanya balik.


"Ilham nggak tahu Mah," ucap Ilham frustasi sambil menyugar rambutnya kebelakang.


"Apa kamu-," ucapan Bu Karla menggantung.


"Ham! papah ingin bicara!" seru pak Nugraha menyela ucapan istrinya.


*********


Makasih sama yang masih setia ngikutin cerita recehku ini, jangan lupa tinggalkan like, komen, vote dan rate bintang lima ya setelah baca cerita ini.


Makasih,

__ADS_1


Salam hangat,


_AB_


__ADS_2