
Lupakan mimpi bangun siang. Rumah Sakit merupakan tempat paling sibuk sejagat raya bahkan ketika hari masih berselimut kabut gelap aktivitas sudah di mulai. Belum lama berselang adzan subuh berkumandang. Sekarang perawat sudah lalu lalang memeriksa pasien, sebentar lagi kuniungan dokter akan segera dimulai.
Belum sempurna aku membuka mata bahkan dokter paruh baya yang merawatku kini sudah berdiri di hadapanku didampingi seorang perempuan berseragam perawat.
Memeriksaku dengan seksama sambil membolak balik laporan dari tim perawat. Ku lihat sang dokter mengernyitkan dahi membuat dadaku bergemuruh, jutaan pertanyaan menyeruak, seketika otakku penuh.
Hari ini Aku sudah tidak merasakan demam kondisi tubuhku mulai membaik tetapi tidak dengan keluhan mual yang masih bertahan, betah.
‘Dok, ada apa?’
Aku berhasil mengumpulkan keberanian untuk bertanya. Entah dengan keberanian menghadapi kenyataan apakah aku sudah siap? Tentu saja tidak. Aku tidak berani membayangkan kenyataan pahit.
‘Tidak apa-apa tidak perlu dirisaukan. Nanti perawat akan mengatur jadwal pemeriksaan ultrasonografi. Kondisimu sudah membaik hanya saja ada sedikit kecurigaan tapi nanti kita lihat lagi dari hasil ultrasonografi. Semoga tidak ada gambaran buruk. Sekarang saya pamit dulu, jaga kondisimu semoga lekas sambuh’
‘Terima kasih dokter’
Aku masih menatap kepergian dokter yang baik hati itu. Entah apa lagi yang akan Ku dengar nanti. Terkadang kenyataan tidak semanis permen lollypop. Mungkin mandi bisa mengusir kegundahan hati. Nasib jomblo memang selalu menyedihkan tidak ada orang yang menghibur meskipun sekedar Jalan-Jalan menghilangkan penat.
Jari lentikku hanya menekan tombol remote televisi asal, mengganti-ganti channel tak beraturan. Sejujurnya Aku tidak memperhatikan acara televisi bahkan melirikpun tidak. Aku hanya mencoba mengusir kegalauan, sekedar mengurangi isi otakku yang terasa penuh.
‘Kamu baik-baik saja kan Bulan?’
‘Eeh iya mbak’
‘Anak gadis Jangan suka bengong nanti Siwon lewat kamu ga lihat’. Mbak Dita berusaha menggodaku.
‘Aku galau mba. Dari ekspresi dokter tadi sepertinya akan ada masalah setelah ini’
__ADS_1
‘Sabar aja Bulan. Bahkan ibuku sampai saat ini belum membuka matanya. Kata dokter kalau hari ini beliau tidak ada perubahan maka ibu harus pindah ke ruang icu. Kondisimu masih jauh lebih baik dari ibuku bersemangatlah’
Luar biasa mbak Dita ini bahkan bebannya jauh lebih besar dariku tapi dia berusaha tegar. Sosok wanita hebat.
Siang ini Aku dibawa ke ruang radiologi untuk menjalani pemeriksaan yang tadi pagi di perintahkan dokter. Harap-harap cemas. Kurasakan tepukan pelan di bahuku, tepukan menguatkan dari kanjeng ratu. Kanjeng ratu adalah julukan untuk ibu kesayanganku. Dia menemaniku katanya kasihan anak gadisnya sedang bersedih mana jomblo pula. Memang kanjeng ratu sudah sering menyuruhku menikah. Perkataan yang terasa lebih kejam daripada kekejaman perang yang menyebabkan banyak kehilangan nyawa, ini auto membunuh perasaanku. Kejaaaammm. Padahal dia tau Aku jomblo terus Aku harus menikah dengan siapa?
Tolong jawab Aku readers!
Aku sudah kembali ke ruanganku, sepi. Menurut perawat, ibu mbak Dita sudah dipindahkan ke ruang icu. Artinya sekarang Aku sendiri lagi. Sebenarnya Aku sudah bosan di sini. Sssttttt......makanan di sini sungguh tidak enak tapi Aku tak sanggup menahan lapar. Beruntung kanjeng ratu datang Aku terselamatkan. Wanita kembaran Mariah Carey ini membawakanku rendang yang nikmat.
Ceklek
Pintu ruanganku terbuka, Aku melihat seorang dokter dan seorang perawat yang berjalan beriringan. ‘Mungkin salah alamat’ gumamku.
‘Selamat sore mbak Bulan, perkenalkan ini dokter salma beliau adalah dokter spesialis kandungan. Untuk selanjutnya dokter Salma yang akan melanjutkan terapi’.
‘Jangan khawatir, untuk menjadi pasien saya tidak harus menikah terlebih dahulu’
Aku menatap lekat wajah dokter cantik itu mencoba mencerna keadaan.
‘Saya sudah mempelajari hasil rekaman ultrasonografi kamu dan saya melihat ada masalah di situ. Itu sebabnya kamu jadi pasien saya’
‘M...maksud dokter apa?’
‘Ada kista di saluran telur kamu tidak membahayakan kehidupan akan tetapi bisa menghambat pembuahan. Dengan kata lain bisa jadi kamu akan sulit hamil setelah menikah nanti’
Aku merasa duniaku runtuh. Kanjeng ratu menggenggam tanganku erat. Ada gurat kecemasan membingkai wajah cantiknya.
__ADS_1
‘Lalu harus bagaimana dok?’
Gantian kanjeng ratu bersuara. Aku sudah terbang entah kemana. Setetes cairan bening berhasil lolos dari mata indahku.
‘Ibu tidak perlu khawatir, nanti bisa dilakukan beberapa terapi pengobatan hingga operasi. Saya sarankan untuk segera menikah untuk membantu keseimbangan hormon’.
Dokter Salma menjelaskan dengan sabar. Aku masih sibuk berkutat dengan kegundahanku. Yang jelas aku sudah tidak bisa berfikir lagi. Kanjeng ratu terdiam.
Ada kemungkinan sulit hamil tapi disuruh menikah. Memangnya lelaki mana yang mau sama perempuan mandul?
Rasanya baru kemarin Aku melewati masa-masa remaja tanpa beban. Bahkan aku masih bisa dikatakan remaja, tentu saja Aku belum genap berusia 20 tahun tapi ujianku sungguh berat. Bagaimana Aku akan melangkahkan kakiku jika beban yang kupikul saja tak mampu ku angkat.
‘Oiya Bulan kamu sudah diijinkan pulang. Kondisimu sudah membaik untuk selanjutnya nanti bisa berkonsultasi dengan saya di poliklinik rawat jalan. Saya permisi dulu’
Dokter Salma membuyarkan lamunanku, ‘I...iya baik dok terima kasih banyak atas bantuan nya.
.
.
.
.
Duuuh pacar aja ga punya kok suruh nikah...apa ada yang bisa cariin Jodoh untuk Bulan?
Apa dibikin sayembara aja yaa?
__ADS_1
Helloooow reader tolong bantu Bulan doooong