
"Aku harus sadar aku siapa dan Dion siapa, heyy hati sadar dong," ucap Tia lirih sambil beberapa kali memukul pelan dadanya yang terasa sesak. Air mata yang sudah menumpuk di pelupuk matanya kini sudah jatuh dan menganak sungai di pipi Tia..
"Kenapa selalu seperti ini?" Lanjutnya lagi sambil terisak.
Saat Tia masih hanyut dengan kesedihannya dan merutuki dirinya sendiri karena telah begitu bodoh mempercayai kata-kata seorang playboy seperti Dion, ponselnya berdering menandakan ada telepon masuk.
Tia menghapus jejak air mata dipipinya, Tia menghela napas dan berdehem berkali-kali untuk menetralkan sesak dihatinya dan suaranya supaya tidak tampak habis menangis. Tia pun memberanikan diri mengangkat panggilan tersebut.
"Halo, assalamu'alaikum.." Tia berusaha mengeluarkan suara seceria mungkin
"Halo Ya, kangeennn...." Suara rengekan yang dibuat semanja mungkin oleh sipenelepon disebrang sana.
"Hm.. kenapa nelpon malem-malem Yon?" tanya Tia sedatar mungkin, ya Dionlah yang sedang bertukar suara dengannya sekarang. Jujur hati Tia sekarang tidak menentu sedih, kecewa dan berbunga disaat bersamaan karena sedang bertukar kabar dengan pria dambaan hatinya yang sudah membuatnya kecewa berkali-kali.
Dion tidak menanggapi pertanyaan Tia, hening sempat menguasai keduanya hingga kecanggungan mendominasi disana.
"Kalau nggak ada yang penting aku tutup ya," tutur Tia karena sudah tidak nyaman dengan kecanggungan yang tercipta.
"Jangan Ya..!" cegah Dion cepat.
"Aku.. aku.. cuma mau bi-lang," ucap Dion sedikit terbata.
"Bilang baru jadian kan?" potong Tia dengan suara cerianya.
"Selamat ya, ciyeee udah nggak jomblo lagi dong, bentar lagi jadi mantu Pak Hakim dong, huwahhh... masa depan cerah." Lanjutnya lagi masih dengan nada ceria nya.
__ADS_1
"Ma-maaf..," cicit Dion tidak mampu berkata apa-apa lagi karena merasa bersalah kepada gadis yang sedang terdengar riang mendengar dia punya pacar baru meski hatinya yakin bahwa itu bukan kenyataannya.
"Kok maaf sih, kamu harusnya bersyukur bisa pacaran sama anaknya Pak Hakim udah cantik, berprestasi terus anaknya Pak Hakim pula, salah satu pengusaha properti sukses sekaligus guru senior yang memiliki karir yang bagus di bidang pendidikan," tutur Tia masih berusaha terdengar bahagia.
Jauh banget kondisinya dibanding dengan keluarga aku yang hanya keluarga petani miskin. batin Tia meringis miris sekaligus sedih dengan perbandingan yang sangat jauh.
"Ya...!" panggil Dion sesaat setelah Tia menyelesaikan kalimatnya
"Tolong berhenti pura-pura bahagia, tolong berhenti menutupi apa yang kamu rasa, aku... aku tau apa yang kamu rasakan." Lanjut Dion lalu berhenti sejenak dan menghela napas berat.
"Pak Hakim datang kerumah tiga hari yang lalu dan berbicara ke Mama sama Papa kalau dia mau aku jadi menantunya, aku jelas tidak setuju karena aku punya janji ke kamu tapi Mama sama Papa maksa, hmm... aku terpaksa setuju dengan perjodohan ini tapi meminta waktu beberapa bulan kedepan untuk menggelar acara pertunangannya, supaya aku punya kesempatan bikin anak Pak Hakim sendiri yang nolak perjodohan ini, tapi kemarin anaknya Pak Hakim heboh sendiri sampe mengumumkan ke semua orang kalau kami udah jadian," tutur Dion sedikit terbata dan beberapa kali menghela napas ditengah mengucapkan kalimatnya.
"Aku terpaksa Ya," ucap nya lagi lirih, Dion kini seolah memelas memohon pengampunan karena telah menyakiti hati Tia sekaligus mengingkari janji dan perasaannya sendiri.
Aku tahu Yon, semua memang harusnya seperti itu, dengan keadaan ini Tuhan seolah menyadarkan aku bahwa diri aku ini siapa, ya hanya remahan kerupuk lempem dibanding anaknya Pak Hakim, dengan begini akan lebih mudah untuk aku mengubur perasaanku ke kamu. Batin Tia menjerit frustasi.
"Ya...!" suara Dion seolah tercekat ditenggorokan.
"Yon maaf aku tutup ya, besok aku kerja," tutur Tia buru-buru mengakhiri panggilan tersebut karena sudah tidak bisa menahan tangisnya lagi. Saat panggilan berakhir seketika itu pun tangis Tia pecah dia terisak dan tersedu dengan pilu menahan sesak di dadanya. Berulangkali dia menepuk pelan dadanya untuk menghilangkan sesak yang mendera tapi dia selalu gagal.
*********
Setelah 45 menit mengendarai motor maticnya Ilham sampai di rumahnya, hari ini dia pulang ke rumah orang tuanya tidak pulang ke kosannya karena dia bertekad mulai sekarang ingin memperbaiki hubungannya dengan sang papa yang sudah mulai merenggang dari 4 tahun yang lalu.
"Kok baru pulang Ham, dari mana?" tanya mamanya Ilham yang berpapasan dengan Ilham setelah kembali membawa minum dari dapur.
__ADS_1
"Anna sakit Mah, tadi Ilham jagain dia dulu, kasian cuma sendirian dia," tutur Ilham sambil berbalik dan menatap kearah mamanya.
"Anna sakit? ya ampun kasian anak itu, sakit apa dia?" tanya mama Ilham khawatir.
"Cuma kelelahan aja sama telat makan," jawab Ilham.
"Kasihan banget anak itu," ucap mama Ilham lirih.
"Kalau kamu seperhatian ini ke Anna kenapa nolak sih pas mau ditunangin, lagian kan kasian Anna sendirian sekarang di negara ini, mama nggak tega bayanginnya kalau dia lagi sakit siapa yang jagain." Lanjut mama Ilham lagi.
"Bukan Ilham mah yang nolak, tapi Anna sendiri yang nolak ditunangin sama Ilham," ucap Ilham lirih sambil kembali melangkah melanjutkan tujuannya untuk pergi ke kamarnya. Mamanya Ilham hanya mengangkat bahunya seolah tidak perduli dan kembali ke kamarnya.
Enam bulan yang lalu Anna yang baru ditinggal papinya meninggal dunia dan harus ditinggal juga maminya Paula yang harus kembali ke negaranya karena terkendala perijinan tinggal di indonesia yang masih berkebangsaan belanda, dititipkan untuk sementara tinggal di kediaman Nugraha. Anna memang lahir dari seorang ayah berkebangsaan indonesia dan seorang ibu berkebangsaan belanda.
Semenjak maminya Anna menitipkannya di kediaman Nugraha, maka untuk menhindari fitnah dari para tetangga Pak Nugraha berniat menjodohkan Anna dengan Ilham, tapi seminggu sebelum hari pertunangan di gelar Anna melarikan diri dari rumah kediaman Nugraha dan pergi dengan Marko kekasihnya yang sudah dipacarinya semenjak tahun pertama kuliah.
Ilham memang tidak menolak pertunangan ini karena dia memang menyayangi Anna meski hanya sebagai kakak bukan sebagai kekasih, tapi Anna menolaknya dan dia tidak bisa memaksa Anna menyetujui perjodohan ini.
Ilham memghempaskan tubuhnya diatas ranjang miliknya, menghela napas berat dan mengusap kasar wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Kasihan banget kamu An," ucap Ilham lirih merasa iba dengan nasib sahabatnya dari kecil karena ternyata Marko menghianati Anna dan berselingkuh dengan wanita lain, itulah yang semakin membebani kehidupan Anna sekarang.
Bagaimana tidak, Anna harus kehilangan lagi orang untuknya bergantung, kini dia benar-benar sendirian tanpa ada seorangpun sebagai sandaran.
"Aku akan jaga kamu semampuku An..," gumam Ilham lagi sambil menatap lekat langit-langit kamarnya.
__ADS_1