Pendekar Naga Tunggal

Pendekar Naga Tunggal
Bab 110


__ADS_3

Shen berpikir tidak mungkin untuknya hanya diam menunggu kematiannya, shen mulai berusaha mengingat kembali tempat tempat yang sudah di laluinya sebelum sampai di perguruan Diyu zi.


" Heh, apa kamu yakin ingin langsung pergi tanpa membersihkan nama baik terlebih dulu " suara sheng tiba tiba terdengar.


" Akhirnya kamu selesai juga aku sudah lama menunggu mu " sahut shen.


" Betul apa yang di katakannya sebelum kamu pergi lebih baik membersihkan nama baik mu terlebih dulu " ucap mo.


" Karena kalian berdua mendukung ku tentu saja kita akan menyelesaikan semuanya " sahut shen sambil tersenyum.


" Orang yang sudah hampir mati ternyata masih bisa tersenyum " ucap ayah yi lieng yang tiba tiba menghentikan langkahnya.


" Tidak ada yang tahu apakah aku akan mati hari ini atau tidak " sahut shen dengan santai.


Treng...


Shen yang melihat ayah yi lieng mengarahkan pedang tepat ke lehernya bergegas menarik pedangnya dan menangkis dengan cepat serangan pedang ayah yi lieng.


" Hanya dengan seperti ini ingin membunuh ku, jangan pernah bermimpi " ucap shen sambil tersenyum.


" Berani sombong di hadapan ku kamu harus menerima hukuman yang sebenarnya " sahut ayah yi lieng sambil menarik pedangnya dan mengarahkan kembali ke shen.


Treng, treng, treng...


Serangan pedang ayah yi lieng berulang kali di tangkis shen dengan sangat mudah, ayah yi lieng yang tidak bisa melukai shen semakin merasa kesal dan membenci shen.


" Apa hanya ini yang ketua bisa " ucap shen yang sengaja ingin membuat ayah yi lieng semakin marah.


Jurus pedang delapan bintang " teriak ayah yi lieng sambil mengayunkan pedangnya ke arah shen.


Wheeeeeeeessssssss...


Duuuuuuuuuuuuuuuuuaaaaarrrr...


Asap dan debu berhamburan jurus ayah yi lieng membuat ledakan yang sangat dahsyat tepat dimana shen berdiri.


" Hahahaha, itu hukuman mu karena terlalu menguji kesabaran ku " ucap ayah yi lieng yang terus tertawa.


Hoooooeeeeeerrrrr..


Suara auman naga membuat ayah yi lieng dan seisi perguruan Diyu zi merasa sangat terkejut.


Shen dengan santai berjalan keluar dari gumpalan asap sisa ledakan serangan ayah yi lieng.


" Itu tidak mungkin " ucap ayah yi lieng yang masih tidak percaya shen tidak terluka setelah terkena serangannya.


Hooooooooooeeeeeerrrr...


" Apa dengan serangan sekecil itu kamu berpikir bisa melukainya " ucap sheng yang terbang tepat di atas shen.


Ayah yi lieng yang melihat spiritual naga terbang di atas shen merasa sangat terkejut, ayah yi lieng tidak pernah menyangka kalau shen adalah pengendali spiritual.


" Heh, apa dengan kamu mengeluarkan spiritual mu aku akan menjadi takut dan tidak akan membunuh mu. Jangan salah semakin kamu mengeluarkan apa yang kamu miliki semakin aku ingin menghabisi mu " ucap ayah yi lieng.


" Hahahaha, aku tidak menyangka ternyata bisa bertemu dengan manusia lemah yang sangat sombong " sahut sheng yang terus tertawa.


" Apa kamu bilang " teriak ayah yi lieng

__ADS_1


Duuuuuuuuuaaaaaarrrr...


Ayah yi lieng yang tidak terima di bilang lemah langsung melemparkan serangannya ke sheng.


Duuuuuuuuuuaaaarrrrrr....


Duuuuuuuuuuuaaaaaarrrrrr....


Duuuuuuuuuuuuuaaaaaarrrrrr....


Ayah yi lieng berulang kali melemparkan serangannya ke sheng tapi tidak juga membuat sheng terluka sedikit pun.


" Sudah cukup menyerangnya, sekarang giliran ku " ucap sheng yang langsung bersiap mengeluarkan serangan dari dalam mulutnya.


Booooooooooommmmmmmm...


Duuuuuuuuuuuaaaaaaaaaarrrrrrrr....


Serangan dahsyat yang di keluarkan sheng membuat perguruan Diyu zi bergetar hebat.


" Harusnya itu sudah cukup untuk menghabisi nyawanya " ucap sheng.


Ayah yi lieng yang mengira dia tidak akan selamat dari serangan sheng perlahan mulai membuka matanya.


Ayah yi lieng yang membuka matanya tidak menyangka melihat ayahnya mengaktifkan susunan titik segitiga untuk menyelamatkan dirinya.


" Ayah bukannya itu susunan terlarang kenapa ayah menggunakannya? " tanya ayah yi lieng.


" Dasar bodoh, apa dengan kekuatanmu yang seperti itu bisa menahan serangan spiritual itu. Jika kamu ingin mati biar aku saja yang membunuh mu " sahut kakek yi lieng.


Shen yang melihat kakek yi lieng memarahi anaknya hanya diam sambil terus memperhatikannya.


" Maaf ketua aku tidak bersalah aku hanya membela diri, ketua bilang kenapa aku tidak menerima hukuman dengan pasrah bagaimana kalau ku balik keadaannya seandainya ketua yang menerima hukuman mati apa ketua hanya diam tidak berusaha melawan " sahut shen dengan tegas.


" Heh ternyata pintar juga kamu menjawab, yi xioun bukan tandingan spiritual naga mu bagaimana kalau aku yang mengantikannya " ucap kakek yi lieng sambil tersenyum licik.


" Sebenarnya aku tidak ingin mencari masalah tapi karena ketua yang meminta aku tidak mungkin menolaknya " sahut shen.


" Tidak masalah aku selama ini belum pernah berhadapan dengan spiritual, akan ku anggap ini sebagai pengalaman ku " ucap kakek yi lieng.


" Karena ini kemauan mu sendiri pak tua aku akan mengeluarkan seluruh kekuatan ku, jangan salahkan aku jika kamu kehilangan nyawa mu nantinya " sahut sheng.


Kakek yi lieng memanggil awan terbangnya dan bergegas menaiki awan terbang itu mendekati sheng.


Halilintar kekuatan seribu " teriak kakek yi lieng.


Jeedddddeduuuuuuuuuaaaaaaaaaarrr...


Jeeeeddddddduuuuuuuuaaaaaaaaaarrr...


Halilintar yang datang dari seluruh penjuru arah langsung mengarah ke sheng.


" Pak tua Halilintar mu hanya seperti menggelitik ku saja, ku sarankan kamu mengeluarkan jurus yang lebih hebat dari itu " ucap sheng.


" Baiklah " sahut kakek yi lieng.


Jurus dewa pemusnah " teriak kakek yi lieng sambil mengarahkan serangannya ke sheng.

__ADS_1


Whhhhhheeeeeeeeeessssssss...


Duuuuuuuuuuuuuuuuaaaaaaaaarrrrrr.....


Telapak tangan raksasa dari langit mengarah tepat ke sheng membuat sheng tertindih telapak tangan itu dan terjatuh ke tanah.


Berakhir sudah, jurus itu salah satu jurus pamungkas pemberian guru ku " dalam hati kakek yi lieng.


Shen yang melihat spiritual naganya terjatuh ke tanah mencoba menghampirinya.


" Sheng apa kamu tidak apa apa?" tanya shen dengan cemas.


" Kamu tenang saja aku jauh lebih kuat dari yang kamu kira " sahut sheng yang langsung kembali berdiri.


Sheng menatap kakek yi lieng yang berada di atasnya dan langsung terbang ke arahnya.


" Ini tidak mungkin, bagaimana kamu masih bisa selamat " ucap kakek yi lieng.


" Heh, serangan mu yang tadi lumayan tapi jujur saja itu masih jauh untuk menyakiti ku " sahut sheng sambil tersenyum.


" Karena aku menghargaimu aku hanya menyerang mu sekali saja " sambung sheng.


" Tuuunggu dulu " sahut kakek yi lieng.


Sheng tidak mendengarkan perkataan kakek yi lieng, sheng langsung mengumpulkan kekuatan hitam di dalam mulutnya dan bersiap mengeluarkannya menyerang kakek yi lieng.


Booooooooooommmmmmmmmm...


Duuuuuuuuuuuuuaaaaaaaaarrrrrrrrrrrrr....


Kakek yi lieng yang terkena serangan shen langsung terjatuh ke bawah.


" Ayah " teriak ayah yi lieng yang langsung berlari ke arah ayahnya.


Shen yang melihat kakek yi lieng terkena serangan sheng dan terjatuh hanya memperhatikan dari kejauhan.


" Mungkin dia tidak akan bisa hidup lebih lama jika kamu tidak memberikan pertolongan pertama shen " teriak sheng yang mulai terbang rendah.


" Untuk apa aku menolongnya biarkan saja dia mati bukankah itu yang mereka inginkan dari mu " sahut shen dengan santai.


Ayah yi lieng yang mendengar perkataan sheng langsung berlutut di depan shen sambil terus memegangi kakinya.


" Ku mohon selamatkan ayah ku, aku berjanji akan menuruti apa mau mu " ucap ayah yi lieng.


" Aku tidak berminat " sahut shen dengan santai.


" Tolong aku mengaku salah, aku berjanji akan melepaskan mu dan berbicara sejujurnya dengan ayah ku. Tolong selamatkan ayah ku " ucap ayah yi lieng sambil menangis di kaki shen.


" Ku pegang perkataan mu, jangan sampai ku tahu kamu mengingkarinya " sahut shen yang langsung berjalan ke arah kakek yi lieng.


Shen memperhatikan kakek yi lieng yang sudah hampir kehilangan kesadarannya, tanpa bertanya shen langsung memegang tangan kakek yi lieng sambil menutup matanya.


Perlahan hawa dingin mulai mengalir keseluruh tubuh shen dan berkumpul di telapak tangannya.


Hawa dingin yang berada di telapak tangan shen perlahan mengalir ke tangan kakek yi lieng dan menyebar dengan sangat cepat keseluruh tubuhnya.


Shen yang merasa hawa dingin sudah menghilang langsung memeriksa denyut nadi kakek yi lieng.

__ADS_1


Shen yang memeriksa dan merasakan denyut nadi kakek yi lieng sudah kembali normal langsung menghela nafas lega.


__ADS_2