Pendekar Naga Tunggal

Pendekar Naga Tunggal
Bab 116


__ADS_3

Shen berdiri di depan jan li sambil menatap dan mengulurkan tangannya.


" Hey, apa kamu masih bisa bertahan?" tanya shen.


" Sepertinya tidak " jawab jan li pelan.


" Haaaaah " shen menghela nafas sambil duduk di sebelah jan li.


Tanpa berbicara shen langsung menggenggam tangan jan li dan menutup kedua matanya, hawa dingin kembali mengalir di dalam tubuh shen dan perlahan berkumpul di telapak tangan shen yang menggenggam erat tangan jan li.


Perlahan hawa dingin mulai mengalir ke tangan jan li dan menyebar keseluruh tubuh jan li dengan cepat, jan li yang pernah merasakan hawa dingin seperti itu sebelumnya mencoba menahan sekuat tenaganya.


Shen yang merasa tubuhnya kembali normal seperti semula langsung membuka kedua matanya dan menatap jan li yang berada di sebelahnya, jan li pun yang merasa hawa dingin di tubuhnya menghilang bergegas membuka kedua matanya


" Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya shen.


" Jauh lebih baik " jawab jan li sambil tersenyum.


" Baguslah, kamu sekarang lebih baik segera pulang " ucap shen.


" Bagaimana dengan mu, apa kamu tidak ikut dengan ku " sahut jan li.


" Tidak, aku harus bergegas kepesisir pantai dan kembali pulang kedunia ku " ucap shen.


Kalau kamu pulang kapan kita bisa bertemu lagi, aku tidak ingin kita terpisah untuk selamanya " dalam hati jan li sambil menatap shen.


" Kalau kamu pergi sekarang bagaimana dengan ku, aku sepertinya masih belum bisa berjalan " ucap jan li yang memasang wajah sedih.


" Haaaah baiklah, aku akan mengantar mu pulang terlebih dulu " sahut shen.


" Ayo kita berangkat sekarang " sambung shen yang langsung menggendong jan li di depannya.


Jan li hanya diam sambil terus menatap wajah shen yang terlihat serius saat menggendongnya, shen yang tersadar jan li terus menatapnya mencoba membuka pembicaraan.


" Apa ada yang salah dengan wajah ku? " tanya shen.


" Tidak ada " jawab jan li dengan cepat sambil memalingkan wajahnya yang tersipu malu.


Shen yang melihat jan li merasa malu langsung tersenyum sambil terus mempercepat langkah kakinya, dari kejauhan shen melihat tanda yang menunjukkan jalan kerumah ketua desa mangali.


Shen mengikuti satu persatu tanda yang dia lewati dan akhirnya sampai di sebuah rumah yang sangat tidak asing baginya.

__ADS_1


" Kita sudah sampai " ucap shen yang langsung menurunkan jan li.


" Terima kasih " sahut jan li sambil tersenyum.


" Jan li bagaimana bisa kamu pulang secepat ini, bukannya pertandingan baru akan di laksanakan esok hari " ucap seorang pria tua yang berjalan ke arah jan li.


" Ayah aku di hadang dua pria yang bekerja sama melumpuhkan ku, untung saja ada shen yang datang menyelamatkan ku " sahut jan li.


" Cih, aku masih tidak percaya bisa bertemu lagi dengan mu. Aku berpikir kamu tidak akan bisa bertahan hidup " ucap ketua desa sambil menatap shen.


" Anda terlalu berlebihan, aku bukan hanya masih bisa bertahan hidup aku juga sudah berhasil menyelesaikan tujuan utama ku datang kedunia ini " sahut shen sambil tersenyum.


" Baguslah, sekarang apa yang akan kamu lakukan? " tanya ketua desa.


" Aku harus segera kembali kedunia ku yang sebenarnya " sahut shen.


" Kalau begitu cepatlah pergi sebelum ada yang datang lagi mencari mu " ucap ketua desa.


" Baiklah, jan li masih belum sembuh sepenuhnya aku berharap anda merawatnya hingga benar benar sembuh " sahut shen sambil berjalan meninggalkan rumah ketua desa.


" Ayah kenapa tidak menyuruhnya beristirahat disini untuk beberapa hari? " tanya jan li.


Ayah kenapa tidak mengerti maksud ku " dalam hati jan li.


Shen yan melihat pantai berada tidak jauh darinya bergegas mempercepat langkah kakinya, shen terdiam menghentikan langkahnya sambil terus memperhatikan luasnya lautan yang membentang di depannya.


" Sekarang aku sudah berada disini, selanjutnya bagaimana " ucap shen dengan suara pelan.


" Lihatlah di atasmu " ucap sheng.


Shen yang mendengar perkataan sheng langsung melihat ke atasnya, betapa terkejutnya shen melihat sebuah lubang yang terus berputar di atasnya.


" Sepertinya lubang itu mengetahui kalau seseorang sudah berhasil menguasai jurus dua dunia, cepatlah sebelum lubang itu kembali tertutup " bisik mo.


Shen menganggukkan kepalanya sambil mengangkat kedua tangannya, tiba tiba dari dalam lubang sesuatu langsung menarik tangan shen dan membuatnya terus berputar di dalam kegelapan.


Shen yang masih terus berputar di dalam gelap perlahan melihat cahaya mendekatinya, tanpa sadar shen terus menatap cahaya di depannya itu dan tiba tiba langsung tidak sadarkan diri.


Guyuran air hujan tepat yang membasahi tubuh shen membuatnya perlahan membuka mata, shen merasa sangat terkejut setelah melihat dirinya tergantung diatas tiang yang tinggi.


" Aku berada di mana? kenapa aku sampai bisa terikat seperti ini " ucap shen dengan suara pelan.

__ADS_1


" Ku kira kamu sudah mati " sahut sheng.


" Segitu bencinya kamu sama aku sampai mengharapkan kematian ku " ucap shen.


" Bukannya berharap kematianmu, kamu sudah tidak sadarkan diri selama lima hari aku hanya mengira kamu sudah mati " sahut sheng.


" Kenapa aku bisa di ikat seperti ini?" tanya shen.


" Sepertinya mereka mengira kamu adalah mata mata. Oh ya, kalau tidak salah besok mereka akan membakarmu hidup hidup " sahut sheng.


" Kenapa kamu tidak merasuki tubuh ku dan membawa ku pergi dari sini " ucap shen.


" Aku hanya ingin memastikan apa kamu masih hidup atau tidak, jika kamu sudah mati lebih baik aku menunggu kamu di bakar esok hari dengan begitu aku akan lepas dari dalam tubuh mu " sahut sheng.


" Karena kamu masih hidup lebih baik kamu segera melepaskan diri, pedang mu di taruh mereka di belakang pohon itu panggil saja dia untuk melepaskan ikatan tali mu " sambung sheng.


Benar juga apa yang di katakannya " dalam hati shen.


" Mo kemarilah lepaskan tali ikatan ku " teriak shen.


Mo yang mendengar suara panggilan dari shen langsung memancarkan cahaya dari dalam pedang shen, mo yang mengendalikan pedang shen bergegas melepaskan ikatan shen.


Shen yang mengetahui mo telah melepaskan ikatannya langsung melompat ke bawah dan berusaha mencari jalan keluar.


" Ternayata dia masih hidup dan ingin melarikan diri, cepat tangkap dia " teriak wanita tua sambil menatap shen dengan tajam.


Shen yang melihat dirinya di kepung puluhan prajurit langsung menarik pedangnya.


" Siapa kalian, kenapa kalian ingin menangkap ku? " tanya shen.


" Cepat tangkap mata mata itu, jika dia berhasil melarikan diri kalian semua akan mati " teriak wanita tua itu.


" Lebih baik jangan melawan, kita lihat saja apa yang mereka inginkan dan apa alasan mereka menangkap mu " bisik mo.


" Tapi bagaimana jika mereka menghukum mati aku " sahut shen.


" Heh, bukannya kamu juga bisa melarikan diri nantinya " ucap mo.


" Kalian tunggu apa lagi, cepat tangkap dia " teriak wanita tua itu memerintah prajuritnya.


Shen menaruh kembali pedangnya dan mengikuti prajurit yang menangkapnya dengan pasrah, wanita itu yang melihat shen kembali tertangkap langsung menghela nafas lega.

__ADS_1


__ADS_2