Pendekar Naga Tunggal

Pendekar Naga Tunggal
Bab 22


__ADS_3

Suara tertawa seorang pria terus terdengar di sekitar shen.


" Kamu siapa tunjukan dirimu " Shen memutar badannya sambil berteriak berulang kali.


" Anak muda " panggil seorang pria tua yang memegang pundak shen.


Shen yang terkejut langsung melompat.


" Hahahahaha " pria tua itu kembali tertawa.


" Kamu siapa, kenapa bisa ada di sini? " tanya shen merasa penasaran.


" Harusnya aku yang bertanya pada mu, mengapa kamu ada di pondok ku " pria tua itu menatap shen.


" Jadi pondok ini tempat anda, maaf kalau aku masuk ke dalam tanpa izin " sahut shen.


" Sudah sudah tidak apa, aku tadi melihat mu menyerap sesuatu aku tidak ingin mengganggu mu " ucap pria tua itu


" Siapa nama anda pak tua dan dimana pedang dan serigala ku " tanya shen


" Nama itu tidak penting anak muda, pedang dan serigala mu ada pada ku nanti pasti akan ku kembalikan pada mu " sahut pria tua itu.


" Kenapa harus nanti, aku menginginkannya sekarang juga " ucap shen.


" Tidak semudah itu kamu mendapatkannya kembali " sahut pria tua itu.


" Bukannya itu milik ku, kenapa kamu menyimpan milik orang lain " ucap shen yang terlihat sangat kesal.


" Jiwa muda yang terlalu banyak bertanya " ucap pria tua itu sambil tersenyum.


" Aku menginginkannya sekarang apa yang kamu mau sebagai gantinya " sahut shen.


" Aku mau kamu menjadi murid ku " ucap pria tua itu


" Apa yang ku dapatkan jika aku berguru padamu "


" Kita lihat saja hasilnya " sahut pria tua itu.


" Baik " ucap shen.


" Kamu bersiaplah " sahut pria tua itu.


Shen dengan terpaksa bersiap, semua dilakukannya demi mendapatkan pedang dan serigalanya kembali.

__ADS_1


Pria tua itu menghampiri shen yang sudah memasang kuda kuda sebelumnya.


Braaaaaaaaaaaaakkk...


Pria tua itu menendang kaki shen hingga membuat shen terjatuh.


" Perkuat lagi " teriak pria tua itu.


Tanpa banyak bertanya shen kembali memperkuat kuda kudanya.


Brrrrrrrraaaaaaaaaaaakkk...


Pria tua itu kembali menendang kaki shen.


" Masih belum kuat perkuat lagi " teriak pria tua itu.


Shen memperkuat kembali kuda kudanya sebisanya walau dia tidak tahu harus bagaimana lagi cara memperkuat kuda kudanya itu.


" Bagus pertahankan seperti itu terus, jangan bergerak sebelum aku yang menyuruhmu bergerak " ucap pria tua itu.


Shen hanya menganggukkan kepalanya sambil berusaha menahan kuda kudanya. Shen yang melihat pria tua itu tertidur pulas merasa kesal sendiri.


" Pak tua sampai kapan aku terus seperti ini " Shen merasa kakinya mulai kelelahan.


Jam terus berputar matahari pun kembali terbit, tak terasa shen memasang kuda kudanya selama semalaman.


Shen melihat pria tua itu bangun dan berjalan menghampiri dirinya, pria tua itu menendang kaki shen berulang tapi tidak juga terjatuh.


" Kuda kuda bagus untuk bertahan, sekarang pertahanan mu sudah sempurna. kita lanjutkan yang lainnya " ucap pria tua itu.


" Pak tua aku ingin beristirahat sebentar kaki ku merasa sangat lelah " ucap shen.


" Baik kamu boleh beristirahat tapi kita akan mulai latihan dari awal lagi " sahut pria tua itu.


Shen yang mendengar perkataan pria tua itu langsung berdiri dan mendekati priap tua itu.


" Mari kita lanjutkan pak tua " ucap shen yang langsung bersemangat.


" Pukul pohon di depan mu sebanyak tiga ribu kali " sahut pria tua itu.


Shen tidak berani bertanya dia langsung memukul pohon di depannya sambil terus berhitung.


Tidak terasa matahari akan segera terbenam kembali, shen yang melihatnya hanya diam sambil kembali memukul pohon di depannya.

__ADS_1


" Dua ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan, tiga ribu " teriak shen yang langsung berhenti.


" Ini pedang dan serigala mu sekarang pergi lah " ucap pria tua itu.


Shen masih tidak mengerti dia seperti orang bodoh yang menuruti perkataan orang yang tidak dikenalnya, shen langsung mengambil pedangnya dan membawa chiktan pergi dari pondok pria tua itu.


" Chiktan kamu kemana saja semalaman, apa yang dilakukan pak tua itu pada mu?" tanya shen.


Shen merasa ada yang aneh dengan chiktan yang tidak menjawab perkataannya, chiktan seperti tidak memperdulikan shen.


" Mo apa yang terjadi semalam ?" tanya shen.


Shen memegang pedangnya berharap mo bisa menjelaskan yang terjadi semalam kenapa chiktan sampai tidak menghiraukan dirinya.


Shen merasa aneh dengan pedangnya, pedang yang di pegangnya jauh lebih ringan dari biasanya.


Mo juga tidak keluar dari pedangnya.


" ada apa ini sebenarnya!! " shen merasa sangat bingung.


Tidak jauh darinya berdiri seorang pria memakai topeng menghadang jalannya, tiba tiba shen melihat pedang dan serigalanya kembali menghilang.


" Kamu siapa kenapa menghalangi jalan ku " teriak shen.


Tidak ada jawaban dari pria misterius itu.


Sepertinya dia bukan orang yang baik, aku juga tidak tahu dia sudah berada di tingkat apa sekarang, mungkin aku hanya bisa bertahan." dalam hati shen.


Shen memasang kuda kuda yang sudah di latih nya semalam.


Phaak, phaak... Pria misterius itu terus menendang shen berulang kali, shen tidak goyah sedikit pun bahkan shen tidak merasakan sakit saat di tendang.


Pria misterius itu berhenti menendang shen yang merasa kelelahan, shen yang merasa mendapat kesempatan tanpa berfikir langsung memukul pria misterius itu berulang kali tanpa berhenti.


Pria misterius itu melompat kebelakang sambil memegang perutnya.


" Anak muda perkembangan mu sangat baik " Pria misterius itu membuka topengnya.


" Pak tua ternyata itu kau, pantas saja aku merasa ada yang aneh setelah aku pergi dari pondok mu. Sebenarnya anda siapa?" tanya shen.


" Tidak perlu kamu tahu aku siapa, terima ini Sebagai tanda kamu adalah murid ku "


pria tua itu melemparkan sebuah kalung dengan liontin berbentuk huruf Z dan X.

__ADS_1


Pria tua itu langsung pergi meninggalkan Shen, tiba tiba saja serigala dan pedangnya sudah ada di belakang shen.


__ADS_2