Pendekar Naga Tunggal

Pendekar Naga Tunggal
Bab 154


__ADS_3

Shen yang sudah tidak lagi menggunakan jurus mata iblis legendanya perlahan membuka matanya, shen menatap bunglon raksasa yang berdiri tidak jauh di depannya itu.


" Sekarang jelaskan padaku kenapa banyak orang yang ingin menangkapmu " ucap shen.


" Ceritanya panjang, keserakahan manusia menjadi salah satu alasan yang selalu ku dengar dari para manusia itu sendiri " sahut bunglon itu.


" Apa maksudmu keserakahan, memangnya apa yang bisa mereka dapat dari menangkapmu?" tanya shen.


" Manusia itu terus berpikir jika mereka bisa menangkap ku maka hutan terlarang ini tidak memiliki penunggu lagi dan seluruh isi di dalam hutan ini akan dikuasai oleh manusia itu sendiri " sahut bunglon itu lagi.


" Memangnya apa yang berharga dari hutan ini dan kenapa juga hutan ini dinamakan hutan terlarang?" tanya shen.


" Di hutan ini terdapat batu jiwa yang terpendam dan jumlah batu jiwa itu sendiri sebenarnya tidak ada yang mengetahui seberapa banyak, para manusia itu berusaha keras ingin menangkapku agar mereka bisa mengambil seluruh batu jiwa yang berada di hutan ini" sahut bunglon itu sambil menatap shen dengan serius.


" Aku sebagai penunggu hutan yang sudah menjaga hutan ini sejak lama tidak mungkin membiarkan manusia-manusia serakah itu mengambilnya dengan mudah, mulai saat itu setiap ada manusia yang datang ke hutan ini aku pasti membunuhnya dan mulai saat itu juga nama hutan ini bernama hutan terlarang " sambung bunglon itu lagi.


" Kalau begitu tidak heran pemimpin kota memberi perintah dengan imbalan yang sangat besar " ucap shen.


" Hampir setiap hari manusia-manusia serakah mendatangi hutan ini untuk menangkapku. Heeeeeh, tapi kebanyakan dari mereka tidak sadar seberapa kuat diri mereka sendiri " sahut bunglon itu lagi.


" Walaupun aku tidak berpihak pada siapapun tetap saja aku tidak setuju jika kamu terus membunuh manusia, kalau kamu ingin memberi pelajaran akan lebih baik jika hanya membuat mereka takut. Perubahan warnamu yang bisa menyatu dengan alam pasti tidak bisa di lihat para manusia dengan mudah " ucap shen.


" Tapi sebagian dari manusia yang datang pasti memiliki penglihatan yang tajam sepertimu, jika aku tidak membunuhnya pasti mereka yang akan membunuhku " sahut bunglon itu.


" Jika tidak ada cara lain lagi apa boleh buat dan jika memang harus membunuh maka lakukanlah tapi jangan pernah membunuh manusia yang lemah " ucap shen.


" Sudahlah semua yang ingin kuketahui telah kuketahui kalau begitu aku pergi dulu " sambung shen yang langsung berjalan pergi.


" Tunggu " sahut sang bunglon.


" Aku tahu kamu tidak sama seperti mereka, karena kamu sudah mengampuni nyawaku izinkan aku untuk memberimu beberapa batu jiwa " sambung bunglon itu lagi.

__ADS_1


" Tidak perlu, aku tidak berbuat apapun aku tidak pantas menerimanya " sahut shen.


" Kalau begitu anggap saja batu jiwa yang akan ku berikan sebagai tanda pertemanan kita " ucap sang bunglon sambil menatap shen.


" Baiklah jika kamu memaksa aku dengan terpaksa menerimanya " sahut shen.


" Ikutlah denganku " ucap bunglon itu yang langsung berjalan di depan shen.


Shen yang tidak tahu bunglon itu ingin pergi kemana terpaksa mengikutinya dari belakang, bunglon yang berjalan di depan shen tiba-tiba berhenti di sebuah goa batu dengan batu besar yang menutupi mulut goa.


" Terbukalah " ucap bunglon itu yang langsung di sambut dengan batu besar di depannya yang bergeser.


" Masuklah " ucap bunglon itu sambil menatap shen.


Shen menatap bunglon yang berdiri didepannya itu sambil menganggukkan kepalanya dan masuk ke dalam goa di depannya.


" Batu jiwa ini sangat banyak, benar-benar tidak heran jika mereka ingin menangkapmu " ucap shen.


" Karena kamu yang ingin memberikannya padaku maka kamu yang harus mengambilkannya, aku tidak ingin menuruti nafsuku untuk mengambil sesuka hatiku " ucap shen.


" Kamu memang sangat jujur, kalau begitu aku akan mengambilkannya padamu " sahut bunglon itu yang langsung berjalan ke arah shen.


Shen yang melihat sang bunglon berdiri di depannya sambil bersiap mengambil batu jiwa untunya hanya diam sambil memperhatikan, tidak butuh waktu lama bunglon yang berdiri di depan shen langsung memutar badannya sambil menatap shen.


Shen yang melihat bunglon itu telah mengambilkan batu jiwa untuknya langsung menerimanya tanpa menghitung seberapa banyak yang di berikan bunglon itu padanya.


" Aku tidak tahu apa batu jiwa itu cukup untukmu " ucap bunglon itu.


" Lebih dari cukup, terima kasih telah memberikan batu jiwa ini padaku " sahut shen.


" Kalau begitu aku pergi dulu, ingat perkataanku tadi " sambung shen.

__ADS_1


" Kamu tenag saja, kalau boleh tahu siapa namamu?" tanya bunglon itu.


" Namaku shen " sahut shen sambil berjalan pergi.


" Hemm, baiklah mulai saat ini yang bisa membuka goa ini hanya kamu teman dengan begitu aku tidak perlu bersusah payah membunuh para manusia serakah itu lagi " ucap sang bunglon dengan suara pelan.


Shen yang masih memegang batu jiwa di tangannya langsung menaruhnya di tanah, shen mengeluarkan kotak ruangnya untuk menyimpan semua batu jiwa yang di berikan sang bunglon padanya.


Shen berjalan santai keluar dari hutan tanpa menyadari puluhan orang menatapnya dari kejauhan.


" Lihatlah orang itu berhasil keluar dengan selamat, bisa di pastikan penunggu hutan ini pasti sudah dikalahkan olehnya " ucap seorang yang berbisik pada temannya.


Shen yang semakin berjalan menjauh membuat puluhan orang yang bersembunyi bergegas masuk ke dalam hutan untuk menangkap penunggu hutan terlarang.


" Lihatlah kita menemukannya, penunggu hutan itu sedang terluka tunggu apa lagi cepat bunuh dia " teriak seseorang yang berdiri di barisan depan.


" Heeeh, baru saja di bicarakan manusia-manusia lemah namun serakah ini sudah datang karena aku berjanji tidak akan membunuh lagi aku akan memegang janjiku, lagipula mereka semua tidak akan mendapatkan apa yang mereka mau " ucap bunglon itu dengan suara pelan.


" Bunuh, bunuh " teriak puluhan orang yang bersiap menghabisi bunglon itu dengan sadis.


" Teman, lihatlah aku menepati janjiku " ucap bunglon itu dengan pasrah.


Shen yang berjalan semakin menjauh tiba-tiba merasa perasaannya tidak menentu, walau begitu shen tetap melanjutkan perjalanannya tanpa mengetahui sesuatu telah terjadi pada bunglon yang baru saja di tinggalkannya itu.


" Sepertinya batu jiwa ini sudah cukup untuk sementara, aku bisa menyerapnya dulu untuk meningkatkan tingkatanku " ucap shen sambil terus berjalan.


" Kalau aku menjadi kamu aku tidak akan meminta penunggu hutan itu untuk berhenti membunuh, karena sebenarnya yang salah adalah manusia itu sendiri " bisik mo.


" Mau siapapun yang salah tetap saja membunuh bukan jalan terbaik " ucap shen.


" Kalau begitu ku harap kamu tidak menyesali perkataanmu itu " sahut suara mo yang langsung kembali menghilang.

__ADS_1


" Mo kenapa lagi, bukannya dari awal dia sudah tahu niatku yang sengaja untuk menghentikan bunglon itu agar tidak lagi membunuh, sekarang kenapa sepertinya dia menyalahkanku " ucap shen sambil terus berjalan.


__ADS_2