Pendekar Naga Tunggal

Pendekar Naga Tunggal
Bab 153


__ADS_3

Shen yang menunggu mo pergi dan tidak juga kembali memutuskan berjalan masuk ke dalam hutan yang berada tepat di depannya itu, shen benar-benar merasa tidak sabar ingin melihat seperti apa sebenarnya rupa hewan spiritual penunggu hutan terlarang itu dan apa alasan kenapa banyak orang yang ingin menangkapnya.


" Heh, Apa yang kamu lakukan, bukannya aku sudah memintamu untuk menungguku " ucap mo yang tiba-tiba berdiri di samping shen.


" Kamu terlalu lama aku sudah tidak sabar ingin melihat hewan spiritual itu " sahut shen.


" Aku sudah melihatnya, hewan spiritual itu berbeda dengan hewan spiritual lainnya " ucap mo lagi.


" Apa maksudmu berbeda?" tanya shen.


" Hewan spiritual itu bisa merubah warnanya dan matanya yang hampir memenuhi tubuhnya membuatnya bisa melihat ke segala arah " sahut mo.


" Hewan spiritual apa itu?" tanya shen lagi.


" Aku tidak mengetahui nama hewan itu tapi yang pasti hewan itu sangat berbahaya, jika kamu tetap akan pergi lebih baik berhati-hatilah " sahut mo.


" Kalau begitu mau berjalan lewat depan ataupun memutar sama saja, matanya yang kamu bilang banyak pasti bisa melihat kedatangan kita " ucap shen lagi.


" Aku sudah membantumu selebihnya terserah padamu " sahut mo yang langsung menghilang.


Aku harus bagaimana sekarang, jika aku langsung masuk sama saja dengan menyerahkan diri tapi jika aku tidak jadi masuk ke dalam hutan ini bukannya aku sama saja dengan pecundang " dalam hati shen.


Shen yang masih ragu membuatnya terus berpikir keras, shen terus berpikir bagaimana caranya agar dia bisa masuk ke dalam hutan itu dengan aman dan bisa menemukan hewan spiritual yang bisa berubah warnanya itu.


" Jurus Mata iblis legenda " ucap shen.


" Iya benar jurus mata iblis legenda pasti bisa membantuku menemukan hewan itu walau sudah merubah warnanya " sambung shen yang berbicara sendirian.


" Jurus mata iblis legendamu mungkin bisa membuatmu melihat hewan spiritual itu, tapi jurua mata iblis legendamu tidak bisa membantumu agar terhindar dari mata yang hampir memenuhi badannya itu " bisik mo.


" Tidak masalah yang terpenting sekarang aku bisa melihatnya dan mencoba bertanya baik-baik apa yang sebenarnya terjadi kenapa banyak orang ingin menangkapnya " sahut shen dengan santai.


" Terserah kamu saja " ucap suara mo lagi.


Shen mencoba memfokuskan pikirannya sambil mengucapkan jurus mata iblis legenda berulang kali, matanya yang terasa sakit seperti biasanya membuatnya tidak butuh waktu lama untuk berhasil mengeluarkan jurus mata iblis legendanya itu.


Shen yang sudah menggunakan jurus mata iblis legendanya mulai berjalan selangkah demi selangkah sambil memperhatikan sekelilingnya, shen yang merasa sudah berjalan sangat berhati-hati tiba-tiba mendengar suara di depannya. Shen yang tidak ingin membuang waktu langsung menghampiri asal suara itu, shen yang sudah biasa melihat bunglon di zamannya dulu membuatnya tidak terkejut.


" Heeeh ternyata bunglon " ucap shen dengan suara pelan.


Shen yang masih menatap hewan spiritual itu di kagetkan dengan serangan lidah yang sangat cepat, shen merasa sangat beruntung mata iblisnya mampu membuatnya melihat serangan lidah bunglon itu dan membuatnya selamat.

__ADS_1


" Jangan berpikir hanya karena kamu bisa mengubah warna agar menyatu dengan sekitarmu membuat aku tidak bisa melihatmu " ucap shen.


" Hehehe, kamu bukan orang pertama yang bisa melihatku tapi jujur saja semua yang bisa melihatku mati lebih cepat dari manusia lainnya " sahut bunglon itu sambil bersiap menyerang kembali.


Shen yang masih menggunakan jurus mata iblis legendanya membuatnya bisa menghindari serangan lidah bunglon itu dengan sangat mudah.


Bunglon yang menyerang shen berulang kali tapi tidak juga mengenainya membuatnya merasa kesal sendiri.


" Heeh, kalau berani jangan menggunakan matamu itu untuk terus menghindar. Kemari lawan aku kalau berani " ucap bunglon itu.


" Aku dari awal tidak ada niat bertarung untuk apa aku harus melawanmu " sahut shen.


" Hahahaha, kamu masih berani bilang tidak ada niat bertarung. Jika tidak niat bertarung lalu apa niatmu atau jangan-jangan niatmu mati di wilayahku " ucap bunglon itu sambil terus tertawa.


" Aku berkata jujur, aku tidak ada niat bertarung aku hanya merasa penasaran saja " sahut shen.


" Sudah tidak perlu banyak bicara lagi karena kamu tidak ingin menyerang jangan salahkan aku yang akan menghabisimu sekarang " ucap bunglon itu sambil bersiap mengeluarkan lidahnya untuk menyerang shen.


Shen yang memang dari awal tidak ingin bertarung dengan senang hati terus menghindar melompat di satu pohon ke pohon yang lainnya.


Bunglon itu yang merasa dirinya terus di permainkan oleh shen membuatnya sangat marah besar, satu matanya yang selalu tertutup dengan terpaksa di bukanya.


" Kamu harus membayar mahal karena sudah mempermainkanku " ucap bunglon itu yang langsung menatap shen dengan matanya yang baru saja di bukanya.


Duuuuuuuuuuuuuuaaaaaaaaarrrrrr...


Mata yang baru di buka bunglon itu mengeluarkan serangan besar yang membuat terjadinya ledakan di setiap tempat shen berpijak, shen yang tidak mengira bunglon di depannya bisa memiliki kekuatan sehebat itu tidak memiliki cara selain bertarung atau mati di tempat.


" Bunglon sialan, aku sudah berbaik hati tidak ingin menyerangmu tapi kekuatan dari matamu itu hampir saja membunuhku. Aku berubah pikiran dari pada aku mati lebih baik aku melawanmu dan membuatmu mati lebih dulu dari pada aku " ucap shen.


" Hahahaha, manusia bermulut besar jika kamu mampu kamu pasti akan menyerangku dari tadi. Manusia lemah yang berpura-pura kuat membuatku sangat tidak sabar untuk menghabisimu " sahut bunglon itu sambil terus tertawa.


" Sudalah biar aku saja yang maju " ucap sheng.


" Tidak perlu, aku tidak berniat membunuhnya aku hanya ingin memberikannya sedikit pelajaran saja " sahut shen yang langsung menarik pedangnya.


Wheeeeeeeessssssss...


Wheeeeeeeeeeessssss...


Wheeeeeeeeeeeesssssss...

__ADS_1


Shen terus mengayunkan pedangnya sambil berjalan ke arah bunglon yang berdiri tidak jauh di depannya.


Bunglon itu terus tertawa sangat keras melihat shen yang ingin menyerangnya hanya dengan sebuah pedang.


" Hahahaha, manusia bodoh " ucap bunglon itu sambil terus tertawa.


Shen yang melihat bunglon itu terus tertawa tanpa menyerang membuatnya langsung menancapkan pedangnya ke tanah.


" Jurus Halilintar "


" Jurus Tinju Sembilan Dewa " teriak shen yang langsung mengeluarkan dua jurusnya sekaligus.


Cheeeeetttttaaaaaaarrrrrr...


Cheeeeeeeettttttaaaaaaarrrrrr...


Duuuuuuaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrrrr...


Duuuuuuuuuaaaaaaaaaaarrrrrrrrrr...


Duuuuuuuuuuuuuaaaaaaaaaarrrrrrr...


Suara sambaran halilintar yang di sambut dengan ledakan berulang kali menimbulkan asap hitam dari tempat di mana bunglon itu berada.


" Heeeeeeeh, aku tidak menyangka bisa terluka separah ini. Jujur saja aku mengira kamu ingin menggunakan pedang untuk melukai lidahku tapi dugaanku salah " ucap bunglon itu sambil berjalan keluar dari asap hitam di depan shen.


" Kamu terlalu memandang rendah musuhmu tapi jika tadi aku berniat membunuhmu bukan hanya kedua jurus itu yang akan ku keluarkan " sahut shen yang langsung mengeluarkan kedua api sucinya.


" Api suci, bagaimana bisa kamu mendapatkan kedua api suci itu?" tanya bunglon itu sambil berjalan mundur.


" Apa pentingnya aku menjawab pertanyaanmu " sahut shen.


" Aku, aku mengaku salah. Bukannya tadi kamu bilang tidak ingin membunuhku " ucap bunglon itu lagi.


" Aku memang tidak akan membunuhmu, tapi kamu harus menjawab pertanyaanku dengan jujur " sahut shen.


" Baik aku akan menjawabnya " ucap bunglon itu dengan sangat cepat.


" Dan satu lagi keluarlah dengan wujud biasa aku sudah tidak kuat menahan rasa sakit di mataku " sahut shen lagi.


" Baik baik " ucap bunglon itu yang langsung menampakkan wujudnya.

__ADS_1


Arrrrrrrrkkkkkhhhhh...


Akhirnya aku terbebas juga dari rasa sakit ini " dalam hati shen sambil menutup kedua matanya.


__ADS_2