
Nanda sedang duduk di ruang keluarga bersama Apsara sambil menonton TV. Nendra berjalan menghampiri Nanda. Dia pun duduk di sebalah Nanda menyenderkan kepala di pundak kembarannya itu.
Nendra merasa bingung jika harus bertanya kepada Nanda tentang temannya itu. Dia takut kalau Nanda akan mengejeknya atau bahkan tidak mau memberitahu sama sekali.
Tanya...enggak...tanya...enggak...
"Kamu kenapa sih Nen?"tanya Nanda tak menoleh tapi dia merasa ada sesuatu yang terjadi pada kembarannya.
"Nan."
"Humm."
Kalau aku tanya ke dia, nanti dia tahu dong aku suka sama cewek itu. Terus nanti dia ngebongkar aibku ke cewek itu. Nanda kan nyebelin, batin Nendra.
"Kenapa ya aku jadi cowok paling ganteng di fakultas teknik?"ucap Nendra dengan narsis.
Apsara yang mendengar ucapan adiknya langsung menempelkan punggung tangannya pada kening Nendra.
"Kamu kekurangan uang ya? Makanya badan kamu anget"balas Apsara terkekeh.
Nanda tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Apsara yang menohok jiwa itu. Sementara Nendra hanya menyebikkan bibirnya.
"Ih Kak, aku serius. Rata-rata anak teknik di kampus tuh ya masa bodo sama penampilan mereka. Semantara aku, rapi, ganteng, dan cool." Nendra mengibaskan kerah bajunya begitu percaya diri.
"Mama waktu hamil kita nyidam apaan sih? Kok kamu narsis banget?"tanya Nanda keheranan.
"Dan Mama, itu nyidam apa kok bisa kamu itu bawel banget"balas Nendra.
"Ih, dasar kembaran nggak tahu diri"ketus Nanda memalingkan wajahnya dengan kasar.
Apsara hanya geleng-geleng melihat pertengkaran Si Kembar yang membuat dia pusing sendiri.
Tak berapa lama datanglah Bara, yang baru saja pulang. Apsara menatap kedatangan Bara. Dia heran kenapa akhir-akhir ini setiap Bara pulang ke rumah pasti dia dalam keadaan kemeja yang digulung sampai siku dan wajahnya kusam.
"Bar, kamu dari mana?"tanya Apsara.
"Habis demo di depan gedung DPR." Bara pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaan Apsara dengan benar.
Apsara tahu kebiasaan Bara, jika laki-laki itu sedang melakukan sesuatu di mana dia mengincar hal tersebut, maka dia tidak akan mengatakan apa pun sampai dia mendapatkannya dan Bara akan mengatakannya sendiir. Apsara hanya cuek, karena cepat atau lambat dia akan mengetahui rahasia saudaranya itu.
*****
"Jadi yang nolong kamu itu cowok?"tanya Herdian sambil mengelus kepala Zahra.
Zahra baru saja menceritakan kejadian di kampus setelah makan malam. Kakak dan kakeknya merasa terkejut bahwa Zahra menjadi bahan bully di kampus milik dia sendiri. Bahkan Dafa sudah menyuruh agar Zahra memberitahu identitasnya tapi adiknya bersikeras untuk menutupi identitasnya.
"Iya Yang"jawab Zahra.
"Namanya siapa?"sambung Dafa.
"Nggak tahu." Zahra mengedikkan bahu tanda tidak tahu saat ditanya nama proa yang menolongnya.
"Tapi sekarang Zahra sudah punya teman kok"ujar Zahra.
"Sopo kanca mu? Bukannya kamu ndak punya teman?"tanya Herdian penasaran.
Dafa terkekeh karena adiknya sejak sekolah sampai kuliah tidak memiliki teman.
"Namanya Nanda. Dia baik tahu Yang. Anaknya cerewet, ceria, dan galak. Kalau pas Geng Miss gangguin aku, dia pasti bakal ngomel-ngomel kayak ibu-ibu kos." Perkataan Zahra membuat Herdian tertawa terbahak-bahak.
"Oh ya? Bagus dong. Kamu harus belajar berani kayak dia. Yangkung itu kangen sama sifat periangnya kamu"kata Herdian mencubit hidung cucunya.
"Iya Yang"balas Zahra.
"Kapan-kapan ajak teman kamu main ke sini"ujar Dafa.
"Yah, nanti dia tahu dong aku cucunya Herdian Atma Jaya"tandas Zahra.
"Ya sudah ndak usah. Asal dia bisa jadi teman yang memberi pengaruh positif sama kamu"ujar Herdian.
*****
Almira baru saja menghidangkan mie ayam kepada pembeli. Sementara kakaknya sedang mencuci piring bekas makan pembeli sebelumnya.
"Kak, kayaknya cowok itu suka sama kakak deh"kata Almira.
"Hah?" Asmara bingung dengan perkataan adiknya.
"Itu loh cowok yang selalu bantuin kita jualan. Kak...eemm...oh...Kak Bara"sambung Almira.
Asmara juga kadang berpikir kenapa Bara begitu perhatian kepada dia. Tapi sikapnya yang dingin dan cuek bahkan kadang wajahnya tidak berekspresi membuat Asmara harus menepis rasa senang ketika diperhatikan oleh Bara. Mengingat dari mana dia berasal, dan jika dilihat walaupun Bara mengaku sebagai karyawan tapi penampilannya menunjukkan bahwa dia orang berada membuat Asmara harus sadar diri.
"Hahaha...ngaco kamu. Dia itu orang elit, mana mungkin mau sama orang miskin kayak kakak"balas Asmara tertawa.
"Katanya cinta tidak memandang usia, status sosial, dan kedudukan"lanjut Almira.
"MITOS!!!"teriak Asmara yang membuat Almira terkejut dnegan suara kakaknya.
"Ih Kak, nggak usah pakai teriak juga kali. Al nggak budeg"balas Almira.
"Ya udah mending kamu pulang sana. Belajar yang rajin, sebentar lagi kamu ujian. Biar kakak yang jaga warung, sebentar lagi mienya juga habis"perintah Asmara.
Almira pun meninggalkan warung mie ayamnya dan kembali ke rumah untuk belajar.
*****
Kini Dion sedang merayu Rara agar dia mau mengembalikan HP miliknya. Saat jam kerja Rara akan memberikan HP itu apda suaminya. Tapi jika di rumah dia akan menyitanya kembali. Karena dia kesal suaminya lebih memilih bermain game ketimbang istrinya. Ini semua karena racun setan dari Nendra.
"Sayangku, cintaku, bidadariku, istriku, Mas minta HPnya dong. Siapa tahu ada yang penting"pinta Dion.
"Nggak ada yang penting. Toh Si Dimas nggak chat kamu kan? Nggak usah alesan deh, aku udah bilang jangan main game terus. Kamu ini malah ketularen Nendra"tukas Rara kesal.
Dion akhirnya pasrah karena tidak bisa membujuk istrinya. Daripada dia tidak mendapat jatah lebih baik dia mengalah dan memilih keluar dari kamar membiarkan istrinya menikmati waktu sendiri. Dion berjalan menuruni tangga dan melihat tiga anak-anak Isyan sedang menonton TV bersama. Dia pun menghampiri mereka dan ikut duduk.
"Papi kenapa?"tanya Nanda.
"Disuruh tidur di luar?"sambung Apsara.
"Nggak. HP papi, nggak dibalikin sama mami kalian. Gara-gara tukang es cincau ini sih setan penghasut bikin papi kecanduan game"omel Dion memukul paha Nendra.
__ADS_1
Nendra menjerit ketika pukulan Dion mendarat mulus di pahanya.
"Sakit Pi. Ini paha mulus aku ternodai"ujar Nendra dengan gaya manja.
"Kalau kamu bukan anaknya Isyan, udah papi buang kamu ke tong sampah. Dasar kunyuk!"teriak Dion.
Nanda dan Apsara tertawa terbahak-bahak mendengar perkelahian ayah dan anak ini. Walaupun bukan anak kandung, Dion tetap menyayangi anak-anak Isyan seperti Isyan menyayangi anak-anaknya. Apalagi mengingat perjuangan Isyan dulu untuk mendapatkan Arya kembali.
"Kalian nggak belajar?"tanya Dion.
"Aku lagi nggak ada tugas Pi. Pak Joko nggak ngasih tugas, katanya mau pensiun"jawab Nanda.
"Kamu?" Dion melirik tajam ke arah Nendra.
"Aku belajar? Hahahaha...." Nendra berbicara mengikuti gaya salah satu iklan shampo yang sedang viral dengan brand ambassadornya Anggun.
"Pi, mending papi tunjuk Nendra jadi model produk shampo perusahaan kita. Kayaknya dia berbakat jadi model deh"celetuk Apsara.
Dion menatap jijik ke arah Nendra sambil menunjuk, "Dia? Jadi model? Hahahah....nggak mungkin. Langsung papi usir dari kantor." Dion membalas tak kalah sengit hingga membuat Nanda terus tertawa.
*****
Malam sudah semakin larut, dan ini sudah pukul sepuluh malam. Asmara sudah selesai membereskan dagangannya dan siap kembali ke rumah. Baru saja dia menempatkan gerobaknya di depan rumah datanglah seorang pria menghampiri dia.
"Hai Asmara sayang." Suara pria itu membuat Asmara terperanjat dan refleks menjauh.
"Toni, mau apa kamu?"bentak Asmara.
Toni adalah anak Juragan Kirno, salah satu orang kaya di kampung ini. Semasa hidup ayah dan ibunya memiliki hutang kepada Juragan Kirno untuk modal berjualan mie ayam dan biaya sekolah Almira. Tapi sayangnya bunga pinjaman yang terlalu besar membuat hutang kedua orang tuanya tak kunjung lunas.
"Tentu saja menemui calon istriku"kata Toni mencolek dagu Asmara yang langsung ditepis olehnya.
"Jangan pernah menyentuhku. Dan aku bukan calon istrimu. Itu tidak akan pernah terjadi"tegas Asmara.
"Oh ya? Lalu bagaimana kamu melunasi hutang orang tuamu? Kamu kan miskin? Sudahlah menikah saja denganku, aku ini kaya"ujar Toni dengan sombong.
"Cih...sampai mati pun aku tidak sudi menikah dengan laki-laki bejat sepertimu"teriak Asmara masuk ke dalam rumah lalu membanting pintu.
Dia langsung terduduk di lantai, menangkup wajahnya dengan telapak tangannya dan menangis. Almira mendengar keributan di luar langsung keluar kamar dan dia mendengar semuanya. Almira ikut sedih, dia mendekati Asmara dan memeluk kakaknya hingga membuat dia ikut menangis juga.
"Sabar ya, Kak. Kita pasti kuat kok. Aku selalu ada buat kakak"kata Almira.
*****
Keesokan harinya, Bara sudah bertemu dengan Dafa di cafe. Dan Dafa menyerahkan formulir pendaftaran beasiswa kedokteran kepada Bara. Dan setelah itu Bara langsung pergi ke rumah Asmara untuk bertemu dengan Almira karena hari ini hari Minggu, tentu gadis itu tidak ke sekolah.
"Beasiswa?" Almira sampai melotot saat membaca kertas yang dia pegang.
"Kamu coba ikut tes penerimaan beasiswa di kampus itu"kata Bara.
"Tapi Kak, Universitas Atma Jaya itu kampus mahal, dan kebanyakan anak-anak orang kaya yang kuliah di sana"ucap Almira dengan tatapan sendu.
"Iya Bara. Walaupun Almira ikut beasiswa tapi pasti jurusan kedokteran memerlukan biaya tambahan nanti"sambung Asmara.
"Aku akan bantu nanti"jawab Bara singkat.
"Aku nggak yakin Kak"kata Almira ragu.
"Tapi Kak, Almira nggak punya buku buat belajar tes kedokteran. Kalaupun beli bukunya pasti mahal banget"balas Almira yang kembali sedih.
Bara kembali berpikir bagaimana cara dia bisa mendapatkan buku-buku kedokteran. Dan seketika dia langsung teringat dengan Langga.
*****
Sementara hari libur dimanfaatkan oleh keluarga sultan ini untuk berkumpul bersama keluarga. Arya sedang menyuruh Langga dan Nendra untuk mencuci mobil mereka sendiri. Bukannya karena pekerja sedang libur, tapi karena Arya melatih kemandirian dan disiplin kepada anak-anaknya. Tidak mau mereka menjadi manja hanya karena lahir dari keluarga kaya.
"Nen, itu rodanya digosok juga. Kamu itu pakai mobil ke kampus apa ke hutan sih, masa ban mobilmu banyak tanahnya"tegur Langga.
"Airlangga yang paling ganteng sekandang jerapah, dengerin ya...kerak bumi teksturnya itu berasal dari tanah ya jelas lah ban mobil ini nginjek tanah. Bukan nginjek harga diri orang"balas Nendra.
BYURR
Langga menyemprotkan air dari selang ke arah Nendra, dan tentu saja Nendra tak tinggal diam. Dia juga membalas ulah Langga hingga terjadilah perang air di antara mereka.
"LANGGA, NENDRA!!"
Seseorang berteriak karena dia terkena semprotan air dari mereka berdua. Dan kedua bocah itu menoleh ke arahbsunber suara di mana mereka melihat Si Kutub Utara menatap tajam ke arah mereka yang bajunya sudah basah kuyup.
"Maaf Kak"kata mereka sambil menjewer telinga mereka sendiri.
"Untung adik!"geram Bara lalu masuk ke rumah.
Kedua bocah itu hanya memandang kepergian kakak mereka dengan tatapan takut.
"Kak Bara kalau marah serem ya"ujar Nendra.
"Sereman Kak Apsa tahu. Dia bisa diam selama seminggu. Dan diamnya Kak Apsa pasti bikin Kak Bara ketar-ketir"balas Langga yang memang sudah tahu kebiasaan kedua kakak kutubnya.
Bara berjalan memasuki rumah dengan wajah kesal sambil mengibaskan bajunya yang basah karena ulah dua adiknya.
"Bar, kamu dari mana?"tanya Apsara yang kini sedang ada di ruang makan bersama Nanda. Mereka berdua sedang meletakkan beberapa cemilan di meja.
"Habis ketemu Dafa."
"Kenapa baju kakak basah? Kakak habis berenang?"tanya Nanda polos.
"Ini semua gara-gara dua bocah tengil itu. Nyuci mobil sambil perang air, akhirnya kena baju aku"jelas Bara.
"Ya udah sana ganti baju"perintah Apsara.
Bara pun menaiki tangga dan pergi menuku ke kamarnya.
"Kak, Dafa itu siapa?"tanya Nanda.
"Dafa itu sahabatnya kakak dan Bara"jawab Apsara.
"Sahabat? Sejak kapan kalian berdua punya sahabat? Teman aja nggak punya?"seru Nanda tak yakin.
"Penghinaan! Dia itu sahabat kita dari SMP. Kalian bertiga memang nggak pernah tahu karena kita nggak pernah ngajak Dafa ke sini, soalnya kita lebih banyak menghabiskan waktu di tempat bimbel atau tempat les musik"jelas Apsara.
__ADS_1
Nanda hanya manggut-manggut saja mendengar penjelasan kakaknya. Karena memang dia tidak pernah tahu kalau kakaknya memiliki teman.
*****
Setelah makan malam usai, Bara menghampiri Langga yang ada di kamarnya untuk meminjam buku saat dia tes masuk kedokteran.
"Lang."
"Hei Kak. Masuk."
Bara masuk ke kamar Langga dan dia duduk di tepi ranjang. Bara tahu kalau adiknya memiliki perpustakaan pribadi di dalam kamarnya di mana dia memiliki rak buku di sudut kamarnya.
"Kenapa Kak?"tanya Langga.
"Kakak pinjam buku kamu yang kamu pakai buat tes kedokteran."
Langga terdiam beberapa detik sebelum akhirnya dia melongo dan menganga mendengar perkataan kakaknya. Untuk apa kakaknya meminjam bukunya? Sejak kapan kakaknya tertarik dengan dunia kesehatan? Banyak pertanyaan muncul di kepalanya sekarang.
Langga memegang kening kakaknya lalu berkata, "Kakak nggak lagi kena santet kan?"
Pertanyaan itu langsung dibalas pukulan di kening Langga oleh Bara.
"Ngaco kamu. Memang setan mana yang berani deketin kakak"tugas Bara.
"Nggak ada. Orang kakak aja kayak setan"lirih Langga.
"Kakak dengar Lang"tandas Bara dengan tatapan tajam.
"Iya iya, aku ambilin. Sabar dong"gerutu Langga.
Langga turun dari kasur lalu menuju rak bukunya mengambil tujuh buku yang dia pakai untum tes masuk kedokteran.
"Nih Kak." Langga menyerahkan biku-buku itu kepada Bara.
Bara langsung tersenyum sambil memandangi tumpukan buku itu.
"Makasih." Bara langsung bergegas keluar dari kamar adiknya sebelum bocah itu sempat bertanya macam-macam.
*****
"Mas..." Isyan memanggil suaminya yang baru saja berganti baju dengan piayama.
"Ya sayang. Kenapa?" Arya menghampiri istri tercintanya yang sedang bersandar di sandaran kasur.
"Apa nggak papa, kalau Apsa masuk ke perusahaan sebagai karyawan?" Isyan merasa cemas jika terjadi sesuatu pada putrinya, mengingat belum ada yang tahu tentang Apsara.
"Kenapa kamu harus khawatir. Dia itu sudah terlatih untuk menghadapi berbagai macam masalah, karena dia anak yang mandiri, tegas, dan disiplin. Seharusnya kamu sebagai ibunya paham, kalau pasti dia memiliki tujuan khusus menjadi karyawan di perusahaannya sendiri"jelas Arya.
"Iya, aku paham tapi..."
"Sayang..." Kini Arya menarik Isyan ke dalam dekapannya dan mengeratkan pelukannya.
"Sama seperti kamu dulu, mengambil resiko menyamar menjadi Ratna untuk mengetahui tentang aku. Kamu selalu berani mengambil tindakan apapun walaupun beresiko. Dan seperti itulah putri kita"lanjut Arya penuh pengertian.
"Mas kamu merasa aneh nggak sih sama Bara akhir-akhir ini. Dia kayak lagi sibuk sendiri. Maksudku ada sesuatu gitu"kata Isyan.
"Humph..." Arya mencoba berpikir dan mencerna perkataan Isyan. Dia juga merasa jika Bara sedang melakukan sesuatu yang tidak diketahui.
"Biarin aja, nanti juga ketahuan sama Apsara"kata Arya sambil terkekeh.
"Kenapa Apsa?"
"Kamu lupa ya, apa pun yang Bara sembunyikan dari kita pasti Apsa yang akan tahu lebih dulu. Dan dia akan ngomel-ngomel karena Bara berani main rahasia-rahasiaan"lanjut Arya.
"Mereka berdua memang duplikatnya aku sama Dion"balas Isyan dengan tawa.
*****
Bara sudah mendapatkan buku milik Langga, maka dari itu dia langsung pergi ke warung mie ayam Asmara untuk memberikan buku itu pada Almira. Baru saja dia turun dari mobil, Bara harus melihat ada pelanggan pria yang menggoda Asmara. Beberapa kali pria itu memberi tatapan mesum kepada Asmara dan membuat Bara emosi. Dia langsung berjalan cepat ke warung Asmara.
"Hei!"tegur Bara memukulkan buku tebal pada pundak pria itu.
Pria itu langsung kaget dan terloncat saat bahunya dipukul.
"Pria tidak tahu malu, kalau sudah selesai makan pergi dari sini!"kata Bara dengan tatapan dingin dan misterius.
Pria itu langsung gelagapan saat mendapat tatapan itu dari Bara. Dia yakin orang yang dia hadapi bukan orang sembarangan, jadi pria itu memilih untuk cepat menghabiskan mie ayamnya lalu pergi.
"Kamu ini apa-apaan sih? Kasar banget jadi orang"ujar Asmara kesal.
"Oh jadi kamu suka kalau digoda oleh pria lain?"tanda Bara masih dengan tatapan dingin.
Asmara langsung diam saat Bara memberi tatapan laser kepadanya. Dia lebih memilih mengacuhkan dan melanjutkan pekerjaannya.
"Al."
"Iya Kak." Almira yang dipanggil Bara langsung mendekat.
"Ini buku yang kamu butuhkan. Pelajari baik-baik"kata Bara memberikan tumpukan buku itu pada Almira.
"Wah, makasih ya Kak"ucap Almira begitu bahagia.
Bara tak menjawab bahkan ekspresinya masih sama. Karena dia masih merasa kesal dengan kejadian tadi. Bagaimana bisa Asmara diam saja saat dia digoda oleh laki-laki muka mesum itu. Setelah memberikan buku itu pada Almira, Bara langsung pergi tanpa pamit. Dan hal itu membuat Asmara sedih dan merasa bersalah.
"Kakak kenapa?"tanya Almira.
"Kakak tadi keterlaluan nggak sih ngomongnya?"tanya Asmara.
"Ya iyalah Kak. Kak Bara itu nggak suka lihat pria tadi nggodain kakak. Gimana sih?"gerutu Almira.
"Terus gimana"
"Ya bodo amat. Itu urusan kakak. Aku mau pulang. Mau belajar"ujar Almira lau pergi meninggalkan warung.
Bara berkali-kali memukul setir mobil karena merasa tidak suka ada pria lain yang menatap bahkan sampai menggoda Asmara.
"Dasar wanita bodo! Kenapa dia harus diam saja saat ada pria yang menggodanya"geram Bara.
"SHIT!!"
__ADS_1
Bara terus mengumpat tanpa henti hingga sampai ke rumah kembali.