
Keesokan harinya, Asmara menemukan calon ibu mertuanya, Rara sudah berada di rumah Surya sedang menyiapkan sarapan untuknya. Tentu saja Asmara terkejut kerena dia diperlakukan sangat baik oleh keluarga Bara. Dan setelah kedatangan Rara, Langga pun menyusul datang ke rumah Surya. Dia sengaja datang untuk menjemput Almira berangkat ke kampus bersama.
Sebelumnya, Langga sudah berbicara kepada keluarganya kalau dia sudah menyukai Almira diawal pertemuan mereka di kampus. Langga berniat mendekati gadis itu. Awalnya Langga takut jika Bara tidak menyetujuinya, karena Almira adalah adik kandung calon kakak iparnya.
Tapi Arya, kembali mengingatkan anak-anaknya tentang bagaimana hubungan dia dan Rara kemudian Dion yang menikahi Rara. Walaupun sudah mendapat restu, Langga hanya boleh menikahi Almira jika dia sudah menyelesaikan pendidikan S1-nya.
Setelah selesai sarapan, Rara mengajak Asmara ke Prada Resto. Malam sebelumnya Apsara bercerita kalau Asmara memiliki warung mie ayam yang rasanya sangat enak. Dan Apsara mengusulkan ide kalau mie ayam buatan Asmara dijadikan salah satu menu direstoran milik keluarganya. Hitung-hitung sebagai sarana kegiatan bagi Asmara. Dan mengembangkan jiwa bisnisnya. Mengingat dia akan jadi menantu dari keluarga bisnis.
*****
Selepas jam kantor berakhir, Sanjaya sengaja mengajak Apsara untuk makan di sebuah restoran yang tidak jauh dari kantor. Sanjaya semakin berusaha untuk mendekati Apsara. Walaupun wanita itu terlihat biasa-biasa saja alias selalu memasang wajah datar. Tapi Sanjaya tahu itu semua Apsara lakukan untuk menahan rasa malunya.
Dan setelah menyelesaikan pekerjaan kantor, Sanjaya langsung mengajak Apsara ke restoran menggunakan mobilnya. Sesampainya di restoran, Sanjaya ternyata sudah membooking meja khusus yang dekat dengan area taman yang terdapat kolam ikan. Apsara bertanya-tanya kenapa laki-laki satu ini begitu bersemangat mengajaknya makan.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Apsara sambil membuka-buka buku menu.
"Katanya menu andalan di restoran adalah lobster. Apa kamu mau coba?" tawar Sanjaya.
"Boleh juga. Aku sudah lama tidak makan lobster. Aku juga mau salad dan jus mangga" balas Apsara.
"Mba, kami pesan satu porsi lobster jumbo, salad dua porsi, jus mangga satu, dan cappucino ice satu" ujar Sanjaya pada pelayan yang sedang menuliskan pesanan dia.
Setelah selesai menulis menu yang dipesan Sanjaya, pelayan itu pun pergi. Sanjaya terus memandangi wanita yang ada di depannya.
"Berhenti menatapku!" tegas Apsara menyembunyikan rasa malunya.
"Aku kan punya mata, jadi suka-suka aku mau menatap apa" balas Sanjaya santai.
Tak berapa lama kemudian makanan pesanan mereka pun datang. Dengan telaten Sanjaya mengopek cangkang lobster dan menghidangkan daging lobster kepada Apsara di piringnya.
"Ini makanlah" ujar Sanjaya singkat saat meletakkan daging lobster di piring Apsara.
Apsara terdiam beberapa detik memandangi daging lobster yang terhidang di piringnya. Dia berpikir begitu inisiatif sekali laki-laki satu ini. Mungkin lebih tepatnya perhatian, karena Apsara sendiri selalu kesulitan jika makan makanan seafood yang bercangkang.
Tentu saja Apsara terbawa perasaan dengan perhatian dari Sanjaya. Apsara menyuapkan daging lobster itu ke dalam mulutnya dan ekspresinya berubah karena rasa enak yang meledak di mulutnya. Sanjaya tersenyum melihat ekspresi polos Apsara saat mengekspresikan makanan enak yang jarang dia lihat sebelumnya.
Mereka berdua pun sudah menyelesaikan acara makan bersama. Sanjaya berniat ingin mengutarakan perasaannya kepada Apsara.
__ADS_1
"Sa..." panggil Sanjaya.
"Ya" balas Apsara singkat.
"Aku ingin berbicara hal penting dengan kamu" kata Sanjaya.
"Hal penting? Apa? Masalah perusahaan?" tanya Apsara.
"Oh bukan. Bukan itu" seru Sanjaya.
"Lalu apa?" balas Apsara yang mulai merasa bingung.
"Aku sudah lama ingin mengatakan ini tapi aku takut kalau setelah aku mengatakan ini kamu akan menjauhiku. Tapi setelah aku pikir-pikir sangat tidak gentleman jika aku tidak siap menerima semua resikonya nanti" ujar Sanjaya begitu yakin.
Apsara masih diam dan mendengar drngan baik setiap kata yang diucapkan Sanjaya.
"Aku sudah lama menyu..."
"Sanjaya." Tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggil nama Sanjaya. Mereka berdua langsung menoleh ke sumber suara. Betapa terkejutnya Sanjaya saat melihat ayahnya berada di restoran yang sama dengannya.
Apsara terkejut, saat Sanjaya memanggil Wisnu dengan sebutan ayah. Walaupun suaranya lirih tapi Apsara masih bisa mendengarnya dengan jelas.
"Sanjaya, kamu di sini juga? Ayah senang sekali bisa bertemu dengan kamu" ujar Wisnu.
"Apsa, ayo kita pergi" ajak Sanjaya meraih tangan Apsara dan sudah beranjak dari kursinya.
"Tunggu, Nak. Beri ayah kesempatan untuk menjelaskan semuanya" cegah Wisnu meraih kedua bahu Sanjaya.
Sanjaya memalingkan wajahnya dari Wisnu. Apsara yang paham situasi genting seperti ini langsung melangkah dan berdiri di sisi Sanjaya.
"Aku tidak tahu masalah apa yang kamu miliki dengan ayah kamu. Tapi alangkah lebih baik jika kamu memberi dia kesempatan untuk berbicara, Sanjaya" jelas Apsara terdengar lembut.
Wisnu menatap Apsara beberapa detik. Dia tentu masih ingat dengan perempuan yang sering bertemu dengannya di kantor Wijaya Group. Wisnu berpikir bahwa Sanjaya dan perempuan itu memiliki hubungan khusus.
Sanjaya menoleh ke arah Apsara, dan Apsara memberi anggukan sebelum berkata, "Aku akan tunggu kamu di luar. Gunakan waktu kamu dengan baik," lanjutnya sambil tersenyum manis.
Apsara beranjak pergi meninggalkan Sanjaya bersama Wisnu. Dia memutuskan untuk menunggu Sanjaya di mobil saja.
__ADS_1
Setelah kepergian Apsara, Wisnu dan Sanjaya duduk saling berhadapan. Sanjaya masih dengan sikap acuh dan dingin. Tapi Wisnu tak gentar untuk terus mencoba meluluhkan hati anaknya itu.
*****
Apsara baru saja meninggalkan teras restoran dan sedang menyeberang menuju mobil milik Sanjaya. Tiba-tiba Apsara mendengar suara HP-nya berdering. Sambil berjalan Apsara mengambil HP dari dalam tas. Tanpa Apsara sadari ada sebuah motor yang melaju ke arahnya dengan kecepatan tinggi.
BRAAAGHHHHH
"Aaaaa!!!"
Dengan kilat motor itu menubruk Apsara, hingga tubuhnya membentur badan motor sangat keras. Tubuh Apsara langsung terhempas cukup jauh dari tempat semula dia berdiri. Pengendara misterius itu langsung melarikan diri dan meninggalkan Apsara yang sudah bersimbah darah tergeletak di jalan.
"Hei ada kecelakaan!!"
Para pengunjung restoran yang kebetulan berada di teras restoran langsung berlari mendekati Apsara.
Kehebohan terjadi hingga mengundang kepanikan orang-orang yang berada di dalam restoran. Sanjaya dibuat bingung dengan keributan yang terjadi. Dia pun hendak bertanya kepada salah satu pengunjung yang hendak keluar dari restoran.
"Ini ada apa?" tanya Sanjaya.
"Ada seorang wanita yang menjadi korban tabrak lari" jelas orang itu.
"Wanita?" Sanjaya berpikir tentang perkataan orang tadi. Dan entah kenapa dia teringat dengan Apsara. Sanjaya pun hendak beranjak pergi.
"Sanjaya kamu mau ke mana?" tanya Wisnu.
"Aku ada urusan!" teriak Sanjaya tak peduli.
Sanjaya langsung berlari cepat. Dia melihat kerumunan di pelataran restoran. Sanjaya langsung menerobos kerumunan itu dan betapa terkejutnya dia saat melihat kondisi Apsara yang sekarat.
"APSARAAA!!!" Sanjaya berteriak sekeras-kerasnya lalu terduduk dan memangku kepala Apsara.
"Apsa, bangun!" jerit Sanjaya.
"Bantu aku membawa dia ke dalam mobil" tegas Sanjaya merasa emosi kepada orang-orang yang bukannya menolong Apsara tapi justru hanya menonton saja.
Beberapa orang laki-laki membantu mengangkat tubuh Apsara dan memasukkannya ke dalam mobil Sanjaya. Dengan cepat Sanjaya melajukan mobilnya ke rumah sakit terdekat.
__ADS_1