Pengorbanan Cinta 2

Pengorbanan Cinta 2
Bab 7


__ADS_3

Setelah makan malam usai, seperti biasa Apsara dan Bara akan ke perpustakaan untuk membaca buku. Mereka tidak pernah lelah untuk membaca buku, bahkan mereka juga membaca buku dengan berbagai macam bahasa asing. Itu yang membuat mereka fasih berbahasa asing.


Tak berapa lama terdengar suara ketukan pintu yang mengalihkan padangan kedua saudara kutub itu. Hal itu dibarengi dengan masuknya Nendra dengan senyum jahil yang dia tunjukan.


"Kak, aku ganggu nggak?"tanya Nendra di depan pintu.


"Mau ganggu atau pun nggak, kamu sama aja pasti bakal bikin rusuh"balas Bara cuek.


"Hehehe...kakak tahu aja"jawab Nendra lalu menutup pintu berjalan menghampiri kedua kakaknya yang sedang duduk di sofa.


Nendra sengaja duduk ditengah-tengah Apsara dan Bara. Kemudian dia meletakkan beberapa lembar kertas di atas pahanya.


"Apaan tuh?"tanya Apsara.


"Dokumen rahasia negara"jawab Nendra.


"Hah?" Apsara terlihat bingung mendengar jawaban Nendra, sebelum adiknya memberikan kertas itu kepada dia dan Bara.


"Sebenarnya, aku nggak cuma masuk ke sistem komputer Wijaya Group tapi aku juga masuk ke sistem komputer PT. Surya, dan itu adalah hasil kerjaku. Kalian lihat dan pahami"perintah Nendra.


Dengan cepat Bara dan Apsara membaca isi kertas yang diberikan oleh Nendra. Dengan seksama mereka berdua memahami isinya.


"Kak, aku curiga ada orang dalam yang sengaja melakukan korupsi diam-diam. Sepertimya dia punya tim ahli IT hingga Kak Risko nggak sadar bahwa orang itu sudah memanipulasi data keuangan perusahaan Wijaya Group"kata Nendra menatap Apsara.


"Terus anehnya ya, di PT. Surya masa design arsitektur sederhana kayak gitu bisa minta bayaran tinggi, kan aneh? Kalau gambar kayak gitu Si Nanda juga bisa ngegambarnya. Coba deh Kak Bara tanya sama Kak Aldi"kata Nendra berbalik menatap Bara.


Aldi adalah anak Aldo, dan dia sama seperti Risko anaknya Arum yang bekerja di perusahaan keluarga sultan ini.


Bara dan Apsara sama-sama menatap Nendra dengan tatapan curiga. Bagaimana bocah tengil itu bisa seteliti dan sejenius ini, padahal dialah manusia terkonyol di keluarga sultan ini. Nendra menyadari arti tatapan kedua kakaknya hingga akhirnya dia berkata lagi.


"Kalian berdua nggak usah sok heran gitu deh. Nendra itu aslinya pinter pakai banget. Cuma kalian aja yang matanya dibutakan oleh setan-setan laknat"kerus Nendra sambil bangkit dari kursi.


Dia melangkahkan kaki menuju pintu. Dan tinggal selangkah lagi dia keluar dari perpustakaan tapi dia menghentikan langkahnya dan berbalik badan.


"Ingat ya Kak, kalian harus bisa memusnahkan kecoa-kecoa yang ada di perusahaan kita. Kalau udah berhasil jangan lupa kasih aku tambahan uang jajan"kata Nendra dengan wajah seperti om-om yang sedang merayu sugar babynya.


Bara langsung melototkan matanya, langsung mengambil bantal di sofa dan melemparkannya sekuat tenaga ke arah Nendra, tapi bocah itu sudah lebih dulu keluar dan menutup pintu.


"Adik kurang ajar!"desis Bara kesal.


*****


Setelah menemui kedua kakak kutubnya, Nendra bertemu kembarannya di koridor rumah di lantai dua. Mereka berhenti secara bersamaan dan saling berhadapan. Seperti seseorang yang bertemu mantan kekasihnya, tatapan mereka berdua seperti terkejut tapi ekspresi wajah mereka datar.


"Mau ke mana?"tanya Nendra.


"Ke kamar mama"jawab Nanda.


"Ngapain?"tanya Nendra.


"Mau nyusu"jawab Nanda asal dan langsung di balas cubitan di pipinya oleh Nendra.


"Awww sakit Nen"teriak Nanda.


"Mulut kamu itu nggak ada filter ya kalau ngomong"gerutu Nendra.


"Ya kamu juga aneh nanyanya. Aku ke kamar mama itu mau minta maaf masalah tadi pagi. Apa kamu nggak punya rasa bersalah sedikit pun, kakak kembarku?"tegas Nanda dengan tatapan tajam.


Tanpa aba-aba Nendra menggeret tangan Nanda dan mereka sama-sama pergi ke kamar Isyan. Dan ternyata pintunya terbuka dan mereka melihat Isyan yang sedang sibuk memandangi laptop.


"Mama..."panggil keduanya.


Isyan menoleh ke arah pintu dan melihat anak kembarnya berjalan menghampirinya dan mereka berdua duduk mengapitnya.


"Ma...kita mau minta maaf ya"kata Nendra memulai pembicaraan.


"Iya Ma, kita tahu kok pasti sakit kena kuah sop, mana panas lagi kayak mulut netizen"sambung Nanda yang membuat Isyan terkekeh, ada saja perkataan aneh yang dikeluarkan anak bungsunya ini.

__ADS_1


"Kalian lagi nggak ngerayu mama buat batalin hukuman kalian kan?"tanya Isyan curiga.


Keduanya kompak menggelengkan kepala dengan ekspresi penuh penyesalan.


"Nggak papa koh Ma, lagi pula kita masih punya tabungan. Kita juga nggak miskin-miskin amat"ujar Nendra asal dan Nanda langsung memukul pahanya.


"Sakit Nan..."desis Nendra.


"Kamu masih aja bisa sombong. Mentang-mentang kamu anaknya Isyana Wijaya"balas Nanda.


"Kan aku bangga jadi anaknya papa dan mama yang hebat ini"kata Nendra lalu memeluk Isyan.


"Kamu nggak mau peluk mama juga, Nan?"tanya Isyan menatap Nanda, dan anak manja itu langsung memeluk Isyan juga.


"Mama sayang dan bangga sama kalian. Mama nggak papa kok, cuma luka kayak gitu sih kecil buat mama"kata Isyan dengan enteng.


Arya masuk ke dalam kamarnya dan melihat pemandangan indah ketika istrinya sedang dipeluk kedua anaknya. Senyum terukir di wajah tampannya. Arya pun berjalan mendekati mereka.


"Cuma mama aja nih yang dipeluk. Papa nggak?"sindir Arya dengan wajah cemberut.


Si Kembar saling menatap lalu mereka berdiri dan memeluk Arya bersamaan.


"Udah sana kalian belajar yang rajin"kata Arya dengan nada mengusir.


"Papa ngusir kita?"tanya Nanda.


"Kalian ini nggak tahu apa papa itu pengin mesra-mesraan sama mama kalian"ujar Arya menatap Isyan dengan tatapan menggoda.


"Emang kalau papa sama mama mesra-mesraan bakal ngapain lagi?"tanya Nendra super duper polos.


Nanda menepuk dahinya sambil mengehal napas kasar. Ini Nendra yang kelewat pintar atau dia nggak pernah merhatiin guru saat menjelaskan pelajaran IPA materi reproduksi, masa begitu saja tidak tahu, pikir Nanda.


"Astaga naga dragon ball, kamu itu cowok normal bukan sih?"bentak Nanda gemas.


"Ya normal dong. Buktinya kalau aku bukan kembarannya kamu, pasti aku udah pacarin kamu dari dulu"balas Nendra bersungut-sungut.


"Kalaupun aku bukan kembarannya kamu, aku juga nggak mau jadi pacar kamu"tegas Nanda.


"Kenapa Nan? Nendra kan ganteng, kaya, pintar lagi"ujar Arya sambil tertawa.


"Kaya? HELLOWW! Masih kaya Kak Bara kemana-mana kali"ejek Nanda yang berhasil membuat nyali Nendra menciut.


"Udah nggak usah berantem. Sana-sana kalian pergi. Emang kalian nggak mau punya adik lagi?"kata Arya merayu kedua anaknya.


"Mas, kamu ngomong apa sih? Ngawur deh"gerutu Isyan dengan wajah malu.


"Oohh buat adik..." Akhirnya setelah sekian lama akhirnya Nendra mengerti kenapa papanya mengusir dia dan Nanda.


"Iihh Papa reseh deh..."gerutu Nanda saat Arya memaksa mereka berdua keluar.


"Husshh...husshh.....sana!!" Arya pun menggiring Si Kembar layaknya menggiring anak ayam masuk ke kandangnya, lalu dengan cepat Arya mengunci pintu kamarnya. Isyan mengernyitkan dahinya saat suaminya berjalan mendekatinya dengan tatapan menggoda.


"Mas, anak-anak kamu itu bukan ayam loh"tegur Isyan sambil tertawa.


"Yuk, kasih Nanda sama Nendra adik lagi"sela Arya duduk di sebelah Isyan sambil memeluknya.


"Aku udah tua, Mas"kata Isyan.


"Tapi kamu masih manis dan legit"ucap Arya begitu manja seraya mengusel-ngusel kepalanya pada dada Isyan.


Tanpa sadar Arya sudah mengangkat kaus yang dipakai Isyan dan bahkan Arya sudah menghujani wajah Isyan dengan ciuman bertubi-tubi, dan sekarang Isyan sudah tidak bisa bergerak ketika suaminya sudah memenjarakan dia dalam dekapannya.


*****


"Kembar!"panggil Langga saat bertemu Si Kembar di koridor rumah.


"Kalian kenapa cemberut?"tanya Langga saat melihat kedua saudaranya memanyunkan bibir.

__ADS_1


"Kita diusir sama papa dari kamar. Katanya dia mau bikin adik lagi"ketus Nanda sambil melipat kedua tangannya.


Mendengar pengaduan Nanda, Langga langsung tertawa terbahak-bahak bahkan sampai memegangi perutnya. Melihat ekspresi Nanda, dia seperti melihat anak kecil yang sedang dibohongi oleh orang tuanya agar mau tidur siang.


"Nggak bakal ada adik lagi di rumah ini. Umur mama itu udah masa menopause"kata Langga dengan jiwa dokternya.


"Bukan masalah ada adik atau enggak. Tapi masalahnya cara papa ngusir kita itu kayak ngusir anak ayam"gerutu Nendra.


"Kalian kan emang kayak anak ayam, berisik sukanya adu mulut kayak lagi sidang kasus kopi sianida"ucap Langga.


"Astaga, untung Langga ngomongin sidang, aku ada tugas analisis kasus pidana. Oke aku ke kamar dulu. Bye guys"kata Nanda mencium pipi Nendra lalu bergantia mencium pipi Langga dan akhirnya dia menghilang masuk ke kamarnya.


"Kalau bukan adikku, udah aku pacarin dia"tukas Nendra.


"Ini udah yang ke 2.304.678.951 kali kamu ngomong kayak gitu ke aku. Sampai aku bosen dengarnya tahu"sarkas Langga kesal lalu meninggalkan Nendra sendirian.


*****


"Sepertinya aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan pada Wijaya Group" Apsara meletakkan kertas pemberian Nendra di atas meja.


"Hhmm..." Bara pun mengerti dia harus berbuat apa pada perusahaan Arya.


"Everything will be end!"tegas Apsara dengan tatapan tajam.


Tiba-tiba HP Bara berbunyi, sepertinyanada telpon masuk. Dia pun mengangkat telponnya dan mulai bicara.


"Halo Daf.."


"Halo Bar, kamu apa kabar?" Ternyata Dafa yang menelpon Bara.


"Kabar aku baik, bagaimana dengan kamu?"


"I'm fine too. Aku dengar dari Tante Rara kalau kamu dan Apsa sudah pulang ke rumah."


"Ya, kami baru sampai lusa kemarin. Apa kamu juga baru pulang ke Jakarta?"


"Betul. Oh ya bagaimana kalau besok kita bertiga nongkrong di tempat biasa kita ketemuan dulu."


Bara mengernyitkan keningnya lalu menoleh ke arah Apsara yang saat ini sudah kembali membaca bukunya yang berbahasa Prancis.


"Oke, besok jam sepuluh pagi, kita ketemu di cafe biasa."


"Oke. See you there."


Panggilan telpon itu pun akhirnya berakhir.


"Dafa telpon dan dia mengajak kita untuk ketemu"ucap Bara memulai pembicaraan.


Apsara mengalihkan pandangannya dari buku itu lalu menoleh ke arah Bara dengan tatapan dingin.


"Aku sudah dengar"jawab Apsara singkat.


"Apa kamu masih memiliki masalah dengan perasaan Dafa terhadap kamu?"tanya Bara hati-hati.


Percintaan adalah masalah paling sensitif bagi seorang Apsara. Dia adalah wanita yang paling sulit disentuh. Bahkan, mungkin Dafa adalah orang asing pertama yang bisa tahan dengan sikap dingin Si Kutub Selatan ini.


"Aku tidak pernah mempermasalahkan perasaan dia terhadapku. Aku pun sudah mengatakan kepada dia, kalau aku tidak bisa membalas perasaannya"tegas Apsara.


"Why? Selama ini dia begitu baik dan perhatian sama kamu? Apa tidak pernah terbesit di pikiranmu untuk mencoba menyukai dia?"tanya Bara.


"Dafa Atma Jaya adalah laki-laki pertama yang berani menyatakan perasaannya pada perempuan seperti aku. Tapi sayangnya dia tidak cukup kuat untuk menaklukan Kutub Selatan"tutur Apsara yakin.


"Ya aku paham, perasaan memang tidak bisa dipaksakan. Kamu masih mau menjaga persahabatan kita bertiga saja aku sudah sangat bersyukur. Aku tahu kamu punya pemikiran dewasa, di mana kamu tidak ingin persahabatan kita dengan Dafa hancur hanya karena rasa suka dia terhadap kamu"ucap Bara dengan penuh pengertian.


Perkataan Bara membuat Apsara menghela napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan-lahan. Dia pun berdiri dari sofa dan mengambil lima langkah maju kemudian dia berhenti dan berbalik badan.


"Besok kita bicarakan masalah keputusan kita akan bekerja di perusahaan kepada orang tua kita. Aku mau ke kamar dulu. Good night, Bara"ujar Apsara lalu melangkah pergi.

__ADS_1


"Good night"balas Bara saat Apsara sudah menutup pintu perpustakaan.


__ADS_2