Pengorbanan Cinta 2

Pengorbanan Cinta 2
Bab 52


__ADS_3

Rara bersama menantu dan anak-anaknya sudah selesai membuat beberapa kue, puding, dan minuman. Mereka semua membawanya menuju meja makan. Tak berapa lama Arya dan Isyan berserta Bara dan Apsara sudah turun dan ikut bergabung di meja makan.


"Zahra kamu mau pulang dianter sama Kak Bara atau Kak Apsara?" tanya Arya.


"Kenapa nggak Nendra aja yang nganterin" protes Nendra.


Dion tiba-tiba menyentil pelan telinga Nendra kemudian berkata, "Kalau kamu yang nganterin Zahra bukannya dia sampai rumah yang ada kamu sasarin dia ke KUA" omel Dion dengan nada bercanda.


"Haha papi bisa aja" ucap Nendra malu-malu.


"Nggak usah om. Tadi Kak Dafa telepon katanya dia mau jemput aku" kata Zahra.


"Oh bagus kalau gitu" seru Arya.


Acara makan bersama pun berlangsung dengan sendu gurau dan candaan yang begitu hangat di antara mereka semua. Setelah acara makan bersama selesai, Bara berpamitan ingin pergi karena ada urusan.


"Asmara, aku pergi dulu karena ada urusan. Kamu sama Almira di sini aja" ucap Bara.


"Iya Mas" seru Asmara.


Akhirnya Bara pun pergi meninggalkan rumah orang tuanya. Setelah itu, giliran Zahra yang akan dijemput oleh Dafa. Dia ditemani oleh Nanda dan Apsara menunggu di teras depan rumah. Tak berapa lama masuklah mobil milik Dafa ke pelataran rumah keluarga Wijaya.


"Hai semuanya" sapa Dafa sambil berjalan menghampiri ketiga wanita itu.


"Hai Daf. Apa kabar?" tegur Apsara.


"Aku baik" balas Dafa sambil tersenyum.


"Dih pakai senyum-senyum segala. Awas loh kak, nanti naksir sama kakak aku. Dia udah punya pacar loh" sela Nanda dengan wajah menjengkelkan.


Apsara langsung beruubah ekspresinya menjadi datar dan dingin setelah mendengar perkataan Nanda. Begitu juga dengan Dafa. Dia melirik ke arah gadis itu. Menatapnya dengan seksama dan teringat dengan ucapan kakeknya tadi pagi.


"Nanda nggak boleh ngomong kayak gitu ya" tegur Apsara.


"Apa pakai melotot-melotot segala. Cuma bilang kayak gitu aja dipelototin" gerutu Nanda membalas dengan mendelikkan matanya juga.


"Ayo kita pulang" ajak Dafa menarik tangan Zahra.


"Bye Nanda, bye Kak Apsara" ucap Zahra melambaikan tangan.


"Hati-hati, Zah" teriak Nanda melambaikan tangan pada Zahra.


Dafa menjalankan mobilnya dan pun meninggalkan kediaman keluarga Wijaya. Kedua wanita itu pun masuk ke dalam rumah bersama-sama.

__ADS_1


"Mara, bisa ikut aku sebentar" ucap Apsara.


Asnara yang sedang duduk di ruang keluarga sedikit terkejut, "Iya" jawab Asmara.


Apsara menaiki tangga dengan diikuti oleh Asmara yang berada di belakangnya. Sesampainya di kamarnya, Apsara mengajak saudara iparnya untuk masuk ke dalam kamarnya. Betapa kagum dan terpesonanya Asmara melihat betapa mewah dan luasnya kamar milik Apsara. Lalu Apsara mendudukkan Asmara di kursi rias menghadap ke meja rias.


"Kamu mau melakukan apa?" tanya Asmara menengok ke arah Apsara.


"Aku akan memberitahu kamu pelajaran tentang make up, fashion, dan style. Kenapa aku melakukan ini?" Apsara membungkukkan badan dan menyentuh kedua bahu Asmara dan menatap ke arah cermin lalu berkata lagi, "Agar kamu lebih percaya diri. Dan tidak merasa malu dengan penampilan kamu."


"Tapi, aku tidak cocok jika berpenampilan seperti kamu" tolak Asmara.


"Kamu tidak harus jadi aku. Jadilah diri sendiri. Berpenampilan sesuai kepribadian dan karakter diri kamu. Aku hanya membantu menuntun kamu aja. Percaya sama aku" kata Apsara meyakinkan.


Akhirnya Asmara mengangguk. Dia mulai memperhatikan setiap kali Apsara menjelaskan tentang make up, berbagai gaya fashion, dan cara untuk mox and match. Dan tibalah saatnya waktu untuk meng-make over istri Bara Wijaya.


*****


"Selesai" ucap Apsara setelah membenarkan posisi rambut saudara iparmya tersebut.


Asmara menatap kagum dirinya sendiri dari pantulan cermin yang ada di hadapannya. Dia tidak menyangka jika dirinya bisa secantik ini. Apsara melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. Jam sudah menunjukkan pukul enam sore.


"Apa tidak terlalu berlebihan?" tanya Asmara.


"Apa kamu yakin?" ucap Asmara ragu.


"Dengarkan aku, Bara itu sangat mencintai kamu. Tapi, sebagai seorang wanita, kita juga harus punya berbagai cara untuk menjaga pasangan kita dari tangan jahil perempuan lain. Meskipun pasangan kita setia, tapi kita harus menunjukkan kepada mereka bahwa kita adalah wanita yang kuat dan patut ditakuti" tegas Apsara memberikan motivasi dan semangat untuk Asmara.


"Memang banyak wanita yang menyukai Bara?" tanya Asmara.


"Sejak dulu dia selalu punya banyak fans wanita. Walaupun aku sudah berpura-pura menjadi pacarnya tidak ada satu pun wanita yang menyerah mengejarnya. Apalagi saat ini belum ada yang tahu jika Bara sudah menikah" jelas Apsara.


Dia merangkul Asmara lalu berkata lagi, "Dan kamu tidak perlu khawatir. Bara itu pria yang setia. Tapi sebagai istri kamu harus lebih memperkuat posisi kamu sebagai Nyonya Wijaya" lanjut Apsara.


Asmara tersenyum sumringah mendengarkan penjelasan yang diberikan kepadanya.


Tok...Tok...Tok


Terdengar suara ketukan pintu kamar. Apsara membuka pintu dan terlihat seorang pelayan berdiri di depan kamarnya.


"Ada apa?" tanya Apsara.


"Ada seseorang di depan yang menunggu Nyonya Asmara" ucap pelayan.

__ADS_1


Asmara langsung bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu kamar.


"Menungguku? Siapa?" sela Asmara.


"Saya tidak tahu. Tapi dia seorang pria" jawab pelayan.


"Iya kami akan menemui dia" timpal Apsara.


Pelayan itu pun meninggalkan kamar itu. Asmara nampak bingung dan sedikit ketakutan.


"Kenapa? Jangan takut, tidak akam ada orang yang berani menyakiti kamu. Sebaiknya kita temui orang itu" ujar Apsara.


Mereka berdua pun keluar dari kamar. Kemudian turun ke lantai satu. Dan menemui orang yang itu di ruang tamu. Terlihat sosok laki-laki yang perkiraan berusia 50 tahunan duduk di sofa.


"Maaf anda siapa?" tanya Asmara pada laki-laki itu.


"Saya..." Belum juga sempat dia menjawab, HP Asmara berdering. Dia mendapat telepon dari suaminya.


"Halo sayang." Terdengar suara Bara dari seberang.


"Iya mas, kenapa?"


"Apa ada laki-laki yang datang menemui kamu?"


"Iya. Dia ada di sini."


"Bagus. Kamu ikut dengan dia. Pria itu adalah sopir yang aku kirim untuk menjemput kamu. Hanya kamu yang pergi. Ikuti saja dia dan biarkan Almira di rumah besar" perintah Bara.


"Memang ada apa? Aku mau diajak ke mana?" cicit Asmara.


"Sudah jangan banyak tanya. Kamu ikuti saja semua instruksiku" balas Bara.


"Baiklah." Asmara mengakhri panggilan telepon dengan suaminya.


"Kita pergi sekarang, Nyonya?" tanya pria itu.


Asmara melirik Apsara sekali lagi. Dan wanita itu memberi anggukan untuk meyakinkan Asmara lagi.


"Kita pergi sekarang" balas Asmara.


"Hati-hati ya" ujar Apsara.


Pria itu mempersilahkan Asmara melangkah terlebih dahulu. Ternyata di halaman rumah sudah terpakir sebuah mobil mercy yang siap membawa Asmara pergi. Asmara masuk ke dalam mobil dan pria itu langsung menancapkan gas kemudian pergi.

__ADS_1


"Semoga berhasil Bara" lirih Apsara tersenyum sambil memandangi kepergian istri Bara dari depan pintu rumah.


__ADS_2