
Dafa berlari masuk ke tempat check in para penumpang. Dia masih ingin memastikan jika Nanda belum benar-benar pergi. Sesampainya di gate keberangkatan, Dafa langsung menerebos masuk. Dia bahkan menabrak orang-orang yang sedang mengantri. Melihat Dafa berlari ke dalam, security pun mengejar untuk mencegat Dafa.
"Maaf Pak, apa anda memiliki tiket dan paspor?" tanya security.
"Saya tidak butuh semua itu. Saya hanya ingin bertemu dengan calon istri saya" timpal Dafa dengan suara keras.
Saking paniknya Dafa, dia sampai tidak sadar kalau dia menyebut Nanda sebagai calon istri. Dan akhirnya Dafa membuat keributan di tempat itu. Hingga kemudian beberapa staf bandara keluar dan menghampirinya.
"Maaf Pak, tolong jangan membuat keributan di sini?" tegur staf
"Saya mau masuk untuk bertemu seseorang" ujar Dafa.
"Memang anda ingin menemui siapa?" tanya staf.
"Calon istri saya naik pesawat menuju Perancis. Saya ingin memastikan apa dia sudah pergi atau belum" timpal Dafa.
"Maaf Pak, tapi pesawat sudah take off. Tentu saja anda tidak bisa menyusul" balas staf.
"Sial!" umpat Dafa yang langsung mengusak-ngusak rambutnya hingga terlihat agak berantakan.
Semua orang yang ada di tempat itu hanya bisa memandangi Dafa yang terlihat begitu frustasi. Dia menjadi pusat perhatian tidak hanya karena kenekatannya menerobos masuk ke dalam bandara tapi juga karena pesonanya. Dia terlihat seperti seorang laki-laki yang sudah kehilangan wanitanya karena wanita itu pergi jauh.
"Ya ampun kasian ya dia."
"Tinggil calon istrinya."
"Pasti dia frustasi banget."
"Mending sama aku aja, Mas."
Begitulah yang dikatakan orang-orang saat melihat keadaan Dafa saat ini.
"Permisi Pak saya mau tanya, kalau mau ke lounge lewat mana ya?"
Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang menegur staf yang sedang bersama Dafa. Mendengar suara familiar wanita itu, Dafa langsung menoleh ke arah sumber suara. Dan ternyata dia melihat sosok Nanda yang sedang berhadapan dengan staf tadi.
"Nanda!!" teriak Dafa yang langsung menghampiri Nanda dan langsung memeluknya begitu saja.
Nanda terkejut melihat Dafa ditambah lagi dengan reaksi Dafa yang tiba-tiba memeluknya seperti seorang ayah yang menemukan anaknya yang hilang. Sementara sfat bandara dan security hanya menatap Dafa dengan kebingungan. Tentu saja mereka semakin jadi bahan tontonan.
"Kak Dafa ngapain di sini?" tanya Nanda di dalam pelukan Dafa.
Dafa melepas pelukannya terlebih dahulu lalu menangkup wajah imut wanita yang beberapa menit lalu sudah membuatnya menjadi orang gila. Yang berlari dari parkiran bandara sampai masuk ke bandara. Sampai harus beradu argumen dengan staf bandara dan mempermalukan diri sendiri.
"Bapak ini bilang kalau dia ingin menemui calon istrinya. Apa calon istri bapak ini, anda, Mba?" sela security.
"HAH? APA?" seru Nanda dengan mata membulat sempurna.
__ADS_1
"Katanya pesawat kamu udah take offf. Kenapa kamu ada di sini?" tanya Dafa.
"Sebelum detik-detik terakhir take off, pilot bilang kalau ada kerusakan mesin pesawat. Jadi penerbangan ke Perancis dibatalkan. Karena aku lapar ya aku berniat beristirahat di lounge bandara" kata Nanda.
"Kalau begitu, masalah sudah selesai kan, Pak? Anda sudah bertemu dengan calon istri anda. Silahkan selesaikan masalah kalian berdua. Dan lounge bandara ada di terminal A. Anda bisa lewat sana" tandas staf.
"Oh terima kasih" balas Nanda dengan santai.
Staf dan security pun meninggalkan Nanda dan Dafa. Sementara itu, Dafa langsung memasang wajah kesal dan agak menyeramkan.
"Aku sudah melarang kamu untuk pergi ke Perancis. Kenapa kamu nurut sama Apsara sih? Dan kamu berangkat hari ini juga nggak bilang sama aku?" omel Dafa.
Nanda mengerutkan keningnya sambil menatap Dafa sampai matanya sipit.
"Kalau Kak Dafa ketemu sama aku cuma mau buat ngomel-ngomel, mending kakak pergi aja" protes Nanda dengan nada jengkel.
Nanda pun menggeret kopernya meninggalkan tempat chenck in penumpang untuk menuju lounge di terminal A. Dia berjalan agak terburu-buru. Sementara Dafa terus mengikutinya. Hingga akhirnya Dafa menghentikan langkah Nanda dengan cara melepaskan secara paksa koper yang dipegang oleh Nanda, kemudian menarik pinggang wanita itu dan mendekatkan ke tubuhnya.
Tubuh mereka berdua saling bersentuhan. Bahkan jarak wajah keduanya hanya beberapa senti saja. Dafa menatap Nanda begitu dalam. Hingga membuat harus menahan napasnya karena jantungnya yang berdegup dengan kencang.
"Kalau kamu sampai berani pergi lagi, akan aku kejar kamu sampai ujung dunia sekalipun" bisik Dafa.
"Apaan sih Kak? Malah ngaku-ngaku aku calon istrimu. Gila ya" protes Nanda.
Nanda mendorong tubuh Dafa agar menjauh. Lalu dia mengambil dua langkah ke belakang. Menatap Dafa dengan tatapan penuh tanya.
"Untuk apa aku berada di sini kalau keberadaanku saja tidak diharapkan. Aku tidak mau menjadi pelampiasan Kak Dafa untuk bisa melupakan Kak Apsara. Kalau memang Kak Dafa nggak bisa mencintai aku seperti aku mencintai Kak Dafa, aku tidak masalah jika harus pergi menjauh dari kakak" ujar Nanda panjang lebar.
"Apa?" tanya Nanda yang merasa bingung.
"Katakan kalau kamu mencintaiku" balas Dafa.
"Dih ogah" elak Nanda dengan ekspresi jijik dan mengedikkan bahunya.
Secara tiba-tiba Dafa menarik bahu Nanda lalu memeluk Nanda lagi. Seketika tubuh Nanda membeku. Dia hanya bisa melongo melihat sekali lagi Dafa memeluknya secara tiba-tiba di tengah kerumunan orang.
"Aku juga mencintaimu" bisik Dafa.
"Hah" desis Nanda yang mendengar cukup jelas perkataan Dafa namun dia masih merasa shock antara yakin atau tidak.
Dafa melepas pelukannya lalu membelas pipi kanan Nanda dan berkata, "Aku memang pernah mencintai kakakmu. Tapi aku menyadari bahwa saat itu aku masih terlalu bodoh untuk mengerti arti cinta yang sebenarnya. Aku salah mengartikan kalau cinta itu di mana sepasang kekasih yang memiliki banyak kesamaan. Padahal cinta yang sesungguhnya di mana antar pasangan saling melengkapi. Dan aku merasakan itu ada pada dirimu. Kamu sudah melengkapi hidupku," jelas Dafa dengan deep voicenya yang berhasil menghancur leburkan pertahanan hati Nanda sehancur-hancurnya.
"Ekhemm." Tiba-tiba terdengar suara dehaman cukup keras. Dan seketika Nanda dan Dafa menoleh ke sumber suara. Terlihat sosok Apsara dan Bara yang berjalan ke arah mereka. Dan ternyata disusul oleh anggota keluarga Wijaya dan Herdian beserta Zahra pun ikut bersama mereka semua.
"Kakak" ucap Nanda.
"Apa?" potong Apsara dengan wajah santai.
__ADS_1
"Kenapa kalian semua ada di sini?" tanya Nanda dengan wajah curiga.
"Mau lihat drama korea" sela Herdian sambil tertawa
"Jangan bilang kalau ini semua rencana kamu, Sa?" timpal Dafa melirik tajam Apsara.
"Apa? Kamu mau menyalahkan Apsara? Harusnya kamu berterima kasih sama dia. Atas rencananya kamu punya keberanian menyatakan cinta kepada Nanda" omel Bara.
"Jadi gimana nih? Nanda statusnya udah punya pacar atau gimana ini?" celoteh Nendra.
"Memangnya Nanda sudah menerima pernyataan cinta Dafa?" sindir Apsara.
"Hah? Aku?" ucap Nanda dengan wajah malu-malu.
"Dih pakai malu-malu segala. Ini udah disaksikan seluruh anggota keluarga. Eh plus semua makhluk hidup yang ada di bandara ini" kata Dion.
"Nih Kak Dafa, karena aku baik, jadi aku kasih bunga buat modal nembak Nanda" potong Langga memberikan buket bunga mawar ukuran sedang kepada Dafa.
"Pinter banget sih anak mami" puji Rara.
"Ayo dong cepetan, Kak" teriak Zahra.
Dafa menerima buket bunga itu dari Langga. Kemudian menghadapkan tubuhnya kepada Nanda. Menatap wanita itu lagi dengan tatapan menyentuh.
"Setelah saat itu aku sadar. Serta bersyukur kepada Sang Pencipta alam semesta. Mulai hari itu aku memberi waktu untuk hati. Agar belajar memaknai bahasa hatimu. Maukah kamu menerimaku?" kata Dafa.
Nanda sekilas melirik ke arah Arya dan Isyan yang sedang saling merangkul menatap ke arahnya. Secara bersamaan Arya dan Isyan memberi anggukan kepala.
"Aku terima segenap rasamu padaku" balas Nanda malu-malu.
"Ohh so sweet!!" seru Langga, Nendra, dan Zahra agak lebay seperti sedang menonton adegan romantis dalam film.
"Terima dong bunganya" sela Isyan.
Nanda menerima bunga dari Dafa dengan senyum sumringah. Dan tentu saja Dafa langsung merangkul pujaan hatinya itu.
"Dafa, saya harap kamu menjaga Nanda dengan baik. Dia sangat mudah tersentuh hatinya. Selalu buat dia bahagia" kata Arya.
"Pasti, Om" tandas Dafa.
"Kalau begitu, kita lebih baik menuju ke lounge bandara sekalian menunggu kedatangan opa dan oma kalian dari Amerika" sambung Isyan.
"Opa sama oma sampai ke Jakarta hari ini?" tanya Nanda.
"Ya pastilah. Kakak kamu ini kan mau menikah. Masa opa sama oma nggak dateng sih" potong Dion.
"Apsa, kamu telepon Sanjaya, dia sudah sampai mana. Apa dia sudah menjemput Asmara dan Almira" ujar Rara.
__ADS_1
"Aku telepon dia" balas Apsara.
"Ayo kita pergi sekarang" ajak Arya.