
Setelah melakukan penerbangan dari Jogja ke Jakarta, akhirnya Apsara dan Sanjaya sampai di rumah. Sanjaya mengantarApsra ke rumahnya. Sebelum akhirnya dia baru kembali ke apartemen miliknya.
Sesampainya di rumah, Apsara langsung disambut oleh keluarganya. Adik-adik langsung menagih oleh-oleh yang mereka minta kepada Apsara.
"Wih enak nih bakpianya" seru Nendra.
"Kamu jangan kebanyakan makan bakpai, nanti kamu gendut gimana, Nen" ujar Rara.
"Kalau aku gendut kan jadi enak buat dipeluk" balas Nendra dengan tampak sok imutnya.
Tiba-tiba Dion mengeplak kepala anak laki-laki Isyan ini karena merasa kesal dengan ucapannya itu.
"Emang Zahra mau peluk kamu? Bau prengus kambing gitu juga" ejek Dion.
"Bilang aja papi syirik" timpal Nendra.
"Apsa, bagaimana dengan keluarga Sanjaya?" tanya Arya.
"Ya seperti keluarga pada umumnya" jawab Apsara singkat.
Langga menepuk jidatnya saat dia mendengar jawaban super dingin dari kakak perempuannya ini.
"Sebuah kesalahan kalau kita tanya sama Kak Apsa" sela Langga.
"Maksud papa itu, respon mereka terhadap kamu bagaimana?" tanya Arya lagi.
Apsara pun mulai bercerita tentang perlakuan Retno kepadanya selama tiga hari keberadaannya di sana. Dia pun mengatakan soal rencana kedatangan keluarga Sanjaya untuk.melamarnya.
"Ih ngeselin banget sih ibu tirinya Kak Sanjaya. Emangnya dia itu secetar Victoria Beckham apa?" omel Nanda.
"Aku ngebayangin, gimana jadi Kak Sanjaya pada saat dia punya ibu tiri" potong Nendra.
"Emang gimana?" tanya Isyan.
"Ibu tiri hanya cinta kepada ayahku saja. Selagi ayah disampingku ku dipuja dan dimanja. Tapi bila ayah pergi ku dinista dan dicaci. Bagai anak tak berbakti" senandung Nendra dengan akting seperti anak tiri yang tertindas oleh ibu tirinya.
Semua anggota keluarga pun tertawa terbahak-bahak melihat tingkah konyol Nendra. Mereka tidak habis pikir dengan Nendra, karena ada saja tingkahnya yang absurd.
"Kebanyakan nonton sinetron kamu" kata Langga.
"Aku ada ide buat menyambut ibu tiri itu" ujar Nendra dengan ekspresi liciknya.
*****
Keesokan harinya, tiga saudara ini berangkat ke kampus seperti biasa. Tapi mulai hari ini, mereka berangkat menggunakan mobil yang sama. Dan dengan mobil yang baru. Sebenarnya bukan mobil baru. Tapi salah satu koleksi mobil keluarga mereka yang tidak pernah dipakai.
Sesampainya di kampus, seperti biasa pasti para mahasiswa akan menyapa ketiga saudara ini sebagai rasa sungkan. Dan mereka bertiga hanya membalas dengan senyum biasa saja. Hingga akhirnya langkah mereka terhenti ketika ada beberapa kumpulan mahasiswa yang membicarakan tentang Rio.
__ADS_1
"Kalian dengan kabar bangkrutnya perusahaan orang tua Rio nggak?"
"Emang bener ya gosip itu?"
"Katanya perusahaan mereka disita karena melakukan penggelapan dana para investor."
"Dan lebih parahnya lagi perusahaan orang tua Soni dan Ari juga mengalami hal yang sama."
"Bedanya perusahaan keluarga Soni terkena skandal karena kecelakaan salah satu pekerja di proyek lama mereka. Tapi perusahaan mereka tidak memberi kompensasi kepada keluarga korban."
"Yang aku dengar, kalau perusahaan keluarga Ari bangkrut karena ayahnya Ari itu menjual produk perusahaan dengan bahan-bahan murahan."
"Dan sialnya, mereka bertiga tertangkap polisi setelah menggelar pesta narkoba di pesta ulang tahun Rio kemarin lusa."
"Kok ngeri ya. Tapi aneh nggak sih kenapa keluarga mereka bisa sial di saat yang bersamaan."
"Iya yah, aneh nggak sih?"
"Aku rasa ada seseorang yang sengaja melakukan ini kepada mereka. Jangan-jangan mereka bertiga udah menyinggung orang itu."
Nanda terkejut mendengar perkataan para mahasiswa itu. Bahkan dia sampai lupa menanyakan kepada orang tuanya tentang Rio dan teman-temannya hingga akhirnya dia mendengarnya sendiri. Dia tidak menyangka jika orang tuanya akan sesadis ini jika membalas dendam.
"Yuk Nan" ujar Nendra menarik tangan Nanda untuk melanjutkan perjalanan dan meninggalkan kerumunan mahasiswa itu.
Nanda masih terdiam dan mencoba mencerna setiap kata yang diucapkan oleh para mahasiswa itu. Otaknya berusaha menyadarkan dirinya dengan semua fakta itu.
"Pastilah. Memang orang tua mana yang rela anaknya dipermalukan. Lagian Namda juga aneh, baru kenal Rio aja udah mau-maunya diajak ke acara ulang tahunnya. Untung Kak Dafa bawa dia pergi dari hotel itu, kalau nggak mungkin Nanda udah mabok heroin" omel Nendra seperti ibu-ibu kompleks.
"Ih kalian kok nyalahin aku sih. Mana aku tahu. Aku kan datang cuma karena menghargai Rio yang udah undang aku" balas Nanda kesal.
"Ya tapi, seenggaknya kamu ajak aku atau Nendra buat nemenin kamu. Gaya banget sok-sokan nggak mau bawa bodyguard sama sopir. Dasar anak manja" timpal Langga tak kalah kesal.
"Kalian jahat, malah nyalahin aku" protes Nanda lalu pergi meninggalkan Langga dan Nendra dengan perasaan kesal.
*****
Nanda baru menyelesaikan mata kuliah pertamanya. Saat akan pergantian mata kuliah, tiba-tiba Dafa masuk ke dalam kelasnya. Semua mahasiswa tentu saja terkejut, karena hari ini tidak ada jadwal mata kuliah Dafa.
"Nanda, ikut saya ke ruangan" perintah Dafa.
Nanda yang masih belum menyadari keberadaan Dafa merasa terkejut saat Dafa memintanya untuk pergi ke ruangannya. Bahkan setelah Dafa mengatakan itu, dia langsung keluar dari kelas Nanda. Karena tidak mau berdebat dengan laki-laki itu lagi, Nanda langsung keluar dari kelasnya.
Sesampainya di ruangan Dafa, laki-laki itu memberikan setumpuk buku kepada Nanda. Nanda hanya melongo melihat kitab-kitab sakit anak hukum ada di depan matanya.
"Buat apaan, Kak?" tanya Nanda.
"Bawakan buku-buku itu. Hari ini kamu jadi asistenku" perintah Dafa lalu keluar dari ruangannya setelah memakai jasnya.
__ADS_1
"WHAT? INIKAH YANG DINAMAKAN ASISTEN DOSEN???" omel Nanda sambil menganga.
"NANDA CEPAT!!!" teriak Dafa yang berhenti di depan pintu ruangannya.
Nanda bergegas mengambil buku-buku itu dan membawanya. Nanda berjalan di belakang Dafa. Astaga Nanda tak sekalipun mengalihkan pandangannya dari laki-laki ini. Dafa terlalu sempurna untuk diabaikan. Mungkin ada untungnya juga Nanda dijadikan asisten dosennya Dafa.
Sesampainya di kelas S1 hukum, perhatian para mahsiswa langsung tertuju pada sosok Nanda. Nanda yang awalnya merasa kesal karena Dafa jadi tersenyum ramah dan manis. Para mahasiswa tidak menyangka bisa melihat sosok campus princess mereka.
"Wah Kak Nanda cantik ya."
"Bening banget lagi."
"Mau dong jadi pacarnya."
"Jadi selingkuhannya juga gapapa."
"Atau mau langsung nikah aja."
Dafa langsung memperlihatkan wajah galaknya saat mahasiswa laki-laki menggoda Nanda dan berkata, "Kalau mau bicara terus, keluar dari kelas," bentak Dafa dan langsung semua diam seribu bahasa.
"Galak banget sih Pak Dosen" goda Nanda dengan suara lirih karena dia berdiri tepat di samping Dafa.
"Diam!" seru Dafa melirik tajam ke arah Nanda.
Bukannya takut, Nanda justru menahan tawa. Karena menurutnya saat Dafa marah terlihat menggemaskan. Dafa pun mulai mengajar. Sementara tugas Nanda adalah mencatat poin-poin penting yang disampaikan Dafa. Terkadang Nanda juga diminta memberi penjelasan materi kuliah.
Setelah dua jam kegiatan belajar, Dafa beranjak dari kursi yang dia duduki. Melihat Dafa akan pergi, Nanda yang berdiri di belakang kelas pun hendak menyusul juga.
"Kak Nanda mau ke mana? Mending di sini aja sama kita" goda salah satu mahasiswa pria yang mejanya dilewati oleh Nanda.
"Kalau nggak kita ke kantin bareng aja yuk" ajak yang lainnya.
Nanda hanya diam tak memberi respon apapun. Tapi justru Dafa yang mengambil tindakan. Dia menghampiri Nanda dan langsung meraih tangan perempuan itu.
"Jangan banyak tingkah, atau saya beri kamu nilai D" ancam Dafa pada para mahasiswanya.
Dafa pun menyeret Nanda keluar kelas hingga membuat Nanda tidak membawa buku yang dia bawa tadi.
"Kak lepasin dong. Sakit nih" rengek Nanda karena cengkeraman tangan Dafa.
Dafa pun melepaskan tangan Nanda dan berbalik badan menatap gadis itu.
"Jaga sikap kamu jika ada pria lain yang mendekati kamu" tegas Dafa.
"Kak Dafa cemburu ya?" ledek Nanda sambil memasang ekspresi jahilnya.
"Aku? Tidak. Aku hanya memberi saran agar kejadian dengan Rio waktu itu tidak terulang lagi" elak Dafa lalu melangkah pergi meninggalkan Nanda.
__ADS_1
Nanda terkekeh pelan melihat respon Dfa yang sok jual mahal, "Dasar manusia kutub," ujar Nanda.