Pengorbanan Cinta 2

Pengorbanan Cinta 2
Bab 41


__ADS_3

Auditorium terbesar di kampus Atma Jaya sudah terdapat sebuah panggung cukup besar ditambah lidah panggung yang panjang. Dekorasi panggung serta ruangan auditorium tidak kalah megah dengan ballroom sebuah hotel. Acara pemilihan campus princess memang terkenal sebagai acara paling mewah di kampus ini.


Para mahasiswa sudah mulai berdatangan untuk menonton acara ini. Ada yang duduk di barisan kursi utama yang berada tepat di depan panggung. Ada juga yang duduk di kursi yang ada di lantai dua auditorium itu tau yang baisa disebut dengan balcony. Setiap mahasiswa membawa spanduk dan poster foto finalis jagoan mereka. Para dewan juri pun sudah mulai menempati kursi mereka masing-masing dan siap untuk mencari pemenang campus princess of the year.


Di sisi lain auditorium, tepatnya di ruang ganti. Para finalis dan timnya sedang sibuk memakai make up, hair do, dan dress di ruang ganti mereka masing-masing. Untuk sesi opening para finalis memakai cocktail dress setinggi lutut berwarna hitam. Mereka semua nampak cantik dan anggun dalam balutan dressnya masing-masing.


"Ayo Al, ngecurly rambutnya agak cepetan" perintah Zahra.


"Iya Kak, ini juga cepet kok" balas Almira.


Zahra hendak memakaikan lipstik warna merah ke bibir Nanda namun tangannya di cegah oleh Nanda lalu dia berkata, "Ini merah banget, Zah. Aku nggak pernah pakai lipstik semerah ini," tolak Nanda.


"Not for today. Hari ini kamu harus tampil dengan look yang berbeda dan lebih glamour. Udah kamu percaya aja sama aku" tutur Zahra meyakinkan.


Akhirnya Nanda pun pasrah dan mengikuti apa yang dilakukan oleh Zahra terhadapnya. Zahra sudah selesai memake upi Nanda begitu juga Almira yang sudah selesai menata rambut Nanda.


"Eh aku belum pakai aksesoris nih" kata Nanda meraba lehernya yang masih polos.


Almira mengambil sebuah kotak perhiasan berwarna biru dongker dari dalam koper dan memberikannya pada Nanda. Gadis itu membuka kotak itu dan mata Almira langsung mebelalak saat melihat satu set perhiasan berlian yang begitu elegan dan pasti mahal.


"Ayo bantu aku pakai kalungnya" perintah Nanda.


"Aku takut berliannya lecet Kak" ucap Almira begitu polos.


"Nggak usah cemas. Kalaupun ini pehiasan hilang Tante Isyan pasti bakal beliin lagi sama perusahaan perhiasannya" tutur Zahra sambil tertawa.


"Tapi sayangnya perhiasan ini memang produksi dari perusahaan mama" balas Nanda dengan wajah datar dan biasa-biasa aja.


Zahra pun ikut melotot lalu berkata, "Oke, Nanda. Mungkin saja keluarga kamu juga punya tambang berlian dan emas," ucap Zahra dengan nada santai sambil mengira-ngira seberapa kaya keluarga sahabatnya itu.


Nanda hanya terkekeh melihat ekspresi tak percaya kedua gadis itu. Keduanya mulai memakaikan perhiasan berlian itu dengan hati-hati. Nanda sudah siap dengan penampilannya yang anggun dan elegan bak seorang putri. Ya memang dia seorang putri dari keluarga Wijaya dan Praditya.


Tiba-tiba terdengar suara teriakan panitia yang mengatakan bahwa waktu tinggal lima menit lagi untuk naik panggung. Para finalis keluar dari ruang ganti masing-masing dan berbaris sesuai urutan nomer mereka. Sindi melihat penampilan Nanda yang begitu sangat berbeda. Dia sempat terkagum-kagum, namun dnegan cepat dia menepis rasa itu.


"Oh jadi ini geng cewek miskin yang sok mau ikutan pemilihan campus princess. Paling dressnya juga beli di pasar loak" ucap Sindi sambil menyentuh dress Nanda dengan ekspresi jijik.


"Jangan-jangan perhiasan yang dia pakai palsu lagi. Mungkin beli di toko mainan anak kali" sambung Jeje.

__ADS_1


"Make upnya pasti yang murahan ya? Paling 10 menit lagi langsung retak-retak bedaknya'" kelakar Ria.


Mereka bertiga tertawa mengejek penampilan Nanda. Padahal peserta yang lain menampakkan ekspresi kekaguman pada Nanda. Yang memang dia mahasiswa yang jarang terlihat modis di kampus. Bahkan tidak pernah mau tampil di depan umum. Tapi hari ini dia menunjukkan siapa Nanda yang sebenarnya.


Nanda berjalan mendekati Sindi, dan berdiri tepat di depan mata gadi itu sambil melipat kedua tangannya di dada lalu berkata, "Tertawa saja sesuka kalian. Kita lihat siapa yang akan menjadi pemenangnya nantinya" tegas Nanda dengan tatapan membunuh.


Nanda berjalan meninggalkan Sindi ketika salah satu panitia melambaikan tangan agar para finalis mengikutinya ke belakang panggung. Sindi nampak kesal dengan ancaman Nanda. Dia pun melangkah dengan perasaan super jengkel. Sementara tim wardrobe finalis hanya boleh menunggu sambil menonton melalui TV yang disediakan oleh panitia di ruang ganti .


"Sindi belum tahu aja berapa harga outfit Nanda hari ini" bisik Zahra pada Almira.


"Kalau dia tahu, mungkin dia akan kejang-kejang dan masuk umah sakit" balas Almira menahan tawa.


"Dia sombong banget. Harta dia nggak bakal sebanding sama harta keluarga Nanda yang nggak bakal habis sepuluh turunan" ucap Zahra.


"Sssttt...udah Kak. Mending kita ngumpul sama temen-teman yang lain buat nonton bareng. Sambil nunggu waktu ganti kostum. Siapa tahu Kak Nanda lolos ke babak semi final" kata Almira.


"Ayo" seru Zahra menggandeng tangan Almira.


*****


Tiba-tiba lampu sorot dimatikan. Layar LED memutarkan video opening pemilihan campua princess yang memperlihatkan pemenang campus princess tahun lalu. Setelah itu terdengar musik opening dance dan masuklah ke-20 finalis yang berjalan begitu anggun dibarengi dengan suara gemuruh tepuk tangan dan teriakan penonton.


"Lang, itu Nanda. Gila kembaran aku cantik banget!" teriak Nendra menunjuk Nanda yang berdiri di barisan keduadari depan.


"Nanda luar biasa" ucap Langga lalu mengeluarkan kamera dan memfoto Nanda.


Sesi opening dance pun selesai. Ada sebuah stand mic yang berdiri di tengah panggung. Satu persatu finalis maju ke depan untuk opening number atau perkenalan diri mereka. Sekarang giliran Nanda yang maju dan mendekati mic itu.


"Syainanda Citra Praditya, 23 tahun, Fakultas Ilmu Hukum" teriak Nanda beguru lantang sambil mengangkat kedua tangannya.


Dafa yang tadinya menunduk karena sibuk menulis langsung menegakkan kepalanya saat mendengar nama Nanda menggema. Dia melihat sosok Nanda yang biasanya berpenampilan cuek tapi hari ini dia berpenampilan begitu anggun. Bahkan berhasil membuat Dafa melongo karenanya. Senyum Nanda begitu lepas dan manis. Hingga tanpa sadar Dafa terkagum dibuatnya.


Sesi opening number selesai. Para finalis berdiri di tempatnya masing-masing. Dan masuklah seorang MC pria yang cukup tampan.


"Selamat datang di acara pemilihan Campus Princess of The Year, Universitas Atma Jaya" seru MC disambut tepuk tangan penonton.


"Panitia sudah memilih 20 finalis yang terdiri dari para mahasiswi cantik dan pintar. Yang di mana, satu di antara mereka akan menyandang gelar sebagai duta kampus selama satu tahun" lanjutnya mempersembahkan para finalis menggunakan tangannya.

__ADS_1


MC itu menyapa dan memberi penghormatan pada para rektor dan dekan. Lalu tak lupa dia juga memperkenalkan orang-orang yang duduk dikursi panel dewan juri. Nanda membelalakkan matanya saat nama Dafa disebut dan dibarengi ketika pria tampan itu berdiri dan menyapa para penonton dengan wajah datarnya. Tidak melambaikan tangan sama sekali seperti juri yang lain.


Kok bisa sih Kak Dafa jadi juri? Mati aku. Padahal aku kan mau menunjukkan diri ke dia kalau aku bisa melakukan apapun seperti Kak Apsara, batin Nanda.


"Dan di tangan saya ada sebuah amplop yang terdapat nama tujuh finalis yang masuk semi final. Penilaian ini berdasarkan observasi panitia terhadap keseharian para finalis selama di kampus" jelas MC.


Perlahan-lahan MC membuka amplop dan mengambil kertas yang ada di dalam, kemudiam mulai membaca nama-nama yang tertulis di atas kertas itu.


"Ya Allah, semoga Nanda lolos" lirih Nendra sambil menengadahkan tangannya.


"Finalis yang pertama Anisa Rahma dari Fakultas Pendidikan IPA Terpadu" seru MC.


Tepuk tangan dan teriakan penonton mengiringi langkah Anisa saat maju ke ke centre panggung dan memberi hormat. Lalu Anisa memposisikan diri di sisi kiri panggung. MC membacakan nama finalis hingga urutan ke enam dan nama Sindi yang disebutkan. Tentu saja semua mengenal Sindi, Si Model kampus yang his dan sudah berkali-kali mengikuti acara ini.


Dan mendenguskan napasnya, dia pasrah jika dia tidak lolos ke semi finalis. Karena dia sendiri juga merasa tidak yakin kalau panitia memang mengenal dirinya.


"Tempat terakhir untuk finalis terakhir. Syainanda Citra dari Fakultas Ilmu Hukum" ucap MC dengan lantang.


Langga dan Nendra bersorak riang dn saling memeluk saat nama Nanda disebut. Nanda yang masih tak percaya, terdiam beberapa detik memegangi dadanya sebelum akhirnya dia maju ke depan bergabung dengan enam finalis yang lain.


"Kamu jangan senang dulu. Ini baru babak semi finalis" bisik Sindi yang berdiri tepat di sebelah Nanda.


Senyum Nanda langsung berubah menjadi wajah datar. Dia menoleh ke arah Sindi dan memberi senyum sinis.


Finalis yang tidak lolos meninggalkan panggung terlebih dahulu. Sementara tujuh finalis yang lolos melakukan catwalk secara bergilir di lidah panggung. Mereka berlomba-lomba memperlihatkan penampilan terbaik mereka untuk memikat hati para juri. Saat Nanda sedang catwalk dan sampai di ujung lidah panggung dia melirik sekilas ke arah Dafa dan memberi tatapan yang tidak bisa diartikan sebelum akhirnya Nanda kembali ke belakang panggung.


Setelah panggsung kosong, beberapa hiburan pun ditampilkan. Ada band dari kampus yang tampil menyanyikan beberapa lagu. Dan ada pertunjukan tari tradisional maupun dance modern untuk mengisi waktu break.


"Permisi, apa anda ketua panitia acara ini?" tegur Dafa pada seorang dosen yang memakai ID Card panitia.


"Iya Pak Dafa. Ada masalah apa?" tanyanya.


"Bagaimana bisa Syainanda mengikuti acara ini? Bukankah ini acara untuk mahasiswi S1, sementara dia mahasiswi S2?" ucap Dafa.


"Kami tidak mencantumkan syarat jenjang pendidikan. Karena batasan umur finalis itu berusia 23 tahun. Sementara Syainanda masih memenuhi kriteria umur yang ditentukan, jadi tidak masalah jika dia mahasiswi S2. Itu menunjukkan kalau dia wanita yang cerdas, Pak" jelas ketua panitia.


Dafa langsung terdiam. Dia teringat dengan perkataan yang pernah dia ucapkan. Yang mengatakan bahwa Nanda hanya anak manja, meras kepala, dan tidak bisa melakukan apapun. Padahal jelas-jelas diusia semuda itu dia akan memiliki gelar S2 bukankah suatu hal yang luar biasa dan jarang terjadi?

__ADS_1


__ADS_2