
Keesokan paginya, Apsara diajak Wisnu berkunjung ke kompleks keraton untuk bertemu dengan anggota keluarga Sanjaya. Sebelum pergi, Apsara terlebih dahulu didandani memakai kebaya Jawa kuno beserta kain jarik. Tak lupa rambut hitam panjangnya pun disanggul.
Sanjaya terus memandangi Apsara yang sedang berdandan dengan bersandar di pintu kamar Apsara. Dia merasa sangat terpesona dengan kecantikan calon istrinya ini. Walaupun wajahnya hanya menggunakan make up tipis.
"Sudah puas menatapku?" tegur Apsara membuyarkan lamunan Sanjaya.
Sanjaya terperanjat saat Apsara menegurnya. Mau tidak mau akhirnya Sanjaya berjalan masuk ke dalam kamar. Sanjaya pun sudah memakai atasan surjan berwarna hijau dengan kain jarik juga.
Pelayan yang membantu Apsara berdandan mengundurkan diri untuk memberi waktu berdua bagi pasangan itu. Sanjaya merangkul Apsara dari belakang dan melihat ke arah cermin.
"Cantik" puji Sanjaya setulus mungkin.
"Kamu sedang memujiku?" tanya Apsara.
"Memang tidak boleh jika aku memuji calon istriku sendiri?" balas Sanjaya.
Apsara menyingkirkan tangan Sanjaya yang bergelayut di atas bahunya. Dia pun berdiri dan berbalik badan agar berhadapan dengan laki-laki itu.
"Apa aku pantas memakai baju ini?" kata Apsara.
"Tidak diragukan lagi. Kamu akan menjadi perempuan paling cantik di antara wanita-wanita di keluargaku" tandas Sanjaya penuh kebanggaan.
"Oh ya? Terdengar sangat berlebihan" timpal Apsara santai.
"Ya memang sangat berlebihan" sela Retno yang tiba-tiba berada di depan kamar Apsara dan sekarang wanita paruh baya itu sudah melangkah masuk ke dalam kamar Apsara.
"Nanti kamu akan bertemu dengan anggota keluarga keraton, jadi kamu haris bisa menjaga sikap, dan jangan sampai mempermalukan keluargaku" tegas Retno.
"Saya akan selalu ingat pesan ibu" kata Apsara tersenyum.
Sanjaya sudah terlihat sangat muak dengan sikap ibu tirinya yang selalu ikut campur dengan urusan hidupnya.
"Ayo, kita pergi Apsara" ajak Sanjaya langsung menarik Apsara pergi tanpa permisi dengan Retno.
"Cih, anak kurang ajar" sinis Retno.
*****
"Apa ibu tiri kamu selalu bersikap seperti itu sejak dulu?" tanya Apsara sambil berjalan melewati koridor rumah.
"Sejak pertama kali dia menginjakkan kaki di rumah ini sebagai istri kedua ayah. Dia selalu menyinggung masalah status sosial ibuku yang hanya seorang rakyat biasa. Dia selalu menganggap dirinya istri utama karena dia memiliki keturunan darah bangsawan. Dan ibuku hanya seorang selir" jelas Sanjaya.
"Mengerikan sekali" timpal Apsara dengan wajah datarnya.
"Aku minta maaf jika perkataan Ibu Retno sangat menyinggung dan melukai hatimu. Dia terus saja menyinggung masalah status sosial. Apa perlu aku beritahu siapa kamu sebenarnya?" ujar Sanjaya.
"Jangan! Papa melarangku melakukan itu. Dan aku pun tidak akan pernah mengizinkan kamu melakukan itu. Biarkan keluarga kamu hanya tahu bahwa aku seorang gadis dari kalangan biasa. Ya memang aku dari kalangan biasa bukan kalangan bangsawan kan?" tandas Apsara sambil menaikkan satu alisnya dengan tatapan licik.
"Aku tahu kamu sedang merencanakan sesuatu kan?" timpal Sanjaya.
"Kamu sepertinya sudah mulai memahami tentang aku?"
"Tentu saja. Aku ini calon suamimu. Sudah seharusnya aku memahami sifat, sikap, dan isi pikiran wanita yang aku cintai ini" ujar Sanjaya sambil mengelus pipi Apsara dengan lembut.
Sontak saja perlakuan Sanjaya membuat wajah Apsara merah padam. Buru-buru Apsara memalingkan wajahnya agar Sanjaya tidak melihat betapa tersipu malu dirinya.
Sanjaya, Apsara dan kedua orang tua Sanjaya pergi menggunakan mobil untuk pergi ke keraton. Di sana Apsara akan diperkenalkan dengan anggota keluarga yang lain.
__ADS_1
*****
Nanda baru saja selesai mata kuliah jam pertama. Dan ada waktu istirahat selama 15 menit. Nanda memanfaatkan waktu 15 menit itu untuk menemui Zahra dan Almira yang sudah menunggunya di gazebo yang ada di taman.
"Udah nunggu lama ya?" tegur Nanda sambil duduk di gazebo.
"Nggak lama kok" balas Zahra.
"Aku aja baru sampai. Sekalian beliin Kak Nanda es nih" sambung Almira menyodorkan segelas es jeruk.
"Makasih calon adik ipar" puji Nanda sambil tersenyum manis.
"Nan, aku denger-denger katanya kamu lagi deket sama cowok terpopuler di kampus ya? Siapa ya namanya" kata Zahra mengetuk-ngetuk jari telunjutknya di pelipis.
"Rio" sergap Almira.
"Ah itu dia namanya. Emang bener ya gosip yang beredar dari temen-temen?" tanya Zahra.
"Enggak kok. Aku aja baru pertama kali berinteraksi secara langsung sama Rio itu beberapa hari ini. Selama aku kuliah di sini cuma tahu muka sama nama doang" tandas Nanda.
"Tapi banyak banget loh yang jodoh-jodohin Kak Nanda sama Si Rio ini" sela Almira.
"Kan cuma dijodoh-jodohin. Belum tentu jodoh beneran. Gimana sih?" tukas Nanda santai.
Tanpa sengaja ada Rio beserta kedua temannya yang berjalan melewati taman. Mereka berdua pun melihat keberadaan Nanda. Ketiganya pun berniat menghampiri Nanda.
"Hai Nanda" sapa mereka bertiga.
"Ah hai" balas Nanda.
Zahra dan Almira tak menjawab sapaan dari Rio. Mereka berdua hanya memberi respon dengan senyum datar tak bersahabat.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Nanda.
"Kita kebetulan lewat sini. Terus lihat kamu ada di sini, jadi Rio pengin nyamperin kamu" jawab Ari.
"Katanya Rio kangen sama kamu" ledek Soni.
Rio menyenggol lengan kedua temannya, agar mereka berdua berhenti menggodanya. Karena terlihat wajah Rio yang nampak malu-malu.
"Oh ya Nan, kamu mau datang nggak ke pesta ulang tahun aku nanti malam?" ucap Rio.
"Ya ampun, aku sampai kelupaan. Iya aku bakal datang ke acara ulang tahun kamu kok" balas Nanda.
"Serius?"
"Yes, I am" tandas Nanda meyakinkan.
"Aku senang banget, campus princess kampus ini mau datang ke acara ulang tahunku" seru Rio kegirangan.
"Bukan masalah" timpal Nanda.
"Kalau gitu, aku tunggu nanti malam ya. Bye Nanda" ujar Rio.
"Bye" balas Nanda.
Kemudian Rio dan kedua temannya meninggalkan Nanda setelah obrolan mereka selesai.
__ADS_1
"Kamu yakin mau datang ke acara ulang tahun Rio? Kamu kan baru dekat sama dia?" tanya Zahra meyakinkan.
"Dia cuma ngundang aku ke acara ulang tahun. Bukan ke acara sidang kasus penculikan" tegas Nanda.
"Ya terserah Kak Nanda sih. Yang penting kakak hati-hati ya" tutur Almira.
*****
Setelah pertemuannya dengan Zahra dan Almira selesai, Nanda kembali ke kelas karena ada mata kuliah kedua. Dan mata kuliah kedua ini adalah mata kuliah Dafa.
Seperti biasa, Nanda akan bersikap sangat cuek kepada Dafa jika di dalam lingkungan kampus. Walaupun satu kampus sudah tahu kalau keluarga Atma Jaya dan keluarga Wijaya memiliki hubungan dekat.
Pelajaran pun telah usai. Semua mahasiswa keluar dari kelas karena setelah ini adalah istirahat jam makan siang yang durasinya lebih lama. Nanda pun hendak keluar kelas namun ditahan oleh Dafa.
"Nanda, kamu tetap di kelas. Ada tugas yang mau saya berikan kepada kamu" perintah Dafa.
Nanda melototkan matanya saat Dafa berteriak tanpa menoleh ke arahnya sama sekali. Justru laki-laki itu nampak asyik memandangi buku yang dia pegang.
Nanda yang sudah melangkah melewati meja dosen pun mau tidak mau harus kembali. Dia berjalan menghampiri meja dosen.
"Tugas apa, Pak?" ketus Nanda yang merasa kesal.
Dafa tidak memberi respon apapun. Dia terus saja fokus membaca buku. Tentu saja ini membuat Nanda merasa sangat jengkel. Bahkan kejengkelannya sudah berubah menjadi kedongkolan.
"Pak, kalau sekiranya nggak penting, mending saya keluar aja deh" gerutu Namda yang sudah tidak bisa menahan emosinya lagi.
Dafa menutup bukunya. Lalu meletakkan pulpen cukup keras. Kini suasana kelas sudah sepi. Hanya tinggal mereka berdua yang ada di dalam kelas.
"Apa kamu akan pergi ke pesta ulang tahun Rio?" ujar Dafa tiba-tiba.
Nanda terkejut setengah mati ketika Dafa tahu tentang rencana kedatangannya ke pesta ulang tahun Rio.
"Lah Kak Dafa juga tahu?" tanya Nanda balik.
"Memang kenapa kalau aku juga tahu tentang hal ini? Aku ingin melarang kamu datang ke acara itu" tegas Dafa dengan tatapan dingin.
Nanda mengernyitkan keningnya bahkan sedikit memajukan wajahnya ke arah Dafa. Tatapan heran terlihat di mata gadis ini.
"Emang Kak Dafa siapa? Orang tuaku bukan. Kakakku juga bukan. Pasangan apalagi. Kenapa ngatur-ngatur aku sih?" timpal Nanda dengan nada angkuhnya.
"Kamu berani melawan aku!" bentak Dafa yang beranjak dari kursinya.
Nanda langsung terdiam seribu bahasa saat melihat kengerian amarah dari Dafa. Menyeramkan. Ya, itulah kata yang cocok mendeskripsikan raut wajah Dafa.
"Pokoknya, aku melarang kamu datang ke sana. Ini semua demi kebaikan kamu" lanjut Dafa.
"Daripada Kak Dafa mengurusi kebaikan hidupku, lebih baik Kak Dafa mengurusi hidup kakak sendiri. Mending Kak Dafa cari pacar aja deh, biar dapat kasih sayang. Kayaknya Kak Dafa kurang kasih sayang, makanya bawaanya emosi mulu" omel Nanda yang berusaha menutupi rasa takutnya.
Dafa meraih lengan atas Nanda dan sedikit mencengkeramnya, kemudian dia berkata, "Kalau begitu, lebih baik kamu yang jadi pacarku. Bagaimana?" tawar Dafa dengan sorot mata datar.
Nanda langsung menganga. Jantungnya berdegup dengan kencang. Rasanya dia ingin berteriak sekeras mungkin. Apalagi Dafa menatapnya dengan jarak yang begitu dekat. Membuat Nanda memiliki akses lebih untuk memandangi wajah tampan Dafa.
"Ihh ogah" tolak Nanda menepis tangan Dafa.
Dafa mengernyitkan keningnya saat melihat wajah Nanda mulai memerah. Dan gadis ini sedang berusaha menyembunyikan perasaan malunya.
"Kak Dafa nggak usah ke-GR-an" sergap Nanda langsung pergi meninggalkan Dafa di kelasnya seorang diri.
__ADS_1