
Hari ini adalah meeting terakhir antara Wisnu dan pihak Wijaya Group sebelum melakukan pembangunan resort baru di kawasan wisata Candi Borobudur. Meeting kali ini dihadiri oleh Wisnu sendiri, Apsara, Sanjaya, dan Bara. Isyan dan Dion sudah menyerahkan semua urusan ini kepada Apsara.
Dua jam sudah berlalu. Akhirnya rapat pun berakhir. Kesepakatan telah ditanda tangani oleh kedua pihak.
"Pak Wisnu, saya akan kabari anda untuk tanggal dimulainya pembangunan setelah surat perizinan sudah lengkap" ujar Bara.
"Tentu Pak Bara. Senang bekerja sama dengan anda" balas Wisnu sambil menyalami Bara.
"Kalau begitu saya permisi" ujar Bara melirik ke arah Apsara lalu dia pergi meninggalkan ruang meeting untuk kembali ke kantornya.
Hingga saat ini, Wisnu belum mengetahui siapa Apsara yang sebenarnya. Bahkan dia terlihat tidak curiga melihat kemiripan wajah Apsara dan Bara.
"Sanjaya, besok ayah akan kembali ke Jogja" ucap Wisnu.
"Kenapa ayah tiba-tiba ingin kembali ke Jogja?" tanya Sanjaya.
"Apanya yang tiba-tiba? Ayah sudah terlalu lama berada di Jakarta. Banyak hal yang harus ayah urus di sana" jawab Wisnu.
"Baiklah kalau begitu" balas Sanjaya.
"Jadi kapan kamu akan membawa Apsara ke Jogja untuk diperkenalkan dengan keluarga besar kita?" lanjut Wisnu sambil menatap Apsara.
Apsara langsung melirik ke arah Sanjaya. Laki-laki itu nampak terkejut mendengar ucapan ayahnya.
"Kenapa kamu terkejut seperti itu? Memangnya kamu tidak mau segera menikahi dia? Kalau keluarga kita sudah mengenal Apsara, maka kita akan segera melamar Apsara untuk kamu" jelas Wisnu.
"Apa Om Wisnu setuju dengan hubungan kami?" sela Apsara.
"Tidak ada alasan yang membuat saya tidak setuju terhadap kamu. Karena kamu, saya bisa memperbaiki hubungan dengan anak saya yang sudah lama renggang" timpal Wisnu dengan tatapan begitu tulus.
"Tentu ayah. Aku akan kabari jika aku akan membawa Apsara ke Jogja" tukas Sanjaya.
"Ayah tunggu kedatangan kamu. Jangan lama-lama ya. Ayah sudah nggak sabar pengin punya cucu" ledek Wisnu.
Kemudian Wisnu bangkit dari kursi. Memeluk putranya terlebih dahulu. Lalu meninggalkan ruang meeting setelahnya.
"Kamu yakin mau membawa aku ke Jogja?" ucap Apsara.
"Apsara, menikah dengan kamu adalah impianku saat ini. Apapun yang terjadi aku akan tetap memilih kamu" balas Sanjaya sambil mengelus puncak kepala Apsara.
*****
Asmara turun dari mobil yang mengantarkannya menuju kantor Bara. Hari ini Asmara berinisiatif untuk membawakan makan siang untuk suaminya. Karena akhir-akhir ini suaminya sering lembur. Dia khawatir jika suaminya itu tidak memperhatikan jam makannya.
__ADS_1
Asmara berjalan memasuki kantor suaminya. Dia dibuat terpana dengan bangunan bertingkat yang megah dan mewah itu. Dia tidak menyangka kalau Asmara akan menikah dengan seorang pengusaha muda yang kaya raya.
Asmara menuju meja resepsionis. Resepsionis wanita itu langsung berdiri saat Asmara berjalan ke arahnya.
"Ada yang bisa dibantu?" tanya resepsionis.
Asmara mengamati penampilan resepsionis itu dan beberapa pegawai wanita yang melintas di lobi. Penampilan mereka semua begitu modis, anggun, dan elegan. Berbeda dengan dirinya.
"Saya ingin bertemu dengan Pak Bara" ujar Asmara.
"Apa anda sudah membuat janji dengan Pak Direktur?" tanya resepsionis.
"Apa harus seperti itu?" tanya Asmara balik.
"Itu sudah peraturannya. Jika ingin bertemu dengan Pak Direktur harus membuat janji jauh-jauh hari" jelas resepsionis.
"Kalau cuma mengantar makan siang harus membuat janji juga?" kata Asmara sambil menunjukkan kotak makan yang dia bawa.
Resepsionis itu menatap kotak makan dan Asmara begitu intens secara bergantian. Melihat penampilan Asmara yang sederhana hanya mengenakan celana kulot warna krem, blouse warna merah bata, make up tipis, dan rambut digerai. Jauh dari kata glamour.
"Memang anda siapa Pak Direktur? Asisten rumahnya?" celetuk resepsionis itu.
Asmara terperanjat kaget dengan mulut menganga. Dia melihat ke dirinya sendiri. Apakah penampilannya mirip seperti seorang pembantu. Dia tidak menyalahkan Bara yang belum mengumumkan kepada publik kalau dia istri dari Bara Wijaya. Namun, justru Asmara merasa bahwa dia tidak pantas disebut sebagai istri Bara.
"Bar, itu istri kamu kan?" tegur Aldi menepuk bahu Bara.
Bara menengok ke arah jari Aldi menunjuk. Dan ternyata Asmara sedang berdiri di resepsionis. Bara langsung melangkah menuju ke sana diikuti Aldi.
"Kamu ke sini kenapa nggak telepon aku dulu?" tegur Bara dengan volume keras namun suaranya terdengar sangat lembut.
Asmara terkejut melihat suaminya sudah berdiri di sebelahnya dengan memberi tatapan penuh tanya.
"Maaf Pak, asisten rumah tangga anda berkata kalau dia ingin mengantarkan makan siang untuk anda" potong resepsionis.
"Apa? Asisten rumah tangga??" seru Aldi dengan wajah terkejut setengah mati.
Asmara menunduk malu saat wanita itu mengatakan kata yang cukup menyakitinya. Bara melirik sekilas resepsionis itu dengan memberi tatapan tajam. Tiba-tiba dia menarik pinggang Asmara dan memeluk istrinya.
"Ayo sayang, kita ke ruanganku aja" ajak Bara dengan nada tegas dan sangat dingin.
Resepsionis itu terkejut saat Bara memanggil Asmara dengan sebutan sayang. Begitu juga dengan pegawai yang berada di lobi. Benar saja, Bara membawa Asmara menuju ke dalam lift.
"Sebaiknya kamu membereskan barang-barang kamu, sebelum Pak Bara memerintahkanku untuk menyeret kamu keluar dari perusahaan ini" tandas Aldi lalu menyusul Bara pergi.
__ADS_1
"Hei siapa wanita tadi?"
"Kenapa Pak Bara memanggilnya dengan sebutan sayang?"
"Ya ampun, aku baper mendengar suara lembut Pak Bara."
"Apa dia kekasih Pak Bara?"
"Lalu wanita yang tempo hari ke sini siapa?"
"Mungkin Pak Bara sudah putus dengan wanita yang waktu itu ke sini."
"Kamu siap-siap saja kalau sampai Pak Bara memecatmu."
*****
Bara sedang membuka kotak makan yang dibawa oleh Asmara. Tapi istrinya ini justru diam melamun. Bara tahu Asmara pasti memikirkan perkataan pegawainya tadi.
"Aku tidak mau makan" teriak Bara dengan nada jengkel seperti anak kecil.
Asmara menoleh ke arah Bara dan berkata, "Kenapa? Apa makananku tidak enak?" tanya Asmara takut.
"Aku ingin kamu menyuapiku" pinta Bara begitu manja.
"Ya ampun, aku pikir apa" ucap Asmara terkekeh lucu melihat sikap manja suaminya.
Dia pun menyuapi Bara dengan begitu telaten. Tiba-tiba Bara menyentuh pipi Asmara dan menatapnya dengan begitu dalam.
"Asmara, apapun pendapat orang tentang kamu aku tidak pernah mempedulikan itu. Aku mencintai kamu karena ketulusan hati kamu. Hanya kamu yang bisa memahami aku. Itulah yang membuatku tidak akan pernah bisa hidup tanpa kamu" ujar Bara dengan suara merendah.
Asmara meneteskan air mata mendemgar ucapan suaminya itu. Dia pun langsung memeluk Bara begitu erat. Bara tersenyum membalas pelukan istrinya itu.
Setelah dua jam berada di kantor Bara, Asmara pun berpamitan untuk kembali ke restoran seperti biasa.
"Pecat resepsionis tadi" lirih Bara kepada Aldi.
"Tanpa kamu suruh aku sudah melakukannya" balas Aldi.
"Bagus" tukas Bara.
"Makanya jangan terlalu banyak fans" ejek Aldi.
"Kenapa sih mereka tidak mengejar-ngejar kamu saja" gerutu Bara.
__ADS_1
"Maaf Bara, aku sudah menikah dan mau punya anak. Tolong jaga bicaramu" balas Aldi dengan wajah masam.