Pengorbanan Cinta 2

Pengorbanan Cinta 2
Bab 22


__ADS_3

Keesokan paginya, di kantor Wijaya Group. Apsara bersikap seperti biasa. Dingin, dan cuek, seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Sementara Utomo nampak tersenyum saat bertemu dengannya. Karena yang Utomo tahu, bahwa dia sudah tidur dengannya dan Apsara sudah pergi dari hotel saat subuh. Karena Apsara meninggalkan sepucuk surat di meja namun tidak diberi keterangan namanya.


Dan saat Lia datang ke kantor, semua karyawan menggunjingkannya dan menatap ke arah dia dengan tatapan jijik. Lia merasa heran dengan sikap teman-temannya. Lia terlihat bingung melihat sikap para karyawan lain.


"Heh lihat si wanita gampangan ini datang."


"Ya ampun ternyata benar. Sifat genitnya itu sudah mendarah daging."


"Berapa banyak pria yang sudah tidur dengannya?"


"Wah ternyata dia memang wanita ular berbisa."


"Dia selalu bangga dengan kecantikannya, yang ternyata digunakan untuk mrmikat laki-laki kaya."


Lia mendengar semua olok-olokan setiap karyawan yang melewatinya. Sesampainya dia di lantai divisi promosi, semua pandangan orang teralihkan pada dirinya. Mereka saling berbisik sambil mrmegang ponsel masing-masing. Apsara tersenyum sinis saat melihat apa yang terjadi di depan matanya.


"Kenapa kalian semua menatapku seperti itu?' tanya Lia.


"Cih, pura-pura tidak tahu. Dasar wanita gampangan."


"Apa maksud kalian? Siapa yang wanita gampangan? Beraninya kalian menghinaku?" teriak Lia.


"Kalau kamu bukan wanita gampangan, lalu apa ini?" Salah satu karyawan wanita memperlihatkan layar HP ke arah Lia.


Tentu saja Lia mengambil HP temannya itu dan dia melihat foto-foto dirinya sedang tidur bersama Utomo disebuah kamar hotel. Wajah Lia langsung merah padam, dia terperanjat saat melihat foto-foto itu sudah tersebar di media sosial. Dan semua tuduhan wanita pelakor tertuju padanya.


"Kami tidak menyangka jika kamu ada main dengan Pak Utomo. Pantas saja dia mengistimewakan kamu."


Mendengar keributan di luar ruangannya, Utomo pun keluar dari ruangan. Dan tentu saja dia sekarang menjadi pusat perhatian.


"Ada apa ini? Kenapa kalian ribut?" tanya Utomo.


Semua orang saling memandang saat mendengar pertanyaan dari Utomo. Dan tak berapa lama datanglah Isyan bersama Dimas dan Arum.


"Kamu ingin tahu apa yang terjadi, Utomo?" tanya Isyan dengan nada sinis dan tatapan dingin.


Ingatlah, Isyan memang bukan lagi sosok yang dingin dan kejam setelah dia menikah. Tapi ada orang yang berani bermain-main dengan dia dan keluarganya, maka sifatnya yang dulu kembali muncul.


"Arum..." Isyan melirik ke arah Arum sebagai isyarat agar Arum memberikan setumpuk berkas di tangannya kepada Utomo.

__ADS_1


Utomo menerima itu dan melihat bahwa berkas itu adalah bukti tindakan korupsinya selama ini.


"Terkejut? Bagaimana kalau dengan ini?" Isyan memperlihatkan layar HPnya kepada Utomo di mana foto dia bersama Lia yang sedang tidur terpampang jelas.


"Hebat sekali kamu ya? Menggunakan uang perusahaan untuk mengencani gadis muda. Pasti istri kamu sudah melihat foto-foto ini. Karena semua foto ini tersebar di media sosial" ujar Isyan.


"Tidak Bu. Ini semua pasti jebakan. Saya tidak pernah melakukan korupsi atau bahkan tidur dengan Lia. Saya sudah lama bekerja bersama anda. Jadi saya tidak akan berani melakulan itu" bela Utomo.


Isyan tertawa sebelum berkata, "Oh ya? Benarkah?"


Isyan memutar rekaman suara Utomo yang menyatakan pengakuannya sudah menggunakan uang perusahaan.


"Masih mau mengelak kamu?" teriak Isyan.


Utomo menggelengkan kepala, "Itu bukan suara saya. Bisa saja kan itu hanya rekayasa orang yang tidak menyukai saya. Saya tidak merasa tidur dengan Lia, semalam saya itu pergi dengan Apsara." Utomo melirik ke arah Apsara saat mengatakan ini.


Apsara mengernyitkan keningnya, "Saya? Kenapa jadi saya, Pak?" tanya Apsara pura-pura tidak tahu.


"Bukankah semalam kita pergi bersama? Bagaimana bisa foto itu aku bersama Lia?" tegas Utomo.


Utomo menghampiri Apsara dan hendak mencekal lengannya namun dihalangi oleh Sanjaya yang sigap berdiri di depan Apsara, "Bapak jangan asal menuduh orang ya. Semalam Apsara pergi bersama saya ke cafe. Lalu bagaimana cara dia bisa bersama bapak, kalau bapak sendiri sedang tidur dengan Lia," sindir Sanjaya.


Isyan pergi setelah mengatakan itu. Lalu Dimas menyeret Utomo pergi dan membawanya ke kantor polisi. Sementara Arum membawa Lia keluar dari perusahaan.


"Kalian lihat kan? Siapa yang menjadi wanita penggoda? Apsara bukan orang yang seperti itu." Sanjaya sengaja mengatakan ini dengan terang-terangan mengingatkan semua orang atas tuduhan yang pernah mereka tujukan kepada Apsara.


"Maafkan kami Apsara."


"Kami sudah berburuk sangka kepada kamu."


"Iya, bahkan kami sudah mengucilkan kamu."


"Sekali lagi kami mohon maaf."


Apsara tersenyum tipis mendengarnya, "Tidak masalah. Aku sudah memaafkan kalian. Jadikan kejadian ini sebagai pembelajaran untuk kita. Jangan pernah mengkhianati perusahaan yang sudah baik kepada kita. Bersikap loyal kepada perusahaan," jelas Apsara.


Semua orang yang awalmya membeci Apsara, sekarang dibuat kagum dengan sosoknya yang begitu dewasa dan memiliki pola pikir yang terbuka. Setelah kejadian itu, semua orang kembali pada pekerjaannya masing-masing.


"Kamu hebat"bisik Sanjaya.

__ADS_1


Apsara terperanjat saat wajah Sanjaya tepat berada dekat di telinganya, "Sstt...diamlah," tegur Apsara.


Sanjaya cengengesan saat melihat wajah Apsara memerah karena ulahnya.


"Kenapa kamu jadi malu seperti itu?" goda Sanjaya.


"Tidak. Aku tidak merasa malu" elak Apsara.


Beberapa jam kemudian, jam istirahat kantor pun tiba. Walaupun keadaan sudah membaik, tapi Apsara lebih suka makan siang di rooftop gedung Wijaya Group dibandingkan di kantin. Saat dia berjalan menuju bangku yang ada di rooftop, dia melihat Sanjaya yang sudah duduk di sana. Apsara melihat Sanjaya bersin berkali-kali.


"Kamu sakit?" tanya Apsara yang sudah menghampiri Sanjaya.


Sanjaya berhenti menggosok hidungnya lalu menoleh ke arah Apsara, "Ah tidak. Hanya hidungku merasa gatal tadi. Sepertinya ada debu yang menyangkut saat aku menghirup oksigen," jawab Sanjaya.


Apsara menyipitkan matanya mendengar penjelasan Sanjaya yang sangat tidak masuk akal. Kini Apsara duduk di sebalah Sanjaya. Dia menempelkan telapak tangannya di kening Sanjaya, dan merasa suhu tubuh laki-laki itu cukup tinggi.


"Ini pasti karena kamu hujan-hujan semalam. Aku kan sudah bilang tidak perlu melakukan itu, San" ucap Apsara.


"Memang kenapa? Apa kamu tidak suka jika aku perhatian dengan kamu?" tanya Sanjaya.


Pertanyaan Sanjaya membuat wajah Apsara memanas. Dia memang suka saat Sanjaya perhatian dengannya, tapi kalau Sanjaya sampai sakit seperti ini, tentu saja Apsara jadi merasa bersalah. Tapi karena Apsara ahli menyembunyikan perasaannya dia terlihat biasa-biasa saja, karena dia juga tidak tahu apa Sanjaya benar-benar menyukainya atau tidak.


"Kamu tunggu di sini. Jangan ke mana-mana" tegas Apsara.


Apsara beranjak pergi meninggalkan Sanjaya. Dia pergi menuju kantin kantor untuk membeli teh hangat dan meminta obat penurun demam di ruang klinik yang memang di sediakan oleh perusahan. Setelah itu, dia kembali menemui Sanjaya.


"Kamu makan dulu, baru minum obat" ucap Apsara.


"Aku sedang tidak enak makan" tolak Sanjaya.


Apsara menghela napas. Lalu dia membuka kotak makannya dan menyuapkan sesendok nasi ke arah Sanjaya, "Buka mulutmu."


Sanjaya tersenyum dan dengan senang hati menerima suapan dari Apsara. Hatinya menjadi berbunga-bunga melihat sikap Apsara, walaupun wajah wanita itu tetap saja berekspresi datar.


Sangat manis, batin Sanjaya.


Saat Apsara akan mengarahkan sendok kepada Sanjaya, Sanjaya justru membalikkan arah sendok itu kepada Apsara, "Kamu juga harus makan. Jangan sampai kamu ikut sakit," ucap Sanjaya.


Apsara pun menerima suapan itu dari Sanjaya. Dan makan siang kali ini berubah menjadi adegan saling suap di antara mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2