
Para anggota keluarga sultan saat ini sudah berkumpul di ruang makan untuk sarapan bersama.
"Ma, Pa" Apsara memulai pembicaraannya.
"Kamu mau ngomong apa, Sa?"tanya Isyan.
"Aku dan Bara sudah memutuskan bahwa kami akan masuk ke perusahaan. Bara ke PT. Surya sementara aku ke Wijaya Group"ujar Apsara.
"Bagus kalau gitu, kapan kalian akan ke perusahaan untuk diperkenalkan sebagai pewaris?"tanya Arya.
"Pa, kami ke perusahaan bukan untuk menjadi penerus kalian"potong Bara.
"Terus sebagai apa?"tanya Rara.
"Karyawan!"jawab Bara dan Apsara bersamaan.
Kedua pasangan orang tua itu saling memandang dengan tatapan kebingungan.
"Kenapa? Kalian capek-capek kuliah S3 dengan gelar summa cum laude malah jadi karyawan. Itu kan perusahaan kalian sendiri"tegas Dion.
"Kami hanya ingin melihat siapa orang yang memiliki loyalitas tinggi terhadap perusahaan atau ada orang yang menyembunyikan gunting dalam lipatan"ucap Bara dengan tatapan dingin.
Isyan tersenyum setelah mendengar perkataan Bara, dan dia sudah mengerti apa yang ada dipikiran kedua anaknya itu. Isyan pun setuju dengan permintaan mereka berdua. Setelah sarapan selesai, satu persatu anggota keluarga pergi meninggalkan rumah untuk melakukan rutinitas seperti biasa.
*****
Dafa baru saja keluar dari kamar dengan keadaan segar dan rambut yang masih setengah basah. Penampilannya terlihat begitu menawan dan gagah. Dia bergegas menuruni tangga dan dia melihat kakeknya sedang duduk di ruang keluarga.
"Pagi Yang!"sapa Dafa mencium pipi kakeknya.
"Pagi. Mau ke mana kamu?"kata Herdian.
"Mau ketemu Bara sama Apsara"jawab Dafa.
Herdian terdiam sejenak dan mencoba mengingat-ngingat siapa kedua orang yang akan ditemui cucunya itu.
"Masa yangkung lupa, itu loh anak keluarga Praditya dan Wijaya"kata Dafa menjawab pertanyaan yang ada di pikiran kakeknya.
"Oh... yang dulu bikin heboh waktu wisuda SMA itu kan?"tanya Herdian mulai mengingat kejadian belasan tahun silam.
Dafa tersenyum saat kakeknya mengingat sebuah peristiwa paling bersejarah di SMA Atma Jaya, ketika semua orang baru sadar ada dua pewaris keluarga Praditya dan Wijaya bersekolah di yayasan itu.
-----
13 tahun yang lalu.
SMA Atma Jaya.
Apsara selalu kejar-kejaran rangking paralel dengan Bara untuk urutan pertama dan kedua, sementara Dafa diurutan ketiga. Tidak ada yang tahu jika Bara dan Apsara adalah anak-anak sultan. Hanya Dafa yang tahu identitas mereka.
Terutama Apsara yang selalu berpenampilan dengan seragam agak kebesaran, kaos kaki tinggi, dan memakai kacamata jenis aviator dengan ukuran lensa agak besar, sehingga Apsara selalu disebut sebagai anak cupu.
Apsara selalu dijahili oleh geng sekolah yang dipimpin oleh seorang gadis yaitu, Mawar yang mengincar antara Dafa dan Bara.
Hingga suatu hari, saat dilaksanakannya ujian kelulusan tiba-tiba Mawar melemparkan kertas contekan ke bawah meja Apsara. Dan saat guru lewat, dia melihat ada kertas lalu mengambilnya. Guru itu pun melihat isi kertas yang tertulis materi pelajaran.
"Apsara, kamu menyontek?"tegur Guru.
Apsara yang sedang fokus mengerjakan soal langsung menoleh ke arah gurunya dengan tatapan bingung.
"Saya tidak mencontek, Pak"jawab Apsara.
"Lalu ini apa? Kertas ini ada di bawah meja kamu, tidak mungkin kan kertas ini bisa jalan sendiri"tegas Guru.
"Bapak hukum kamu. Sekarang kamu berdiri di tengah lapangan sampai jam istirahat!"perintah Guru.
__ADS_1
Dia pun keluar dari kelas menuju lapangan dan berdiri di sana di bawah terik sinar matahari. Hingga jam istirahat pun tiba, banyak siswa yang lewat merasa heran kenapa Apsara bisa berdiri di tengah lapangan? Lalu tersiar gosip bahwa Apsara ketahuan mencontek saat ulangan, makanya dia dihukum.
"Bar, itu kan Apsa?"kata Dafa menepuk bahu Bara dan menunjuk ke arah lapangan.
Sementara saat ini tubuh Apsara sudah mengeluarkan banyak keringat, kepalanya terasa berat, napasnya terasa sesak, dan pandangannya berkunang-kunang.
BRUG
"Apsa bangun!"ucap Bara menepuk pipi Apsara yang sudah tergeletak.
"Bar, bawa ke UKS sekarang"perintah Dafa.
Mereka berdua pun menggotong Apsara bersama menuju ke UKS. Dokter pun datang memeriksa keadaan Apsara.
"Apsara itu punya riwayat darah rendah, dia tidak kuat jika terlalu lama di bawah panas matahari apalagi dia sampai mengalami dehidrasi parah"jelas Dokter.
"Lalu bagaimana keadaan dia, Dok?"tanya Bara khawatir.
"Dia sudah membaik, jika sudah sadar beri dia minum. Lalu biarkan dia beristirahat"lanjut Dokter lalu meninggalkan UKS.
Beberapa hari setelah kejadian itu, Dafa tak sengaja mendengar percakapan antara Mawar bersama gengnya.
"Ya ampun kasian banget Si Cupu dihukum sama guru, pasti dia dapat nilai nol karena ketahuan mencontek."kata anggota geng 1.
"Rasain, siapa suruh dia sok keganjenan sama Bara dan Dafa. Dia pikir dia itu siapa beraninya deketin cowok hits, harusnya aku yang bisa dekat dengan mereka"ucap Mawar dengan bangga.
"Tapi, aneh nggak sih masa Apsara nyontek sih? Dia kan pintarnya nggak ketulungan"sela anggota geng 2.
"Ya ampun kalian ini, aku itu yang naruh kertas contekan di bawah mejanya Si Cupu"timpal Mawar dengan nada genit dan disahuti dengan tawa anggota gengnya.
Dafa terkejut mendengar perkataan Mawar dan untungnya dia sudah merekam percakapan mereka dan langsung dia laporkan pada Bara dan Apsara.
"Ini nggak bisa dibiarin, mereka harus mendapat pembalasan"tukas Bara.
"Kenapa? Mereka udah mencoreng nama baik kamu"kata Dafa.
"Oh come on guys, kalau kalian mau melawan musuh yang licik maka kalian harus lebih licik dari dia"tegas Apsara dengan tatapan dingin.
Apsara sedang membantu seorang guru untuk membawakan soal remidi ke dalam kelas. Dan dengan sengaja Mawar beserta gengnya menabrak Apsara hingga membuat kertas soal jatuh ke lantai.
Apsara langsung memunguti kertas-kertas itu dan tiba-tiba Mawar menginjak tangan Apsara dan menekannya hingga tangan Apsara yang putih memerah.
"Ini balasannya karena kamu berani mendekati Bara dan Dafa. Asal kamu tahu ya, kamu itu nggak pantas untuk mereka"ketus Mawar sambil menambah tekanan pada kakinya lalu dia meninggalkan Apsara.
"Sa, tangan kamu jadi luka gini kan?"tanya Dafa memegang tangan Apsara yang sudah lecet. Dia langsung mendudukkan Apsara di bangku depan kelas dan mengobati luka Apsara dengan obat yang sudah dia kantongi.
Bara melihat apa yang terjadi di depan matanya, perhatian Dafa bukanlah perhatian seorang sahabat kepada sahabatnya. Ada pancaran rasa sayang di mata Dafa untuk Apsara.
"Kamu sudah merekamnya?"tanya Apsara menatap Bara.
Bara memberi anggukan dan itu membuat Apsara tersenyum penuh kemenangan.
Akhirnya, hari pelaksanaan wisuda pun tiba. Wisuda diadakan di salah satu hotel berbintang, karena kebanyakan murid yang sekolah di SMA ini adalah anak-anak orang kaya.
Kepala sekolah mengumumkan nama murid yang masuk ke dalam tiga nilai ujian tertinggi. Dan mereka adalah Bara, Dafa, dan Mawar. Semua orang terkejut saat nama Mawar disebut karena biasanya Apsara yang bertengger di jajaran itu.
"Maaf Bapak Kepala Sekolah yang terhormat"sela Apsara sambil berdiri berjalan menuju panggung menghampiri kepala sekolah.
Semua orang terpesona dengan penampilan Apsara yang begitu cantik menggunakan kebaya bertabur kristal dengan warna merah yang membuat dia seperti seorang putri. Semua tidak menyangka bahwa Si Cupu bisa secantik itu.
"Saya rasa ada yang harus diketahui oleh semua orang yang ada di sini"kata Apsara dengan tatapan misterius.
"Apa maksud kamu Apsara?"tanya Kepala Sekolah.
Apsara memberi isyarat kepada teknisi LCD untuk memutar rekaman suara saat Mawar mengaku telah memfitnah Apsara mencontek, lalu vidio di mana Mawar menginjak kakinya, dan vidio saat orang tua Mawar menemui Kepala Sekolah dengan tujuan ingin meminta agar nilai anaknya ditukar dengan nilai Apsara dan orang tua Mawar memberi sejumlah uang kepadanya.
__ADS_1
Semua orang nampak terkejut dengan apa yang mereka tonton saat ini tak terkecuali Herdian Atma Jaya sebagai kepala yayasan. Dia tidak menyangka kepala sekolah yang selama ini dia percayai justru melakukan tindakan korupsi.
"Bagaimana? Menyenangkan bukan?"sindir Apsara dengan senyum sinis.
"Kamu kurang ajar sekali, berani-beraninya menuduh saya dengan tuduhan menjijikan seperti itu"tegas Kepala Sekolah hendak menampar Apsara.
"Jauhkan tanganmu dari wajah putriku!!!"teriak seseorang dari arah pintu ballroom.
Semua orang melihat ke arah sumber suara dan terlihat Arya Praditya berjalan bersama Isyana Wijaya dan di belakangnya ada Dion Wijaya bersama Rara Praditya. Semua orang terpana dengan aura keluarga sultan itu.
"Putrimu?"tanya Kepala Sekolah.
"Iya, Apsara Arsya Praditya adalah putri kami"jawab Isyan.
"Dan Bara Ranggana Wijaya adalah putra kami"sambung Dion.
"Di sekolah ini ada dua pewaris dari keluarga Praditya dan Wijaya yang bersekolah di sini. Dan sekarang kamu sudah berani melukai anak mereka?"sela Herdian yang sudah berdiri dari kursi dan berjalan menghampiri Apsara yang ada di atas panggung.
"Nak, terima kasih karena kamu telah mengungkapkan kasus pembullyan dan tindak korupsi yang dilakukan oleh kepala sekolah"kata Herdian mengelus kepala Apsara.
"Dan untuk kamu Mawar dan juga keluargamu, kalian tidak akan bisa hidup tenang setelah kamu mencelakai putriku"tegas Isyan dengan tatapan dingin.
"Bawa kepala sekolah ini ke penjara!"teriak Herdian yang disahuti pihak keamanan yang sudah menggiring kepala sekolah itu.
Setelah kejadian itu Apsara dan Bara memutuskan untuk berkuliah di Amerika, dan Dafa pun mengikuti jejak mereka setelah kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Di malam sebelum keberangkatan mereka bertiga ke Amerika, Dafa mengajak Apsara untuk pergi ke taman kota.
"Daf, kamu ngapain ngajak aku ke taman? Kenapa nggak ajak Bara juga?"tanya Apsara saat Dafa sudah menggandeng tangannya.
Dafa mempersilahkan Apsara duduk di bangku taman lalu dia memberikan Apsara sebuah buku diary yang di atasnya tertempel setangkai bunga mawar. Apsara yang tidak peka dengan hal berbau cinta hanya diam dengan ekspresi datar.
"Ini untuk apa?"tanya Apsara.
"Itu buka diaryku. Aku menulis semua hal yang aku rasakan. Aku mulai menulis itu sejak aku kelas 4 SD"jawab Dafa.
"Lalu?" Apsara belum mengerti maksud Dafa memberikan buku diarynya kepada dia.
"Bacalah!"pinta Dafa.
Apsara mengernyitkan keningnya ragu untuk membuka buku itu, dan dengan satu anggukan dari Dafa, dia akhirnya membuka buku diary itu. Setiap lembar Apsara membaca dengan teliti. Ada cerita tentang bahagia, sedih, marah, kecewa, dan kehilangan yang Dafa rasakan saat orang tuanya meninggal.
Dan Apsara menghentikan gerakan tangannya untuk membuka lembar selanjutnya saat ada namanya tertulis di halaman itu. Sebuah puisi cinta dan itu ditujukan untuk dirinya. Apsara menatap Dafa yang kini sudah memberi senyum kepadanya.
"Maksudnya?"
"Aku menyukai kamu, sejak SMP di mana aku belum tahu kalau kamu dan Bara adalah saudara."
Apsara melongo dan terkejut saat pertama kali di dalam hidupnya, ada pria yang secara terang-terangan mengibarkan bendera perang untuk meluluhkan Si Kutub Selatan.
"A...aku tahu...ini terdengar aneh. Tapi aku sudah menyukai kamu sejak lama sebelum aku tahu kamu anak dari Arya Praditya. Aku menyukai kepribadianmu yang sederhana, mandiri, dan pintar."
Apsara tersenyum pada Dafa, dia tidak bisa menyalahkan laki-laki ini atas perasaannya karena dia pria normal. Dengan segala kedewasaan akhirnya Apsara berbicara.
"Dafa, terima kasih karena kamu sudah mau menyukai aku, mau bersahabat denganku, dan selalu memberikan aku perhatian. Tapi, aku tidak mau memberi kamu harapan palsu. Aku hanya menganggapmu sebagai sahabat yang selalu ada untukku, tidak lebih dari itu. Aku tahu ini menyakiti perasaanmu, tapi aku tidak bisa berbohong dan membohongi kamu. Daf, kamu itu orang baik, dan aku ingin selalu menjadi sahabat kamu."
Perkataan Apsara seperti pedang yang menghujam jantung Dafa begitu dalam. Hatinya sakit dan merasakan perih, tapi dia juga tidak bisa memaksakan perasaannya. Dia tidak mau kehilangan Apsara karena menjadi sahabatnya saja sudah cukup.
"Aku tidak meminta kamu membalas perasaanku, karena aku bisa menyatakannya saja aku sudah merasa lega. Aku harap persahabatan kita tidak hancur karena hal ini."
Apsara mengangguk menyetujui perkataan Dafa.
"Boleh aku memelukmu?"pinta Dafa.
Apsara menghela napasnya lalu memperlihatkan rentangan tangannya dalam skala kecil. Dafa pun langsung memeluk Apsara. Mungkin ini kali terakhir dia memeluk Apsara dengan penuh cinta.
Dan tanpa mereka ketahui, Mawar melihat ketika Dafa menyatakan perasaannya pada Apsara. Mawar merasa iri dengan hidup Apsara yang begitu sempurna. Wajah cantik, keluarga kaya raya, dan pria tampan yang mencintai dia. Sedangkan dia kini harus hidup melarat karena perusahaan keluarganya telah dihancurkan oleh Arya dan Isyan.
__ADS_1