
Nanda sudah sampai di kampus. Sepanjang jalan menuju kampus dia terus menggerutu dan melontarkan sumpah serapah. Kekesalannya diakibatkan oleh kejahilan kembarannya yang mengajaknya ribut di parkiran mobil hingga tali tasnya lepas.
Nendra masih kesal dengan ulah Nanda tadi pagi yang membuatnya malu di depan seluruh keluarga. Karena tasnya dirusak oleh Nendra, alhasil Nanda membalas dengan membuat ban mobil Nendra kempes. Dia melakukan itu setelah Nendra meninggalkan parkiran terlebih dahulu.
"Rasain tuh ban mobil kempes. Biar aja dia bingung pulang pakai apa. Bucin banget sih jadi cowok" ucap Nanda sambil berjalan menuju kelasnya.
Nanda melewati koridor ruangan dosen, dan disaat yang bersamaan Dafa keluar dari ruangan itu dan berjalan ke arah diri asal kedatangan Nanda.
BUGGHH
Mereka pun saling bertabrakan. Beberapa berkas di tangan Dafa berjatuhan ke lantai.
"Maaf" ucap Nanda langsung berjongkok dan memunguti lembaran kertas di lantai.
Dafa juga memunguti kertas-kertas itu dan keduanya secara bersamaan mengambil kertas yang sama. Alhasil mereka menoleh dan beberapa detik mereka saling memandang. Nanda harus akui sosok Dafa memang patut untuk dikagumi. Tampan, cerdas, dan mapan. Dafa pun tak bisa mengelak, kalau gadis ini memang cantik, cerdas, dan mandiri.
"Kamu lagi, kamu lagi" seru Dafa langsung mengambili kertas-kertas itu dengan cepat.
Nanda ingin membantu tapi dia kalah cepat dan gesit dari Dafa. Jadi dia hanya menonton saja. Sampai akhirnya keduanya sama-sama berdiri.
"Kamu selalu buat saya sial setiap kali kita bertemu" tegas Dafa dengan tatapan dingin.
"Hah? Apa saya tidak salah dengar? Bapak kali yang selalu buat saya sial" balas Nanda tak kalah sengit.
"Kamu jangan asal bicara ya. Setelah kamu masuk ke dalam hidup saya, hidup saya yang awalnya tenang dan damai jadi kacau dan berisik" ucap Dafa sambil menunjuk ke arah wajah Nanda.
"Kenapa sih Kak Dafa selalu menilai aku buruk? Kenapa yang selalu dipuji Kak Apsara?" jerit Nanda yang sudah berkaca-kaca.
"Apsara itu sosok perempuan yang sempurna. Mandiri, cerdas, tegas, dan pekerja keras. Sementara kamu hanya anak manja, keras kepala, kekanak-kanakan, dan tidak bisa melakukan apapun" jelas Dafa dengan nada bicara dingin dan mengejek.
__ADS_1
Nanda jelas-jelas sangat tersinggung dengan kalimat yang diucapkan oleh Dafa. Dia bukan anak yang manja dan tidak bisa melakukan apapun. Walaupun dia lahir dari keluarga kaya, tapi orang tuanya tidak pernah memanjakannya seperti lainnya. Sebagai anak bungsu bukan berarti apa yang dia mau pasti dituruti.
Ketika Nanda ingin memiliki laptop baru, Isyan sebagai ibunya tidak langsung memberikannya. Nanda harus membayar laptop itu dengan meraih ranking satu di kelasnya. Tentu saja itu imbalan yang sepadan.
"Aku bukan Kak Apsa. Jadi aku tidak akan seperti dia!!" bentak Nanda sambil mendorong tubuh Dafa dan berlalu pergi dengan rasa marah dan kecewa.
Di sepanjang jalan, Nanda harus menahan tangisnya karena keberadaan teman-teman kuliahnya. Hatinya merasa sangat sakit ketika Dafa membandingkan dia dengan kakaknya. Nanda sebenarnya sering dibandingkan dengan Apsara yang memang jauh lebih dewasa dari dia. Tapi tidak pernah dia merasa sesakit ini.
*****
Setelah jam kuliah siang selesai, Almira, Zahra, dan Nanda janjian untuk ke kantin bersama. Aturan yang dibuat Nanda untuk kedua saudaranya yang sudah bucin adalah, kalau dia sedang pergi dengan kekasih mereka maka tidak ada yang boleh menyusul. Dan kedua pasangan itu tidak boleh bermesraan ketika ada Nanda. Itu mengakibatkan rasa cemburu, jengkel, dan kasihan seorang Nanda yang masih jomblo.
Saat mereka akan menuju ke kantin, ketiganya melihat kerumunan para mahasiswa di mading kampus.
"Kak ramai-ramai gitu ada apa ya?" tanya Almira.
"Nanda, idul adha aja belum" timpal Zahra.
"Hahaha lupa" kata Nanda cengengesan.
"Kita lihat yuk, Kak" ajak Almira.
"Ayo" seru Nanda dan Zahra bersamaan.
Mereka bertiga pergi menuju mading sekolah. Setelah para mahasiswa ada beberapa yang sudah meninggalkan mading, mereka pun bisa maju dan melihat pengumuman apa yang dipajang.
PEMILIHAN CAMPUS PRINCESS OF THE YEAR.
"Campus princess itu apa?" ucap Almira kebingungan.
__ADS_1
"Ya seperti pemilihan duta kampus. Dia yang terpilih akan menjadi role model di kampus. Selama setahun masa jabatan, dia akan ikut kegiatan penting di kampus dan mempromosikan kampus ini" jelas Zahra.
Ini adalah acara paling besar dan paling ditunggu-tunggu seluruh mahasiswa. Karena yang terpilih menjadi pemenang akan dianggap sebagai The Biggest Star In Campuss. Biasanya dia wanita yang pintar, cantik, dan modis.
"Paling yang ikut anak-anak hits di kampus kayak Geng Miss. Mereka kan udah coba ikutan dari semester dua tapi belum menang. Dan pasti mereka akan ikut lagi" sela Nanda.
Mereka bertiga pun meninggalkan mading dan pergi ke kantin. Di kantin mereka makan dengan tenang. Tapi Zahra berpikir kalau dia ingin Nanda ikut pemilihan campus princess.
"Nan, kamu ikut pemilihan campus princess dong" ujar Zahra.
Nanda yang sedang makan langsung terbatuk-batuk. Dan Almira menyodorkan segelas air kepada Nanda.
"Hah? Aku nggak salah denger? Aku mahasiswa S2, Zah. Mana bisa" balas Nanda.
"Tapi kan di brosur cuma tertulis maksimal umur 25 tahun. Dan kamu baru 23 tahun. Jadi salahnya di mana? Nggak ada syarat juga harus mahasiswa S1 atau S2. Karena dilihat dari batasan umur pasti jelas mayoritas yang ikut anak S1. Kalau anak S2 ikutan campus princess itu akan menjadi dobrakan besar" jelas Zahra panjang lebar.
"Yang dibilang Kak Zahra benar. Kak Nanda itu cantik, pintar, modis, dan punya banyak pengalaman. Kenapa nggak coba ikutan. Kita pasti dukung kok" imbuh Almira.
"Masalahnya, apa motivasiku ikutan acara kayak gitu. Aku nggak pernah suka untuk show up diriku ke banyak orang" tukas Nanda.
"Pembuktian. Kamu tahu kan kebanyakan pemenang campus princess hanya mereka anak-anak hits. Kamu harus kasih tahu ke semua orang kalau pemenang campus princess harus perempuan yang nggak cuma cantik tapi juga cerdas, mandiri, bertalenta, dan punya advokasi sosial" tegas Zahra penuh semangat.
Nanda terdiam sejenak mencermati setiap kalimat yang dikeluarkan oleh sahabatnya itu. Nanda teringat dengan penghinaan Dafa tadi. Yang mengatakan kalau dia anak manja, keras kepala, dan tidak bisa apapun. Mungkin ini salah satu cara Nanda untuk membuktikan bahwa dia bisa melakukan hal besar.
"Oke. Aku akan ikut" ucap Nanda.
"Yes. Nanti kamu pakai baju rancangan aku ya" ujar Zahra kegirangan.
"Semangat untuk kita. Kita harus jadi best team buat dukung Kak Nanda" sambung Almira.
__ADS_1