Pengorbanan Cinta 2

Pengorbanan Cinta 2
Bab 16


__ADS_3

"Pagi Pak Dafa ganteng"sapa para mahasiswi yang melihat Dafa datang ke kampus.


Mereka selalu mencoba tebar pesona kepada Dafa. Hampir semua mahasiswi dari berbagai fakultas menunggu kedatangan Dafa di sepanjang jalan dari parkiran hingga gedung kampus. Sementara yang disapa hanya memasang wajah datar dan tidak menggubris sapaan mahasiswinya.


"Cih, sok ganteng banget itu dosen"nyinyir Nanda saat melihat teman-temannya menyapa Dafa.


"Pak Dafa itu ganteng tau. Masa kamu nggak naksir sih?"


"Ganteng? Nyebelin mah iya"sewot Nanda langsung mlengos masuk ke dalam kelas.


"Mata kamu rusak kali, Nan."


Nanda mengedikkan bahu acuh tak peduli dengan omelan temannya. Hari ini dia merasa hidupnya tenang, karena tidak ada mata kuliah dari Dafa.


Karena setiap dia bertemu dengan Dafa, selalu saja terjadi keributan. Entah itu ketika Nanda salah sasaran saat melempar botol minum yang seharusnya masuk ke tempat sampah, tapi botol itu justru mengenai kepala Dafa ketika dia tidak sengaja lewat di jalan yang terdapat tempat sampah. Lalu Nanda pernah menabrak sekaligus menumpahkan minum ke kemaja Dafa, hingga membuat dia diberi tugas tiga kali lipat dari teman-temannya.


Sementara Zahra dan Nendra semakin dekat dan tak jarang mereka pergi ke kantin bersama atau sekedar menerjakan tugas bersama. Sebagai saudara Nanda mendukung mereka berdua karena menurut dia keduanya cocok. Nanda juga terkadang ikut berkumpul bersama mereka untuk sekedar mengobrol biasa jika dia tidak banyak tugas. Tapi sampai saat ini, Zahra belum tahu kalau Nanda dan Nendra itu saudara.


Langga selain berkuliah, dia juga menjadi asisten dosen untuk kelas S1 kedokteran, jadi dia sering masuk ke kelas Almira. Beberapa kali Langga membantu Almira dari mulai meminjamkan jas prakteknya karena milik Almira kotor karena ulah Sindi yang masih dendam kepada Almira karena dia harus dihukum oleh ketua BEM. Kemudian dia sering membantu Almira dalam belajar jika ada materi yang tidak dipahami.


Dan Almira pun masih sering menerima kejahilan dari Geng Miss karena mereka merasa dia tidak pantas kuliah di kampus tersebut, setelah mereka tahu bahwa Almira hanya anak miskin yang mendapat beasiswa. Ditambah lagi kedekatan Almira dan Langga yang membuat Sindi merasa sangat iri.


*****


Gosip tentang kedekatan Apsara dengan salah satu petinggi perusahaan samar-samar masih terdengar namun tidak sesering tempo hari. Karena Apsara tidak pernah peduli atau menanggapi cercaan mereka terhadapnya. Apsara lebih fokus kepada kasus Utomo yang ingin segera dia bongkar secepatnya.


Saat ini Apsara sedang sibuk di depan komputer mengerjakan tugasnya seperti biasa. Sepertinya dia akan semakin sibuk karena produk sabun yang belum lebih seminggu meluncur sudah memberikan banyak keuntungan bagi perusahaan. Ditambah lagi ide dari Apsara dijalankan oleh Dion, maka dia dibuat semakin sibuk.


"Apsara." Apsara menoleh saat mendengar namanya dipanggil.


Apsara langsung berdiri dari kursi saat melihat Risko menatapnya.


"Ikut saya. Bu Isyana ingin bertemu dengan kamu"ujar Risko dengan tatapan memerintah.


Secara bersamaan Sanjaya dan Lia langsung menoleh ke arah Apsara dengan tatapan bingung. Dan Apsara hanya mengedikkan bahu tanda tak tahu. Setelah itu Apsara berjalan mengikuti Risko. Di dalam lift Risko tertawa terbahak-bahak.


"Kenapa kamu tertawa?"tanya Apsara.


"Karena aku merasa senang bisa menjadi atasanmu"ledek Risko.


Apsara langsung menginjak kaki Risko hingga dia meringis kesakitan. Dan rengekan Risko harus dia hentikan saat pintu lift terbuka. Risko menyuruh Apsara masuk ke dalam ruangan Isyan.


"Selama pagi Bu eh Mama"ucap Apsara terkikik saat bingung harus memanggil Isyan dengan sebutan apa.


Isyan hanya menggelengkan kepala lalu mengangkat tangannya agar Apsara duduk di depannya.


"Ada apa mama memanggil aku ke sini?"tanya Apsara.


"Ada hal yang harus mama bicarakan sama kamu"ucap Isyan.


"Tentang apa?"tanya Apsara lagi.


"PT. Taman Wisata Candi Borobudur mengajak Wijaya Group bekerja sama untuk membangun sebuah resort mewah di daerah Candi Borobudur. Kalau mama tidak salah, dulu kamu dan Bara pernah mendesign sebuah resort nuansa klasik Jawa bersama Opa Kusuma. Apa design itu masih ada?"ujar Isyan.

__ADS_1


"Iya. Dan design itu sepertinya Bara yang menyimpannya"balas Apsara.


"Mama rasa untuk proyek ini kamu dan Bara yang akan mengurusnya. Karena pihak klien juga mempercayakan proses pembangunan resort kepada perusahaan papa kamu. Dan untuk penentuan design interior dan pemilihan perabotan, mama percayakan kepada kamu"kata Isyan menatap anaknya dengan penuh keyakinan.


"Tapi mama tahu kan, posisi aku di perusahaan ini hanya karyawan divisi promosi. Bagaimana bisa aku mendapat tugas sepenting itu?"tukas Apsara.


"Apsa, tidak akan ada yang curiga selama mama yang mengatakan kalau ini titah dari direktur utama Wijaya Group"tegas Isyan dengan tatapan dingin.


Jawaban dari Isyan, membuat Apsara terdiam dengan mata membulat sempurna namun setelah itu dia terkekeh. Memang siapa yang berani melawan seorang Isyana Wijaya.


"Ya baiklah. Aku akan diskusikan ini dengan Bara. Apa papa sudah membicarakan ini dengan Bara?"lanjut Apsara.


"Sudah. Dan dia setuju. Tinggal menunggu persetujuan dari kamu"balas Isyan.


"Baik Ma, aku setuju"ucap Apsara.


"Baik kalau begitu kamu bisa kembali. Sebentar lagi jam makan siang"kata Isyan melirik jam tangannya.


Apsara bangkit dari kursi dan berbalik badan. Dia berjalan menuju pintu lalu membuka pintu ruangan Isyan. Apsara baru melangkah keluar dari ruangan Isyan tiba-tiba dari arah berlawanan Dion menubruk Apsara hingga dia hampir jatuh dan dengan cepat Dion menahan pinggang Apsara.


Posisi mereka persis seperti seorang pria dan wanita yang tidak sengaja bertabrakan dan saling menatap. Apsara harus menahan napasnya saat dia bertatapan dengan papinya.


"Mas Dion!!" Dion langsung melepaskan tubuh Apsara dari tangannya dan melihat Rara berdiri menatapnya dengan tajam.


Arum dan Dimas yang sedang berdiri di koridor langsung menepuk jidat bersamaan ketika keduanya melihat drama ini. Dan pasti setelah ini gosip tentang Apsara akan menyebar dengan cepat karena ada karyawan yang melihat kejadian ini.


"Kamu ngapain Mas?"tanya Rara dengan nada tinggi.


Apsara memasang wajah datar namun keningnya berkerut. Sementara Rara mengedipkan matanya kepada Apsara.


"Kamu ngapain masih di sini? Pergi sana"kata Rara mengusir Apsara.


Apsara langsung berlalu pergi meninggalkan mereka semua. Rara langsung masuk ke ruangan Isyan mendahului Dion, dan tentu saja Dion langsung menyusul Rara.


"Sayang, kenapa kamu marah?"ujar Dion dengan nada bingung.


Isyan yang melihat pasangan itu masuk ke ruangannya dengan membawa pertengkaran hanya bisa diam menatap mereka.


"Aku nggak marah kok"jawab Rara sudah duduk di sofa.


"Lah tadi kenapa kamu bentak Apsara coba?"kata Dion yang sudah duduk disebelah Rara.


"Kalian ngapain sih? Kalau mau main drama suara hati istri, mending di hutan aja jangan di kantor. Terus kenapa kalian menyebut nama Apsara?"gerutu Isyan.


Rara pun menceritakan kejadian yang terjadi di depan ruangan Isyan. Isyan tertawa terbahak-bahak saat mendengar cerita dari Rara. Ekspresi Dion memperlihatkan kekesalan karena cara Rara bercerita seperti mempergokinya sedang berselingkuh.


Apsara sudah sampai di lantai divisi promosi, dan saat dia berjalan menuju meja kerjanya samar-samar dia mendengar para karyawan membicarakan dia dengan papinya. Sepertinya, Apsara tahu pasti ada yang melihat kejadian tadi dan langsung menyebarkan gosip itu.


"Wow wow...jadi perempuan penggoda ini ternyata mendekati Pak Dion. Tapi sayangnya langsung kepergok istrinya"ejek Lia yang berdiri di depan Apsara dengan tawa yang menghina.


"Aku tidak ada urusan dengan kamu"ucap Apsara dingin.


"Hei sombong sekali kamu ini"kata Lia mendorong tubuh Apsara dengan kuat hingga Apsara hampir jatuh namun dari belakang ada Sanjaya yang sudah memasang badan menangkap Apsara.

__ADS_1


Apsara mendongakkan kepala hingga matanya dan mata Sanjaya saling bertemu. Dan mereka bertatapan beberapa detik hingga akhirnya Apsara menjauhkan tubuhnya dari dekapan Sanjaya.


"Lia...kamu kalau nggak tahu apa-apa, tidak usah menuduh orang sembarangan"tegas Sanjaya.


"Hello Sanjaya...perempuan ini itu meracuni kamu dengan apa sih? Sampai kamu selalu membela dia?"tukas Lia dengan judesnya.


"Aku tahu Apsara seperti apa. Dia tidak mungkin melakukan hal seperti itu"jelas Sanjaya yang membuat Apsara menoleh kepadanya.


Entah apa yang membuat Apsara merasa ada sesuatu yang membuat jantungnya berdegup kencang saat mendengar perkataan Sanjaya.


Dan akhirnya jam kerja kantor pun habis. Apsara belum menyelesaikan pekerjaannya karena Utomo sejak tadi memberinya banyak pekerjaan. Padahal Lia, Eta, dan Sanjaya sudah pulang setengah jam yang lalu.


"Apsara, kamu ke ruangan saya"ucap Utomo berdiri di depan ruangannya lalu masuk ke ruangannya kembali.


Mendengar perintah dari Utomo, Apsara langsung bangkit dari kursi dan bergegas menuju ruangan Utomo.


"Ada apa, Pak?"tanya Apsara dengan sopan.


Utomo yang tadinya duduk, langsung berdiri dan berjalan menghampiri Apsara. Apsara sudah bersiap-siap jika Utomo akan melakukan hal yang tidak-tidak.


"Saya sudah dengar gosip tentang kamu dan Pak Dion"ujar Utomo dengan nada genit.


Apsara sudah mengepalkan tangannya dan tatapan dingin tak surut dari bola matanya yang tajam.


"Sepertinya permainan kamu diketahui oleh para karyawan. Jika memang kamu butuh uang, dan kamu ingin mendapatkan uang dengan cepat, saya bisa berikan apapun yang kamu mau"sambung Utomo.


"Maksud bapak apa?"tanya Apsara setenang mungkin.


"Saya bisa mempermudah pekerjaan kamu dan memberikan kamu banyak uang jika kamu mau menemani saya malam ini"ujar Utomo hendak memegang dagu Apsara namun dia berhasil menepis tangan pria tua itu.


Utomo tersenyum licik melihat reaksi dari Apsara. Semakin Apsara melawannya, semakin tertarik Utomo dibuatnya. Harus dia akui, Apsara jauh lebih cantik dari Lia. Bahkan menurutnya, sikap dingin Apsara adalah sesuatu yang membuatnya semakin bergairah.


"Benarkah? Bapak akan memberikan apapun yang saya mau?"tanya Apsara dengan tatapan mata berbinar-binar.


"Tentu saja"sahut Utomo bersemangat.


Senyum menyeringai langsung terlihat di wajah Apsara. Dia berhasil membuat Utomo percaya dengan dia.


"Baik, saya akan menemani bapak"ucap Apsara.


"Baiklah, besok malam datang ke hotel ini. Kita akan bertemu di sana"ujar Utomo mengulurkan sebuah kartu hotel.


Apsara pun menerimanya dan Utomo sengaja menyentuh tangan Apsara saat dia akan mengambil kartu itu.


"Saya permisi, Pak"ujar Apsara tersenyum manis lalu keluar dari ruangan Utomo.


Saat Apsara akan melangkah menuju meja kerjanya tiba-tiba ada yang menariknya dan membawanya ke toilet.


"Lepas! Siapa ka..." Apsara tidak melanjutkan perkataannya saat melihat Sanjayalah yang menarik dirinya dan laki-laki itu sudah memberi isyarat dengan jari telunjuknya agar dia diam.


"Bukannya kamu sudah pulang setengah jam yang lalu?"tanya Apsara dengan tenang.


"Aku kembali karena dompetku tertinggal"jawab Sanjaya.

__ADS_1


Sanjaya menatap Apsara dengan tatapan penuh selidik sambil melirik kartu yang ada digenggaman Apsara. Apsara tersenyum saat dia tahu bahwa Sanjaya pasti sudah mendengar pembicaraannya dengan Utomo karena memang dia tidak menutup pintu ruangan Utomo.


"Aku tahu, kalau kamu sudah mendengar pembicaraanku dengan tua bangka itu. Jadi aku butuh bantuan kamu"ucap Apsara sambil menaikkan satu alisnya dan memberi senyum misterius.


__ADS_2