Pengorbanan Cinta 2

Pengorbanan Cinta 2
Bab 30


__ADS_3

Makan malam berlangsung dengan suasana yang menyenangkan. Keluarga Arya dan Dion langsung akrab dengan Asmara. Hal itu membuat Asmara merasa sangat bahagia karena dia disambut dengan tangan terbuka. Kehangatan yang diberikan keluarga Bara terhadapnya membuat dia kembali teringat dengan kedua orang tuanya yang telah tiada.


Setelah makan malam usai, Bara mengantar Asmara dan Almira ke rumah Surya. Selain itu tiga adik Bara meminta ikut. Dengan alasan mereka sudah lama tidak berkunjung ke rumah Surya. Setelah hampir 30 menit perjalanan akhirnya mereka sampai di rumah Surya.


Mereka semua turun dari mobil. Asmara kembali terkejut untuk kesekian kalinya melihat rumah mewah yang ada di depan matanya. Memang masih kalah megah dan mewah dari rumah Bara. Tapi dia pasti akan nyasar saat berkeliling di dalam rumah ini.


"Yeay akhirnya kita sampai juga" teriak Nanda.


"Udah lama ya kita nggak main ke rumah Kakek Surya" ujar Nendra.


"Asmara, dia namanya Bi Sari. Pembantu terlama di rumah ini. Bibi kenalkan dia Asmara calon istri saya" ujar Bara.


"Salam kenal Bi" kata Asmara.


"Salam kenal Mbak Asmara. Cantik ya calonnya Mas Bara. Nggak salah pilih" puji Bi Sari.


"Bibi bisa saja" balas Asmara malu-malu.


"Mbak Apsara kenapa nggak ikut sekalian?" tanya Bi Sari.


"Kak Apsara lagi semedi, Bi. Biar dia cepat dapat jodoh terus cepat nyusul Kak Bara nikah" ujar Nanda sambil tertawa.


"Hush mulut kamu. Kalau ngomong suka bener" sambung Nendra ikut tertawa juga.


"Ya sudah, ayo semuanya silahkan masuk" ujar Bi Sari mempersilahkan semuanya masuk.


Nuansa rumah yang identik dengan nuansa kayu berwarna coklat membuat rumah ini terasa hangat. Asmara melihat beberapa deretan figura yang terpajang di dinding. Dia mengamati deretan figura itu beberapa detik.


"Kalian bertiga ajak Almira keliling rumah ya" perintah Bara kepada ketiga adiknya.


"Siap Bos!" sahut ketiganya sambil hormat.


"Ayo Al" ujar Langga tiba-tiba meraih tangan Almira.


Nanda langsung menepis tangan Langga, "Enak aja main gandeng anak orang. Bukan mukhrim tahu," sulut Nanda dengan nada menyebalkan.


"Huuu Langga" sorak Nendra tertawa puas.


Mereka berempat pun meninggalkan Bara dan Asmara di ruang keluarga dan pergi menuju taman belakang rumah. Bara mengajak Asmara duduk di sofa bersamanya.


"Kamu pasti masih bingung kan dengan keluargaku?" tanya Bara.


Asmara pun mengangguk mengiyakan. Karena yang ada dipikirannya begitu banyak anggota keluarga Bara dan apalagi ada beberapa foto orang yang tidak dia temui di rumah Bara sebelumnya.


Bara pun menceritakan sedikit asal usul keluarganya. Tentang hubungan Surya dengan keluarga Wijaya. Keberadaan opa dan omanya di Amerika. Dan orang tua Arya yang sudah meninggal. Selain itu, Bara juga bercerita hubungan lucu kedua orang tuanya, di mana Rara adalah adik kandung Arya tapi menjadi istri dari sepupu Isyan.

__ADS_1


"Aku awalnya merasa takut, kalau keluarga kamu tidak setuju dengan hubungan kita. Apalagi keluarga kamu adalah keluarga terhormat. Mana mau mereka mempunyai menantu yatim piatu seperti aku" ucap Asmara.


"Kamu tahu alasan aku dan Apsara selalu menyembunyikan identitas kami?" kata Bara.


Asmara menggelengkan kepalanya.


"Karena kami tahu, semua orang akan mendekati kami hanya karena nama keluarga kami. Tidak ada yang tulus kepada kami. Dan aku sangat bersyukur meskipun kamu sudah tahu siapa keluargaku, kamu tidak berubah" balas Bara.


"Untuk apa berubah. Apa karena kamu dari keluarga kaya? Mendapat restu dari keluarga kamu saja aku sudah merasa sangat bahagia. Mereka mau menerima aku dan Almira, lalu memperbolehkan aku tinggal di rumah ini. Ditambah lagi mereka sangat menyayangiku, jadi aku merasa mendapatkan kasih sayang dari orang tua lagi" kata Asmara.


Bara pun memeluk Asmara begitu erat dan sesekali mencium keningnya.


*****


Keempat bocah itu sedang duduk di gazebo yang ada di taman sambil memberi pakan ikan di mana ada kolam ikan tepat di bawah mereka.


"Al, kenapa kamu diem aja dari tadi? Kamu nggak suka sama rumah ini? Aku bisa bilang sama Kak Bara untuk mencari rumah lain" ujar Nanda.


"Sok sultan kamu" sela Nendra.


"Emang sultan" balas Nanda sombong.


Almira masih diam dan menunduk sebelum berkata, "Maaf ya, Kak," ucap Almira.


"Coba kamu jelaskan apa yang terjadi? Kita itu udah jadi keluarga loh" sela Langga.


"Aku...sebenarnya menghindar dari Kak Langga karena aku pikir kalian berdua pacaran. Jadi aku nggak mau jadi penghalang untuk kalian" ujar Almira.


Nendra dan Nanda saling menatap lalu, "Ooohhhh," mereka berdua ber-oh ria dengan tatapan menggoda.


"Eh jangan-jangan Zahra juga gitu, Nan. Dia kan beberapa hari ini menghindar dari aku dan kamu" lanjut Nendra.


"Bisa jadi" balas Nanda mengiyakan.


Langga nampak tersenyum memandangi Almira. Karena menurutnya, jika Almira menghindar dari dia karena alasan kedekatannya dengan Nanda, itu artinya Almira menyukainya.


"Abang Langga lagi kesengsem nih" bisik Nendra pada Nanda.


"Iya tuh. Kita pergi aja deh" balas Nanda.


"Eh kita mau ke dapur dulu ya, mau ambil apaan ya, Nan" ujar Nendra.


"Oh itu jus mangga. Tadi aku minta Bi Sari buatin kok belum dianter ya" sambung Nanda lalu menarik kerah baju Nendra dan meninggalkan Langga berdua dengan Almira.


"Al, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Langga.

__ADS_1


"Apa Kak?" balas Almira.


"Kenapa kamu menghindar dari aku hanya karena aku dekat dengan Nanda, apa kamu merasa cemburu?" tanya Langga dengan memberi tatapan dalam.


Almira menalan salivanya saat tatapan Langga berhasil membolongi kepalanya.


"Ah..a..a..aku..." Almira merasa bingung haru menjawab apa. Karena tidak mungkin dia menyatakan perasaannya lebih dulu.


"Kenapa diam?" ujar Langga.


"Aku kan belum tahu kalau ternyata kalian bersaudara, jadi aku hanya menjaga perasaan Kak Nanda saja" ujar Almira.


"Oh jadi begitu. Ya sudah" ketus Langga pura-pura cemberut.


"Memang aku harus bagaimana?" tanya Almira.


"Ya kalau kamu tidak merasa cemburu karena aku dekat dengan Nanda pada saat itu, jadi untuk apa aku menyukai kamu" jelas Langga.


Mata Almira membulat dan berteriak, "Hah??? Kak Langga becanda ya? Nggak lucu tahu" elak Almira cekikikan.


"Ya sudah kalau tidak percaya. Aku juga tidak meminta kamu untuk percaya. Yang terpenting sekarang kamu sudah tahu kebenarannya. Dan tolong tetap rahasiakan identitasku dan saudara-saudaraku dari anak-anak di kampus" kata Langga.


"Kenapa? Bukannya harusnya kalian bangga menunjukkan siapa orang tua kalian?" balas Almira.


"Jika semua perempuan tahu, kalau ternyata aku anak Dion Wijaya, nanti saingan kamu jadi banyak dong" goda Langga sambil menyenggol lengan Almira.


"Ih Kak Langga..." kata Almira malu-malu.


Langga tersenyum saat melihat ekspresi senyum malu-malu dari Almira. Dia sangat bahagia, karena jalan dia mendekati Almira semakin terbuka lebar. Dia yakin tidak akan sulit mendapatkan restu orang tuanya.


Dari kejauhan Nanda dan Nendra sedang mengintip Langga. Mereka bersedekap sambil memasang ekspresi wajah kesal.


"Enak banget tuh ya Si Curut satu itu punya gebetan" sengak Nendra dengan wajah merenggut.


"Cie iri cie" ledek Nanda.


"Ya iri dong. Dia udah baikan sama Almira, sementara aku sama Zahra? Uhh sedihnya hati Bambang udah terpotek-potek macam keramik WC terminal" kata Nendra dengan nada lebay.


"Gila, lebay banget. Malu aku punya saudara kembar kaya kamu. Mau aku giveawayin aja deh" gerutu Nanda sengan ekspresi jijik.


"Gini-gini juga kamu sayang kan?" goda Nendra sambil mencolek dagu Nanda.


"Amit-amit jabang baby bajang. Bye" seru Nanda lalu meninggalkan Nendra.


Setelah puas berkeliling rumah, Asmara dan Almira sudah diberi kamar masing-masing oleh Bara. Dan mulai hari ini Asmara akan tinggal di rumah Surya berdua dengan Almira, sampai dia menikah dengan Bara. Barulah Bara akan tinggal di rumah itu juga. Bara dan ketiga adiknya pun berpamitan pulang dan kembali ke rumah mereka.

__ADS_1


__ADS_2