Pengorbanan Cinta 2

Pengorbanan Cinta 2
Bab 13


__ADS_3

Hari ini adalah hari pertama Almira ke kampus untuk melakukan OSPEK. Dia melangkah menuju kampusnya dengan langkah semangat dan begitu riang. Dia tak menyangka jika dia akan berkuliah di kampus bergengsi ini. Dia harus rajin belajar agar bisa mempertahankan beasiswanya dan membanggakan kakaknya.


BRUGG


Almira menabrak seseorang hingga peralatan OSPEK-nya jatuh ke tanah.


"Maaf ya, aku tidak sengaja..." Orang itu berjongkok dan membantu Almira memunguti barang-barangnya hingga tangan keduanya saling bersentuhan dan keduanya saling menoleh.


Almira terkejut saat melihat sosok pria tampan yang ada di hadapannya. Dengan kulit putih, mata agak sipit, dan senyum ramah. Beberapa detik mereka saling bertatapan bahkan sampai tak berkedip.


"Langga, ayo cepetan kita ada praktek bedah nih!"teriak seorang pria yang melambaikan tangan pada Langga.


Langga segera berdiri bersamaan dengan Almira, lalu memberikan barang yang ada di tangannya dan meninggalkan Almira menyusul teman-temannya. Almira tersenyum simpul saat bisa bertemu pangeran tampan di pagi hari.


Almira langsung bergegas menuju lapangan untuk berkumpul dengan MABA yang lain dan OSPEK pun dimulai. Dan di antara semua anak BEM ada Geng Miss yang menjadi salah satu anggota BEM. Tentu saja mereka akan selalu tebar pesona kepada para MABA.


"Heh kamu anak kampung"teriak Sindi menunjuk Almira.


"Iya kamu. Nggak punya kuping apa?"bentak Ria.


Almira pun bangkit dari duduknya dan menghampiri seniornya itu.


"Oh my God, gila iuh banget muka kamu sih? Anak miskin ya? Bau, dekil lagi"ucap Rere dengan nada menghina sambil menoel-noel lengan Almira.


Sebenarnya Almira tidak jelek. Justru dia memiliki wajah khas perempuan Jawa yang manis. Tapi karena dia belum mengerti tentang fashion dan apa itu good looking, sehingga penampilannya cenderung kampungan.


"Pasti kamu kuliah di sini karena dapat beasiswa ya? Aduh kelihatan banget miskinnya sih, ya ampun"sambung Sindi sambil tertawa.


"Maaf Kak, saya di sini hanya ingin berkuliah agar bisa menggapai cita-cita saya, bukan untuk pamer penampilan dan kekayaan"balas Almira dengan.


Jawaban Almira membuat semua anggota BEM terkejut, karena ini pertama kalinya ada junior yang berani membalas perkataan geng hits itu.


"Berani kamu ya ngelawan kita?"teriak Sindi yang sudah begitu marah.


"Udah-udah, jangan ribut. Kita lanjutin aja acaranya. Kamu boleh duduk lagi"kata ketua BEM menghentikan keributan.


Almira pun kembali ke tempatnya tapi tetap saja dia mendapat tatapan tajam dari Geng Miss.


Akhirnya acara pembukaan OSPEK pun selesai. Para MABA sudah di beri tugas dan senior untuk membimbing mereka. Dan ternyata Almira mendapat senior pembimbing yaitu Sindi. Dan ini kesempatan untuk Sindi mengerjai Almira.


"Hei anak kampung!"panggil Sindi tapi Almira tidak menggubris karena dia merasa namanya bukanlah anak kampung.


"Hei sini kamu! Nggak punya kuping ya!"teriak Sindi menarik paksa lengan Almira.


"Nama saya bukan anak kampung, Kak"ucap Almira sopan.


"Aku nggak peduli. Nih tugas buat kamu. Karena kamu anak kedokteran, sana kamu minta tanda tangan seluruh mahasiswa S2 Kedokteran. Sekarang!"perintah Sindi dengan nada tinggi.


Almira melongo saat Sindi memberi dia tugas. Bukannya tidak mau, tapi dia baru saja hari ini masuk ke kampus dan sudah disuruh untuk meminta tanda tangan anak S2 Kedokteran yang tidak dia kenal.


"Ngapain bengong? Udah sana pergi!"kata Sindi mengusir sambil mendorong tubuh Almira.


Almira berusaha cuek dan segera mengambil kertas folio dan pulpen. Stelah itu dia pergi ke gedung S2 Kedokteran. Almira menatap penuh kagum gedung tinggi yang ada di depan matanya. Dia melangkah menaiki tangga gedung. Saat dia berjalan di koridor tiba-tiba ada seorang mahasiswa yang berjalan tergesa-gesa hingga pulpennya jatuh. Almira pun mengambilnya dan meneriaki orang itu.


"Kak, pulpenmu ketinggalan!"teriak Almira lalu menyusul orang itu yang merupakan seorang pria.


"Kakak!"panggil Almira menepuk bahu pria itu. Dan pria itu pun menoleh.


Dan Almira langsung terkejut saat bertemu lagi dengan pria yang tadi pagi menabraknya.


"Kamu? Ngapain kamu di sini?"tanya Langga datar.


"Ah..anu Kak. Ini pulpen kakak jatuh"jawab Almira menyodorkan pulpen milik Langga.


"Makasih. Kamu MABA kan? Kok bisa di gedung S2 sih?"kata Langga.


"Ahh tadi kakak senior menyuruh saya untuk mengumpulkan semua tanda tangan mahasiswa S2 Kedokteran"jelas Almira.


"Senior yang mana?"tanya Langga dengan tatapan curiga.


"Saya nggak tahu namanya, tapi dia cantik, tinggi, dan putih. Sepertinya dia primadona di kampus ini"ucap Almira.


Langga menyipitkan matanya seolah-olah sedang berpikir senior manakah yang dimaksud gadis yang ada di hadapannya. Karena setahu Langga tidak akan ada mahasiswa S1 yang menyuruh MABA untuk meminta tanda tangan mahasiswa S2 kecuali senior itu sengaja mengerjai juniornya.


"Kamu tunggu di sini!"perintah Langga langsung merebut kertas yang ada di tangan Almira lalu berjalan masuk ke kelasnya.


Almira hanya diam mematung menatap kepergian Langga yang sudah menghilang masuk ke dalam kelasnya. Dan setengah jam kemudian Langga keluar dari kelas dengan langkah berwibawa karena memakai jas dokternya, dan itu berhasil membuat Almira terpana.


"Ini kertasmu. Semua mahasiswa S2 Kedokteran sudah tanda tangan di kertas itu"kata Langga mengulurkan kertas itu.


Almira masih diam melongo memandangi Langga.


"Hei!!" Langga melambaikan tangan di depan wajah Almira dan membuat gadis itu tersadar dari lamunannya.


"A..i..iya...makasih, Kak. Saya permisi"ucap Almira terbata-bata dan memberi senyum manisnya lalu meninggalkan Langga.


Langga tersenyum kecil memandang Almir yang berjalan meninggalkan tempat itu.


Gadis yang manis, batin Langga.


Almira dengan senyum bangga berjalan menghampiri Sindi lalu menyerahkan kertas yang sudah penuh berisi tanda tangan mahasiswa S2 Kedokteran.


"Saya sudah mengerjakan tugas dari kakak. Kalau sudah tidak ada yang lain, saya permisi"ucap Almira cepat lalu meninggalkan Sindi.


Sindi menganga menatap kertas itu yang sudah dipenuhi tanda tangan. Dia tidak menyangka jika anak kampungan itu berhasil mendapatkan semua tanda tangan mahasiswa S2 kedokteran, apalagi Sindi menemukan tanda tangan Langga di urutan pertama.


"Bagaimana dia bisa mendapat tanda tangan Langga? Jangan-jangan dia menggoda dokter tampan itu lagi?"tanya Sindi keheranan.


Di sisi lain, Zahra sedang sibuk mengerjakan tugas designya. Karena dosen sedang izin dan hanya memberikan tugas, dia lebih memilih mengerjakan tugas di taman depan ruang kelasnya agar bisa mudah mendapat inspirasi. Dengan perlahan Zahra mencoba menggambar design di laptopnya.


"Aahh...ini laptop kenapa coba? Kok macet gini sih? Jangan rusak dong, lagi dipakai juga"gerutu Zahra mengotak-atik mouse laptopnya.


Nendra tak sengaja lewat di taman sekitar kelas anak design dan dia melihat Zahra sedang duduk sendirian. Tentu saja, Nendra langsung menghampirinya.


"Hai Zahra"sapa Nendra.


"Hai...kita ketemu lagi"balas Zahra tak kalah senang. Dia mulai merasa nyaman ketika berada bersama dengan Nendra akhir-akhir ini.


"Kamu lagi ngapain?"tanya Nendra yang sudah duduk di samping Zahra.

__ADS_1


"Aku lagi ngerjain tugas designku, tapi aku nggak tahu kenapa laptopku jadi susah dipakai"ucap Zahra dengan wajah sedih.


"Sini, biar aku lihat"kata Nendra lalu meraih laptop dari tangan Zahra.


Nendra dengan cekatan mencoba memperbaiki software laptop Zahra. Dan Zahra tak henti-hentinya menatap Nendra dengan rasa kagum. Nendra melirik ke arah Zahra yang sedang menatapnya, dan terbitlah senyum di wajah Nendra.


"Sudah selesai menatapnya?"ujar Nendra tenang memecahkan lamunan Zahra.


Zahra langsung gugup dan wajahnya memerah, "Ah...apa sudah selesai?" Zaha mencoba mengalihkan pembicaraan.


Nendra mengangguk lalu memberikan laptop itu kepada Zahra lagi.


"Wah kamu keren banget"puji Zahra.


"Nggak juga sih"balas Nendra rendah hati.


Wajah serius yang tersirat di wajah Zahra membuat Nendra gemas dibuatnya. Dia ingin sekali mencubit pipi Zahra.


"Cantik"lirih Nendra.


"Hah? Kamu bilang apa?"tanya Zahra yang seakan-akan mendengar Nendra berbicara.


"Apa? Oh iya, aku mau mengajakmu ke kantin. Kamu mau?"ucap Nendra dengan wajah canggung sambil menggaruk tengkuk kepalanya.


"Okee"balas Zahra.


Mereka berdua pun akhirnya pergi ke kantin bersama. Sepanjang perjalanan sesekali mereka mengobrol dan melemparkan lelucon.


*****


Bara sedang berkonsentrasi penuh dengan kertas ukuran super besar di mana dia mendesign gambar bangunan sesuai permintaan klien. Bara menjadi anak emas setelah Eko sebagai kepala divisi design menyukai hasil rancangan Bara. Tapi dia tidak tahu jika dia sedang diselidiki oleh Bara.


Eko datang menghampiri Bara dengan membawa gulungan kertas dan wajah emosi. Dia melemparkan gulungan kertas itu tepat di depan wajah Bara, hingga Bara terkejut dan membulatkan matanya.


"Apa-apaan ini?"teriak Eko dengan nada tinggi.


"Maksud bapak apa?"tanya Bara tenang.


"Saya sudah suruh kamu mengganti rancangan proyek minggu lalu. Kenapa diam-diam kamu mengganti rancangan itu tanpa sepengetahuan saya"tegas Eko.


Bara menyeringai dengan tatapan licik lalu membuka kertas itu lebar-lebar. Ya, walaupun pada saat itu Bara sudah mengganti rancangannya, tapi tentu saja Arya tidak akan percaya dengan perkataan Eko.


"Maaf Pak, tapi setahu saya klien itu mengeluarkan dana hingga ratusan milyar, dan di awal kesepakatan dengan Pak Direktur, klien itu sudah memilih rancangan yang awal. Jadi tidak mungkin kan uang ratusan milyar hanya mendapatkan sebuah rancangan sederhana yang bahkan anak SMA bisa membuatnya"balas Bara dengan nada dingin namun berhasil membuat Eko diam seribu bahasa.


"Tahu apa kamu soal dana proyek pembangunan? Tugas kamu itu hanya menggambar designya saja, tidak perlu sok tahu urusan dana. Saya tidak suka bekerja dengan orang yang suka ikut campur dan sok tahu dengan urusan saya, jadi mulai hari ini kamu saya pecat. Keluar sekarang!"teriak Eko yang membuat seluruh karyawan melirik ke arahnya.


Bara hanya diam dengan wajah tenang tak menanggapi perkataan Eko sedikit pun. Hingga munculah Arya bersama Aldo.


"Bukan dia yang keluar tapi kamu yang keluar Eko!"sela Arya dengan ekspresi marah besar dan dingin.


"Berani-beraninya kamu memanipulasi dana untuk pembangunan dengan cara mengubah design permintaan klien. Lalu mengubah laporan keuangan divisi kamu sendiri? Pintar sekali. Apalagi proyek ini adalah proyek besar, kamu bisa sampai mengambil 20 milyar"jelas Arya dengan tatapan berapi-api.


"Tidak Pak, itu cuma fitnah, saya tidak mungkin melakukan korupsi. Ini pasti akal-akalan dia saja." Eko mengatakan itu sambil menunjuk Bara.


"Saya tidak mungkin mengganti design sebelumnya, pasti karyawan baru itu yang sengaja melakukan itu untuk merusak nama baik saya. Dasar manusia tidak tahu diri"teriak Eko mengumpat kepada Bara.


"Jaga ucapanmu Eko! Kamu sudah tertangkap basah tapi masih saja mengelak. Asal kamu tahu orang yang kamu hina adalah Bara Ranggana Wijaya putra pertama dari Dion Wijaya, yang akan menggantikan posisi sebagai direktur utama"tegas Arya.


"Aldo bawa dia ke kantor polisi!"perintah Arya yang langsung diangguki Aldo.


Aldo langsung menyeret Eko secara paksa walaupun dia memberontak dan berteriak minta ampun. Arya memberi anggukan kepala kepada Bara sebagai rasa bangga sebelum dia meninggalkan ruangan itu.


*****


Di kantor Wijaya Group sedang ada meeting untuk persiapan peluncuran produk sabun terbaru besok lusa. Dan acara itu akan diadakan di Wijaya Mall. Meeting kali ini hanya dipimpin oleh Dion dan didampingi oleh Dimas dan Risko, karena Isyan bertemu klien di luar bersama Arum.


Semua anggota tim divisi promosi dan divisi lain yang terlibat dalam acara pelucuran sudah berkumpul di meeting room satu, yang ukurannya paling luas di antara meeting room yang lain.


"Apa ada yang memiliki ide lain agar produk sabun kita bisa terjual luas di pasaran?"tanya Dion dengan wajah serius.


Apsara bersumpah di dalam hati, kalau sikap papinya itu berbanding terbalik saat di rumah.


"Maaf Pak Dion, jika boleh saya ingin mengemukakan ide yang saya miliki." Apsara mengajukan diri untuk memberi ide.


"Silahkan"ujar Dion tersenyum tipis.


"Target pasar produk kita adalah masyarakat kelas menengah ke atas karena melihat kualitas yang dimiliki sabun tersebut. Bagaimana kalau kita menambah target pasar kita? Contohnya hotel selain milik Wijaya Group. Kita menyediakan kebutuhan sabun mereka agar mereka tidak repot memproduksi sabun sendiri. Dengan begitu pendapatan dari produk ini bisa meningkat. Bukankah Wijaya Group juga bekerja sama dengan banyak hotel lain?"jelas Apsara dengan cara berbicara begitu cerdas dan tertata rapi.


Semua orang menatap Apsara dengan tatapan kagum, apalagi Apsara anak baru tapi sepertinya dia sangat tahu dengan perusahaan ini. Dion menyunggingkan senyum, saat melihat betapa pintarnya putrinya ini. Sifat dan sikap Apsara memang jiplakan dari Isyan.


"Ide yang bagus. Risko tolong kamu siapkan proposal untuk menawarkan produk sabun ini ke seluruh hotel yang bekerja sama dengan kita"jelas Dion.


"Baik Pak!"sahut Risko.


"Meeting sudah selesai, kalian bisa keluar dan melanjutkan pekerjaan kalian"kata Dion mempersembahkan tangan kanannya agar para pegwainya keluar dari meeting room.


Seperti biasa Apsara akan keluar paling akhir, karena dia paling tidak suka berdesak-desakan. Dion menyuruh Risko dan Dimas keluar dari meeting room terlebih dahulu.


"Apsa"panggil Dion saat semua pegawai sudah keluar dari meeting room.


Apsara yang hampir keluar dari pintu pun menghentikan langkahnya saat Dion berjalan menghampirinya.


"Papi bangga sama kamu"lirih Dion sambil mengelus kepala Apsara.


Apsara tersenyum tipis menanggapi pujian papinya. Dion pun berlalu pergi meninggalkan Apsara. Kemudian Apsara kembali menuju ruangan divisi promosi. Dan tanpa Apsara dan Dion sadari ada pegawai yang melihat Apsara disentuh oleh pria berjas tapi mereka tidak melihat wajahnya.


Isyan melangkah memasuki kantor bersama Arum di belakangnya. Semua pegawai memberi hormat kepadanya dan Isyan hanya membalas dengan anggukan kecil hingga dia menghilang setelah lift tertutup. Saat Isyan keluar dari lift dan melewati jajaran meja para pegawai, dia tak sengaja mendengar perbincangan mereka.


"Kamu tahu nggak sih, ada anak divisi promosi yang dekat dengan petinggi perusahaan."


"Siapa orangnya?"


"Itu loh anak baru yang sok cantik itu. Namanya kalau nggak salah Apsara."


Isyan langsung menghentikan langkahnya saat nama anaknya disebut.


"Memang dia ngapain?"


"Tadi waktu aku lagi di meeting room, aku lihat dia kepalanya dielus gitu sama cowok pakai jas mahal. Coba dong dipikir memang pegawai mana yang pakai jas mahal kalau bukan petinggi perusahaan."

__ADS_1


Isyan langsung mengerutkan keningnya dan menoleh ke arah Arum yang mengedikkan bahu kepadanya.


"Ekhem. Kalian mau bekerja atau bergosip. Saya membayar kalian bukan untuk membicarakan orang lain"tegur Isyan dengan tegas dan langsung membuat para pegawai itu diam tertunduk.


Isyan pun pergi meninggalkan mereka setelah mereka mengucapkan maaf.


*****


Keluarga Isyan sedang makan malam bersama seperti biasa.


"Papa mau memberi pengumuman ke kalian semua"kata Arya.


"Apa Pa?"tanya Nanda kepo.


"Mulai besok Bara sudah resmi menduduki jabatan sebagai direktur utama"ujar Arya.


"Wow selamat, Kak"seru Nendra.


"Wih, Pak Direktur Bara, ihirrr"sambung Langga.


"Berarti kita dapat uang saku tambahan dong dari Kak Bara, secara dia kan udah jadi direktur"celetuk Nanda.


"Hush, kalian ini. Apa di otak kalian cuma mikirin uang jajan aja?"tegur Rara gemas.


"Mami, memang apa yang akan dipikirkan anak kuliahan seperti kita? Kurs dolar? APBN negara? Atau tentang perkiraan cuaca?"balas Nendra dengan wajah tengil.


"Dasar tukang es cincau ada aja jawabannya"ejek Dion terkekeh.


"Pa, aku merasa jabatan direktur utama masih terlalu awal untukku. Aku masih perlu banyak belajar dari papa"sela Bara.


"Baiklah. Papa akan menunda masa pensiun papa sebagai direktur utama. Tapi kamulah yang akan menjadi wakil direkturnya. Biar papa ada waktu santai sedikit"jelas Arya dengan tatapan merayu dan Bara langsung mengangguki perkataan papanya.


"Bilang aja biar papa punya banyak waktu luang untuk bisa ke kantor mama, ya kan?"goda Nanda.


"Anak pintar!"seru Arya memberi dua jempol kepada anak bungsunya.


"Bagaimana dengan kamu Apsa? Kapan kamu akan menggantikan posisi mama kamu?"tanya Rara.


"Untuk saat ini belum, Mi. Masih ada banyak hal yang harus aku lakukan"jawab Apsara.


Isyan masih memikirkan gosip tentang Apsara yang dia dengar dari mulut pegawainya. Dia menatap Apsara dengan tatapan penuh selidik.


"Apsa"panggil Isyan.


"Ya, Ma."


"Mama mau tanya sama kamu, apa benar gosip yang beredar di kantor bahwa kamu sedang dekat dengan salah satu petinggi perusahaan?"tanya Isyan datar namun suaranya agak mencekam.


"Masa sih Kak? Buat apa Apsara dekat dengan petinggi perusahaan? Dia aja calon direktur utamanya"sela Rara menatap Isyan.


"Iya nih. Memang ada petinggi perusahaan yang lebih kaya dari Kak Apsa?"sambung Langga.


"Aku nggak ngerti, maksud mama itu apa?"tanya Apsara bingung.


"Menurut yang mama dengar dari para pegawai, mereka melihat kamu di meeting room sedang bermesraan dengan salah satu petinggi perusahaan"kata Isyan.


Apsara langsung mengernyitkan keningnya mencoba mengingat apa yang dia lakukan di meeting room tadi. Dan tatapan singa Apsara langsung tertuju pada Dion.


"PAPI!!"


Apsara berteriak menyebut nama Dion hingga membuat dia tersedak dan Rara langsung memberi suaminya minum.


"Apa sih teriak-teriak? Kamu mau bikin papi mati gara-gara tersedak apa?"balas Dion dengan mata melotot.


"Papi matanya biasa aja kenapa sih? Nggak usah melotot gitu. Jadi mirip kaya mata kodok kalau keinjek"ejek Nendra tertawa.


"Heh bocah semprul. Diam kamu!"bentak Dion tambah melotot.


Tapi ekspresinya tidak terlihat galak sama sekali, justru semakin lucu dan membuat ketiga bocah itu tertawa geli.


"Yon, kamu apain anak aku sampai dia kayak gitu?"sarkas Isyan.


"Aku nggak ngapa-ngapain, Syan. Astaga, kelihatan banget apa muka aku kayak om-om suka sama gadis muda"tandas Dion yang membuat Rara mencubit perutnya.


"Aaww...sakit sayang"rintih Dion.


"Coba Sa, kamu jelasin sama kita semua"ucap Arya begitu tenang.


Apsara pun menceritakan apa yang dilakukan Dion kepadanya setelah meeting selesai. Dan kemugkinan pegawai itu memikirkan hal yang tidak-tidak tentangnya.


Tak disangka-sangka Dion tertawa bersamaan dengan tawa ketiga adik Apsa yang sudah ngakak guling-guling.


"Berarti papi masih kelihatan kayak hot daddy dong"kata Dion penuh percaya diri.


"Bukan hot daddy tapi hot dog"timpal Nanda tertawa terpingkal-pingkal.


"Heh anak manja, masa papi yang ganteng cetar membahan badai disamain sama hot dog sih"sela Langga.


"Harusnya sama apa?"tanya Nanda.


"Sama telor dadar gosong"tukas Nendra dengan suara tawa menyebalkannya.


Dion merasa kesal dengan Nendra yang memang super jail dan menyebalkan, hingga dia melemparkan sebutir anggur ke kening Nendra agar bocah itu diam.


"Kalian kalau mau ribut di lapangan sana, jangan sampai sendal mama melayang ya"tegur Isyan dengan mata melotot dan ketiga anak itu langsung diam.


"Kamu nggak tahu gosip itu, Sa?"tanya Bara.


Apsara menggelengkan kepala acuh dan bodo amat.


"Tapi sayang, semua orang akan menilai kamu jelek. Padahal kamu tidak melakukan apapun"ujar Isyan.


"Apa perlu kita kasih tahu siapa kamu yang sebenarnya?"kata Dion.


"Jangan! Sia-sia semua kerja keras aku selama ini. Biarkan mereka mengatakan apapun sesuka hati mereka. Bukankah akan menyenangkan kalau wanita yang mereka gosipkan adalah putri dari Isyana Wijaya?"balas Apsara dengan tatapan menyeringai.


"Mungkin papi bisa bantu untuk memanas-manasi keadaan"celetuk Dion dengan tampang ala sugar daddy.


"Mas Dion!"geram Rara mengeratkan giginya.

__ADS_1


"Aku cuma becanda sayang. Istri dan anak-anakku saja sudah cantik, untuk apa aku mencari yang lain. Iya kan Arya?"ucap Dion melirik Arya untuk meminta dukungan.


"Mana aku tahu"balas Arya acuh dan langsung membuat Dion kesal.


__ADS_2