
Hari ini masih sama seperti hari-hari sebelumnya. Nanda akan memulai kuliahnya lebih dulu sebelum kemudian dia melanjutkan tugasnya sebagai asisten dosen. Setelah menyelesaikan mata kuliahnya, Nanda langsung bergegas ke ruangan Dafa.
"Hai Kak" sapa Nanda.
Dafa memandangi Nanda dari ujung rambut hingga kaki. Kali ini Nanda kembali cuek dengan penampilannya. Hanya memakai blue jeans dan kemeja putih serta rambut diikat ke belakang.
Kemudian Dafa bangkit dari kursi yang dia duduki dan melepas ikatan rambut Nanda yang membuat rambutnya terurai.
"Jangan pamerkan leher kamu" tegur Dafa yang sebenarnya salah fokus dengan leher jenjang milik Nanda.
Nanda hanya melongo dan mengerti dengan maksud perkataan Dafa.
"Emang kenapa sama leherku?" timpal Nanda.
"Kamu terlihat seperti jerapah" ejek Dafa.
"Nggak sekalian kayak singa" teriak Nanda yang merasa kesal.
Dafa tak menghiraukan perkataan Nanda. Dia justru keluar dari ruangan. Sementara Nanda pun mengikuti Dafa yang berjalan menuju gedung S1.
Selama aktivitas mengajar berlangsung, Dafa sesekali curi-curi pandang pada sosok Nanda yang berdiri di pojok belakang kelas sambil mencatat materi-materi yang dijelaskan oleh Dafa. Setelah kelas berakhir, Nanda bertemu Zahra di koridor kampus.
"Nanda" sapa Zahra.
"Ya."
"Aku boleh minta tolong ke kamu nggak?" tanya Zahra.
"Kenapa nggak ke Nendra?" ledek Nanda.
"Ihh jangan ngeledek dong" ucap Zahra malu-malu.
"Iya, iya, apa?" sela Nanda.
"Aku ada tugas buat sketsa gaun pesta untuk tugas akhir dan persiapan magang. Karena kamu cukup stylish dalam fashion, aku minta saran kamu boleh?" kata Zahra.
"Boleh dong. Mau ngerjain tugasnya di mana?" tanya Nanda.
"Di rumahku aja ya" jawab Zahra.
"Mau pergi bareng aku?" tawar Nanda.
"Zahra, ayo kita pulang" ajak Dafa yang menyela percakapan kedua gadis muda itu.
"Nggak Kak. Aku mau bareng Nanda" tolak Zahra.
"Memang kalian mau ke mana?" tanya Dafa.
"Aku mau ajak Nanda ke rumah buat bantuin aku ngerjain tugas" tandas Zahra.
"Oke" tegas Dafa lalu beranjak pergi.
"Datar banget sih kakakmu" keluh Nanda.
"Gitu-gitu juga calon suami kamu" goda Zahra penuh semangat.
__ADS_1
"No comment deh" balas Nanda.
*****
Sesampainya di rumah Herdian, Zahra langsung mengajak Nanda untuk naik ke lantai dua. Perhatian Nanda langsung teralihkan pada pintu ruangan yang terbuat kayu dan berukuran cukup besar. Inilah ruangan yang belum pernah Nanda ketahui selama kunjungannya ke rumah ini.
"Zah, itu sih ruangan apa?" tanya Nanda menunjuk ke arah ruangan itu.
"Oh itu. Perpustakaan pribadi Kak Dafa. Kenapa?" balas Zahra.
"Private banget ya?" kata Nanda.
"Sebenarnya enggak sih. Cuma karena kakak suka banget menyendiri di dalam perpustakaan jadi kesannya emang private. Tapi aku sering kok masuk ke ruangan itu" jelas Zahra.
"Oohh.." Nanda hanya ber-oh ria menanggapi ucapan Zahra yang cukup menjelaskan sedikit tentang detail ruangan rahasia itu.
"Kamu mau masuk ke sana?" tawar Zahra.
"Emang boleh?" tanya Nanda meyakinkan.
"Ya boleh dong. Apa sih yang enggak buat calon kakak ipar" ujar Zahra mencopek dagu Nanda dengan genit.
"Hih, apaan sih kamu" elak Nanda
menyingkirkan tangan Zahra dengan wajah malu-malu.
"Kamu masuk dulu, nanti aku nyusul. Aku mau ke kamar ambil tugasku dulu" ujar Zahra.
Zahra pun melangkah meninggalkan Nanda. Sementara Nanda berjalan menuju ke perpustakaan pribadi milik Dafa. Diketuknya pintu terlebih dahulu. Siapa tahu Dafa ada di dalam sana. Karena tidak mendapat jawaban, Nanda pun membuka pintu dengan perlahan.
Nanda mulai berjalan masuk menyisiri setiap sudut perpustakaan yang didominasi warna coklat khas kayu. Dengan banyak rak-rak buku dengan banyak koleksi buku yang tertata begitu rapih. Nanda sekilas melihat koleksi buku-buku milik Dafa dengan memegang rak setiap dia melewatinya.
Dan langkah Nanda terhenti pada rak buku yang berdiri tepat di belakang meja kerja Dafa. Perhatian Nanda tertuju pada sebuah buku yang berwarna abu-abu pastel dengan cover bertuliskan diary. Dan terlihat dari luar ada sehelai daun mapple yang terselip di balik lembaran buku.
Nanda sempat hendak menaruh kembali buku itu. Karena buku itu berisi privasi hidup Dafa. Tapi, entah apa yang membuat Nanda ingin tahu isi buku itu. Di ambilnya buku itu dari rak, kemudian Nanda memposisikan dirinya bersandar pada rak buku untuk membaca buku itu.
Nanda membuka buku itu dan melihat halaman pertama yang tertempel foto keluarga Dafa saat kedua orang tuanya masih itu. Kemudian pada awal-awal halaman isi diarynya tentang keharmonisan keluarganya, dan Nanda sadar bahwa sebenarnya Dafa itu sosok yang periang. Hingga akhirnya semua berubah ketika kedua orang tuanya meninggal.
Di lembar berikutnya, tepat di mana daun mapple terselip, Nanda melihat Dafa menulis sebuah puisi romantis. Kemudian Nanda melihat foto Bara dan Dafa yang duduk mengapit Apsara di mana mereka bertiga menggunakan seragam SMA berfoto dengan ekspresi datar. Dan akhirnya Nanda membaca isi puisi itu.
Entah harus dari mana harus kumulai cerita ini
Kabut sunyi perlahan mulai merayap di hati
Aku yang mencintaimu dalam diam
Menahan rindu yang kian tak teredam
Ingin rasanya aku bertemu denganmu
Tapi, menyapamu saja aku tak mampu
Lalu, apa dayaku?
Bahkan anginpun membisu
__ADS_1
Ketika aku mengadu tentang apa saja yang bertalian dengan dirimu
Mungkin bagiku cukup Tuhan yang tahu
Tentang apa dan bagaimana perasaanku
Karena bahagiaku, masih bisa menyelipkan namamu dalam setiap doaku
Tubuh Nanda langsung terhuyung ke belakang. Kakinya rasanya lemas tak bisa lagi menopang tubuhnya. Seketika air mata Nanda menetes begitu saja membasahi wajahnya. Dia tidak menyangka jika pria yang selama ini dia sukai, bahkan akan dijodohkan dengannya justru mencintai kakak kandungnya. Bahkan sangat mencintai hingga hari ini sampai diary ini disimpan begitu baik oleh pria itu.
Hati Nanda seketika hancur lebur. Jiwanya remuk. Tak bisa menerima kenyataan seperti ini. Dan apa maksud Apsara membantu Nanda untuk dekat dengan Dafa. Lalu, bagaimana bisa Herdian menjodohkan Dafa dengan Nanda. Yang jelas-jelas Dafa mencintai Apsara. Apa Nanda hanya sebuah pelampiasan.
Nanda meletakkan buku itu dengan asal ke rak buku. Kemudian Nanda berjalan agak cepat meninggalkan perpustakaan. Saat Nanda akan membuka pintu, tiba-tiba saja pintu ruangan itu terbuka lebih dahulu. Dan ternyata Dafa yang membuka pintunya. Dafa langsung terlihat bingung saat melihat Nanda menangis. Dengan cepat Nanda menghapus air matanya.
"Kamu kenapa?" tanya Dafa.
Nanda tak memberi respon kepada Dafa. Dia justru pergi begitu saja. Zahra yang sedang berjalan menuju perpustakaan melihat Nanda berlari keluar. Dia pun menyapa Nanda namun Nanda tak menjawab panggilannya. Dia justru berlari semakin cepat. Karena merasa penasaran, Zahra langsung masuk ke ruang perpustakaan.
"Kakak kok di sini? Nanda kenapa nangis? Jangan-jangan kakak marahin Nanda karena dia masuk ke sini ya?" tuduh Zahra.
Dafa saat masuk ke dalam langsung berjalan menuju meja kerjanya. Di mana buku dairynya sudah tergelatak. Dan kini Dafa tahu penyebab kenapa Nanda menangis. Argumen Dafa semakin menguat saat daun mapple itu tidak berada di halaman yang seharusnya itu artinya Nanda sudah membaca isi diarynya yang terselip daun mapple.
"Kak jawab pertanyaanku!" teriak Zahra mulai emosi.
*****
Nanda memakirkan mobilnya di depan rumah. Dia berlari masuk ke dalam rumah. Dan kedatangan Nanda langsung disambut tatapan keheranan dari anggota keluarganya.
"Mas, itu Nanda kenapa lari kayak gitu? Matanya juga bengkak. Apa dia habis nangis?" ucap Isyan sambil menyentuh bahu Arya.
"Bukannya dia lagi ke rumah Zahra, kenapa pulang-pulang nangis?" sela Nendra.
Apsara yang walaupun hanya memasang ekapresi datar, namun nuraninya langsung menyuruhnya berdiri dan menyusul Nanda ke kamarnya. Di saat itu pula seluruh anggota keluarga membiarkan Apsara yang mengatasi Nanda. Sesampainya di kamar Nanda, Apsara berjalan menghampiri Nanda yang sedang duduk menangis memeluk boneka kesayangannya.
"Nanda kamu kenapa?" tanya Apsara dengan suara datar.
Nanda tak memberi jawaban. Mungkin nada bicara Apsara yang terdengar kurang tulus. Apsara meletakkan tangannya di atas kepala Nanda lalu mengelusnya dengan lembut.
"Nanda, kenapa kamu nangis? Siapa yang menyakiti kamu?" tanya Apsara lagi.
Tiba-tiba Nanda mengingkirkan tangan Apsara dengan kasar lalu berdiri dan berteriak, "Kamu. Iya kamu yang menyakitiku," teriak Nanda sambil menunjuk wajah Apsara.
Apsara merasa terkejut dan heran dengan respon Nanda yang kasar. Dia sama sekali tidak pernah berbicara nada tinggi kepada Apsara. Dan ini pertama kalinya Nanda melakukan itu.
"Kakak sengaja kan menyuruh aku mendekati Kak Dafa dan menyetujui perjodohan kami dan ingin membuat Kak Dafa lupa dengan kakak karena kakak akan segera menikah?" bentak Nanda.
Seperti ada batu yang menghantam dada Apsara, sakit yang dia rasakan saat ini. Apsara tidak menyangka jika akhirnya Nanda akan mengetahui segalanya.
"Nanda, kakak bisa jelaskan semuanya. Yang kamu pikirkan tentang kakak itu semua tidak benar" bujuk Apsara dengan suara tenang.
"Aku salah? Hahaha benar kata Kak Dafa kalau aku itu hanya anak manja, cerewet, dan menyebalkan. Berbeda dengan kakak yang tegas, pintar, dan mandiri" ujar Nanda tertawa disela tangisnya.
"Nanda, kakak nggak pernah menjadikan kamu pelampiasan bagi perasaan Dafa. Kakak melakukan ini karena kakak tahu kamu bisa memberi tahu kepada Dafa arti cinta yang sebenarnya. Dia itu tidak pernah mencintai kakak. Dafa hanya mengagumi. Dia belum tahu apa itu cinta" tegas Apsara.
"Aku nggak mau dengar perkataan kakak lagi. Sekarang pergi dari kamarku" teriak Nanda mengusir Apsara.
__ADS_1
Apsara sebenarnya ingin membujuk Nanda lagi dan menghilangkan kesalahpahaman ini. Tapi dia juga tidak mau bertengkar hebat dengan adiknya. Akhirnya Apsara memutuskan keluar dari kamar Nanda.