
"SIAL!!" umpat Nendra saat melihat orang-orang PLN berjalan ke arah ruang kontrol listrik kampus melalui jendela ruangan itu.
Nendra bergegas meninggalkan ruangan itu. Karena tidak mungkin dia berjaga terus. Pasti dia akan ketahuan. Nendra keluar dari ruangan itu. Agar tidak berpapasan dengan tim PLN, akhirnya Nendra memilih koridor lain untuk meninggalkan tempat itu.
Saat Nendra sedang berjalan dikoridor menuju auditorium, dia melihat orang yang lewat di hadapannya lalu menghilang begitu cepat. Jiwa penasaran Nendra bergejolak. Dia pun mengikuti orang tersebut.
"Lah itu kan geng uler kepanasan" lirih Nendra saat melihat sosok Ria dan Jeje berdiri di pojokan bersama seorang pria.
"Cowok itu bukannya anak IT yang pernah bimbingan bareng dosenku" lanjut Nendra saat melihat pria itu dan mengamatinya dengan seksama.
Ria mengeluarkan sebuah amplop coklat yang berisi uang dari balik jaketnya. Nendra buru-buru mengeluarkan HP-nya dan merekam kejadian yang dia lihat.
"Ini uang buat kamu karena kamu berhasil meretas laptop panitia agar tema speech Nanda bisa diganti" ucap Ria menyodorkan amplop itu.
"Ingat! Jangan sampai orang lain tahu hal ini. Kalau sampai ada yang tahu awas kamu" ancam Jeje dengan tatapan mata tajam.
Pria itu pun mengangguk ketakutan lalu dia pergi setelah Ria memberi isyarat agar dia pergi.
"Rasain kamu Nanda. Walaupun kamu berhasil masuk tiga besar, tapi kamu nggak akan tampil di babak terakhir karena gaun kamu rusak" ujar Ria sambil tertawa puas.
"Untung kita bergerak cepat dan merusak gaunnya. Ya ampun, gaun murahan kayak gitu mana pantas dipamerkan di atas panggung" ejek Jeje.
"Mending kita kembali ke auditorium. Kita lihat Si Sombong itu tidak akan pernah naik ke atas panggung dan dia akan mendapatkan rasa malu" sambung Ria.
"Ayo" sahut Jeje.
Mereka berdua pun melakukan tos lalu berjalan kembali ke auditorium dengan perasaan riang. Sebelum mereka lewat Nendra sudah bersembunyi di balik pilar koridor itu.
Nendra tersenyum sinis sambil menyimpan kembali HP-nya ke dalam saku celananya lalu berkata, "Kita lihat saja nanti, siapa yang akan malu di atas panggung," ucap Nendra.
*****
Nanda terus mondar-mandir di dalam ruang ganti. Dia masih menunggu Langga datang dan membawakan gaun yang baru.
"Langga lama banget sih, ya ampun" ujar Nanda mulai frustasi.
Dia sudah menyelesaikan make up dan hair do untuk babak final ini. Tapi sampai saat ini Langga belum juga datang untuk membawa gaun yang dia minta.
Tiba-tiba datanglah salah satu panitia acara ke ruang ganti Nanda dan berkata, "Lima menit lagi naik ke atas panggung. Lebih cepat untuk ganti kostumnya ya," ujar panitia itu lalu pergi.
__ADS_1
Nanda memandangi Zahra dan Almira secara bergantian dengan ekspresi hampir putus asa. Almira mencoba menelepon Langga namun tidak kunjung dijawab telepon darinya.
"Nanda!!" Nendra tiba-tiba berteriak sambil masuk ke ruang ganti dengan napas ngos-ngosan.
"Nen acara akan dimulai lima menit lagi" ujar Zahra.
"Ya iyalah listriknya kan udah nyala. Pihak kampus manggil petugas PLN. Tapi, ada hal yang lebih penting dari ini semua" kata Nendra.
"Apa?" tanya Zahra.
Nendra mengeluarkan HP miliknya dan menunjukkan video yang dia dapatkan tadi.
*****
Sindi dan Anisa sudah berada di belakang panggung. Sindi terus tersenyum saat tidak melihat keberadaan Nanda di belakang panggung.
"Mana finalis yang satu lagi?" tanya panitia yang bersama mereka berdua.
"Aku tidak tahu" jawab Anisa.
"Masih ganti baju mungkin" tukas Sindi acuh.
"Nanda, kamu belum ganti baju?" tegur panitia itu yang mengejutkan seisi ruangan Nanda.
Nanda tak menjawab dan dia hanya menggelengkan kepalanya.
"Gaun dia tiba-tiba rusak entah bagaimana. Padahal saat kami membawanya ke sini, gaun itu masih baik-baik saja" sela Zahra.
"Kami tidak bisa melakukan apapun untu kamu, Nanda. Jika kamu tidak naik ke atas panggung, maka kamu dinyatakan gugur" tegas panitia itu lalu pergi dari ruang ganti Nanda.
*****
MC sudah berdiri di atas panggung dan bersiap memanggil tiga besar finalis campus princess of the year.
"Mari kita sambut finalis pertama dari top 3 campus princess of the year, Anisa" seru MC.
Musik mulai bermain dengan melodi seperti musik pada pesta dansa kalangan atas. Anisa naik ke atas panggung dengan mengenakan gaun brukat berwarna biru muda dan ada kain tile panjang pada kedua tangannya menyerupai sayap.
Anisa melakukan catwalk sampai ujung lidah panggung dengan mulus dan percaya diri, lalu dia menepi ke sisi kanan sayap panggung.
__ADS_1
"Finalis kedua, Sindi" lanjut MC.
Sindi perlahan-lahan muncul di atas panggung dengan gaun berwarna perak yang berkerlap-kerlip. Dia berjalan begitu anggun dan dengan senyum percaya diri. Setelah selesai melakukan catwalk, Sindi berdiri di sebelah Anisa.
"Peserta terakhir, Syainanda!" seru MC.
Tepuk tangan penonton memenuhi tempat itu untuk menyambut kedatangan Nanda. Sindi tersenyum licik saat dia menengok ke belakang panggung dan dia tidak melihat keberadaan Nanda di sana.
MC nampak bingung karena setelah dia menyebut nama Nanda, gadis itu tidak menampakkan dirinya sama sekali. MC memberi isyarat kepada panitia yang berada di depan panggung. Dan panitia itu hanya mengedikkan bahunya tidak tahu.
"Syainanda" panggil MC sekali lagi.
Tapi Nanda belum juga muncul. Atmosfer di dalam ruangan itu langsung berubah menjadi suasana tegang. Semua penonton saling melirik dan mempertanyakan keberadaan Nanda.
"Kenapa Nanda tidak muncul?" tanya Dafa.
Ketua panitia pergi menuju ke belakang panggung untuk mencari Nanda. Lalu dia bertemu dengan salah satu anak buahnya. Anak buahnya mengatakan bahwa gaun milik Nanda rusak dan Nanda tidak bisa naik ke atas panggung.
"Beri dia waktu untuk mendapatkan gaun pengganti" ujar ketua panitia.
Ria dan Jeje muncul dan mencoba mempengaruhi kedua orang itu.
"Tapi nanti banyak waktu yang terbuang. Para dewan juri pasti tidak bisa menunggu lebih lama lagi" sela Jeje.
"Iya benar. Kalian panitia harus bersikap lebih tegas. Harusnya Nanda dan timnya bisa mengatasi masalah ini tanpa harus merepotkan orang lain" sambung Ria.
Ketua panitia terdiam sejenak memikirkan solusi yang harus dia ambil lalu dia mengatakan, "Baiklah, biarkan saja dia. Anggap saja Nanda sudah mengundurkan diri dari kompetisi ini," tegas ketua pantia lalu pergi kembali ke panggung.
Ria dan Jeje melakukan tos karena mereka berdua berhasil mempengaruhi ketua panitia itu. Sekembalinya ke ruang auditorium, ketua panitia itu naik ke atas panggung dan membisikkan sesuatu kepada MC. Terlihat MC itu menganggukkan kepala tanda mengerti dengan apa yang diucapkan ketua panitia itu. Setelah selesai berbicara dengan MC, ketua panitia itu turun dari panggung.
"Mohon maaf untuk para hadirin, ada hal yang tak terduga telah terjadi. Panitia sudah mengupayakan segalanya. Jika dalam hitungan ketiga Nanda tidak muncul di atas panggung maka dia dinyatakan mengundurkan diri dan kita harus melanjutkan acara ini" jelas MC.
Dafa nampak terkejut di balik wajah datarnya. Tapi matanya memperlihatkan perasaan kecewa. Bagaimana bisa Nanda dinyatakan gugur tanpa tahu alasan spesifiknya.
"Baiklah, saya akan mulai menghitung" ucap MC sambil menarik napas panjang.
"Satu."
"Dua."
__ADS_1
"Tiga."