Pengorbanan Cinta 2

Pengorbanan Cinta 2
Bab 33


__ADS_3

Sudah dua hari, Apsara berada di rumah sakit. Dan selama itu pula teman-teman kantornya hanya tahu kalau Apsara kecelakaan. Tapi tidak ada yang diberitahu di mana dia dirawat. Karena Apsara tidak ingin teman-temannya tahu tentang dia. Dan selama itu pula, setiap pulang dari kantor Sanjaya selalu setia menemani Apsara dan membantu dia melakukan terapi kaki.


Setelah mengetahui kalau Apsara mengalami kecelakaan dan dirawat di rumah sakit, Dafa ingin menjenguk Apsara. Dia sangat mengkhawatirkan wanita yang sampai detik ini masih dia cintai. Tak lupa, Dafa mengajak kakeknya dan adiknya. Setelah bertanya ke bagian resepsionis, Dafa langsung menuju ruang rawat Apsara yang berada di ruang VVIP. Sesampainya di ruang rawat Apsara, Dafa disambut oleh dua bodyguard yang berjaga di depan pintu.


Saat Dafa masuk ke ruangan itu, dia terkejut melihat sosok pria yang sedang menyisir rambut Apsara. Rasanya seperti ada yang menghujam jantungnya dan itu terasa sangat sakit.


"Dafa" panggil Apsara.


Dafa terdiam beberapa saat. Dia belum bisa mengontrol keterkejutannya dan rasa cemburunya. Tubuhnya terasa kaku dan tak bisa digerakkan. Herdia memahami kondisi yang sedang dia lihat.


"Apsara, apa kabar?" balas Herdian begitu ramah dengan menghampiri Apsara. Apsara pun menyalami Herdian, begitu pula dengan Sanjaya.


"Apsa baik yangkung" kata Apsara.


"Dafa, kok kamu diem aja sih? Sini loh. Zahra, ini kenalin, namanya Kak Apsara, dia sahabat kakak kamu dari zaman SMP" ujar Herdian melambaikan kepada kedua cucunya.


"Hai Kak Apsara" sapa Zahra.


"Hai. Jadi kamu adiknya Dafa. Aku baru pertama kali lihat kamu. Cantik ya kamu" balas Apsara.


"Makasih. Kakak juga cantik" puji Zahra dengan senyum manis.


"Semoga lekas sembuh ya, Sa" kata Dafa singkat dengan wajah datar.


"Kakek sudah dengar dari orang tua kamu, kalau kamu sengaja ditabrak" ujar Herdian.


"Iya, Yang. Dia punya dendam sama aku. Tapi semua udah diurus papa dan papi" lanjut Apsara.


"Kedatangan kita ganggu kamu sama pacar kamu nggak nih" goda Herdian.


"Nggak sama sekali yangkung. Apsara malah seneng kalian datang menjenguk aku" balas Apsara sesekali melirik ke arah Dafa.


Saat mereka sedang mengobrol tiba-tiba munculah adik-adik Apsara yang berteriak memanggil namanya. Disusul kedatangan Bara dan Asmara juga.


"Kak Apsara!!!" teriak Langga, Nendra, dan Nanda bersamaan. Ketiganya langsung memeluk Apsara tanpa mempedulikan orang yang ada di ruangan itu.


"Bisa nggak sih kalian nggak usah teriak. Ini rumah sakit" tegur Apsara.


"Biarin. Ini juga ruang VVIP, luas dan besar. Mana ada yang denger teriakan kita" celoteh Nanda yang mendapatkan cubtan di hidung dari Apsara.


Zahra terdiam melihat keberadaan mereka bertiga yang memanggil Apsara dengan sebutan kakak. Begitu pun juga dengan Dafa.


"Adik-adik, kalian jangan ngerumunin Kak Apsara ya. Dia kan masih sakit" sela Asmara.


"Dafa, kamu di sini juga" tegur Bara.


"Iya. Aku datang bersama yangkung dan adikku" balas Dafa.


"Hah adik?" seru Langga, Nendra, dan Nanda bersamaan saat menyadari keberadaan Dafa dan Zahra sekaligus fakta bahwa mereka bersaudara.

__ADS_1


"Mereka bertiga adik kamu?" tanya Dafa meyakinkan.


"Aku lupa belum kasih tahu kamu. Langga itu adik kandung aku. Sementara Nanda dan Nendra adalah adik kembar Apsara" jawab Bara.


Dafa dan Zahra saling menatap penuh keterkejutan. Mereka merasa bahwa dunia ini terlalu sempit. Karena orang yang mereka kenal ternyata adalah anggota keluarga.


Jadi ternyata mereka bertiga bersaudara. Astaga, batin Zahra.


"Kalian salim dulu sama Yangkung Herdian. Dia ketua Yayasan Atma Jaya loh" tutur Apsara.


"Tapi adik-adik kamu itu juga pewaris bisnis keluarga Wijaya dan Praditya kan?" sela Herdian sambil terkikik.


Ketiga adik Apsara menyalami Herdian bergantian.


"Apsa, aku bawakan makanan untuk kamu dan Sanjaya. Aku letakkan di sini ya" ujar Asmara meletakkan rantang di meja sebelah tempat tidur.


"Makasih. Oh ya bagaimana dengan pernikahan kalian?" kata Apsara.


"Kami hanya akan melaksanakan akad nikah saja. Tidak ada pesta resepsi. Mengingat kondisi kamu belum pulih. Aku tidak bisa, kalau aku bersenang-senang dalam pesta sementara saudaraku mengalami sakit" ujar Bara.


"Kenapa? Aku baik-baik saja. Aku tidak mau menjadi alasan, atas tertundanya pesta pernikahan kalian" bantah Apsara.


"Apsa, akan terasa sangat egois jika kami tetap mengadakan pesta. Bukankah keberadaan kamu juga penting dalam pesta tersebut. Jadi, jika kamu tidak ada pesta akan terasa kurang. Jadi kami menunda resepsi sampai kamu pulih" jelas Asmara penuh pengertian.


"Yang dikatakan saudara kamu benar. Lebih baik kita semua fokus dengan kesembuhan kamu" sambung Sanjaya memberi pengertian kepada Apsara.


"Dafa jangan lupa minggu depan datang ke pernikahanku" kata Bara.


"Sa, aku dan Asmara pamit ya. Kita harus ke KUA untuk mengurus syarat nikah" kata Bara.


"Kalian bertiga mau pulang atau di sini?" tanya Asmara.


"Kita di sini aja. Udah dua hari nggak lihat Kak Apsara" jawab Nanda.


"Lebay" sela Langga.


Bara dan Asmara pun pamit. Dan setelah itu mereka berdua meninggalkan ruang rawat Apsara.


"Zahra, mau ikut ke kantin nggak? Kita mau makan" ujar Nendra dengan kedua tangannya menyenggol tubuh kedua saudaranya yang berada di sampingnya.


Langga dan Nanda kompak melirik ke arah Nendra yang meminta dukungan mereka berdua.


"Iya Zah. Ikut yuk" ajak Nanda.


"Oke" balas Zahra.


Akhirnya mereka berempat keluar dari ruangan rawat Apsara dan menyisakan Apsara, Sanjaya, Herdian, dan Dafa.


"Apsa, apa kamu mau makan?" tawar Sanjaya.

__ADS_1


"Boleh. Kamu lihat apa yang Asmara bawakan" pinta Apsara.


Sanjaya membuka rantang satu persatu. Apsara pun menunjuk lauk yang dia inginkan. Dengan telaten Sanjaya meletakkan makanan itu di piring.


"Buka mulutmu" ujar Sanjaya menyodorkan sendok ke arah Apsara.


"Tidak mau. Aku malu" lirih Apsara dengan wajah bersemu merah.


"Kenapa?" tanya Sanjaya cuek.


"Nggak usah malu-malu dong. Yangkung dulu suap-suapan sama Utinya Dafa" sela Herdian sambil terkekeh.


"Udah ayo buka mulut kamu. Habiskan makanannya setelah itu kamu minum obat" kata Sanjaya.


Apsara tidak bisa membantah lagi. Akhirnya dia makan dengan disuapi oleh Sanjaya. Dafa yang melihat itu merasa cemburu. Kini dia benar-benar kalah. Sudah ada pria lain yang berhasil meluluhkan hati Apsara. Padahal sudah bertahun-tahun dia mencoba menaklukan wanita itu dengan segala cara namun tidak bisa. Dan sekarang dengan hadirnya Sanjaya, telah menutup semua pintu kemungkinan bagi Dafa untuk mendapatkan Apsara.


Dafa yang sudah tidak kuat lagi melihat kedekatan antara Apsara dengan Sanjaya, memutuskan untuk keluar dari ruang rawat Apsara. Dia memilih duduk di taman yang tak jauh dari ruangan Apsara. Menyendiri adalah cara yang terbaik untuk menenangkan pikirannya.


"Dafa kamu harus kuat" kata Dafa pada dirinya sendiri.


"Loh Kak Dafa" tegur Nanda yang melihat Dafa duduk di taman.


Dafa menoleh saat mendengar namanya disebut, "Kamu ngapain di sini?" tanya Dafa.


Nanda duduk di bangku bersebelahan dengan Dafa, "Harusnya aku yang tanya kali. Ngapain Kak Dafa di sini? Sendirian lagi. Kelihatan banget jomblonya" ledek Nanda tertawa terbahak-bahak.


"Bawel kamu" gerutu Dafa membekap mulut Nanda agar dia berhenti tertawa.


Nanda meronta saat Dafa membekap mulutnya hingga akhirnya kening mereka saling berbenturan.


"Aauu sakit" rintih Nanda sambil mengelus keningnya.


Dafa yang melihat Nanda kesakitan langsung mengelus-ngelus kening gadis itu dengan lembut. Nanda langsung diam membeku, saat kulit tangan Dafa yang lembut bersentuhan dengan kulit wajahnya. Dafa harus mengontrol dirinya agar tidak memegang tengkuk leher Nanda karena dia merasa bahwa kening Nanda selembut kulit bayi.


Astaga, kenapa aku jadi deg-degan kayak gini, gerutu Nanda dalam hati.


Dafa tiba-tiba menjauhkan tangannya dari kening Nanda. Dia berusaha mengatur napasnya agar memperbaiki pacuan jantungnya.


"Lemah kamu. Baru juga kejedot" ejek Dafa.


"Tapi keras, Kak. Kalau sampai aku gegar otak gimana" ketus Nanda.


"Berlebihan" balas Dafa dingin.


"Pantes aja Kak Dafa, Kak Apsa, dan Kak Bara bisa bersahabat. Kalian bertiga sama-sama manusia kutub yang dingin. Tapi kedua kakakku nggak nyebelin kayak Kak Dafa" omel Nanda yang memanyunkan bibirnya.


Dafa hanya diam mendengarkan Nanda mengomel sambil memandangi wajah gadis itu. Entah kenapa dia merasa lega karena ternyata dia bersaudara dengan kedua laki-laki yang sempat membuatnya kelimpungan saat melihat mereka bertiga saling berpelukan.


Dafa tidak menyangka, kalau penampilan sederhana Nanda selama ini hanya kamuflase saja. Padahal dia adalah adik dari kedua sahabatnya. Mereka berlima memiliki kebiasaan yang sama, yaitu menyembunyikan identitas mereka.

__ADS_1


"Udah ah, mending aku balik ke kantin aja. Daripada ribut sama Kak Dafa bikin krengki" gerutu Nanda lalu bangkit dari duduknya sambil menghentakkan kaki kemudian pergi meninggalkan Dafa sendirian lagi.


__ADS_2