Pengorbanan Cinta 2

Pengorbanan Cinta 2
Bab 17


__ADS_3

Langga, Nanda, dan Nendra sedang belajar bersama di perpustakaan seperti biasa. Sembari belajar mereka juga bercerita tentang kejadian saat kuliah hari itu.


"Jadi sekarang tukang es cincau ini udah mulai deketin teman kamu, Nan?"kata Langga.


"He-em...mereka sering kok pergi ke kantin berdua"goda Nanda melirik Nendra.


"Apaan sih jomblo. Bilang aja iri"balas Nendra.


"Hei maaf ya, walaupun aku jomblo tapi banyak yang suka sama aku bahkan mereka rela mengantri buat jadi pacar aku. Saking gampangnya, aku tinggal nunjuk mau pacaran sama siapa. Tapi akunya yang nggak mau sama mereka"jelas Nanda.


"Ya ampun, punya saudara sombongnya sampai langit ke tujuh"tukas Langga menggelengkan kepala.


"Lang memang bener kamu lagi deket sama adik tingkat kamu itu? I dont know her name, tapi aku sering lihat dia diusilin geng uler"kata Nanda.


"Kayaknya semua cewek yang deket sama kita berdua pasti diisengin sama geng cewek mulut comberan itu"ucap Nendra yang membuat Nanda terkekeh.


"Kamu bener Nen. Tapi kan kita punya pawangnya geng uler itu"ujar Langga melirik Nanda.


"Apaan? Kenapa aku?"seru Nanda dengan mata melotot yang membuat kedua laki-laki itu langsung tertawa.


"Kan cuma kamu yang bisa melawan mereka. Mana ada mahasiswa yang berani melawan mereka"ujar Nendra.


"Terserah deh. Tapi aku jadi sedih deh, kalau kalian punya pacar aku gimana dong?" Raut wajah Nanda menjadi sedih, mengingat kedua saudara laki-lakinya sedang dekat dengan wanita.


Langga dan Nendra memeluk Nanda secara bersamaan, "Kita tetap sayang kamu kok. Bucin bukan alasan buat kita melupakan kamu, Nan," ucap keduanya.


Nanda pun tersenyum lalu membalas pelukan mereka berdua.


*****


Asmara harus bekerja lebih keras lagi karena malam ini banyak pembeli yang datang ke warung mie ayamnya. Sementara Almira tidak bisa membantu kakaknya berjualan karena dia harus belajar di rumah. Ingin sekali Almira membantu kakaknya, tetapi Asmara melarang adiknya karena sebentar lagi Almira akan ada menghadapi ulangan.


Sebenarnya Asmara sangat kewalahan melayani pelangggan-pelanggannya. Tapi dia tidak mampu membayar pekerja untuk membantunya, karena itu jelas akan mengurangi pendapatannya.


"Mba kok lama banget sih bikin mienya."


"Iya nih, kita udah nunggu lama juga."


"Udah laper nih."


Semua pembeli mulai protes karena Asmara sudah membuat mereka lama menunggu.


"Sabar ya semuanya. Yang pesan banyak"kata Asmara setenang mungkin.


Asmara terburu-buru membuat mie ayam hingga tanpa sadar sikunya menyenggol mangkok yang ada di sebelahnya. Mangkok itu pun jatuh dan pecah. Saat Asmara akan memunguti pecahan mangkok itu, dia melihat seseorang yang terlebih dulu melakukannya.

__ADS_1


"Bara..."


"Apa?"ketus Bara dengan wajah super dingin tapi dengan santainya dia mengumpulkan pecahan mangkok itu dan membuang ke tempat sampah.


Setelah itu Bara melangkahkan kakinya menuju para pembeli dan bertanya pesanan minuman mereka. Asmara mengernyitkan keningnya saat melihat apa yang dilakukan laki-laki kutub itu.


"Kamu mau ngapain?"tanya Asmara saat Bara mengambil gelas dari sebuah wadah.


"Membantu kamu"jawab Bara singkat.


Kemudian Bara membuat beberapa gelas es teh dan es jeruk. Betapa terkejutnya Asmara saat melihat Bara begitu luwes melayani pembeli, bahkana ada beberapa pembeli wanita yang sesekali menggoda Bara karena ketampanannya. Setelah beberapa jam berlalu akhirnya warung mie ayam Asmara sudah tidak terlalu rmai seperti tadi. Dia dan Bara bisa beristirahat sejenak.


"Minumlah." Bara menyodorkan segelas es teh kepada Asmara.


Dengan cepat Asmara menerima dan meminum es teh itu.


"Besok aku akan meminta seseorang untuk membantumu berjualan"jelas Bara.


Perkataan Bara membuat Asmara tersedak lalu berkata, "Untuk apa?"


"Ya untuk membantu kamu. Memang untuk apa lagi?"seru Bara.


"Aku bisa melakukan semua sendiri. Lagipula aku tidak memiliki cukup uang untuk membayar orang"tolak Asmara.


"Aku yang akan membayarnya. Aku tidak menerima penolakan"tandas Bara.


Seulas senyum terukir di bibir Bara dan dia pun berkata, "Memang kamu tidak senang jika aku perhatian sama kamu?"


"Hah??"ucap Asmara kebingungan.


Bara menoyor pelan kepala Asmara karena merasa gemas dengan wanita yang ada di depannya, "Sepertinya kamu kekurangan cairan, makanya kamu tidak bisa berpikir."


Bara terkekeh saat mengatakan itu dan semakin membuat Asmara kebingungan. Tapi Asmara tidak bisa membohongi dirinya sendiri, kalau dia merasa sangat bahagia saat Bara memberi perhatian kepadanya. Walaupun kadang sikapnya super dingin dan sulit ditebak.


"Jadi secara tidak langsung kamu bilang kalau aku ini bodoh?"omel Asmara.


Bara mengernyitkan keningnya, "Sensitif sekali."


"Siapa yang sensitif? Kamu itu yang menyebalkan"balas Asmara tak mau kalah.


Tiba-tiba datanglah seorang ibu ke warung dan dengan hebohnya dia berkata, "Eh ada Mas Ganteng. Mas buatkan saya mie ayam dong."


"Saya saja, Bu"sela Asmara.


"Nggak mau. Saya maunya Mas Ganteng yang bikinin. Pasti rasanya bakal lebih enak"goda ibu itu dengan genitnya bahkan dia mencolek lengan Bara.

__ADS_1


Melihat kegenitan ibu itu, Asmara terlihat sangat kesal. Bahkan dia memalingkan wajahnya dari Bara.


Bara menarik hidung Asmara dengan gemas dan yang dia lakukan langsung membuat Asmara terkejut. Bara pun berkata, "Jangan ngambek."


Asmara mematung menatap Bara yang saat ini sedang membuatkan mie ayam untuk ibu itu. Bahkan sesekali Bara terkekeh saat ibu itu menggodanya dengan berbagai bualan super receh.


Setelah semua dagangannya habis, Bara membantu Asmara untuk membereskan warung. Dan Bara mengantar Asmara pulang sampai ke rumahnya.


"Loh ada Kak Bara?"ucap Almira saat melihat kemuculan Bara di belakang kakaknya.


"Kamu udah selesai belajarnya?"potong Asmara.


"Barusan selesai. Sini Kak aku bantu"kata Almira membantu membawakan baang-barang.


Almira kembali ke ruang tamu membawakan segelas air untuk Bara, "Kakak lama banget nggak ke sini? Aku pikir kakak berantem sama Kak Mara."


"Aku banyak pekerjaan akhir-akhir ini"jawab Bara.


"Oh iya Kak, aku mau ngembaliin buku-buku ini"ucap Almira menyodorkan tumpukan buku yang waktu lalu dipinjamkan Bara kepadanya.


"Memangnya kamu sudah tidak memakainya lagi?"tanya Bara.


"Udah nggak Kak"jawab Almira.


Asmara muncul setelah kembali dari dapur. Mengerti kalau kakaknya butuh waktu berdua dengan Bara, dia pun masuk ke dalam kamar. Setelah kepergian Almira, Asmara duduk di sebelah Bara.


"Terima kasih untuk hari ini"kata Asmara dengan senyum manisnya.


"Tentu. Aku sudah menghubungi seseorang untuk membantumu berjualan. Dia akan datang besok sore"ucap Bara.


"Cepat sekali..."ujar Asmara tak percaya.


"Ingat, aku tidak mau kamu kelelahan"sela Bara.


"Iya iya aku tahu. Ya sudah, kamu sebaiknya pulang"tukas Asmara.


"Kamu mengusirku?"seru Bara tak terima.


Asmara mendengus kesal, "Ini sudah malam Bara. Tidak baik kamu berada di rumahku, apa kata tetangga nanti."


Bara bangkit dari duduknya sambil bergumam, "Mungkin aku harus segera menikahimu."


"Kamu bilang apa???"teriak Asmara.


"Tidak"tegas Bara dengan wajah datar.

__ADS_1


Asmara pun mengantarkan Bara sampai depan rumahnya. Tanpa mereka berdua ketahui, Toni sedang melihat keduanya dari kejauhan.


"Siapa pria itu? Sepertia dia dekat dengan Asmara. Aku tidak akan membiarkan dia merebut pujaan hatiku"ucap Toni.


__ADS_2