
Saat Apsara sedang melakukan terapi kaki di rumah sakit, tiba-tiba Sanjaya mengajaknya untuk bertemu dengan ayahnya. Awalnya Apsara terkejut karena dia sendiri sudah memutuskan untuk tidak menyinggung soal ayahnya Sanjaya. Karena takut itu akan membuka luka lama Sanjaya.
Tapi Apsara merasa senang karena Sanjaya sudah mau untuk bertemu dengan ayahnya. Itu artinya, di dalam lubuk hati Sanjaya, dia masih memiliki rasa sayang kepada ayahnya dan ingin memaafkan ayahnya dan melupakan masalah mereka.
Sanjaya membawa Apsara ke sebuah perumahan elite di Jakarta. Yang di mana perumahan itu memiliki ciri khas rumah pemiliknya bergaya klasik ala Jawa. Sanjaya menghentikan mobil di rumah bergaya klasik Jawa yang di depan rumahnya berdiri dua patung yang memegang gada sebagai patung selamat datang.
"Ini rumah ayah kamu?" tanya Apsara sambil memandangi rumah itu dari dalam mobil.
"Ini rumah ayah di Jakarta" jawab Sanjaya.
"Aku suka dengan designnya. Klasik, kuno, tapi tetap elegan dan mewah" puji Apsara terkagum-kagum.
Memang rumah keluarga Apsara jauh lebih mewah dan besar dengan rumah bergaya klasik Eropa yang memiliki tiang-tiang tinggi dengan ornamen mewah. Tapi tetap saja, Apsara bisa merasa kagum hanya dengan sebuah rumah yang luasnya hanya seperempat dari rumahnya tapi memiliki konsep Jawa.
"Ayo turun" ajak Sanjaya mengulurkan tangannya.
Apsara meraih tangan Sanjaya dan menerima tongkat dari kekasihnya itu. Karena keadaan kaki Apsara sudah membaik, dia tidak perlu kursi roda. Jadi mulai sekarang dia menggunakan tongkat.
Mereka berjalan memasuki rumah. Baru saja sampai di teras rumah, Edi, asisten pribadi Wisnu, menyambut mereka berdua.
"Selamat datang Raden dan Non Apsara" tegur Edi.
"Terima kasih, Pak Edi" balas Sanjaya.
Edi membawa mereka masuk ke dalam rumah. Dia mempersilahkan mereka berdua duduk di ruang keluarga.
"Teh atau kopi?" tanya Edi.
"Nanti saja, Pak. Saya ingin bertemu ayah" kata Sanjaya.
Edi nampak terkejut dengan perkataan Sanjaya. Dia terdiam beberapa saat sebelum akhirnya sadar dengan lamunannya sendiri.
"Kanjeng ada di ruang kerjanya. Mari saya antar" ajak Edi begitu senang.
"Sayang, kamu tunggu di sini dulu ya. Jangan ke mana-mana, kaki kamu masih sakit" ucap Sanjaya sambil membelai wajah Apsara begitu lembut.
"Iyaa" balas Apsara.
"Mbok Santi!" panggil Edi pada salah satu pelayan yang ada di rumah ini.
Tak berapa lama datanglah seorang wanita paruh baya yang masih mengenakan kebaya kuno berwarna coklat dan kain jarik.
"Nggeh, Mas Edi" kata Santi.
"Tolong temani, Non Apsara dan penuhi segala kebutuhan dia" perintah Edi.
"Siap Mas" seru Santi sambil menunduk hormat.
Edi mempersembahkan tangannya sebagai tanda mempersilahkan Sanjaya berjalan terlebih dahulu. Sanjaya melangkah menuju anak tangga diikuti oleh Edi. Apsara tersenyum melihat betapa berserinya wajah kekasihnya saat akan menemui ayahnya.
"Non Apsara mau minum atau makan apa?biar saya buatkan" tawar Santi.
__ADS_1
"Mbok, boleh nggak saya berkeliling rumah ini. Saya sangat suka dengan rumah ini" pinta Apsara.
"Boleh. Mari, saya bantu" ajak Santi mengulurkan tangan menuntun Apsara berjalan.
Apsara diajak berkeliling seluruh area rumah yang sangat kental dengan berbagai ornamen-ornamen Jawa. Di halaman belakang pun terdapat berbagai tanaman bunga, sayur, dan obat-obatan.
Santi mendudukkan Apsara di bangku taman, karena melihat wanita cantik itu nampak kelelahan berjalan sejak tadi.
"Non Apsara, saya buatkan minum dulu ya" kata Santi.
Apsara mengangguk lalu berkata, "Terima kasih, Mbok."
Santi berjalan menuju ke dalam dapur. Dia membuatkan jus mangga dan menyiapkan beberapa kue tradisional untuk Apsara. Setelah semua siap, dia membawa sebuah baki kembali ke taman. Santi meletakkan baki itu di meja yang ada di hadapan Apsara.
"Monggoh, dicicipi Non" tutur Santi menawarkan pada Apsara.
Apsara memakan cemilan yang diberikan Santi kepadanya, "Ini enak banget, Mbok," puji Apsara.
"Ini kue kesukaan Mas Sanjaya dan ayahnya" ujar Santi.
"Mbok Santi sudah lama bekerja dengan ayahnya Sanjaya?" tanya Apsara penasaran.
"Lumayan lama. Sejak Mas Sanjaya umur lima tahun. Saat itu saya baru umur 17 tahun sudah ingin menjadi abdi dalem" jelas Santi.
Apsara ber-oh ria tanpa bersuara karena dia terlalu menikmati makanannya.
*****
"Kenapa masih berdiri di situ? Kemari Sanjaya" panggil Wisnu menepuk sofa yang ada di sebelahnya.
Sanjaya berjalan menghampiri ayahnya dan duduk di sebelahnya. Sebuah senyum tak lepas dari wajah Wisnu. Dia merasa begitu bahagia karena anaknya mau menemuinya.
"Kamu ke sini sama siapa?" kata Wisnu.
"Sama Apsara. Setelah mengantar dia terapi aku ajak dia ke sini" ucap Sanjaya.
"Oh gadis itu" ucap Wisnu.
"Bagaimana ayah bisa kenal dia?" balas Sanjaya.
"Dia itu penanggung jawab proyek kerja sama ayah dengan Wijaya Group" jelas Wisnu.
"Aku pikir ayah kenal dengan orang tuanya" sela Sanjaya.
"Memang siapa orang tuanya?" tanya Wisnu tak mengerti.
Jadi ayah belum tahu kalau Apsara anak dari Isyana Wijaya, batin Sanjaya.
"Aku juga belum bertemu dengan orang tua dia. Katanya orang tuanya sedang ada di luar negeri" kata Sanjaya.
"Oh begitu. Jadi apa yang ingin kamu bicarakan dengan ayah?" tandas Wisnu.
__ADS_1
Sanjaya menghela napas sejenak, "Aku ingin mendengar penjelasan ayah tentang masalah keluarga kita," ujar Sanjaya dengan tatapan sendu.
"Saat ayah diberitahu kalau ibumu berselingkuh, tentu saja ayah tidak percaya. Ayah tahu betul ibu kamu seperti apa. Tapi, ayah tidak bisa kembali ke Jogja karena ayah harus menyelesaikan urusan ayah di Belanda. Setelah ayah kembali ke Jogja, akhirnya ayah tahu kalau eyang kakung kamu sudah mengusir ibumu dari rumah besar" kata Wisnu.
"Jika ayah percaya bahwa ibu tidak selingkuh, kenapa ayah tidak membawa ibu pulang?" tanya Sanjaya.
Wisnu menundukkan kepala dan tak terasa air matanya menetes membasahi pipinya, "Karena ayah terpaksa. Jika ayah masih nekat membawa ibumu pulang maka eyang kakung kamu akan mengeluarkan kamu dari silsilah keluarga kita. Ayah dalam dilema besar. Kalian berdua adalah harta ayah yang paling berharga tapi ayah harus memilih di antara kalian berdua. Akhirnya, ibumu menyuruh ayah menceraikannya agar kamu tetap mendapat hak kamu di dalam keluarga. Walaupun begitu, ayah selalu meminta Edi untuk memantau keadaan ibu kamu. Hingga akhirnya dia meninggal karena kanker yang dia derita. Dan ayah tidak mengetahui itu."
Sanjaya memeluk ayahnya dan menangis, lalu berkata, "Ayah, maafkan aku. Aku terlalu keras kepala karena tidak mau mendengar penjelasan ayah. Bahkan aku tega pergi dari rumah karena rasa benciku kepada ayah," ujar Sanjaya penuh penyesalan.
"Kamu tidak salah. Mungkin jika kamu tidak pergi dari rumah, ayah tidak akan punya keberanian untuk menentang eyang kakungmu" balas Wisnu mengelus wajah putranya.
"Aku sayang ayah" ucap Sanjaya.
"Ayah lebih menyayangimu, Nak" ujar Wisnu.
*****
Apasara sedang mengambil sepotong kue dari piring, tapi tiba-tiba Sanjaya datang dan merebut kue itu dari tangannya.
"Sanjaya!" teriak Apsara terkejut sekaligus kesal.
Sanjaya hanya acuh memperlihatkan wajah tengilnya dan melahap kue itu lalu duduk di sebelah Apsara.
"Terima kasih" ucap Sanjaya merangkul bahu Apsara.
"Untuk apa?" tanya Apsara dengan kening berkerut.
"Karena telah hadir dihidupku" ujar Sanjaya dengan mata berbinar-binar.
Sanjaya menarik tubuh Apsara ke dalam pelukannya. Mengelus dengan lembut rambut hitam wanita itu.
"Sanjaya, lepasin dong. Nanti kalau ayah kamu lihat gimana? Kan aku malu" kata Apsara dengan suara agak teredam karena wajahnya didekap oleh dada bidang Sanjaya.
"Memang kenapa? Kamu takut kalau kita langsung dinikahi?" goda Sanjaya.
Apsara mencubit gemas perut Sanjaya, hingga membuat Sanjaya terpaksa melepas pelukannya. Dan mengaduh kesakitan.
"Jangan ngawur ih. Memang kamu mau nikah sama aku?" balas Apsara.
"Harusnya aku yang tanya. Memangnya putri dari direktur utama Wijaya Group mau menikah dengan karyawannya sendiri?" ucap Sanjaya.
"Akan aku pikirkan lagi nanti" kata Apsara sambil terkikik geli.
Wisnu yang sejak tadi berdiri di teras belakang rumah, memandangi putranya yang nampak begitu bahagia bersama kekasihnya. Setelah sekian lama akhirnya Wisnu bisa melihat tawa lepas Sanjaya.
"Bukankah gadis itu membawa kebahagiaan untuk putraku?" tanya Wisnu pada Edi yang berdiri di sampingnya.
"Iya, Kanjeng. Raden Sanjaya nampak begitu bahagia bersama dia" balas Edi ikut tersenyum.
"Putraku sudah dewasa sekarang. Dan aku sudah melewatkan banyak hal tentang dia. Aku tidak menginginkan apapun. Aku hanya ingin dia bahagia" tandas Wisnu.
__ADS_1