Pengorbanan Cinta 2

Pengorbanan Cinta 2
Bab 36


__ADS_3

"Woy kuliah woy. Bangun Nendra!!!" teriak Nanda mengguncangkan tubuh Nendra yang masih berbalut selimut begitu rapi seperti dadar gulung.


Bukannya bangun, Nendra justru menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuhnya.


"Kembaran nggak ada akhlak" gerutu Nanda berkacak pinggang.


Aku kerjain aja deh, batin Nanda cengengesan.


"Ya udah kalau nggak mau bangun. Padahal Zahra dateng buat berangkat bareng kita loh" kata Nanda sambil menahan tawa.


"Apa?" Nendra langsung berteriak dan terduduk dengan mata melotot.


"Bohong kamu!" tegas Nendra.


"Aku nggak bohong kembaranku sayang" kata Nanda mencubit ujung hidung Nendra.


Tiba-tiba Nendra melompat dari kasur dan langsung masuk ke kamar mandi. Nanda keluar dari kamar dan tertawa terbahak-bahak sampai suara tawanya menggema ke seluruh rumah. Hingga dia ikut bergabung dengan keluarganya di meja makan.


"Kamu kenapa ketawa terus?" tanya Isyan.


"Nggak papa kok, Ma" jawab Nanda santai.


20 menit kemudian, Nendra berlari menuruni tangga dan langsung menuju ruang makan dengan napas ngos-ngosan.


"Zahra mana?" tanya Nendra tiba-tiba.


Semua orang saling memadang dan merasa bingung dengan pertanyaan Nendra. Sementara Nanda tertawa terbahak-bahak karena merasa puas sudah berhasil mengerjai saudaranya.


"Zahra? Memang ngapain dia di sini? Dia kan punya rumah sendiri" ujar Arya.


Nendra langsung melirik ke arah Nanda dan melototkan matanya, "Nanda!!," jerit Nendra berjalan ke arah Nanda dan langsung mencubit keras pipinya.


"Nyebelin banget sih kamu. Pakai bohong segala. Dosa tahu sama kakak sendiri" omel Nendra.


"Salah sendiri dibangunin susah. Harus banget aku pakai nama Zahra biar kamu bangun. Dasar bucin. Nggak ada ya aku dosa sama kamu. Kita ini kembar" balas Nanda tak kalah sengit.


"Tapi Nendra lahir lebih dulu baru 10 menit kemudian kamu lahir, Nan" sela Langga dengan nada lembut.


"Udah. Kenapa sih kalian ribut? Cepat sarapan, nanti telat ke kampus" tegur Isyan.


Akhirnya pertengkaran mereka berdua pun terhenti. Kemudian sarapan pun dimulai dan tidak ada satu pun yang bersuara.


*****


Asmara baru saja selesai memasak untuk sarapan. Kini dia sedang memindahkan makanan ke dalam mangkok. Tiba-tiba Asmara merasa ada yang memeluknya dari belakang.


"Pagi sayang" sapa Bara dengan nada manja mengendus-ngendus di bahu Asmara yang membuat dia kegelian.

__ADS_1


"Mas, jangan kayak gini dong. Malu ada bibi" ujar Asmara.


"Kenapa harus malu? Kita kan sudah sah jadi suami istri" kata Bara bodo amat.


Asmara menghela napas kasar, "Tapi kita harus sarapan."


"Biarkan aku seperti ini beberapa menit saja" pinta Bara sambil memejamkan matanya.


"Kenapa kamu bangun terlebih dahulu?" tanya Bara.


"Hah?"


"Kenapa saat aku bangun, kamu tidak ada di kamar" ucap Bara lagi.


"Aku kan harus memasak, Mas" kata Asmara.


Bara melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuh Asmara menghadap kearahnya, "Morning kiss," kata Bara sambil memonyongkan bibirnya.


"Kenapa harus ada morning kiss?" tanya Asmara ragu.


"Itu rutinitas pagi dan harus dilakukan agar aku semangat. Ayo cepat" kata Bara sedikit memaksa.


Asmara clingak-clinguk memastikan jika tidak ada orang. Dan akhirnya dia mencium bibir suaminya sekilas sebelum akhirnya dia tertunduk malu.


"Kenapa masih malu? Bukannya semalam kamu nggak cuma cium bibir aku" goda Bara dengan tawanya.


"Sudah-sudah. Ayo kita sarapan. Aku ingin mencicipi masakan istriku untuk pertama kalinya" kata Bara sambil merangkul Asmara dan berjalan menuju meja makan.


Asmara meletakkan nasi, lauk, dna juag sayur di atas piring milik Bara. Setelah itu Bara menyendokkan makanan itu ke dalam mulutnya. Seketika ekspresi wajah Bara berubah.


"Tidak enak?" ucap Asmara.


"Bukan. Rasanya sangat enak. Masakan kamu sama enaknya dengan masakan mama dan Apsara" jelas Bara.


"Apsara bisa memasak?"tanya Asmara.


"Iya. Dia jago masak seperti papa dan mama. Bisnis restoran itu kan milik Papa Arya" ucap Bara.


"Aku pikir perempuan seperti Apsara yang dingin dan cuek kurang suka berada di dapur" kata Asmara sedikit terkejut namun ada rasa kagum.


Dia dan Apsara sekarang sudah sangat dekat layaknya saudara kandung. Apalagi setelah Apsara menolong dia saat hampir menikah dengan Doni. Dia juga sudah mengajari Asmara cara berbisnis yang baik.


"Aku pikir, dia juga akan sulit jatuh cinta kepada pria. Dan akhirnya dia punya kekasih juga" balas Bara.


*****


Seperti biasa, Bara akan mengantar Asmara ke restoran sebelum akhirnya dia pergi menuju kantor. Asmara berjalan memasuki restoran. Ternyata ibu mertuanya sudah ada di dalam ruangannya. Tak lupa dia memberi salam dan mencium tangan ibu mertuanya.

__ADS_1


"Mami udah sampai dari tadi?" kata Asmara.


"Nggak juga. Mami baru lima menit sampai. Kamu diantar Bara?" ucap Rara.


"Iya Mi" jawab Asmara.


Rara menatap Asmara dengan seksama dan begitu teliti. Matanya tertuju pada leher jenjang nan mulus menantunya yang dihiasai oleh bercak merah muda. Dia terkekeh pelan tapi akhirnya tawa keluar lepas dari mulutnya.


"Mami kenapa ketawa?" tanya Asmara kebingungan.


"Sepertinya kamu sangat menikmati malam pertama kamu. Sampai berapa kali kalian melakukannya?" kata Rara.


"Hah? Maksudnya?"


"Apa kamu tidak sadar dengan tanda merah di leher kamu? Astaga Asmara, ternyata anak mami kasar juga ya" ledek Rara tertawa lagi.


Asmara langsung berlari menuju salah satu kaca yang menempel di dinding ruangan itu. Dia melihat dan menyentuh tanda merah di lehernya. Dan wajah Asmara langsung merah merona karena malu.


"Sini mami bantu kamu menutupi tanda merah itu dengan bedak" ujar Rara menghadapkan tubuh Asmara.


Dia langsung menutupi tanda merah di leher Asmara dengan bedak mahal miliknya. Asmara bahkan sampai harus menelan ludahnya saat melihat bedak harga lima juta hanya dipakai untuk hal sepeli seperti ini.


*****


Sesampainya di kantor, para karyawan dibuat bingung dengan sikap Bara. Dia menampakkan wajah yang berseri, mata berbinar, dan senyum simpul yang tak luntur dari wajahnya.


Bara terkenal sebagai es batu. Dingin, cuek, dan tak berekspresi. Tapi hari ini, seperti sebuah keajaiban dia tersenyum sepanjang jalan menuju ke ruanganya. Para karyawannya tidak ada yang mengetahui kalau Bara sudah menikah kemarin. Karena tidak ada yang diundang satupun karena acara pernikahan itu dirahasiakan.


"Ya ampun senyum Pak Bara bikin melting aja."


"Ganteng banget dia sih."


"Aku mau dong jadi istrinya."


"Iya, aku juga. Biar setiap hari bis memandangi wajah tampannya."


"Kira-kira apa yang membuat Pak Bara terlihat bahagia seperti itu ya?"


"Entahlah."


Semua karyawan wanita membicarakan Bara. Tentu saja. Pesonanya semakin bertambah saja hari ini. Siapa yang tidak akan terpesona dengan ketampanan Kutub Selatan. Bara telah sampai di lantai di mana ruangannya berada. Dia disambut oleh Aldo dan anaknya Aldi.


"Cie pengantin baru kelihatannya bahagia banget" goda Aldi.


"Si Kutub Utara ternyata tahu cara senyum juga" sambung Aldo.


"Kalian berdua jangan meledekku ya" elak Bara.

__ADS_1


"Nggak usah malu-malu gitu kali" balas Aldi cengengesan.


__ADS_2