
Hari-hari berlalu. Kini Nanda bersikap cuek, dingin, dan tidak mempedulikan Dafa. Dan hal itu mrmbuat Dafa gekisah dan uring-uringan. Ini pertama kalinya gadis secerewet Nanda benar-benar menjadi wanita dingin yang belum pernah Dafa kenal. Jika Dafa sudah terbiasa menghadapi sikap dingin Apsara, kali ini berbeda. Ada sesuatu rasa kehilangan yang Dara rasakan ketika Nanda secara terang-terangan menjaga jarak dengannya.
Sedangkan sikap Nanda terhadap Apsara hampir sama dengan Dafa. Hanya bedanya, Nanda masih mau satu meja makan dengan Apsara. Namun anggota keluarga tidak ada yang curiga dengan perubahan sikap Nanda kepada Apsara. Karena memang semua orang tahu kalau Apsara orangnya sangat dingin. Dan Nanda bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa jika di hadapan Langga dan Nendra.
*****
Hingga suatu malam, Nanda menemui kedua orang yang sedang berada di kamar. Seperti kebiasaan Nanda sebelumnya, dia pasti akan muncul dengan gaya ceria dan tengilnya. Arya dan Isyan pun menyambut kedatangan Nanda dengan kasih sayang. Di mana mereka berdua mengizinkan Nanda untuk duduk di tengah mereka berdua.
"Pa, Ma, aku mau ngomong sesuatu nih" ujar Nanda.
"Mau ngomong apa emang?" tanya Arya.
"Iya, tumben banget kamu serius gini" sela Isyan.
"Gini, Nanda kan udah mendekati semester tua nih. Dan Nanda ada tugas magang di kantor advokat pasti. Jadi, Nanda berpikir kalau Nanda memutuskan untuk magang di Perancis sekalian lulus S2 di sana aja" ucap Nanda.
Isyan dan Arya saling melempar pandangan. Ekspresi mereka berdua terlihat bingung antara belum mengerti maksud ucapan Nanda atau terkejut dengan ucapan Nanda.
"Maksudnya lulus S2 di Perancis itu gimana?" kata Arya meyakinkan.
Nanda menghela napas panjang terlebih dahulu sebelum akhirnya berkata, "Nanda pindah kampus," jelas Nanda.
"Apa? Pindah kampus? Ke Perancis? Sendirian? Kamu tahu kan Perancis itu bukan kayak Jakarta ke Bandung" teriak Isyan dengan nada tinggi.
"Sayang, tenang dulu dong" ucap Arya menenangkan Isyan.
"Nanda tahu, Ma. Kalau Perancis itu jauh. Nggak ada yang bilang kalau Perancis itu sedeket Ampera sama Kemang" timpal Nanda berusaha setenang mungkin.
"Oke, papa mau tanya. Apa alasan kamu ambil keputusan besar seperti ini? Apa kamu sudah mempertimbangkan segalanya? Kamu tahu kan pindah kampus dari Indonesia ke luar negeri itu susah. Apalagi disaat kamu masih menjalani amsa kuliah di sini" tutur Arya.
"Nanda tahu, Pa. Sebelumnya Nanda udah cari informasi kok. Sebenarnya tadinya habis lulus S1 di Ausie, Nanda pengin lanjut S2 di Perancis. Tapi karena semua saudaraku mau kuliah di Jakarta ya Nanda ngikutlah. Tapi sekarang Nanda berubah pikiran" tandas Nanda.
Sebagai ibu, Isyan merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh anaknya ini, "Kamu ada masalah apa?" tanya Isyan akhirnya.
Nanda yang awalnya bersikap tenang langsung merasa gugup. Dia sudah berusaha untuk tidak terlihat sedih dan gugup. Tapi saat ini pertahannya hancur. Saat ibunya bertanya dan menatapnya begitu dalam. Sekuat tenaga Nanda menahan air matanya dan mencoba kuat.
"Nggak ada Ma. Nanda cuma pengin mandiri aja" tegas Nanda.
Isyan melirik ke arah Arya sebagai isyarat meminta pendapat suaminya.
"Kami akan pertimbangkan. Sekarang kamu ke kamar dan istirahat" perintah Arya.
Nanda pun keluar dari kamar kedua orang tuanya. Dan di saat Nanda keluar kamar orang tuanya, Apsara berdiri di balik pilar koridor rumah. Dia melihat Nanda sempat meneteskan air mata setelah keluar dari kamar orang tuanya. Karena merasa penasaran, Apsara ingin menemui orang tuanya untuk menanyakan perihal Nanda.
"Pa, Ma" tegur Apsara sambil mengetuk pintu.
"Masuk sayang" seru Arya.
__ADS_1
Apsara masuk ke dalam kamar, lalu memposisikan diri duduk di kasur, agar berhadapan dengan kedua orang tuanya.
"Kenapa sayang? Ada masalah dengan perusahaan atau persiapan pernikahan kamu?" tanya Isyan.
"Semua aman. Aku mau tanya, kenapa Nanda datang ke kamar mama sama papa?" balas Apsara.
"Gini, adik kamu itu minta pindah kuliah ke Perancis secara tiba-tiba" ucap Arya.
"Apa? Kenapa?" timpal Apsara terkejut.
Isyan pun menceritakan segalanya, kepada Apsara tentang keinginan Nanda untuk pindah ke Perancis. Apsara langsung menduga kalau kepergian Nanda bukan untuk meneruskan kuliah. Tapi ingin menghindar dari dia dan Dafa. Setelah obrolannya dengan kedua orang tuanya selesai, kini Apsara pergi ke kamar Nendra. Dan ternyata di sana juga ada Langga.
"Cie calon pengantin" tegur Nendra sambil tertawa mengejek.
"Kalau aku udah resmi menikah, kamu harus gantiin aku di perusahaan bersama Sanjaya" balas Apsara dengan wajah datar.
"Kenapa aku?" bela Nendra.
Apsara menarik hidung Nenda gemas lalu berkata, "Karena sebagai calon ibu sosialita yang kaya raya, kerjaanku hanya duduk manja untuk arisan dan menikmati uang suamiku," sinis Apsara dengan tatapan dingin.
"Ngeri banget sih Kak. Tatapanmu begitu menawan seperti psikopat" sela Langga dengan ekspresi wajah terkejut.
"Jangan banyak bercanda. Kakak ada hal penting untuk dibicarakan dengan kalian berdua" tandas Apsara.
"Apaan tuh?" balas Nendra dan Langga bersamaan.
"APAAA???" teriak Nendra dan Langga dengan suara keras yang bahkan bisa menggetarkan rumah yang amat besar ini.
"Dari mana kakak tahu?" tanya Nendra yang masih dalam kondisi terkejut.
"Papa sama mama. Baru aja Nanda nemuin papa sama mama" jawab Apsara.
"Ngapain dia minta ke Perancis? Emang dia mau buka usaha jualan cilor apa?" celetuk Nendra.
"Ngga lucu, Nen" tegur Langga.
"Kakak minta tolong ke kalian, bersikap biasa di hadapan Nanda, seolah-olah kalian tidak mengetahui ini. Dan awasi dia, jika kalian mengetahui sesuatu langsung kasih tahu kakak" perintah Apsara.
"Siap Bu Bos" balas Nendra sigap.
*****
Keesokan paginya, Langga dan Nendra mengajak Almira dan Zahra untuk bertemu di gazebo tempat biasa mereka berkumpul. Kedua laki-laki itu pun menceritakan soal rencana kepindahan Nanda ke Perancis kepada mereka berdua.
"Demi apa Nanda mau pindah ke Perancis? Emang kenapa dengan kampus ini? Kampus yangkung kan udah standar internasional juga" gerutu Zahra.
"Ya nggak usah dijelasin standar internasionalnya juga kali" timpal Langga.
__ADS_1
"Ya maksudku bukan gitu Lang. Cuma aku tuh kesel aja, kenapa Nanda mau pindah? Padahal dia baik-baik aja selama kuliah di sini" lanjut Zahra.
"Itu juga yang bikin aku penasaran. Apa ada yang disembunyiin Nanda dari kita ya?" ujar Nendra.
"Kenapa kakak nggak tanya Kak Nanda langsung aja?" sela Almira.
"Kita nggak bisa gegabah lakuin itu Al. Kak Apsa nyuruh kita buat bersikap biasa seolah-olah nggak tahu apapun" balas Langga.
"Tidak tahu tentang apa?" Tiba-tiba terdengar suara laki-laki yang tidak asing bagi mereka yang langsung menghentikan obrolan mereka berempat.
"Kak Dafa" seru Zahra saat melihat Dafa berdiri sejauh lima langkah dari gazebo. Kakaknya itu sudah memasang ekspresi dingin dan tatapan tajam.
Dafa pun melangkah menuju gazebo dan menghampiri keempat orang itu.
"Kalian tidak tahu tentang apa?" tanya Dafa lagi.
Langga dan Nendra saling memandang megisyaratkan apakah mereka harus mengatakan ini kepada Dafa atau tidak.
"Jawab!" tegas Dafa.
"A..ah..itu Kak. Nanda mau pindah ke Perancis" ujar Nendra terbata-bata.
"Kamu bercanda!" seru Dafa tak percaya.
"Jangan kakak, kita aja masih nggak percaya Nanda mau pindah ke Perancis kok" sergap Zahra.
Dafa langsung ngacir begitu saja meninggalkan keempat orang itu. Dafa berjalan begitu cepat dengan langkah panjang. Dia berjalan seperti orang kesetanan yang haus darah tumbal. Yang terlintas dipikiran Dafa hanya dia ingin mendengar penjelasan dari Nanda.
Saat Dafa sampai di kelas Nanda, dia langsung menarik Nanda secara paksa tak mempedulikan tatapan kaget dari teman-temannya. Lalu membawa gadis itu keluar dari kelas. Nanda teus meronta meminta dilepaskan. Tapi Dafa tidak mempedulikannya. Hingga akhirnya Dafa membawa masuk Nanda ke dalam ruangannya.
"Kak lepasin. Apa-apaan sih kamu" teriak Nanda.
"Kamu yang apa-apaan. Kenapa kamu mau pindah ke Perancis? Apa maksudnya?" bentak Dafa.
Mata Nanda langsung membulat sempurna saat mendengar perkataan Dafa. Dia terkejut karena Dafa mengetahui rencana kepindahannya. Dan ini membuat Nanda dalam keadaan terjepit.
"Jawab aku" teriak Dafa lagi.
"Ini bukan urusan kakak" balas Nanda ketus.
"Sekarang, ini menjadi urusanku. Aku memerintahkan kamu untuk membatalkan rencana kepindahanmu. Tidak ada bantahan" tegas Dafa dengan tatapan dingin.
Nanda menegakkan kepalanya dan memberi sorot mata tajam kepada Dafa dan ini pertama kalinya bagi Dafa berdekatan dengan Nanda setelah beberapa hari Nanda selalu menghindar darinya.
"Kenapa aku harus menurutimu? Siapa kamu? Kamu tidak ada hak untuk mengatur hidupku. Urus saja hidupmu yang selalu berharap pada cinta seorang wanita yang tidak akan pernah kamu miliki. Sehingga kamu tidak menyadari cinta tulus dari orang lain" sindir Nanda.
Setelah mengatakan itu Nanda keluar dari ruangan Dafa. Sementara Dafa hanya diam mematung. Tak berkutik sama sekali. Hatinya terasa sangat sakit ketika mendengar Nanda akan pergi. Ada rasa takut kehilangan. Tapi dia sendiri belum tahu dirinya harus melakukan apa dan bagaimana menyadari semuanya.
__ADS_1