
"Nendra awas aja ya kalau kamu nyakitin Zahra"ancam Nanda menunjuk wajah Nendra.
Kini kedua saudara itu sedang berjalan keluar rumah untuk bersiap berangkat kuliah.
"Nan, memang aku kelihatan tampang cowok kurang ajar"balas Nendra.
"Ya kan bisa jadi"ucap Nanda.
"Kalian berdua ini ngeributin apa sih?"tanya Isyan yang berdiri di teras rumah saat melihat kedua anaknya ribut.
"Ini Ma, Nendra lagi suka sama..."
Nendra langsung membekap mulut Nanda dengan tangannya agar adiknya itu tidak mengadu kepada mamanya.
"Pengap Nen!"teriak Nanda menyingkirkan tangan Nendra.
"Nendra jangan jahil dong"tegur Arya.
"Nggak usah bocor itu mulut"bisik Nendra.
"Nendra lagi suka sama apa sih Nan?"tanya Isyan.
"Sama game baru Ma"jawab Nanda lalu melirik ke arah Nendra dengan tatapan siap berperang.
"Oh game baru. Kalau mau upgrade game baru pakai uang sendiri ya, jangan minta sama orang tua"ucap Arya.
"Iya Pa"jawab Nendra.
Arya dan Isyan masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumah untuk menuju ke Wijaya Mall untuk menghadiri acara launching produk sabun terbaru.
*****
Bara sudah berdiri di depan rumah Asmara. Dia sudah berada di sana sejak dua puluh menit yang lalu. Entah kenapa sejak kemarin dia terus memikirkan wanita itu dan memang sudah lama dia tidak bertemu dengan Asmara.
Tiba-tiba pintu terbuka saat Bara akan mengetuk untuk pertama kali karena sejak tadi dia hanya diam berdiri seperti patung candi. Asmara terbelalak saat melihat Bara ada di hadapannya. Asmara langsung terkesima dengan penampilan Bara menggunakan jas rapi.
"Kamu ngapain ke sini?"tanya Asmara.
"Kak aku mau berangkat kuliah ya"ucap Almira kepada kakaknya.
Karena kejadian semalam, Almira langsung dipulangkan oleh kakak seniornya agar dia bisa beristirahat. Tapi hari ini keadaannya sudah membaik jadi dia bisa kembali pergi kuliah.
"Kak Bara ngapain pagi-pagi ke sini?"tanya Almira terkejut.
"Kakak mau mengantar kamu ke kampus"jawab Bara datar.
Almira hanya menganga tak percaya. Tentu saja dia tidak percaya dengan jawaban Bara. Dia yakin Bara pasti ingin menemui kakaknya.
"Masa sih? Mau nganter aku sekalian ketemu Kak Asmara kan?"goda Almira.
"Al..."tegur Asmara yang wajahnya sudah memerah.
Bara tersenyum tipis saat melihat wajah Asmara memerah seperti tomat. Bara yang merasa gugup langsung menyeret tangan Almira dan membawa dia ke mobil untuk pergi menuju kampus.
*****
Wijaya Mall sudah dipadati oleh masyarakat yang hadir untuk melihat acara pelaunchingan produk sabun dari Wijaya Group. Dan acara launching berjalan dengan lancar dan semua masyarakat begitu antusias dengan produk sabun itu. Mereka pun langsung memadati store sabun untuk mencoba sekaligus memborong sabun itu.
"Aku bersyukur acara ini berjalan dengan lancar"ujar Isyan.
"Tentu saja ini berkat kerja keras semua karyawan"ucap Dion.
"Kak Isyan memang hebat untuk urusan bisnis"puji Rara penuh kebanggaan.
"Sayang aku juga hebat, apalagi kalau di kasur"goda Dion dengan tatapan mesumnya.
Rara langsung megap-megap dengan mata melotot tapi pipinya sudah memerah.
"Astaga Ra, kamu udah punya dua anak yang sudah dewasa, masih aja malu-malu kalau suami kamu menggoda"ledek Arya terkekeh.
"Mas Dion mulutnya kalau ngomong kenapa nggak pernah difilter sih"geram Rara sambil mencubit bibir Dion.
Arya dan Isyan tertawa terbahak-bahak melihat pertengkaran kecil pasangan itu.
"Permisi semuanya"tegur Arum tersenyum saat menghampiri mereka berempat.
"Ada apa Rum?"tanya Dion.
"Ada seseorang yang menawarkan kerja sama kepada Wijaya Group untuk membangun resort di pelataran Candi Borobudur"kata Arum.
__ADS_1
"Oh ya? Bagus dong. Kebetulan kita belum membangun hotel atau resort di daerah Jogja dan sekitarnya"ucap Isyan.
"Ya sudah, kita bertemu dengan orang itu"sambung Arya.
Arum pun mengajak mereka menuju salah satu restoran mewah yang ada di mall itu. Di mana calon klien mereka sudah menunggu. Dan ternyata di sana sudah ada Dimas yang menemani orang tersebut.
"Permisi Pak Wisnu saya sudah datang bersama Bu Isyana"ucap Arum.
Orang tersebut langsung menoleh dan berdiri. Dia tersenyum sambil menyalami satu persatu dari mereka berempat. Setelah itu mereka pun duduk.
"Perkenalkan nama saya Wisnu Putra Yudhaningrat, saya dari Jogja"ucap Wisnu.
"Yudhaningrat?"kata Dion menegaskan.
"Saya keponakan dari Sultan Hamengkubuwono X. Lebih tepatnya putra dari Bendara Pangeran Harya Yudhaningrat"lanjut Wisnu.
"Maaf Pak, kalau kami tidak mengenali anda. Karena kami kurang paham dengan anggota keluarga Kesultanan Jogja"ucap Isyan sedikit bergurau.
"Tidak masalah Bu Isyan. Seharusnya bukan anda yang mengenali orang tapi orang yang seharusnya mengenal anda"balas Wisnu.
"Bapak bisa saja"kata Isyan.
"Sekertaris istri saya mengatakan bahwa anda ingin menawarkan kerja sama. Kerja sama seperti apa?"ucap Arya.
"Begini, kebetulan saya direktur PT Taman Wisata Candi Borobudur. Saya ingin sekali tempat wisata itu memiliki sebuah resort mewah. Karena semakin lama pengunjung Candi Borobudur semakin banyak khususnya kalangan turis asing. Saya pikir dengan mengajak Wijaya Group rencana saya ini bisa terwujud"ujar Wisnu.
Tampak asisten Wisnu menyodorkan sebuah dokumen yang langsung diterima oleh Dion.
"Melihat banyaknya hotel dan resort yang dimiliki Wijaya Group menjadi batu loncatan untuk kesuksesan proyek ini. Apalagi suami Bu Isyan adalah direktur perusahaan kontraktor terbesar di Asia. Bukankah ini akan menjadi kerja sama yang mengagumkan?"lanjut Wisnu.
"Kami tidak menyangka kalau kami akan mendapat tawaran langsung dari salah satu perusahaan BUMN"balas Isyan.
"Saya memilih Wijaya Group secara langsung untuk bekerja sama dalam proyek ini karena saya percaya kalian akan memberikan yang terbaik"tandas Wisnu.
"Kami akan pikirkan tawaran kerja sama ini terlebih dahulu. Nanti kami akan menghubungi anda lagi"ujar Arya.
"Tentu saja. Saya akan merasa sangat terhormat bisa bekerja sama dengan orang-orang hebat seperti kalian. Kalau begitu saya permisi"kata Wisnu kemudian bangkit dari kursi dan berpamitan.
Apsara sedang berdiri dipojok tempat acara launching produk sabun berlangsung . Tiba-tiba Risko datang menghampirinya dan menawarkan segelas jus jeruk.
"Untukmu"kata Risko menyodorkan gelas pada Apsara.
"Kamu hebat bisa menghandle acara ini, Sa"ucap Risko.
"Biasa saja"balas Apsara datar.
"Oh ya, menurut kamu bagaimana cara menyatakan perasaan kepada wanita?"tanya Risko.
Apsara langsung tersedak saat mendengar perkataan Risko hingga dia menatap tajam ke arah Risko.
"Kamu jatuh cinta? Sejak kapan?"tanya Apsara terkejut.
"Ayolah Sa, anggap saja aku sedang meminta saran kepada teman"ucap Risko.
Sejak kecil Risko, Aldi, Apsara, dan Bara adalah teman bermain, dikala orang tua mereka sedang sibuk di kantor maka ereka berempat akan menginap di rumah keluarga Wijaya. Dan mereka berempat sempat satu sekolah saat SD tapi setelah itu mereka berempat pisah sekolah.
"Kamu suka sama siapa?"tanya Apsara.
"Itu..." Risko menunjuk wanita yang dia maksud dengan dagunya dan Apsara menggerakkan kepalanya mengikuti arah yang ditunjuk oleh Risko.
"Eta??"tanya Apsara meyakinkan.
"Kenapa? Aneh ya?" Risko terlihat ragu saat melihat ekspresi Apsara yang sulit ditebak.
"Ya enggak sih. Cuma aku nggak nyangka aja kamu suka perempuan"jawab Apsara santai.
"Aku masih waras, Sa"geram Risko dengan wajah kesal.
Apsara menahan tawanya saat dia berhasil mengerjai Risko.
"Eta orangnya gimana sih?"tanya Risko penasaran hingga dia menatap Apsara agak dekat.
"Humph...dia itu..."
"Apsara..." Apsara terkejut saat namanya dipanggil dan ternyata Sanjaya yang memanggilnya.
"Iya kenapa?"tanya Apsara.
Sanjaya menatap Risko dengan tatapan seakan-akan dia siap menerkamnya.
__ADS_1
"Ada urusan penting"kata Sanjaya langsung menyeret tangan Apsara begitu saja dan meninggalkan Risko yang diam mematung.
"Kenapa?"teriak Apsara menahan tarikan dari Sanjaya dan akhirnya pria itu menghentikan langkahya.
"Kamu jangan dekat-dekat dengan Risko"ujar Sanjaya.
"Kenapa?"tanya Apsara.
"Karena aku ce..."
Apsara menatap Sanjaya dengan mata coklat tajamnya dan tatapan itu mampu membius Sanjaya. Sebelum Apsara datang ke perusahaan, dia dan Risko sering dianggap sebagai karyawan tertampan namun sulit didekati.
"Kamu kan tahu gosip yang mengatakan bahwa kamu dekat dengan petinggi perusahaan. Jika kamu dekat dengan Risko, maka mereka semua menganggap kalau berita itu benar adanya"kata Sanjaya dengan tenang.
"Oh ya?"balas Apsara dengan memicingkan matanya.
Dan di tempat di mana Apsara sedang bersama dengan Sanjaya, ternyata Wisnu juga melewatu tempat itu juga. Wisnu menghentikan langahnya.
"Ada apa Kanjeng?"tanya Edi asisten Wisnu. Jika tidak sedang bersama klien maka Edi akan memanggil Wisnu dengan sebutan kanjeng.
"Itu Sanjaya kan?"ucap Wisnu menunjuk ke arah Sanjaya.
"Iya, itu memang seperti Raden Mas Sanjaya"kata Edi dengan yakin.
"Putraku"ujar Wisnu dengan suara bergetar.
Sanjaya terdiam saat Apsara seperti meragukan penjelasannya.
"Sudah lupakan saja ucapanku. Sebaiknya kita kembali ke tempat acara"ujar Sanjaya lalu menggandeng tangan Apsara dan saat itu juga jantung Apsara berhenti berdetak.
Melihat Sanjaya pergi, Wisnu hendak mengejarnya, namun langkah Sanjaya sudah terlalu jauh.
"Sulit sekali membawa putraku pulang ke rumah, Di"kata Wisnu.
"Sabar Kanjeng, mungkin ini belum saatnya. Saya akan mencari informasi tentang Raden"ucap Edi.
Mereka berdua pun melangkah meninggalkan Wijaya Mall.
*****
Apsara baru pulang dari kantor karena dia harus mengerjakan tugas lemburan dari acara launch produk sabun tadi pagi. Dan jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Pasti keluarganya sudah selesai makan malam. Dan kini Apsara ingin makan di luar saja, karena sudah lama dia tidak makan di luar. Apsara memperlambat laju mobilnya saat melihat warung mie ayam di pinggir jalan dan akhirnya dia menepikan mobilnya.
"Kak gimana dong? Kalau bulan depan kita nggak bisa melunasi hutang orang tua kita, maka kakak harus menikah dengan anak Juragan Kirno. Al nggak mau kakak menikah dengan laki-laki tidak bermoral seperti Toni." Sekali lagi Almira meneteskan air mata saat mengingat kedatangan Toni ke rumah mereka.
"Kakak juga nggak tau Al. Kalau pun kita mencari pinjaman, tidak ada yang mau memberi pinjaman. Kalau meminjam ke bank, kita tidak punya harta untuk dijadikan jaminan. Rumah saja kita mengontrak." Asmara mencoba berpikir jalan keluar untuk masalahnya.
Apsara terdiam mendengar percakapan kedua saudara itu di balik kain tenda warung mie ayam itu.
"Permisi"ucap Apsara memasuki warung.
"Kamu..." Asmara terkejut saat melihat Apsara yang datang.
"Hei, kamu masih mengingatmu rupanya? Apa ini warung mie ayam milikmu?"ucap Apsara berbasa-basi.
"Iya ini warung milikku. Kamu mau pesan mie ayam yang mana?"ujar Asmara.
"Mie ayam ceker satu dan teh hangat, makan sini"sambung Apsara yang sudah duduk di kursi.
Tak berapa lama Almira memberikan segelas teh hangat untuk Apsara. Dan kemudian Asmara menyajikan mie ayam pesanannya.
"Apa kamu berpacaran dengan Bara?"tanya Apsara dengan wajah datar tak berdosa
Asmara tertegun dengan pertanyaan Apsara, ditambah lagi ekspresi wajahnya yang datar sama persis seperti Bara.
"Tidak..."
Apsara melihat kegugupan di wajah Asmara, "Kamu menyukai dia?"lanjutnya.
"Iya...ah maksudku tidak"tandas Asmara meralat jawabannya.
Apsara tersenyum tipis memandangi wajah wanita di hadapannya. Dia mengira bahwa selera Bara itu wanita modis dan berkelas, tapi nyatanya Asmara hanya wanita sederhana yang apa adanya. Bara memang sulit ditebak, "Aku rasa Bara juga menyukai kamu."
"Hah?"
"Bara menyukai kamu"jelas Apsara.
Asmara terkekeh pelan mendengar perkataan Apsara, "Sepertinya tidak. Pria seperti dia tidak akan menyukai wanita kampung seperti aku."
Apsara hanya mengedikkan bahu lalu melanjutkan makan mie ayam hingga habis. Setelah itu Apsara kembali ke mobilnya. Dia melirik tas yang ada di kursi sebelah dan mengambil HPnya untuk menelpon seseorang.
__ADS_1
"Cari semua informasi tentang Toni anak dari Juragan Kirno. Serahkan besok kepadaku." Apsara mengakhiri telponnya lalu menyalakan mobil dan meninggalkan tempat itu.