
Nanda sedang berjalan di jalanan kampus sambil membalas setiap sapaan mahasiswa yang bertemu dan menyapanya. Keramahan, kecantikan, dan pesonan Nanda membuat dia kini memiliki banyak fans. Tidak hanya mahasiswa, para dosen pun menyukai kepribadiannya. Apalagi Nanda mahasiswa yang sangat pintar.
"Hai Nanda" sapa Rio yang merupakan mahasiswa terpopuler dan tertampan di kampus ini. Dia datang bersama dua teman prianya Ari dan Soni.
"Hai Rio" balas Nanda.
Nanda mungkin adalah satu-satunya mahasiswi yang sama sekali tidak tertarik dengan Rio. Ralat. Zahra dan Almira juga termasuk. Mereka berdua juga tidak tertarik dengan Rio.
"Nanti mau makan siang bareng nggak?" ujar Rio.
Nanda terdiam sejenak memikirkan tawaran dari Rio. Apa dia harus menerima ajakan cowok playboy ini atau tidak. Cukup lama Nanda berpikir hingga membuat ekspresi Rio terlihat harap-harap cemas. Namun akhirnya Nanda menentukan pilihannya ketika melihat Dafa sedang melintas dan berjalan tidak jauh dari tempat dia berdiri bersama Rio dan teman-temannya.
"Di mana?" tanya Nanda.
"Di kantin gimana?" balas Rio.
"Oke. Kita ketemu di kantin ya. Bye" ucap Nanda memperkeras suara lalu melangkah pergi sambil melambaikan tangan ke arah Rio.
Dafa terlihat terkejut karena matanya langsung membulat ketika mendengar Nanda setuju untuk makan siang bersama dengan Rio. Dan keterkejutan itu berubah menjadi rasa kesal ketika Dafa melihat Rio melakukan tos dengan kedua temannya begitu girang.
"Dasar gadis itu" gumam Dafa jengkel lalu melangkah pergi.
*****
Jam istirahat makan siang pun tiba, Nanda dengan riang dan gembira keluar dari kelas. Dafa kebetulan mengajar di kelas Nanda terlihat rahangnya menegang saat melihat Nanda keluar dari kelas.
Entah dorongan dari mana, Dafa tiba-tiba mengikuti langkah Nanda. Dan benar saja Nanda pergi ke kantin. Sementara di kantin sudah ada Rio beserta kedua temannya.
"Hai semuanya" sapa Nanda.
"Hai Nanda. Akhirnya kamu datang. Ayo duduk" ajak Rio mempersilahkan Nanda duduk.
"Mau pesan apa?" tanya Ari.
"Aku ikut kalian saja" jawab Nanda.
"Jangan begitu Nanda. Rio akan mentraktir kamu" sela Soni.
"Mereka benar. Kamu pilih menu yang kamu suka, biar aku yang bayar" tutur Rio dengan bangga.
"Oke" tandas Nanda senang.
Dafa menatap dari jauh Nanda yang duduk di kantin dengan tatapan tajam dan tak berekspresi sama sekali. Kemudian dia pergi meninggalkan tempat persembunyiannya.
Akhirnya acara makan bersama di kantin pun selesai. Rio dan kedua temannya hendak mengantarkan Nanda ke kelasnya.
"Nanda, besok adalah hari ulang tahunku" ucap Rio.
__ADS_1
"Oh ya. Wow luar biasa" timpal Nanda.
"Aku akan mengadakan pesta ulang tahun. Aku merasa sangat terhormat jika kamu mau datang pada acara ulang tahunku" pinta Rio.
"Hhmm..bagaimana ya? Aku akan memikirkannya. Di mana pesta itu diadakan?" kata Nanda.
"Di Hotel Atrium jam 8 malam" balas Rio.
"Nanda!!!" Terdengar suara seseorang memanggil nama Nanda. Dan ternyata orang itu adalah Dafa yang sudah berdiri di hadapan mereka dengan tampang yang menyeramkan.
"Ikut saya ke kantor" tegas Dafa lalu langsung melangkah pergi.
"Kenapa tuh orang? Aneh" gumam Nanda.
Tanpa basa-basi, Nanda langsung bergegas mengikuti Dafa menuju ke ruangannya. Sesampainya di sana, Nanda hanya dibuat bingung ketika Dafa terus memberinya tatapan tajam.
"Kalau nggak ada yang penting mending aku keluar deh. Masih banyak urusan tahu" gerutu Nanda.
"Urusan sama cowok-cowok tadi?" sela Dafa.
"Memang apa urusannya sama Kak Dafa?" geram Nanda.
"Apa Rio mendekati kamu atau kalian berpacaran?" tanya Dafa.
"Memangnya Kak Dafa siapanya aku, sampai-sampai aku harus laporan segala. Dengan siapa aku berhubungan itu urusanku" tegas Nanda.
"Bodo amat" ketus Nanda lalu beranjak pergi meninggalkan ruangan Dafa begitu saja.
"Gadis ini sangat menguji kesabaranku, bagaimana bisa yangkung mau menjodohkanku dengan dia?" kata Dafa.
*****
Setelah selesai makan siang bersama, Apsara diantar oleh salah satu pelayan wanita menuju kamar yang sudah disiapkan untuknya. Kamar ini terletak terpisah dengan rumah utama karena dipisahkan oleh koridor yang melewati halaman rumah yang berada di tengah kompleks rumah ini.
"Monggoh Mba Apsara" ucap pelayan itu.
"Terima kasih" balas Apsara memasuki kamar.
"Kalau memerlukan sesuatu bisa memanggil saya. Saya berada di kamar yang ada di belakang sana" ujar pelayan.
Apsara tak menjawab, dia hanya membalas dengan senyum. Kemudian pelayan itu pergi meninggalkan Apsara di kamar. Interior kamar masih sangat kental dengan gaya Jawa klasik. Dari bentuk pintu, jendela, dan perabotannya. Namun untuk kasur sudah menggunakan spring bed.
"Not bad" gumam Apsara saat menyentuh kasur itu.
"Empuk kasurnya?" tegur Retno yang tiba-tiba berdiri di depan pintu kamar Apsara dengan pose melipat kedua tangannya di dada.
Retno berjalan ke arah Apsara dengan tatapan angkuh. Dengan mengangkat kepalanya menunjukkan status sosialnya kepada Apsara.
__ADS_1
"Saya tidak tahu kenapa Sanjaya memilih kamu sebagai calon istrinya. Tapi gara-gara kamu, saya gagal menjodohkan Sanjaya dengan putri dari adik saya. Yang jelas-jelas dia memiliki darah bangsawan seperti kami. Memangnya kamu, entah apa latar belakang keluarga kamu dan ketidakjelasan tentang kehidupan kamu" ejek Retno.
"Sanjaya tidak pernah bercerita kalau dia akan dijodohkan. Dia jarang sekali bercerita tentang keluarganya. Tapi dia sangat sering bercerita tentang Ibu Ningsih. Sanjaya selalu berkata bahwa dia sangat menyayangi ibunya" balas Apsara berbicara begitu tenang.
"Sepertinya Sanjaya sudah banyak bercerita kepada kamu. Sehingga kamu begitu sombong dan sok tahu tentang keluarga ini" tegas Retno.
Retno melangkah sebanyak dua kali ke arah Apsara lalu mengulurkan jari telunjuknya ke wajah Apsara dan berkata, "Keluarga kami sangat menjunjung tinggi adat dan tradisi karena kami keturunan ningrat. Dan kamu harus ingat status sosial kamu," tandas Retno.
Retno pun pergi meninggalkan Apsara. Sementara Apsara mengibaskan rambutnya dengan kedua tangannya lalu memperlihatkan senyum dinginnya.
"Aku akan selalu ingat status sosialku Nyonya Retno Yudhaningrat" sinis Apsara lalu melepas jam tangan merk Bvlgari White Lacquered Dial Pink Gold 18 karat seharga 90 juta begitu saja ke atas kasur.
Tiba-tiba Apsara mendengar suara HP-nya berdering. Dia pun meraih tasnya yang tergeletak di kursi. Kemudian mengambil HP dan melihat nama Nanda tertera di layar ID.
"Halo Nanda" seru Apsara.
"Halo Kak Apsa. Kakak udah sampai Jogja" cicit Nanda.
"Ya."
"Kak, apa aku mengganggu waktuku? Aku ingin memberitahu sesuatu?" tanya Nanda.
Apsara terdiam sejenak, berpikir tentang pertanyaan dari Nanda. Dia pun memilih bersandar di atas kasur untuk bersiap mendengar cerita adik bungsunya itu.
"Ceritakan."
"Aku sudah mengikuti saran kakak. Aku mencoba dekat dengan salah satu cowok terpopuler di kampus, namanya Rio. Dan apa kakak tau?"
"Apa?" balas Apsara.
"Kak Dafa langsung penasaran tentang hubunganku dengan Rio. Dia terus bertanya denganku, apa aku berpacaran dengan Rio atau Rio sedang berusaha mendekatiku" ucap Nanda tersengar begitu girang.
Seulas senyum terukir di wajah dingin Si Kutub Selatan.
"Bagus."
"Dan Rio memintaku datang ke pesta ulang tahunnya besok. Dia mengundangku karena aku adalah campus princess jadi aku adalah tamu spesialnya. Apa aku harus datang ke sana?"
"Datanglah."
"Oke. Aku akan datang" tukas Nanda.
"Dandan secantik mungkin. Kalau perlu pakai gaun yang pernah aku bawakan dari Milan. Aku belum pernah pakai gaun itu" perintah Apsara.
"Sure. I love you, Kak" ujar Nanda lalu mengakhiri teleponnya dengan Apsara.
Apsara menghela napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Dia mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela.
__ADS_1
"Dafa, sudah saatnya kamu melupakanku. Karena aku bukan orang yang tepat untuk kamu. Dan Nanda adalah orang yang tepat untukmu" lirih Apsara.