
Dafa sudah duduk di cafe menunggu kedatangan kedua sahabatnya.
"Hei Bro!"panggil seseorang yang tak lain adalah Bara.
Mereka berdua lalu berpelukan ala laki-laki gagah dengan menepuk-nepuk punggung. Apsara pun memberi pelukan kecil pada Dafa seperti biasa, karena dia tidak mau ada jarak di antara mereka setelah mengetahui perasaan Dafa.
Mereka pun duduk dan langsung memesan minuman. Setelah itu mereka mengobrol banyak hal.
"Kenapa kalian pulang ke Jakarta nggak bilang aku"kata Dafa.
"Namanya juga dadakan"seru Bara.
"Memangnya kuis dari dosen dikasih dadakan"sela Apsara sambil tertawa.
Mereka bertiga memiliki sifat yang sama dingin dan cuek. Tapi jika sudah bersama seperti ini suasana terasa hangat dan menyenangkan.
"Apa rencana kamu setelah ini, Daf?"kata Bara sambil meminum cappucino.
"Ngajar di kampus"jawab Dafa.
"Jadi dosen?"tanya Apsara.
"Jadi tukang kebun. Ya dosen lah, pakai tanya lagi"gerutu Bara gemas.
"Ya kali, dia mau langsung jadi kepala yayasan gantiin yangkung"balas Apsara.
"Belum waktunya. Aku mau menikmati hidup sebagai dosen, itu impianku sejak dulu"ujar Dafa.
"Berarti nanti kamu ngajar di Fakultas Ilmu Politik dan Sosial (FISIP)"lanjut Bara.
Dafa pun mengangguk karena dia memang lulusan S3 hukum yang berarti dia memiliki gelar J.S.D merupakan singkatan dari Juridicae Scientiae Doctor, bahasa Latin yang artinya doktor ilmu hukum. Ini adalah gelar paling tinggi dalam jenjang pendidikan hukum. Gelar ini setara dengan Ph.D.
"Kalau kalian gimana?"tanya Dafa.
"Ya kerja di perusahaan, memang apa lagi?"balas Bara cuek.
"Kerja?" Dafa tidak mengerti kata 'kerja' yang dimaksud Bara.
"Iya, bekerja di perusahaan sebagai karyawan biasa yang patuh dan tunduk dengan atasan"kata Apsara dengan nada mengejek.
"Kenapa?"
"Kita mau memburu tikus-tikus perusahaan"jelas Bara.
"Oh" Kata yang bisa Dafa ucapkan setelah mendengar penjelasan Bara. Dia sudah sangat paham jika kedua manusia kutub ini selalu memiliki rencana di balik segala tindakannya.
"Aku mau ke toilet sebentar"kata Apsara berdiri dari kursi lalu pergi menuju toilet.
"Daf, di kampus kamu ada info beasiswa S1 kedokteran nggak?"tanya Bara.
"Kenapa? Kamu mau jadi dokter? Jangan ngaco kamu, nggak bakal ada pasien yang mau berobat sama cowok dingin kayak kamu"sarkas Dafa.
"Berisik. Aku serius ini"balas Bara menepuk lengan Dafa.
"Beasiswa buat siapa?"tanya Dafa.
"Aku mau bantu anak kurang mampu, dia punya cita-cita menjadi dokter. Kalau aku menawarkan diri membiayai seluruh biaya kuliahnya, dia pasti akan menolak, dan ingin berusaha sendiri. Maka dari itu aku akan mencarikan dia beasiswa kalaupun masih ada biaya yang lain aku akan menanggungnya. Secara Universitas Atma Jaya masuk dalam 10 Universitas termahal di Indonesia"jelas Bara dengan nada menyindir di kalimat terakhir.
"Hahaha...kamu ini mau berbuat baik tapi sekalian menyindir aku ya"tandas Dafa.
Mereka berdua pun tertawa bersama-sama karena lelucon ini.
"Tapi jangan beritahu Apsa soal ini."
"Kok gitu?"
"Karena aku tahu kamu itu masih jadi bucinnya dia"tegas Bara.
Dafa merasa tertohok dengan perkataan Bara yang jelas menyinggung soal perasaan dia terhadap Apsara. Tak berapa lama, Apsara kembali dari toilet dengan wajah yang lebih segar.
"Kamu ganti lipstik?"tanya Bara dengan tatapan penuh selidik.
"Pantes lama"sambung Dafa menyebikkan bibirnya.
"Iri? Bilang Bos!!"tukas Apsara dengan nada mengejek.
Tiba-tiba HP Apsara berbunyi dan dia mendapat telpon dari Rara.
"Halo Mi."
"Sa, kamu bisa datang ke restoran nggak?"
"Emang kenapa Mi?"
"Bantuin mami buat ngajarin chef untuk masak makanan resep dari kamu itu loh."
"Oh, oke aku ke sana."
Apsara pun mengakhiri panggilan telpon.
"Kenapa Sa?"tanya Bara.
"Mami menyuruh aku ke restoran."
"Buat apa?"lanjut Dafa.
"Biasa suruh ngajarin chef memasak resep masakan dari aku."
"Ya udah. Daf, tolong anterin Apsa ke restoran ya, aku ada urusan"kata Bara.
Apsara menatap Bara dengan tatapan curiga karena tiba-tiba dia menyuruh Dafa untuk mengantarnya. Sementara Dafa nampak bingung untuk menerimanya karena takut Apsara akan menolaknya.
"Nggak papa kan Daf?"tanya Bara menatap Dafa.
__ADS_1
"Kalau Apsara mau sih."
"Nggak ngerepotin?"tanya Apsara.
"Nggaklah, sekalian numpang makan siang gratis"kelakar Dafa sambil tertawa.
"Yee...udah kaya juga masih suka gratisan"ujar Bara.
"Ya udah, kita pergi sekarang. Aku duluan ya, Bar"kata Apsara lalu pergi meninggalkan Bara di cafe.
Apsara pun pergi bersama Dafa menggunakan mobil laki-laki itu. Beberapa menit sepanjang perjalanan hanya ada keheningan yang terasa.
"Kamu apa kabar, Sa?"tanya Dafa basa-basi.
"Kabar aku baik. Bagaimana kabar yangkung?"
"Yangkung baik. Dia titip salam buat kamu. Dia sampai sekarang masih ingat kejadian waktu kita wisuda dulu."
"Oh ya? Keren juga daya ingat yangkung ya!"
"Kalau diingat-ingat lagi, peristiwa itu benar-benar peristiwa paling menggemparkan. Apalagi melihat ekspresi semua orang saat tahu bahwa Si Cupu adalah pewaris dari bisnis keluarga Praditya dan Wijaya."
"Hahaha...mereka itu orang-orang yang hanya suka menilai orang lain dari status sosial, penampilan, dan harta."
"Kamu selalu bisa membuat orang terpukau dengan apa yang kamu lakukan."
Apsara menoleh ke arah Dafa setelah dia mengatakan itu. Tanpa dia sadari, mereka sudah sampai di restoran. Keduanya langsung keluar dari mobil. Dan ternyata Rara sudah menunggu mereka di teras restoran.
"Akhirnya kamu datang. Eehh...ada Dafa."
"Hai Tante."
"Kebetulan nih, Apsara kan mau ngajarin chef restoran untuk masak makanan resep dari Apsara, nanti kamu menilai ya, makanan chef itu udah sesuai belum. Kamu kan yang udah bertahun-tahun sahabatan dengan Apsara, apalagi selama di Amerika kamu pasti sering makan masakan dia."
"Oke Tan, siap."
"Yuk Mi, kita ke dapur."
Mereka bertiga pergi menuju dapur dan memulai untuk memasak. Setelah dua jam bergelut di dapur akhirnya masakan sudah jadi. Dafa diminta untuk menilai masakan chef itu apakah sudah mirip dengan masakan Apsara.
"Lumayan, cuma kurang rasa cinta aja"goda Dafa.
"Hahaha....kamu ada-ada aja, Daf. Tapi udah oke kan?"
"Oke kok, Tan."
"Ya udah kamu habisin makanannya sama Apsara, tante mau ke dalam dulu."
Rara pun meninggalkan mereka berdua di meja untuk menikmati makanan tadi. Dafa sesekali memandangi Apsara, entah kenapa wanita ini semakin hari semakin cantik saja.
*****
Dafa menghentikan mobilnya di depan kediaman keluarga Wijaya karena dia harus mengantar Apsara pulang setelah dari restoran.
"Sama-sama"balas Dafa.
"Aku masuk dulu ya. Bye Daf." Apsara pun keluar dari mobil dan berjalan memasuki rumah dan dia disambut oleh satpam dan beberapa penjaga.
Dafa tak henti-hentinya menatap Apsara hingga dia menghilang dari matanya setelah memasuki rumahnya. Setelah itu Dafa kembali menjalankan mobilnya meninggalkan rumah Apsara.
Setelah 30 menit perjalanan, Dafa sampai di rumahnya. Dia langsung bergegas masuk ke rumah dan menuju ke ruang kerjanya. Dia harus mempersiapkan diri untuk mengajar di kampus minggu depan.
"Oh iya, sampai lupa buat nyariin Bara beasiswa kedokteran." Dafa teringat dengan pesan sahabatnya, hingga membuat dia mencari berkas yentang beasiswa.
"Oke, aku harus telpon Bara." Dafa meraih HPnya dan segera menelpon Bara.
"Halo Daf."
"Bar, aku sudah mendapatkan informasi tentang beasiswa kedokteran. Kapan kamu mau mengambil formulirnya?"
"Mungkin besok pagi Daf. Sekarang aku lagi ada urusan."
"Oke besok pagi, di cafe aja ya."
"Oke. Thank you."
Panggilan telpon pun berakhir. Dafa sebenarnya penasaran untuk siapa beasiswa kedokteran ini. Tapi mendengar cerita dari Bara, sepertinya sahabatnya itu akan membantu seseorang, jadi dia tidak akan bertanya jika Bara tidak bercerita sendiri.
*****
Pak Joko baru saja memberi kuis dadakan yang membuat semua mahasiswa kalang kabut. Setelah selesai mengerjakan kuis, Pak Joko memberi pengumuman jika minggu depan dia sudah tidak mengajar lagi di kampus ini karena beliau sudah saatnya pensiun.
Sebagian besar mahasiswa nampak senang karena akhirnya mereka terbebas dari dosen killer satu ini yang selalu memberi tugas banyak. Tapi Nanda terlihat sedih, karena selama berada di kelas S2, Pak Joko-lah yang sudah memahami kebiasaannya.
"Pak kenapa bapak harus pensiun sih? Nanda kan jadi sedih"ujar Nanda berdiri di depan meja dosen saat semua temannya sudah keluar dari kelas.
"Saya pikir kamu ikut senang seperti teman-teman kamu yang lain"balas Pak Joko tertawa.
"Ya bapak bisa aja. Selamat purna tugas ya, Pak"kata Nanda ramah.
Nanda pun keluar dari kelasnya untuk istirahat. Dia sudah akan menemui Zahra terlebih dahulu di gazebo seperti biasa.
Sementara Zahra sudah menunggu Nanda, dengan duduk di gazebo. Tanpa Zahra sadari Geng Miss datang menghampirinya.
"Hai cupu, sendiri aja. Ke mana teman kamu yang sok jagoan itu"kata Jeje datang dengan penampilan rok mini berbahan kulit.
Zahra menelan salivanya melihat bagaimana model kampus satu ini memamerkan paha mulusnya.
"Aku nggak ganggu kalian, jadi kalian jangan ganggu aku"tandas Zahra.
"Cih...memangnya kamu siapa ngatur-ngatur kita"balas Sindi.
Ria melihat kertas design milik Zahra yang berada di genggamannya, dan tiba-tiba Ria merebut kertas-kertas itu sebelum Zahra akhirnya bangkit dan ingin mrngambilnya kembali.
__ADS_1
"Berikan padaku, itu tugas"teriak Zahra berusaha menggapai kertas yang diangkat tinggi oleh Ria.
"Ambil aja sendiri, kalau bisa"tantang Ria lalu berlari menjauhi Zahra dan langsung dikejar oleh Zahra.
Saat Zahra mencoba merebut kertas itu dari Ria dengan sengaja Jeje menjulurkan kakinya hingga membuat Zahra jatuh ke tanah dengan bagian siku membentur aspal dan terluka. Mereka tertawa puas telah mengerjai Zahra habis-habisan. Zahra hanya bisa meringis kesakitam dan menahan air matanya.
"Aduh jatuh kasihannya"ejek Ria.
Ria terkejut saat tiba-tiba ada yang merebut kertas milik Zahra dari tangannya. Ketika dia melirik pada orang itu, betapa terkejutnya melihat sosok Nendra yang tampan memasang wajah emosi. Dengan cepat Nendra membanru Zahra berdiri dan langsung menatap tajam Geng Miss. Zahra sampai gugup ketika tangan hangat Nendra menyentuh lengannya.
"Kalian memang setan berwujud manusia. Cantik sih cantik tapi nggak punya hati. Nanti kalau mati juga dikubur di tanah"tegas Nendra menunjuk wajah mereka satu persatu.
Mereka bertiga diam tapi bukan karena takut dengan perkataan Nendra tapi mereka terpesona dengan sosok pria di hadapan mereka yang jarang mereka lihat di fakultas seni.
"Dia bukannya anak teknik komputer yang paling ganteng itu kan?"tanya Sindi yang masih melongo.
"Iyaa...dia hits banget tahu"sambung Ria.
"Astaga...tadi dia ada di depan mata kita girls"sambung Jeje.
Nendra pun membawa Zahra ke UKS untuk mengobati lukanya.
"Kamu nggak papa kan?"tanya Nendra dengan lembut.
Zahra terdiam saat melihat Nendra menatapnya dengan lekat. Dia tidak pernah sedekat ini dengan pria selain kakaknya Dafa. Dan Nendra tertawa dalam hati ketika dia bisa berkata begitu lembut selain kepada Nanda.
"Biar aku obati kamu ya." Nendra mendudukkan Zahra pada brankar, kemudian dia mengambil kotak P3K dan mulai mengobati luka di tangan Zahra.
Jantung Zahra sudah jungkir balik sejak tadi bahkan dia harus mencengkeram brankar untuk menahan rasa gugupnya.
Sementara Nanda baru saja sampai di gazebo tidak menemukan keberadaan Zahra. Dia pun bertanya pada mahasiswa yang ada di sana kalau Zahra baru saja bertengkar dengan Geng Miss, dan dia ditolong oleh seseorang dan orang itu membawa Zahra ke UKS. Dengan cepat Nanda ke UKS untuk melihat kondisi temannya.
"Sudah selesai"kata Nendra seusai menutup luka Zahra dengan plester.
"Terima kasih." Zahra begitu terkesima dengan kebaikan dan pesona Nendra yang sekarang ada di hadapannya.
"Sama-sama"jawab Nendra ketika dia sadar bahwa dia harus segera masuk ke kelas untuk mata kuliah selanjutnya.
"Aku pergi dulu, aku ada kelas setelah ini. Jaga dirimu baik-baik." Nendra menepuk bahu Zahra yang seketika menyalurkan aliran listrik hingga mampu membuat Zahra terloncat kaget.
Nendra pun meninggalkan UKS dengan senyum terukir di wajahnya. Akhirnya dia bisa dekat dengan gadis yang sempat dia lihat di kantin bersama adik kembarnya. Mungkin nanti saat di rumah dia akan bertanya pada Nanda. Ketika Nendra keluar dari UKS, Nanda masuk ke sana dan langsung berteriak melihat tangan Zahra luka.
"Zah, aku kan udah bilang kalau geng uler gatel itu jahatin kamu, tonjok aja muka mereka. Paling nanti muka plastik mereka hancur." Nanda begitu emosi saat menyentuh luka Zahra.
Sebenarnya luka itu tidak begitu sakit, hanya saja Nanda geram melihat tingkah sok cantik geng uler itu. Zahra yang melihat Nanda mengomel hanya tersenyum karena hatinya berbunga-bunga saat ada pria tampan menolongnya.
"Kamu kenapa senyam-senyum kayak ibu tiri habis ngusir anak tirinya"celetuk Nanda dengan asal.
"Nggak papa kok"balas Zahra singkat.
"By the way, siapa yang nolong kamu? Kata anak-anak dia itu cowok?"tanya Nanda yang sekarang duduk di sebelah Zahra.
Zahra menepuk keningnya dan berkata, "Astaga, aku nggak tanya tadi nama dia." Terlihat wajahnya penuh dengan penyesalan.
Nanda tertawa terbahak-bahak saat melihat ekspresi lucu dari Zahra, "Aku yakin pasti cowok yang nolong kamu ganteng kan? Makanya kamu sampai lupa tanya nama dia."
Nanda menggoda Zahra habis-habisan karena wajah gadis itu berubah memerah dengan cepat.
"Nanda ih...jangan meledek aku dong"gerutu Zahra yang memajukan bibirnya.
"Iya iya...ya udah kamu lapar nggak? Biasanya orang kalau habis berantem pasti laper"seru Nanda.
"Yuk ke kantin"balas Zahra.
Keduanya pun meninggalkan UKS dan menuju kantin.
*****
Saat ini Bara sedang berdiri di depan gang menuju rumah Asmara. Entah kenapa sejak terakhir pertemuannya rasanya dia ingin sekali bertemu dengan wanita tukang mie ayam itu. Apalagi melihat senyum ramahnya saat melayani pembeli terlihat tulus. Padahal di balik itu kehidupannya sangatlah kesulitan.
Setelah menerima telpon dari Dafa, dia berjalan memasuki gang itu menuju rumah Asmara.
"Assalamu'alaikum." Bara mengucapkan salam dan Asmara sedang berada di ruang tamu membuat adonan mie seperti biasa.
Dia terkejut melihat kedatangan Bara, bahkan matanya sampai tidak berkedip melihat pesona pria satu ini.
"Berapa lama aku harus berdiri di sini?"tegur Bara saat Asmara diam tak mempersilahkan dia masuk.
"Oh ya ampun, masuklah." Asmara nampak gugup saat mengatakan itu ditambah lagi Bara memilih duduk di sebelahnya.
"Kakak kok ke sini lagi?"tanya Almira dengan polosnya.
"Kenapa?"ketus Bara agak mendelik.
Almira sampai terperanjat mendapat pelototan dari Bara. Benar saja manusia ini memang suka seenaknya sendiri, tapi sayangnya dia tampan jadi Asmara merasa sayang kalau harus menampar wajah Bara dengan wajan.
Seperti biasa Bara akan membantu mereka menyiapkan keperluan untuk berjualan hingga membantu mendirikan tenda untuk berjualan.
"Kamu ini kenapa sih ngikut jualan aku terus? Emang gaji kamu jadi asisten bos kamu itu kurang? Apa bos kamu nggak nyariin kamu?"cecar Asmara merasa geram dengan sikap Bara.
"Kamu ini dibantu bukannya makasih malah cerewet"balas Bara.
Merasa kesal dengan jawaban Bara, Asmara pun meninggalkan Bara yang sedang menyusun kursi. Tiba-tiba Asmara menjerit saat kakinya terpentok kaki meja.
"Awww sakit!"teriak Asmara mengaduh-ngaduh.
"Kamu nggak papa?" Bara langsung mendekat dan memegang tubuh Asmara.
Asmara langsung terdiam saat wajahnya dengan wajah Bara begitu dekat bahkan sekarang jantungnya berdegup sangat kencang. Asmara ingin memaki dirinya kenapa dia bisa sebaper ini. Bara memapah Asmara untuk duduk di kursi, lalu dia berjongkok memeriksa kondisi kaki Asmara.
"Cih lemah, kakimu tidak papa tapi kamu sampai teriak begitu"tukas Bara dengan wajah datar lalu berdiri.
Asmara menghela napas kasar saat Bara mengejeknya. Bara melirik jam tangannya ketika hari hampir malam, dan dia harus kembali ke rumah. Tanpa berpamitan Bara meninggalkan warung mie ayam Asmara.
__ADS_1
"Hih dasar cowok nyebelin, main pergi aja. Salam kek atau gimana kek. Awas aja besok datang ke sini lagi"gerutu Asmara.