
Setelah seluruh keluarga dan tamu undangan meninggalkan rumah Surya, Bara dan Asmara pergi ke kamar mereka. Yaitu kamar pengantin mereka. Karena saat Asmara dirias dia menggunakan kamar Almira. Bara membuka pintu kamar dan mendorong pintu itu dengan pelan. Dan akhirnya terlihatlah penampakan wujud kamarnya saat ini.
"Hah? Ini kamar apa taman bunga?" kata Bara saat melihat keadaan kamarnya dipenuhi oleh taburan kelopak bunga mawar. Setiap sudut kamar terdapat bunga sedap malam dan lily. Bahkan gorden kamar juga dihiasi dengan roncean bunga melati. Tak lupa terdapat lilin yang menghiasi kamar itu.
Asmara tersenyum melihat ekspresi terkejut dari Bara, "Nanda yang menghias kamar ini saat dia datang ke sini membawakan kebaya pengantin ke rumah" sela Asmara.
"Bocah itu selalu banyak tingkah. Yapi keren juga, jadi menambah keromantisa malam pertama" ujar Bara sambil melirik Asmara dengan tatapan genit.
"Ih kamu apaan sih" elak Asmara melengos masuk ke dalam kamar dengan wajah malu-malu.
Asmara berjalan menuju meja rias. Dia melepas satu persatu perhiasan dan aksesoris yang menempel di tubuhnya. Bara terus memandangi wanita yang kini sudah resmi menjadi istrinya sambil duduk bersila di kasur. Asmara merasa kesulitan membuka kancing kebaya karena model kebaya ini memiliki kancing di belakang.
"Bara..." panggil Asmara.
"Ya" balas Bara singkat.
"Bantu aku melepas kebaya ini" pinta Asmara.
"Hanya kebaya? Kenapa tidak semua?" goda Bara dengan wajah datarnya.
"Bara jangan menggodaku" jerit Asmara tertunduk malu.
Sementara Bara hanya terkekeh melihat ekspresi malu-malu dari istrinya itu. Dia berjalan menghampiri Asmara dan melepaskan kancing kebaya itu hingga selesai. Tanpa memberi jeda, Asmara langsung meraih handuk dan baju ganti dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Ya ampun sudah sah jadi istri masih saja malu-malu" gumam Bara sambil geleng-geleng kepala.
40 menit kemudian, Asmara keluar dari kamar mandi dengan memakai piyama setinggi lutut berwarna pink pastel dan ada gradasi warna gold. Bara harus menelan salivanya saat melihat kemolekan tubuh istrinya yang aduhai.
Bara beranjak dari duduknya dan melepas baju tepat di depan Asmara yang langsung dihadiahi pelototan.
"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Bara santai.
"Kenapa kamu buka baju di sini? Memang tidak malu?" tanya Asmara balik.
"Kamu kan istriku, kenapa aku harus malu. Bilang saja kamu terpesona dengan aku kan" ledek Bara sambil menaik turunkan alis tebalnya.
Asmara meremas handuk yang dia pegang karena dia melihat pemandangan perut sixpack berotot milik suaminya. Bara memang memiliki penampilan fisik yang nyaris sempurna. Dan akhirnya ketegangan Asmara berakhir ketika Bara sudah masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
*****
Di kediaman keluarga Wijaya semua orang sedang berkumpul di taman belakang rumah sambil minum teh bersama. Ini adalah kegiatan yang cukup jarang dilakukan karena semua orang sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
"Nendra, HP kamu baru?" tanya Isyan saat melihat HP Nendra tidak seperti yang biasa dia lihat.
"Iya Ma" jawab Nendra.
"Beli pakai uang sendiri?" sambung Arya.
"Ah...anu itu...hhmmm..." Nendra terlihat bingung harus menjawab apa. Dia pun melirik Nanda dan Langga seakan meminta bantuan untuk menjawab.
"Langga yang beliin Nendra HP baru" sela Langga.
"Hah? Ngapain kamu beliin tukang es cincau ini HP, Lang?" teriak Dion.
"Soalnya Langga kalah taruhan dari Nendra" timpal Nanda.
"Taruhan apa?" kata Rara.
Apsara yang merasa kesal sudah memijit keningnya. Tiba-tiba dia melempari kedua adik laki-lakinya dengan kacang pilus dan tepat mengenai jidat mereka. Sampai keduanya mengaduh kesakitan.
"Adik kurang ajar kalian. Kakak sendiri dijadiin bahan taruhan" gerutu Apsara.
"Ya kan nggak sengaja, Kak" bela Nendra.
"Itu namanya direncanakan, Nendra!" teriak Apsara dengan mata melotot.
Para orang tua tertawa terbahak-bahak melihat tingkah lucu anak-anak mereka yang selalu saja ada hal-hal aneh yang mereka lakukan.
"Sa, mereka itu adik-adik kamu. Jadi jiwa bisnis mereka sama kayak kamu" sela Dion.
"Semuanya adil dalam cinta dan perang" timpal Nanda.
"Eeaaa asikk" sambung Dion dengan gaya konyolnya.
"Almira kamu jangan diem aja dong. Ikut ngobrol aja nggak usah malu" ujar Rara menatap ke arah Almira.
__ADS_1
"Al baru tahu kalau kalian semua itu humoris dan lucu. Sangat berbeda kalau berada di luar rumah. Sepertinya semua orang akan takut dan segan jika melihat kalian" kata Almira.
"Itulah dunia bisnis, Nak. Kita tidak tahu mana kawan dan mana lawan. Jadi kita harus membatasi sikap mereka. Tapi jika bersama keluarga tentu kehangatan yang harus diberikan satu sama lain" ujar Arya begitu bijak.
"Kamu ini sudah jadi bagian dari keluarga kami. Malahan kamu calonnya Langga kan?" goda Isyan melirik Langga.
"Mama jangan mulai deh. Bilang aja aku disuruh nikah sekarang" sela Langga.
"Enak aja. Nunggu Almira lulus kuliah dulu, Suep" ujar Dion sambil menjewer telinga Langga karena gemas.
*****
Malam pun tiba. Entah kenapa cuaca malam ini cukup berangin bahkan hawa terasa sangat dingin. Bara dan Asmara baru saja selesai makan malam. Dan saat ini Bara sedang sibuk dengan laptopnya. Dia mengecek beberapa email yang dikirimkan oleh Aldi tentang pekerjaan.
Asmara masuk ke dalam kamar membawa secangkir teh hangat untuk suaminya. Dia meletakkan teh itu di meja dekat sofa yang diduduki Bara.
"Ini teh untukmu" ucap Asmara.
"Makasih sayang" balas Bara tanpa menoleh.
Raut wajah Asmara berubah menjadi kesal. Karena dihari pertama dia menikah, dia justru dicueki oleh suaminya sendiri. Benar kata adik-adik iparnya. Istri pertama bukan dia, tapi pekerjaannya. Asmara melangkah pergi meninggalkan Bara. Tahu bahwa istrinya sedang jengkel kepadanya. Tiba-tiba Bara memeluknya dari belakang.
"Maaf" bisik Bara di telinga Asmara.
Tubuh Asmara langsung membeku seketika saat mendapat bisikan dari Bara bahkan deruan napasnya membuatnya merinding dan jantungnya berdetak dengan kencang. Dia tidak permah sedekat ini dengan pria. Tangan Bara sudah bergerilya mengusap perut Asmara.
"Boleh aku melakukannya sekarang?" tanya Bara sambil mengusap lembut leher Asmara.
Satu anggukan diberikan oleh Asmara yang langsung dibalas aksi Bara yang membalikkan tubuh Asmara menghadap kepadanya. Dia mencium bibir Asmara begitu lembut dan menuntunnya menuju tempat tidur. Saat Bara melepas tautan bibirnya, dia melihat wajah Asmara tegang.
"Kenapa?" kata Bara.
"Aku sedikit takut" lirih Asmara.
"Aku akan melakukannya dengan perlahan" ujar Bara mengusap lembut wajah istrinya.
Setelah itu, Asmara akhirnya merasakan sentuhan lembut dari seorang pria. Bara benar-benar melakukannya dengan penuh cinta.
__ADS_1