
Malam pun tiba, Apsara sudah berada di hotel yang dijanjikan oleh Utomo kemarin. Dia sedang menunggu Utomo di lobi hotel. Dan tak berapa lama datanglah Utomo yang sudah berpakaian sangat rapi seolah-olah dia akan berkencan dengan kekasihnya. Utomo menghampiri resepsionis terlebih dahulu untuk memesan kamar, baru setelah itu dia menghampiri Apsara yang sudah berdiri menunggunya.
"Apa kamu sudah lama menunggu, sayang?"tanya Utomo begitu genit bahkan dia tidak malu merangkul Apsara.
Apsara merasa sangat jijik dan ingin menghajar Utomo, namun dia harus mengontrol diri agar semuanya bisa berjalan sesuai rencananya.
"Tidak juga"jawab Apsara begitu ramah dan tentu saja itu hanya akting.
Mereka pun menuju kamar yang sudah dipesan oleh Utomo. Sesampainya di depan kamar Utomo langsung membuka pintu kamar dan mempersilahkan Apsara untuk masuk.
Utomo duduk di sofa sambil merentangkan tangan mengisyratkan agar Apsara mendekatinya. Tapi Apsara tidak akan melakukan hal secepat itu.
"Anda ingin minum, Pak?" tawar Apsara.
"Ya tentu. Ambilkan aku minum" ucap Utomo.
Apsara berjalan ke salah satu meja panjang setinggi perut yang terdapat cangkir dan teko. Dia membuatkan minum untuk Utomo dan tanpa sepengetahuan Utomo, dia memasukkan sesuatu ke dalam minuman itu.
Apsara berjalan ke arah Utomo sambil membawa cangkir itu dan berkata, "Ini minumnya, Pak," ucap Apsara.
Utomo memegang dagu Apsara dan tersenyum begitu genit, "Terima kasih, sayang" ucapnya.
Apsara hanya tersenyum tipis tapi sorot matanya begitu tajam. Dia mencoba memulai berbicara untuk membongkar rahasia Utomo.
"Bagaimana bisa bapak memberikan banyak hadiah untuk saya karena telah menemani bapak malam ini?" tanya Apsara.
"Jangan panggil aku dengan sebutan bapak. Panggil aku dengan sebutan sayang" ucap Utomo membelai rambut Apsara.
Ya Tuhan, tolong kontrol emosiku supaya aku tidak membunuh tua bangka ini, batin Apsara.
"Iya sayang..." Akhirnya Apsara mengucapkan kata itu walaupun rasa jijik berdesir di tubuhnya.
"Kamu ingin tahu bagaimana aku mendapatkan segalanya?" tanya Utomo dan langsung dibalas anggukan oleh Apsara.
"Apa kamu tahu..." Utomo merangkul Apsara saat mengatakan ini, "Aku mengambil sedikit dana promosi perusahaan. Ya tidak banyak lah," lanjutnya.
Mata Apsara membulat ketika menengar jawaban dari Utomo, "Wah hebat sekali ya. Bahkan Bu Isyan saja tidak mengetahuinya," tandas Apsara.
"Ya tentu saja. Aku kan cerdik dan mereka yang terlalu bodoh, sehingga tidak bisa menyadari ini. Jika kamu terus bersamaku maka hidupmu akan sejahtera karena aku akan memberikan apa yang kamu mau" jelas Utomo sambil membelai pipi Apsara.
"Tentu, dengan senang hati aku akan selalu bersamamu sayang" ucap Apsara dengan penuh penekanan.
__ADS_1
"Bagus sayang. Ini yang aku mau" balas Utomo kegirangan.
"Ayo kita minum. Setelah itu baru kita menikmati malam ini bersama" kata Apsara.
Mereka berdua mengambil angkir yang ada di meja dan meminumnya bersamaan. Dan tak berapa lama, Utomo menguap karena dia merasa ngantuk.
"Kenapa aku merasa mengantuk sekali..." ucap Utomo.
"Mari aku bantu ke tempat tidur" ucap Apsara begitu lembut lalu memapah Utomo menuju ranjang.
Karena pengaruh obat yang Apsara berikan, Utomo langsung ambruk di tempat tidur dan membuat Apsara ikut terjatuh juga karena beban tubuh Utomo.
"Ah menyusahkan sekali tua bangka ini. Sudah bau tanah tapi banyak sekali tingkahnya"omel Apsara bangkit dari tempat tidur.
Tak berapa lama terdengar suara ketukan pintu kamar. Apsara berjalan menuju pintu dan membukanya. Terlihat Sanjaya yang sudah berdiri di depan pintu memberi senyum kepada Apsara.
"Bagaimana?" tanya Sanjaya.
"Sudah" jawab Apsara singkat.
Apsara membuka pintu kamar lebar-lebar dan ada seorang laki-laki berjas yang memapah Lia dalam kondisi pingsan dan membawanya masuk ke dalam kamar. Tak lupa Apsara kembali menutup pintu kamar.
"Sangat mudah menaklukannya. Dia itu tipe wanita yang mudah tergiur dengan uang" ucap Dodi sambil membaringkan Lia di ranjang.
Jadi, Dodi adalah salah satu fotografer di bawah naungan Wijaya Group, dan Apsara meminta bantuan Dodi untuk berpura-pura meminta Lia menemaninya di hotel dengan bayaran tinggi. Dan semua yang mengatur adalah Sanjaya dengan sangat rapi.
"Sekarang kalian bantu aku mengatur posisi merek berdua agar terlihat seperti sedang melakukan itu" kata Dodi.
"Melakukan itu apa?" tanya Apsara tak mengerti.
Dodi mendengus kesal karena pikiran Apsara yang kelewat polos, "Melakukan itu loh," ucap Dodi sambil menyatukan kedua telapak tangannya.
Apsara semakin tidak mengerti dengan ucapan Dodi, "Ya apa? Jangan memakai bahasa isyarat. Aku tidak mengerti."
Dodi melirik ke arah Sanjaya dan memberi isyarat dengan lirikan mata, agar Sanjaya yang berbicara.
"Maksud Dodi, kita atur posisi mereka berdua seperti sedang melakukan hubungan intim"ucap Sanjaya.
"Oohh..." Apsara ber-oh ria seperti anak TK yag baru mengetahui sesuatu yang baru.
Dodi menepuk keningnya saat melihat respon polos dari Apsara, "Astaga, kamu selama ini hidup di gua mana? Sampai tidak mengetahui hal intim seperti itu. Jangan bilang kamu belum pernah pacaran."
__ADS_1
Apsara langsung meninju tangan Dodi, setelah pria itu mengeluarkan komentar menyebalkannya, "Diam. Lakukan saja tugasmu," tegas Apsara dengan wajah kesal.
"Iya iya. Nggak perlu pakai tinju juga. San, kamu membuka baju wanita itu dan aku yang membuka baju tua bangka ini" perintah Dodi.
"Baik" balas Sanjaya yang hendak berjalan ke sisi ranjang di mana Lia berada.
"Wait...kenapa harus buka baju?" teriak Apsara.
"Ya Tuhan Yesus. Apsara, yang namanya orang bercinta pasti lepas baju dong" gerutu Dodi yang rasanya ingin mencakar wajah cantik Apsara.
"Ya maksudku, kenapa harus Sanjaya yang membuka baju Lia. Biar aku saja" tegas Apsara dengan wajah merengut.
Sanjaya tersenyum tipis saat melihat ekspresi tidak suka yang ditunjukan Apsara. Apsara berjalan ke sisi ranjang dan menghampiri Lia.
"San, kamu berbalik badan. Jangan sampai kamu melihat tubuh Lia" ketus Apsara.
"Ya baiklah" ucap Sanjaya pasrah.
Dodi dan Apsara langsung melakukan tugas mereka. Keduanya mengatur posisi tidur Utomo dan Lia sesuai yang diinginkan Dodi sebagai seorang fotografer. Dan Dodi sudah menjepret kedua manusia itu dengan kameranya. Setelah selesai memfoto, Apsara kembali memakaikan Lia bajunya.
"Bawa dia kembali ke kamar sebelumnya" ucap Apsara.
"Kenapa harus ke kamar tadi? Biarkan dia di sini. Merepotkan karena harus memapah dia" balas Dodi.
"Kalau dia berada di sini, nanti mereka berdua tahu kalau semua ini hanya jebakan. Tolong gunakan otak kamu, Dodi" tukas Apsara.
"Oke, fine" ujar Dodi pasrah.
Dia pun membawa Lia kembali ke kamarnya. Dan sesuai rencana awal Dodi membuat Lia seolah-olah sudah tidur dengannya dan meninggalkan sebuah amplop berisi uang di meja. Begitu juga dengan Apsara yang meninggalkan Utomo di kamar dalam kondisi gelap seolah-olah mereka telah tidur bersama.
Di lobi hotel, ketiganya pun bertemu. Dodi menyerahkan memori card kameranya kepada Apsara.
"Tugasku sudah selesai" ucapnya sambil memberikan benda itu.
"Thanks untuk bantuannya" balas Apsara.
"Jangan lupa transfer" kata Dodi.
"Aku tidak akan melupakan itu" balas Apsara dengan tatapan yakin.
"Oke, aku pamit dulu. Hati-hati kalian berdua" ledek Dodi lalu meninggalkan Apsara dan Sanjaya.
__ADS_1