
Seelah mata kuliah mereka selesai saat sore tadi, Langga dan Nendra kembali ke rumah sakit. Mereka bertanya kepada doter apakah Nanda bisa keluar dari rumah sakit hari ini juga. Dan untung saja dokter memperbolehkan Nanda untuk pulang, dan malamnya dia bisa keluar dari rumah sakit.
"Ayo Nan, kita pulang" ajak Nendra.
"Biar saya yang mengantar Nanda pulang" sela Dafa.
Mereka bertiga saling memandang. Tentu saja tidak mungkin Dafa bisa mengantar Nanda pulang jika mereka tidak ingin jati diri mereka diketahui.
"Tidak perlu, Pak. Saya akan pulang bersama mereka" tolak Nanda.
"Iya, Pak. Pak Dafa kan sudah seharian menjaga Nanda. Biar kami yang gantian mengantar dia pulang" sambung Langga.
"Kalian yakin?" tanya Dafa dengan tatapan curiga.
"Ya tentu" jawab Langga dan Nendra bersamaan.
Agar Dafa tidak banyak bertanya, Langga langsung menuntun Nanda trun dari tempat tidur. Mereka bertiga pun meninggalkan rumah sakit. Dafa semakin penasaran dengan hubungan mereka bertiga yang nampak begitu dekat.
"Kenapa aku jadi penasaran dengan Nanda? Ini kan bukan urusanku" ucapnya saat memandangi mobil mereka yang sudah meninggalkan pelataran rumah sakit.
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, mereka bertiga sudah sampai rumah. Mereka belum keluar dari mobil karena masih merasa takut untuk masuk ke dalam rumah.
"Kalau orang tua kita tanya Nanda kenapa, kita harus jawab gimana?" tanya Nendra.
"Apa ya? Yang masuk akal dong. Kalian tahu kan seberapa logis dan kritisnya pikiran mama isyan" ucap Langga.
"Gini aja, kalian jawab aja aku kesandung kulit pisang di taman terus kepleset dan kepalaku kepentok batu" sela Nanda.
Langga dan Nenda menepuk kening bersamaan.
"Ya nggak gitu juga, Saodah" gerutu Nendra.
"Ya terus gimana? Masa kita bilang gara-gara aku berantem sama geng uler itu. Nanti nambah masalah lagi" tandas Nanda.
"Ya udah deh. Kita ngikut kamu aja, Nan" kata Langga akhirnya.
Ketiganya pun turun dari mobil. Melangkah masuk ke dalam rumah. Dan betapa terkejutnya mereka saat melihat orang tua mereka sedang berkumpul di ruang keluarga.
"Kalian udah pulang?" sapa Rara dan ekspresi wajahnya langsung berubah saat melihat kepala Nanda berbalut perban.
"Nanda kamu kenapa?" tanya Isyan berdiri menghampiri Nanda.
"Anu tadi Ma, Nanda itu jatuh di taman kampus dan kepalanya kebentur batu" ucap Nendra.
__ADS_1
Arya menatap curiga, "Kalian sednag tidak berbohong kan?"
"Nggak kok, Pa. Beneran, suer" ucap Nanda sambil mengacungkan dua jari.
"Masih sakit nggak? Kalau masih kita ke rumah sakit ya?" ucap Isyan mengelus kepala Nanda.
"Nggak perlu Ma. Kita juga baru dari rumah sakit kok. Kata dokter Nanda nggak papa. Lagipula kan ada Langga" sela Langga.
"Ya sudah. Kalian bawa Nanda ke kamar ya. Nanda lebih baik kamu izin tidak masuk kuliah beberapa hari sampai keadaan kamu pulih" ujar Dion.
"Tapi Pi..." Nanda berusaha menolak perintah dari Dion.
"Tidak ada bantahan. Besok Langga dan Nendra akan bicara dengan pihak kampus" tegas Isyan.
"Iya, Ma" jawab ketiganya serempak.
Mereka bertiga pun menaiki tangga dan menuju kamar masing-masing untuk beristirahat.
*****
Dafa baru sampai di rumahnya setelah kembali dari rumah sakit.
"Baru pulang, Daf?" tanya Herdian saat melihat Dafa kembali.
"Gimana keadaan mahasiswi kamu?" ucap Herdian.
"Dia baik-baik saja. Dan dia juga sudah diperbolehkan pulang" kata Dafa.
"Ya sudah. Kamu harus beri hukuman untuk tiga mahasiswi yang melakukan pembullyan itu" titah Herdian.
"Baik Yangkung. Dafa permisi ke kamar" ucap Dafa lalu melangkah menuju kamarnya.
Saat Dafa melewati koridor area kamar, langkahnya terhenti ketika melewati kamar Zahra. Dafa mengetuk pintu kamar Zahra terlebih dahulu, sebelum membuka pintu itu. Dilihatnya Zahra sedang duduk di single chair yang berada di dekat jendela. Kini Zahra terdiam menatap ke arah luar jendela. Dafa berjalan menghampiri adiknya.
"Zahra..." panggil Dafa.
Mendengar suara Dafa, Zahra langsung menoleh, "Iya Kak."
Dafa menarik kursi belajar Zahra dan duduk di depan adiknya, "Kamu mikirin apa?"
Zahra tersenyum tipis, "Nggak mikirin apa-apa kok," jawabnya santai.
Dafa membelas puncak kepala adiknya penuh kasih sayang, "Kakak tahu, kamu cemburu melihat Nendra dekat dengan Nanda kan?"
__ADS_1
Mata Zahra membulat saat Dafa tahu apa yang sedang dia rasakan, "Bagaimana kakal bisa tahu?" tanya Zahra.
"Kakak bisa melihat dari mata kamu. Zah, kakak tahu kamu sudah dewasa jadi kakak rasa kamu tahu bagaimana kamu harus bersikap dalam hal ini. Kakak tidak melarang kamu untuk menyukai seseorang karena itu bagian dari kebahagiaan kamu. Tapi, kakak tidak akan tinggal diam kalau sampai dia menyakiti kamu" tegas Dafa.
Zahra tersenyum lalu memeluk Dafa dengan erat, "Makasih Kak."
"Iya sama-sama" balas Dafa sembari mengelus punggung Zahra.
*****
Saat ini Apsara dan Sanjaya sedang berada di sebuah cafe. Mereka berdua sedang melihat foto hasil jepretan Dodi. Selain itu, Apsara memberitahu Sanjaya soal rekaman suara Utomo yang dia miliki. Karena sebelumnya Apsara sudah menyiapkan alat penyadap suara yang dia simpan di balik jam tangannya.
"Kecurigaanku benar. Pak Utomo sudah melakukan korupsi. Tapi dia sangat pintar menyembunyikan tindakannya" ucap Sanjaya.
"Dan ternyata dia sudah menjalin hubungan lama dengan Lia. Sepertinya akan sangat menyenangkan jika istri tua bangka itu mengetahui kelakuan suaminya" kata Apsara dengan nada sinis.
Sanjaya tersenyum melihat bagaimana sikap Apsara yang begitu dingin di balik wajah cantiknya. Mungkin orang lain akan menganggap Apsara adalah orang yang angkuh. Tapi bagi Sanjaya, dia adalah sosok wanita yang mandiri dan cerdas.
"Apa yang akan kamu lakukan setelah ini?" tanya Sanjaya.
"Kita lihat saja besok pagi" balas Apsara.
Apsara melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, "Sepertinya aku harus pulang. Ini sudah malam," lanjutnya.
Apsara beranjak dari kursi dan diikuti oleh Sanjaya yang juga ingin pulang ke apartemen. Tapi baru saja mereka sampai di teras cafe turun hujan deras.
"Sa, hujan nih" ucap Sanjaya.
"Ya gapapa lah. Aku bawa mobil juga" ketus Apsara.
"Ya maksud aku, cara kamu menuju mobilmu itu gimana, Sa?" kata Sanjaya dengan nada gemas.
Apsara terdiam dan melirik ke segala arah ketika dia tidak melihat ada payung yang disediakan oleh pihak cafe. Sanjaya tahu apa yang dipikirkan oleh Apsara. Dia pun melepas jaketnya dan untungnya jaketnya itu berbahan kulit.
Sanjaya merentangkan jaketnya di atas kepala Apsara, "Ayo, biar aku antar sampai mobilmu" ajak Sanjaya.
"Tapi..."
"Udah buruan" sela Sanjaya.
Apsara pun menurut. Dia berjalan menuju tempat di mana mobilnya terparkirkan dengan dipayungi oleh Sanjaya. Sesekali Apsara menoleh ke arah Sanjaya yang tersenyum kepadanya walaupun dirinya diguyur oleh hujan.
Apsara membuka pintu mobil dan masuk ke dalam mobil, "Terima kasih," katanya.
__ADS_1
"Sama-sama" balas Sanjaya langsung berlari menuju mobilnya.