Pengorbanan Cinta 2

Pengorbanan Cinta 2
Bab 6


__ADS_3

Isyan sedang membaca berkas-berkas yang diberikan Arum. Sejak tadi banyak hal yang mengganggu pikirannya.


"Rum, kenapa pengeluaran divisi promosi setiap bulan semakin besar?"tanya Isyan.


"Saya juga kurang tahu Bu, tapi menurut manajer bagian promosi untuk mempromosikan produk kita membutuhkan biaya yang cukup besar"jawab Arum.


"Hah? Untuk apa? Kita saja punya saham di stasiun televisi, bukan hal yang sulit untuk menayangkan iklan kan? Dan jika kita membutuhkan model, dengan mudah kita bisa mendapatkannya"tegas Isyan.


"Saya akan selidiki ini Bu"kata Arum.


Arum masih saja betah menjadi sekertaris Isyan sejak dulu, bahkan sekarang suami dan anak Arum juga bekerja di perusahaan. Dimas suami Arum sebagai sekertaris Dion, dan Risko sebagai asisten untuk segala hal.


"Suruh Risko menyelidiki ini"perintah Isyan.


"Baik Bu saya permisi"kata Arum lalu keluar dari ruangan Isyan.


*****


Apsara sedang berdiri di depan table counter di dapur rumahnya. Dia sedang berpikir untuk memasak sesuatu untuk keluarganya nanti saat makan malam.


"Masak apa ya?"tanya Apsara sambil mengetuk-ngetuk pelipisnya.


"Oh ayam rica-rica aja, pasti enak. Mama kan suka makanan pedas"kata Apsara begitu bahagia.


"Eh Non Apsa mau ngapain? Biar saya yang masak saja, Non"kata Bi Nani pembantu paling senior di rumah ini.


"Biar saya saja Bi. Aku udah lama nggak masak buat keluarga saya, hitung-hitung mengetes kemampuan masak saya"jawab Apsara ramah.


"Non Apsa itu masakannya paling enak setelah Tuan Arya dan Nyonya Isyan"puji Bi Nani.


"Ya kan saya anak mereka, Bi"kata Apsara tertawa.


*****


Saat ini, Bara sedang membantu Asmara yang sedang menata perlengkapan untuk berjualannya. Mengemasi semua bahan-bahan pembuatan mie ayam ke dalam gerobak yang kemarin Bara tabrak. Bara sempat tertawa dalam hati, kemarin dia mengumpati gerobak itu, malah sekarang dia menyentuh bahkan membantu si empunya.


Mereka bertiga pun berangkat ke tempat di mana biasa Asmara mangkal untuk berjualan.


"Mobil kamu bagaimana?"tanya Asmara yang berjalan di samping Bara yang sedang mendorong gerobak.


Bara tak menjawab, dia hanya mengedikkan bahunya. Asmara menggerutu dalam hati karena pria yang ada di sebelahnya ini pelit sekali mengucapkan kata-kata.


Sampailah mereka di lapangan yang ada di depan kabupaten. Tempat yang sering digunakan untuk berjualan, karena banyak orang yang akan berkunjung ke lapangan ini hanya sekedar untuk jalan-jalan.


Bara membantu untuk menegakkan tenda mie ayamnya. Asmara memandangi pria itu, yang tadi siang masih berpakaian rapih, justru sekarang sedang mendirikan tenda mie ayam yang membuat bajunya kotor. Setelah selesai mendirikan tenda Asmara membuatkan semangkok mie ayam untuk Bara.


"Silahkan dicoba mie ayamnya"kata Asmara meletakkan mangkok di depan Bara.


Bara perlahan memakan mie ayam itu, dan rasanya sangat-sangat enak. Sungguh luar biasa tangan perempuan ini, lain kali Bara akan ajak adik-adiknya ke sini.


"Almira..."panggil Bara dengan suara agak pelan agar Asmara tidak mendengarnya karena sekarang dia sedang melayani pembeli.


"Iya Kak"sahut Almira.


"Kamu kelas berapa?"tanya Bara.


"Tiga SMA, dan sebentar lagi aku akan mengikuti ujian"jawab Almira.


"Kamu harus belajar agar nilai ujian kamu bagus agar kamu bisa kuliah kedokteran"kata Bara.

__ADS_1


"Tapi biaya kuliah sangat mahal. Apalagi kuliah kedokteran"ucap Almira sedih.


"Tidak ada yang tidak mungkin. Semangatlah"ujar Bara dengan senyum tipis.


*****


Hari sudah mulai petang, satu persatu anggota keluarga sultan ini pulang ke rumah mewahnya.


"Sayang, apa kakimu masih sakit?"tanya Arya sambil mengeluas wajah Isyan.


"Tidak. Langga sudah memberi salep agar lukanya tidak melepuh. Dan kakiku baik-baik saja"jawab Isyan yang sekarang sudah menguburkan kepalanya di dada suaminya.


Walaupun mereka sudah berumur, bahkan anak-anak mereka sudah dewasa tapi kemesraan mereka tak pernah lekang oleh waktu.


"Ma, Pa..."


Apsara langsung membuka pintu kamar orang tuanya, sekarang dia sedang mendapati orang tuanya yang sedang bermesraan layaknya ABG.


"Ya Allah, Apsa nggak lihat"teriak Apsara langsung membalikkan badan.


Mendengar suara Apsara, Arya dan Isyan melepas pelukannya sambil terkikik geli.


"Apsa, umur kamu itu on the way 28 tahun. Memangnya kamu nggak pernah lihat adegan pelukan kayak gini"ledek Arya yang langsung dihadiahi cubitan dari Isyan.


"Aaww sakit istriku"rintih Arya.


Apsara pun kembali menghadapkan tubuh ke arah orang tuanya yang masih duduk di sofa.


"Hehehe...ya nggak live streaming juga kali, Pa"balas Apsara.


"Terus ngapain kamu manggil papa sama mama?"tanya Isyan.


"Begini orang tua sultan aku, sekarang sudah saatnya jam makan malam, jadi ayo kita makan bersama. Kebetulan semua masakan aku yang memasak"jelas Apsara.


"Iya nanti papa sama mama turun"jawab Isyan.


Apsara keluar dan menutup pintu kamar orang tuanya.


Setelah Apsara memanggil para orang tua, mereka sudah berkumpul di ruang makan. Tak berapa lama datanglah Bara dengan wajah agak kusam namun masih kelihatan tampan tentunya.


"Bar, kamu habis nyangkul? Kok muka kamu kusam gitu?"tanya Apsara mengelus wajah Bara yang gini terasa ada debu yang menempel.


"Aku nggak habis nyakul, tapi aku habis menggembala sapi. Udah ah, kamu banyak tanya. Aku mau mandi dulu baru aku ikut makan malam"ketus Bara lalu pergi.


Apsara dan Bara sebenarnya seperti tom dan jerry saat bersama. Terlihat begitu hangat dengan saling meledek. Tapi jika mereka berdua sedang marahan maka akan terlihat seperti perang dingin. Setelah 20 menit, Bara kembali ke ruang makan, dia duduk di sebelah Arya.


"Adik-adik, kenapa belum pulang?"tanya Bara.


"Katanya mereka ada kelas sore, jadi mereka pulang terlambat. Tunggu sebentar lagi ya, kasian kalau mereka kita tinggal makan"ucap Rara.


Tak berapa lama terdengarlah suara Langga dan Nendra.


"Assalamu'alaikum, keluarga sultanku"teriak mereka sambil tertawa.


"Wa'alaikumsalam, dokter muda sama tukang es cincau baru pulang"ledek Dion.


"Ih Papi, masa Nendra dipanggil tukang es cincau sih?"sela Nendra tak terima.


"Terus kamu maunya dipanggil apa?"tanya Arya.

__ADS_1


"Panggil aku dengan sebutan master of cyber"seru Nendra dengan bangga sambil menepuk dadanya.


"Gaya banget kamu, mana Nanda?"ujar Isyan.


"Nanda ka..."


"Assalamu'alaikum"sapa Nanda yang menghentikan perkataan Nendra.


"Wa'alaikumsalam."


"Baru aja diomongin udah nongol aja"kata Langga.


"Kamu mau gebukin maling apa? Bawa buku sebanyak itu"kata Apsara saat melihat Nanda membawa tujuh buku yang tebal-tebal.


"Iya, aku mau bantuin satpam kompleks perumahan buat jaga keamanan, makanya aku bawa semua Kitab Mahabharata ini ke rumah"jawab Nanda dengan senyum konyol.


"Dari pada kamu jaga keamanan kompleks, mending kamu menjaga keamanan hati aku azeekk"goda Nendra dengan tampang buaya.


"Sumpah aku jijik banget sama kamu, Nen"teriak Nanda dengan sengit.


"Udah mending kalian bertiga taruh tas sama buku dulu, mandinya nanti aja, terus langsung ke sini ikut makan"tegas Isyan.


"Nih bantuin aku bawa bukunya. Tega banget, ngebiarin cewek secantik, dan sebohay aku bawa buku ini sendiri"ketus Nanda memberikan masing-masing tiga buku pada Langga dan Nendra untuk membawanya.


"Sombong"balas Langga.


"Minta tolong itu dengan sikap yang baik, jangan seenaknya dong"teriak Nendra pada adik kembarnya.


"Bodo amat. Berisik kamu kunyuk"balas Nanda tak mau kalah.


Mereka bertiga pun naik ke lantai atas untuk menaruh tas dan buku. Setelah itu mereka kembali ke ruang makan untuk makan malam bersama.


"Gimana dengan kuliah kalian hari ini?"tanya Rara.


Para orang tua selalu menanyakan bagaimana anak-anak mereka melewati harinya. Itu salah satu bentuk kepedulian dan perhatian orang tua.


"Biasa Mi, praktek aman, jaya, sentosa, lancar tanpa kendala suatu apapun"jawab Langga pertama kali.


"Kalau aku berhasil membuat program komputer untuk meretas ke sistem komputer salah satu perusahaan"sambung Nendra santai.


"Perusahaan siapa?"tanya Bara curiga.


"Wijaya Group"kata Nendra santai.


Satu...Dua...Tiga


"APAAA????"teriak para orang tua bersamaan dengan mata melotot dan mulut menganga.


Teriakan para orang tua membuat Nanda dan Apsara terbatuk-batuk.


"Kamu itu kalau bodo jangan dipelihara dong, Nen. Itu kan perusahaan orang tua kita, malah kamu menyusup masuk"teriak Nanda sambil menoyor kepala kembarannya.


"Ya kan aku coba-coba kayak tukang bakso borax. Lagi pula aku melakukan itu tidak di depan dosen atau teman-temanku. Aku melakukan itu secara sembunyi-sembunyi. Kan aku juga kepo apa isi sistem komputer perusahaan yang bakal diwarisin ke aku"kata Nendra sombong sambil menaik turunkan alisnya.


"Yakin banget kamu kalau bakal dapet warisan dari mama"timpal Langga.


"Ya ampun, Syan, anak kamu sama gilanya dengan kamu. Nggak habis pikir aku sama Nendra"ucap Dion sambil tertawa.


"Tapi kamu udah kunci lagi sistem komputernya kan?"tanya Isyan.

__ADS_1


"Udah dong Ma. Pokoknya aman, jaya , sentosa. Tapi bilangin ke Kak Risko, kalau dia harus sering ngecek sistem komputer, takutnya ada hacker perusahaan lain yang ngisengin perusahaan kita"ujar Nendra dengan segala kepintarannya.


Walaupun Nendra terlihat konyol dan menyebalkan, tapi dia adalah orang yang paling cepat merespon sesuatu. Perkataan Nendra berhasil membuat Isyan merasa bangga sebagai ibu.


__ADS_2