Pengorbanan Cinta 2

Pengorbanan Cinta 2
Bab 51


__ADS_3

Dafa menuruni tangga dan berjalan menuju ruang makan. Dilihatnya ruang makan belum ada siapapun. Dafa akhirnya bertanya pada Bi Inem.


"Bi, ke mana semua orang?" tanya Dafa.


"Tuan besar masih ada di taman belakang. Sebentar lagi akan kemari. Kalau Non Zahra saya tidak tahu" jawab Bi Inem.


"Oh oke" ucap Dafa.


Dafa pun memilih duduk terlebih dahulu di kursi yang biasa dia duduki. Sambil menunggu Herdian datang ke ruang makan, Bi Inem membawa makanan ke ruang makan dan menata dengan rapi di meja makan.


Lima menit setelah Bi Inem selesai melakukan pekerjaannya, Herdian muncul dari pintu yang menuju taman belakang rumah. Dia pun langsung duduk di kursi yang biasanya.


"Yangkung, Zahra mana?" tanya Dafa penasaran.


"Oh adik kamu. Dia nginep di rumah Nanda. Kenapa?" balas Herdian santai.


"Kenapa yangkung kasih izin Zahra nginep di rumah orang lain?" kata Dafa terkejut.


"Memang kenapa? Dia sudah besar, kita juga mengenal baik keluarga Nanda. Masa iya Nanda mau diapa-apain. Lagi pula sekarang dia sudah punya sahabat. Jadi biarkan dia bersosialisasi layaknya anak seusia dia" jelas Herdian menasihati Dafa.


Dafa memang cukup protektif kepada adik satu-satunya. Jadi hal apapun yang dilakukan Zahra, harus selalu dibawah pengawasannya. Kedua laki-laki itu pun memulai sarapan mereka seperti biasa. Hanya keheningan yang terasa di meja makan. Hingga akhirnya sarapan pun berakhir.


"Dafa, kamu temui yangkung di ruang kerja ya" tutur Herdian sebelum bangkit dari kursi dan meninggalkan Dafa di meja makan.


"Iya" jawab Dafa.


Herdian pergi terlebih dahulu ke ruang kerjanya. Kemudian Dafa menyusul sepuluh menit kemudian. Dafa melihat kakeknya sedang membaca buku. Dan saat Dafa memanggil nama kakeknya, pria tua itu meletakkan buku yang sedang dia baca ke meja.


Herdian meminta Dafa untuk duduk di hadapannya. Dafa merasa sangat bingung sekaligus penasaran dengan apa yang akan dibicarakan oleh kakeknya. Karena terlihat raut wajah Herdian yang cukup serius.


"Yangkung ingin membicarakan apa sama Dafa?" tanya Dafa.


Herdian menarik napas panjang dan menghembuskan perlahan. Ditatapnya cucu laki-lakinya begitu dalam.


"Dafa, yangkung ini sudah sangat tua. Kesehatan yangkung juga sudah mulai menurun. Yangkung sudah tidak bisa lagi mengemban begitu banyak tanggung jawab. Jadi, yangkung memutuskan untuk memberikan kuasa atas yayasan keluarga kita kepada kamu. Agar kamu bisa mengambil alih dan mengelola yayasan dengan maksimal" ujar Herdian.

__ADS_1


"Yangkung sudah yakin dengan keputusan ini? Maksud aku, mengelola yayasan membutuhkan tanggung jawab dan komitmen yang besar" tukas Dafa.


"Kamu satu-satunya orang yang bertanggung jawab dan bisa yangkung percaya. Jadi mulai besok kamu sudah bisa mengambil alih yayasan. Yangkung sudah membicarakan ini jauh-jauh hari dengan pengacara yangkung" balas Herdian.


"Baiklah, kalau keputusan yangkung seperti itu. Aku akan berusaha melakukan yang terbaik" seru Dafa meyakinkan.


Herdian tersenyum melihat reaksi Dafa yang nampak begitu berwibawa dan bertanggung jawab.


"Ada satu hal ingin yangkung sampaikan kepada kamu" lanjut Herdian.


"Apa itu?"


"Yangkung ingin melihat kamu bahagia. Mendapatkan kebahagiaan yang seutuhnya" tandas Herdian.


"Aku sudah bahagia hidup bersama yangkung dan Zahra" timpal Dafa.


Herdian menggelengkan kepalanya dan terlihat tatapan sendu di matanya, "Yangkung ingin melihat kamu menikah," ujar Hedian.


Dafa memberi reaksi dengan tatapan melongo mendengar perkataan Herdian, lalu dia menjawab, "Yangkung tahu kan kalau aku..."


"Kamu belum bisa melupakan Apsara kan?" sela Herdian.


"Mau sampai kapan? Wanita yang kamu cintai sudah menemukan laki-laki yang mencintai dia. Mereka sepertinya akan menikah. Lalu bagaimana dengan kamu? Apa kamu akan terus terbelenggu dengan rasa yang tak terbalaskan ini? Memangnya kamu sanggup? Cobalah sekali saja buka hati kamu untuk wanita lain. Yangkung ingin melihat kamu bahagia dan punya anak" ujar Herdian dengan nada bicara mulai meninggi.


"Yangkung, aku paham dengan meresahan hati yang dirasakan yangkung. Tapi memang aku belum bisa menemukan wanita yang bisa membuat aku melupakan perasaanku dari Apsara" timpal Dafa.


"Baiklah. Yangkung akan memaklumi itu. Tapi yangkung sudah mengambil keputusan bahwa yangkung akan menjodohkan kamu dengan Nanda" tegas Herdian dengan suara lantang.


Bagaikan tersambar petir di siang bolong. Dafa terkejut bukan main. Rasanya seperti ada yang menghantam jantungnya ketika dia mendengar perkataan yang keluar dari mulut kakeknya ini.


"Yangkung bercanda?"


"Yangkung serius. Dan yangkung tidak pernah seserius ini" tegas Herdian.


*****

__ADS_1


Hari ini, Bara dan Asmara berkunjung ke rumah orang tua mereka. Selain akan menjemput Almira, mereka berdua juga sudah lama tidak bertemu dengan orang tua mereka. Sesampainya di rumah kediaman keluarga Wijaya, sambutan hangat langsung diterima oleh mereka berdua.


Rara mengajak menantunya untuk membuat kue bersama adik-adiknya dan juga Zahra yang masih berada di rumah ini. Sementara Isyan dan Arya meminta Apsara dan Bara untuk berbicara di ruang perpustakan.


"Papa dan mama tumben minta kita berdua untuk bicara berempat. Apa ada masalah serius dengan perusahaan?" tanya Bara.


"Tidak ada. Perusahaan baik-baik saja" jawab Isyan.


"Apsara bagaimana dengan hubungan kamu dan Sanjaya?" sela Arya.


"Lusa aku dan Sanjaya berencana untuk pergi ke Jogja. Dia ingin memperkenalkanku dengan keluarganya karena Pak Wisnu meminta kami berdua untuk datang ke sana" jawab Apsara.


"Bagus kalau begitu. Tapi ingat, jangan beritahu identitas kamu terlebih dahulu" tutur Isyan memperingatkan.


"Bagaimana dengan kamu Bara?" lanjut Arya.


"Rumah tanggaku dengan Asmara baik. Hanya saja kemarin ada pegawaiku yang menyebut Asmara sebagai asisten rumahku saat dia mengantarkan makan siang ke kantor" kata Bara.


"Bara, apa boleh aku merubah penampilan istri kamu. Walaupun kamu berkata bahwa kamu tidak masalah dengan penampilan sederhana Asmara, tapi sebagai wanita, dia pasti akan merasa insecure dengan dirinya sendiri. Apalagi pegawai di perusahaanmu itu sangat modis. Belum lagi rekan bisnis wanitamu" potong Apsara.


"Boleh. Siapa lagi yang bisa membantu Asmara kalau bukan kamu" balas Bara.


"Itu baru namanya keluarga harus saling membantu. Jadi, mama dan papa juga ingin meminta pendapat kalian berdua"sambung Isyan.


"Pendapat apa, Ma?" tanya Bara.


"Yangkung Herdian mengajukan sebuah rencana yaitu, dia ingin menjodohkan Dafa dengan Nanda" jawab Isyan.


"APAA??" teriak Apsara dan Bara bersamaan dengan mata membulat sempurna.


Bara dan Apsara saling memandang satu sama lain. Tatapan terkejut sekaligus bingung terlihat di wajah mereka.


"Bagaimana menurut kalian?" tanya Isyan.


"Apa Dafa cocok dengan Nanda? Maksud papa, dia itu orangnya dingin sementara kita tahu kan tingkah Nanda itu seperti apa" sambung Arya.

__ADS_1


"Mungkin Nanda adalah satu-satunya wanita yang bisa merubah sikap dingin Dafa nantinya" ujar Apsra.


Bara langsung menatap Apsara dengan tatapan aneh. Dia merasa bingung karena Apsara tahu betul kalau Dafa itu mencintai dia. Bara tidak mau kalau Nanda dijadikan pelampiasan saja.


__ADS_2